Perang Telah Usai

cerpen mini buku harian perang telah usai

Cerpen mini buku harian tentang pertengkaran dalam hubungan (rumah tangga) yang terjadi lalu diakhiri dengan saling mengalah serta mengaku salah. Sebuah romantisme dari pengorbanan egoisme masing-masing untuk menjaga hubungan. Simak

Cerpen mini buku harian : Perang Telah Usai

Kau masih saja mesra menatap keluar jendela. Rintik hujan yang tak kunjung memberi pertanda untuk berdamai dengan bumi, masih konsisten menghujam, menyerang tanah gersang ini. Kaca jendela yang kau tatap ramah pun tak luput dari hasil pertikaian itu. Aku tak tahu apa yang mengganggumu, tanya ku urung untuk keluar dari lisanku. Hanya diam yang menemani kita berdua saat ini (baca mengapa harus berteriak kalau marah).

Suara tetesan para syuhadah dari langit terdengar jelas dalam ruang itu. Sangat jelas, menemani diam yang sibuk menari di antara jarak dan waktu yang ada. Kau menoleh kearahku, aku tak tahu mengapa salah satu pejuang langit mampu menembus kaca, hinggap di pelupuk matamu, dengan ramah mengalir di pipimu.

Tubuhku gentar kau buat hanya karena setetes keresahanmu tak lagi mengendap dalam batin. Ku tepis sedikit demi sedikit jarak antara kita. Berada disisimu yang paling dekat namun paling jauh, kau menatap kearahku, tapi bukan padaku, jauh masuk ke dimensi yang lain dari diriku. Kau bersimbah ke pelukku, seperti seorang anak gadis yang baru saja patah hati melelapkan jiwa di pangkuan ibunya. Belaian di helai rambutmu coba kuhaturkan untuk menenangkan sesuatu yang resah dalam dirimu. Kau masih bergulat dengan batinmu, sedang aku setia mendamaikanmu.

Kau bilang aku menyesal, aku masih saja menipumu dengan lakon kebaikanku, merasa tak pantas berada di pelukku. Kau bilang aku lebih pantas dengan yang lain, merelakanku kau coba tolerir sedang hatimu tersesat lebih jauh kedalam diriku, menepis jarak antara kau dan aku.

Perang pun telah usai. Tak ada pihak yang menang atau kalah, hanya perjuangan yang nampak di sisa-sisa puing genangan yang ada. Di puing itu tumbuh kehidupan yang baru, hasil perjuangan pertikaian itu. Bumi tak lagi gersang, langit pun tak lagi bermuram durja, senyumnya nampak penuh warna.

Kau terlelap dengan wajah berserimu, seperti secercah cahaya matahari yang selalu kita nanti tanpa benar-benar mengharapkan sang mentari. Melihatmu, inginku sampaikan agar kau cepat berdamai dengan masa lalu. Tak peduli itu melukaiku atau tidak, karena yang lebih sakit adalah melihatmu tak menerima dirimu sendiri.

Tidakkah kau telah melihat perjuangan hujan yang senantiasa gugur demi menghidupkan kembali tanah kita yang gersang ?

Dibagikan

Reza Aditya W

Penulis :

Artikel terkait