Cerpen Cerita Sedih : Perempuan Berjubah Hujan

Cerita Renungan Sedih Cerita Renungan Pendek "Perempuan Berjubah Hujan"

Perempuan Berjubah Hujan Cerpen cerita sedih tentang Kinanti dijodohkan dan menikah dengan orang kaya dan berpengaruh di kampungnya. Cerita renungan sedih ini ditulis oleh Mira Setyaningrum yang banyak menulis cerita renungan pendek serta mengangkat masalah sosial kehidupan. Bagaimana akhir cerita renungan sedih ini ? silahkan simak pada cerita renungan pendek berikut.

Cerita Sedih Perempuan Berjubah Hujan

Sebagai negeri yang dikaruniai dua musim, pada saat ini tibalah air langit menghimpun diri untuk bergantian mengunjungi bumi. Musim yang ditunggu – tunggu terutama kaum petani agar setiap sawah ladang mereka mendapatkan cukup air, sehingga setiap benih yang disebarkan dapat tumbuh subur dan kelak mereka akan dengan riang memetik hasilnya dengan manis pada saat panen. Harapan sederhana dengan imbas yang luas, karena sebenarnya nasib pangan setiap anak negeri bergantung kepada mereka, yang justru termasuk kaum yang dipinggirkan dan tersingkir oleh modernisasi dengan label ‘pembangunan’.

Mega kelabu memang menggelayut senja itu ketika aku melalui sebuah area persawahan dan perlahan kutepikan modaku di pinggir jalan. Aku menatap ufuk barat yang begitu sumringah dengan gradasi jingga menoreh dinding langit, dan senja dengan sabar mengiringi langkah sang mentari renta untuk kembali ke peraduan. Rasanya terlalu singkat menikmati sebuah perubahan yang menjembatani siang menuju malam. Permadani hijau yang terhampar di depan mata pun seolah melengkapi kontemplasi sesaat,untuk menikmati dan mensyukuri keindahan ciptaan Sang Maha yang tak terbatas. Pematang yang membatasi setiap petak sawah seolah memanggil untuk menapakkan jejakku di sana, dan aku dengan segera memenuhi panggilan itu. Aku berjalan di pematang tak beralas kaki, mereka kutinggalkan begitu saja di dalam modaku, tak kupedulikan tanah basah yang segera menyambut telapak kakiku, yang terpenting sepertinya memang ini seolah menjadi momentum yang sungguh berharga, karena keseharianku berpacu dengan target menjadikan rutinitas adalah nafas yang harus kuhirup,melebihi udara itu sendiri.

[Kalau suka membaca cerita renungan sedih, cerita renungan singkat, baca juga cerita sedih singkat Pelindung Hatiku.]

Berjalan di pematang dengan permadani hijau di kanan kiri, membentangkan kedua tangan lebar – lebar, kuhirup sungguh – sungguh udara yang di daerah ini seperti perawan, karena bisa dikatakan tanpa polusi. Kemudian langkahku berhenti, karena di ujung sana ada sosok wanita, sebelumnya aku yakin bahwa aku sendirian di sini, dan kehadirannya yang tiba – tiba memang membuatku tercekat. Ragu – ragu namun ada rasa ingin tahu yang menghembus, dan itu justru membuatku tidak takut, aku justru menghampirinya. Dia perempuan yang biasa saja, sepasang kakinya sama sepertiku menjejak bumi, tidak berbeda dengan perempuan lain, berperawakan sedang dengan rambut hitam bergelombang sedikit melewati pundak. Ia mengenakan kemeja putih berlengan panjang yang digulung sebatas pergelangan tangan dengan celana jins biru tua yang sangat serasi. Ketika aku hendak menyapanya, ia sudah menyapaku lebih dulu, “ Hai “ “ Hai juga, “ balasku. “ Orang kota ya ? “ tanyanya. Aku terkekeh, “ Yaaaa…..bisa juga. “ Mendengar sebutan itu merasa geli sendiri, ternyata ada istilah ‘orang kota’,berarti lawannya ‘ orang desa ‘ kah ? Jarak tempuh antara kediamanku dengan tempat ini sebenarnya kurang lebih satu jam, namun sungguh berbeda langit dan bumi keadaan kedua tempat, tempatku berasa metropolitan sedangkan daerah ini seolah melemparkanku kembali di masa jalan – jalan hanya ditemui kereta angin dan pedati. Perempuan itu mengulurkan tangan, menyebutkan nama, “ Kinanti. “ Aku mengangkat kedua alisku tinggi – tinggi, “ Wah, nama yang sungguh elok, seelok pemiliknya. Aku Asri. “ Kusambut uluran tangan itu dan kujabat erat. Kinanti tersipu – sipu mendengar pujianku, sempat terlihat semburat kemerahan merona pada kedua pipinya.

