Perbincangan Terakhir di Rabu Malam

kisah pribadi perbincangan terakhir di rabu malam

Cerpen mini kisah pribadi tentang perasaan seorang cewek yang setia datang mendengarkan cerita cowok setiap Rabu malam tapi si cowok gak bisa mengerti perasaannya karena masih terluka dengan masa lalu hidupnya.

Cerpen Mini Kisah Pribadi Perbincangan Terakhir di Rabu Malam

Ada cara lebih baik untuk menyakiti diri sendiri, katamu saat itu. Aku, yang kala itu tidak begitu paham maksudnya, hanya mengaguk sambil meneguk mocktail buatannya. Dengan menjadi bukan diri kita, lanjutnya. Kuiyakan saja, agar percakapan ini cepat selesai.

Telah bertahun-tahun aku duduk di bangku yang sama setiap rabu malam, hanya untuk mendengar ocehannya tentang ikatan kisah patah hati yang dia dengar dari semua teman-temannya. Tapi malam itu, yang dia ceritakan bukan kisah mereka-mereka yang duduk singgah di tempat di mana saat itu aku duduk, tapi tentang seikat luka yang dialami sendiri di masa-masa lalu hidupnya.

Orang lain berlomba-lomba menjadi puitis hanya untuk dipandang sebagai seseorang yang memiliki perasaan, ujarnya. Saat kau merasa terluka, kau jadikan luka-luka itu sebagai tulang dari kesuksesanmu membuat orang-orang simpati. Mereka pikir, merekalah orang yang paling tersakiti karena disakiti, ataupun karena menyakiti. Selalu ada celah untuk membuat diri mereka menjadi yang paling terluka. Ia mengatakan semua itu di hadapanku, dengan tatapan kosong–menerawang entah ke fase mana. Mataku rasanya terbakar. Sekejap lagi saja agar air mata yang tertampung di kelopak mataku terjatuh dengan mulus menelusuri pipiku. Kuharap, gelap menyamarkan tetesan itu kemanapun ia melandas menjadi lingkaran basah setetes air mata.

Aku pernah seperti itu. Tapi karena aku menyadarinya, aku mulai menjadi bukan diriku. Dan rasanya, selain lebih menyakitkan, ternyata lebih baik. Tidak lagi ada puisi pilu, aku hanya menghabiskan waktu dengan menjadi pendengar yang menyenangkan. Dan kau tahu? Dari sana aku sadar bahwa menjadi bukan diriku adalah satu-satunya cara menyakiti diri yang paling baik. Setidaknya, tak lagi ditatap dengan pandangan kasihan. Mereka tertawa padaku. Dan aku, berhasil menertawai hidupku sendiri.

Aku masih mendengarkan, meski rasanya ingin menariknya ke pelukanku. Tapi tak kulalukan. Satu per satu pelanggan meninggalkan mejanya sebab tempat itu akan tutup sebentar lagi. Dia tetap duduk santai di depanku, tak melanjutkan ocehannya.

Aku berdiri dan bersiap untuk pergi. Kupikir akan lebih baik untuk mengakhiri ini dengan singkat. Saya gak akan datang ke sini lagi, ujarku. Ia tetap terlihat tenang–memaklumi keputusanku untuk tak lagi datang. Bahkan tak menahanku pergi.

“Kau tahu ? Menyenangkan sekali bisa berbincang denganmu selama ini. Semoga kamu bisa menemukan apa yang kamu cari” kataku. Dia beranjak, membereskan meja tempat kami duduk. Sementara aku berjalan keluar dari tempat itu, merelakan dia yang tak pernah berdamai dengan masa lalunya.


Terima kasih telah membaca kisah pribadi perbincangan terakhir di Rabu malam dalam bentuk cerpen mini. Semoga bisa menjadi renungan untuk tidak terlalu banyak bicara tentang diri sendiri tanpa peduli perasaan orang lain.

Dibagikan

TrueGrey

Penulis :

Artikel terkait