[Kalau suka membaca cerita renungan sedih, cerita renungan singkat, baca juga cerita remaja kehidupan sosial Intan dan Kirani.]

“Kinanti tinggal di dekat sini ? “ tanyaku, kami berdua akhirnya jongkok di pematang di mana sawah sekitarnya belum tertutup oleh  batang – batang padi yang mulai meninggi. “ Ya, saya tinggal di desa sekitar sini, mbak, “ kata Kinanti. “ Mbak Asri ada saudara yang tinggal di dekat sini atau….” Kinanti tidak menyelesaikan kalimatnya namun memandangku penuh tanya. “ Ah, saya hanya kebetulan melintas, saya memang tinggal di kota tapi lumayan sering melalui jalan ini, “ kataku. “ Ohhhh, “ kata Kinanti, tampak ada sesuatu yang mengusik hatinya. “ Ada apa ? “ tanyaku. “ Mmmmmm….saya iri dengan mbak Asri, “ katanya. Dahiku berkerut mendengarkan kalimat itu. “ Mengapa kau iri denganku, Kinanti ? Seharusnya kamu bersyukur, kamu itu cantik, tinggal di desa dengan lahan yang subur, sering dinamakan salah satu lumbung padi di negeri kita, “ kataku menghibur. Kinanti menghela nafas panjang, “ Saya iri dengan mbak, karena mbak kan ke mana – mana mengendarai kendaraan sendiri, dari penampilan mbak Asri saya yakin mbak seorang pekerja, apa ya istilah kotanya, eksekusi ? Ekse…..” Kinanti tampak kesulitan meneruskan istilah yang ia coba jabarkan padaku. “ Eksekutif muda, “ kataku dengan sabar. “ Ya, itulah. Kalau saya, boro – boro bekerja, sekolah saja hanya sampai tingkat menengah pertama. Saya sebenarnya ingin sekolah yang tinggi….mencapai langit. Tapi Bapak tidak mengijinkan, “ kata Kinanti berat.  Kali ini aku tak mengomentari kisahnya, aku hanya berkutat dengan pikiranku sendiri dan memandangi sawah di hadapanku yang dipenuhi oleh tanaman padi masih muda.

[Kalau suka membaca cerita renungan sedih, cerita renungan singkat, baca juga cerita motivasi rohani Islam Salim Anakku.]

“ Apa alasan Bapakmu tidak mengijinkan Kinanti sekolah yang tinggi ? “ tanyaku kemudian. “ Kata Bapak, perempuan tak usah sekolah yang tinggi, karena toh pada akhirnya mereka akan menikah dan menjadi ibu rumah tangga, mengurus keluarga. Jadi setelah lulus sekolah menengah pertama, saya langsung dijodohkan dengan laki – laki pilihan Bapak, dan kami langsung dinikahkan, “ kata Kinanti lirih. Aku tak tega menatap sepasang mata polos yang tak mampu menyembunyikan kesedihan dan pelan – pelan mulai basah itu. “ Sudahlah, saya tahu kamu hanya ingin menunjukkan baktimu kepada orang tua, kan ? “ kataku mencoba menghiburnya. “ Ya, hmmm, aku ingin meralat sebutanmu di awal tadi, kau memanggilku ‘ orang kota ‘ ? Bukankah penampilan Kinanti juga sudah seperti orang kota ? “ godaku. Kinanti tersenyum, “ Meskipun saya sudah berumah tangga, tidak berarti saya menjadi perempuan yang istilah Jawanya ‘klemprot’, berdaster usang, berbau masakan dan anyir bau badan. Saya tetap ingin menjadi perempuan yang cantik dan kalau bisa berpenampilan menarik, “ ujarnya malu – malu. Aku menatap ke arah langit yang semakin luruh warnanya, senja itu memang harus berakhir. “ Maaf Kinanti, mbak harus pulang. Saya sangat senang bisa berkenalan dan berbincang denganmu sepanjang senja ini. Jika saya melintas dan menikmati senja kembali di tempat ini, semoga kita bisa saling berjumpa dan berbincang kembali, “ kataku berpamitan. “ Iya, mbak Asri, sama – sama. Oya, kaki mbak Asri kotor, dibersihkan dulu mbak, sayang nanti kendaraannya kotor semua kena tanah sawah. “ kata Kinanti kemudian menunjukkan sebuah sungai kecil di dekat jalan raya tempat modaku kuparkir, air sungai itu mengalir jernih, tanpa ragu – ragu aku segera menggulung celana panjangku, menjejakkan kedua kakiku di sana, ternyata dangkal dan kubersihkan kakiku bahkan hingga ke lutut. Selesai membersihkan kaki, aku memasuki modaku, Kinanti masih menungguku dan kubuka kaca jendela, “ Pertanyaan terakhir, apakah Kinanti mencintai suami Kinanti, yang dijodohkan oleh Bapak ? “ Kinanti tersenyum sekilas, “ Saya selalu mencoba mencintainya, mbak, setiap hari, siang dan malam. “ Aku menutup kaca jendela, menghidupkan mesin dan perlahan meninggalkan tempat itu. Dari balik kaca spion kulihat Kinanti melambaikan tangan kanannya.

[Kalau suka membaca cerita renungan sedih, cerita renungan singkat, baca juga cerita haru keluarga Perempuan lentera.]

Kini malam diterangi  lampu – lampu yang menjadi kawanku seperjalanan. Aku mengemudikan dengan kecepatan sedang karena malam belumlah larut dan aku masih ingin menikmati indahnya kerlip bintang – bintang yang menjadi manik – manik langit malam. Akhirnya sampai juga di rumah, aku menaruh modaku di garasi dan memasuki rumah dengan perasaan senang. Senja tadi memang merupakan senja yang tak terlupakan meskipun dengan pertemuan dan perbincangan singkat dengan Kinanti.

[Kalau suka membaca cerita renungan sedih, cerita renungan singkat, baca juga cerita motivasi rohani Islam remaja Cinta Suci.]

Kinanti bergegas pulang ke rumah. Baru saja hendak memasuki rumah, terdengar suara mengguntur yang sudah semakin terbiasa ia dengar, “ KINANTI ! Dari mana saja kau, perempuan tak tahu diri, aku sudah lapar ! Mana kopiku, cepat ! “ Kinanti menjawab lirih, “ Iya, mas, sebentar lagi saya hidangkan. “ Laki – laki yang memanggilnya itu, dengan aroma mulut air api menguar pekat dan sedikit sempoyongan menatapnya dengan mendelik. “ Jangan bilang bahwa kau bermain di sawah lagi, perempuan bodoh ! Atau yang semalam masih kurang ? “ desisnya. “ Tidak, mas, “ kata Kinanti sambil menunduk. “ Bagus ! “ kata laki – laki itu. “ Aku senang, kau lama – lama menjadi istri yang pintar. “

[Kalau suka membaca cerita renungan sedih, cerita renungan singkat, baca juga cerita sedih keluarga singkat Pelindung Hatiku.]

Kinanti tak lagi terisak, atau mungkin air menggenang di pelupuk matanya sudah mengering, menghembus ke langit dan kembali ke bumi menjelma menjadi hujan. Memang selama ini air matanya tercurah sia – sia , saat setiap malam dera selalu menghujam sekujur tubuh, sedangkan laki – laki yang tadi membentak dan menjadi suaminya yang sah, tertawa riang menikmati setiap lecutan itu, setiap malam, setiap hari. Atau kapanpun lelaki itu menginginkannya, dan Kinanti tak boleh membantah.

[Kalau suka membaca cerita renungan sedih, cerita renungan singkat, baca juga cerita realita kehidupan kupu kupu bersayap awan.]

Mbak Asri yang sempat dikenalnya sesaat mungkin tak mencermati sepanjang pergelangan tangannya  terdapat goresan – goresan yang terlihat kabur, dan setiap kali tercetus tanya entah dari tetangga ataupun saudara, ia hanya menjawab riang bahwa itu hanyalah goresan saat ia berjalan melintasi sawah, mungkin juga di ladang tebu. Semua orang hanya tahu bahwa ia bahagia dengan kehidupannya kini yang bergelimang kemewahan karena dipersunting oleh orang terkaya di desa, walaupun sungguh pekat oleh durja yang diselubungi oleh kebahagiaan semu.

[Kalau suka membaca cerita renungan sedih, cerita renungan singkat, baca juga cerita motivasi renungan singkat Ketika setia menjadi pelita.]

Dan Kinanti tak tahu sampai kapan ia terus mengenakan jubahnya, yang kuyub oleh linangan air mata langit, yang terus ia kenakan meski tak terlihat mata, dan hanya malaikat yang sanggup menatapnya dengan ratapan yang tak terucapkan, kepura – puraan yang terus terselubung di balik jubah dalam waktu yang tiada berakhir…..


Terima kasih telah membaca Cerita Renungan Sedih Perempuan Berjubah Hujan. Bantu kami bagikan artikel ini melalui facebook, twitter, google+ dan pinterest kamu dengan mengklik ikon bagikan dibawah artikel ini. Jangan lupa baca cerita sedih kami lainnya.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait