Pertemuan Semusim

cerita romantis kasih tak sampai

Pertemuan Semusim adalah cerita romantis kasih tak sampai seorang artis sukses setelah sekian lama pergi meninggalkan kekasihnya lalu kembali lagi, namun semuanya telah berubah. Simak pada cerpen romantis berikut.

Cerita Romantis Kasih Tak Sampai – Pertemuan Semusim

“Cantik yah Ri ? “. Wajahku mendongak menatap kearah dituju, Meilani gadis Cina-Batak melintas didepanku dengan senyum merekah bikin hati para lelaki meleleh termasuk mahkluk dekil disampingku. Pandanganku beralih menatap Oka, kepalanya pura-pura menunduk melihat ujung sepatu sambil menggoyang-goyangkan kaki gelisah padahal jelas sekali dia barusan bertanya. Kusikut lengan Oka keras.

“Dasar penakut, menang tampang preman doang. Katanya preman kampus, giliran Meilani lewat lagaknya jadi kaya tikus kecebur got”. Oka melotot, mulutku terkikiik geli. “ini lain Ri, beda sama cewek lain, kalo ini gak bisa main-main.”

“Alaaa dasarnya penakut yah tetep aja penakut. Kalo jadi kamu sudah kutembak Meilani sejak masuk kekampus ini”, ledekku. “Yah tahu apa kamu Ri, kamukan cewek mana tahu perasaan cowok. Meilani kalo kata Syahrini, sesuatu banget”. Kupukul bahu Oka keras, “lagaknya, udah ah pulang, laper nih.” Kakiku beranjak menjauh, Oka langsung mengejar.

“Bentar lagi kenapa sih !. Pasti dah gak sabaran mo ketemuan sama Randa”. Ledekan Oka membuatku meleletkan lidah wekkkkk.

“Riri tunggu .”

“Woi ntar malam Minggu giliranku nemenin Randa di Café. Lagian Silvia gak bisa tampil, lagi kena radang tenggorokan.”

Oka garuk-garuk kepala, “yah Riri gak setia kawan Lu.” teriaknya. Kulambaikan tangan kemudian bergegas menuju gerbang kampus.

Manggung di Cafe sebagai seorang gitaris sekaligus penyanyi pengganti

kisah romantis musisi kafe
Gitaris

Pukul 6 sore diriku sudah standby di Café Ilona. Aku memang kerja sambilan sebagai gitaris tunggal disini. Kadang-kadang juga bernyanyi walaupun tidak terlalu sering sekedar pengganti kalau ada teman penyanyi berhalangan datang. Meskipun masih gak pede dengan suaraku, tapi kata teman-teman kampus ataupun Cafe suaraku, unik juga lumayan bagus. Apalagi suaraku memang rada agak serak.

Aku suka dengan lagu agak ke irama Jazz atau aliran musik Blues. Entahlah mungkin karena menyanyikannya tidak membutuhkan suara terlalu tinggi. Hanya dibutuhkan tehnik bernyanyi cukup baik saja, dan kurasa tehnik bernyanyiku lumayanlah. Kuraih gitarku lalu mulai memainkan sebuah lagu. Terdengar suara tepuk tangan dari samping, saat menoleh, kulihat Randa mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi. Aku tersenyum mengangkat tanganku. Senang rasanya melihat Randa. Malam ini kubawakan beberapa instrument Jazz ringan.

Menjelang larut malam kuberanikan menyanyikan beberapa lagu. Mungkin sebagian pengunjung Café merasa terhibur, mungkin juga memang menikmatinya secara spesifik. Tapi diriku tiada peduli karena aku memang lebih suka memainkan gitar.

Diirku mahir memetik gitar sejak berumur 8 tahun. Kebetulan ayahku suka memainkan gitar. Tapi ayahku suka musik rock, sangat berbeda denganku yang lebih suka pada musik lembut. Diriku bahkan selalu bereksperimen dengan gitar untuk memberikan sentuhan berbeda sebuah lagu sehingga terdengar berbeda sekaligus tidak membosankan.

Pekerjaanku akan berakhir saat jam 1 malam. Kadang jika banyak pengunjung aku mendapatkan persenan, tapi kalau sepi mungkin hanya traktiran minum saja. Akan tetapi semua bukan hal penting bagiku karena diriku lebih suka jika orang menghargai musikku dengan menikmatinya atau sekedar bertepuk tangan. Rasanya sudah cukup bagiku.

Cafe Ilona

Café Ilona merupakan salah satu Café yang menyajikan musik hidup. Berbeda dengan café-café lain disini, mereka biasanya hanya memutar musik dari piringan hitam atau stereo CD.

Café Ilona memang menyajikan sesuatu hal berbeda. Disini tersedia kopi dengan berbagai varian. Lokasinya berada ditempat sangat strategis. tidak terlalu ramai namun tidak terlalu jauh juga dari pusat perbelanjaan.

Pemilik sekaligus pengelola Café adalah Randa, salah satu teman kuliahku. Randa memilih berhenti kuliah lalu fokus pada bisnis Café dan ternyata cukup berhasil dengan usahanya. Cafenya selalu  ramai sekaligus menjadi pilihan tepat bagi kalangan dewasa setelah jenuh dengan aktifitas keseharian mereka. Mungkin karena mantan mahasiswa tehnik arsitektur, sehingga penataan cafe dirancang sedemikian rupa untuk membuat pengunjung nyaman dan betah berlama-lama disana.

Tawaran untuk bermain sebagai gitaris tunggal disana beberapa bulan lalu awalnya kupikir hanyalah candaan Randa, tapi ternyata dirinya serius. Berkat dorongan serta semangatnya, akhirnya diriku bisa tampil disana. Randa juga banyak memberi referensi soal musik Blues dan Jazz, bahkan akhir-akhir ini mulai menyarankanku mencoba musik country. Randa memang baik lagi penuh perhatian. Hatiku sudah mengetahui sejak pertama kali bertemu dikelas bahwa Randa menyukaiku. Tapi sampai saat ini belum sekalipun pernyataan cinta keluar dari mulutnya meski terlihat jelas sikap serta caranya memberi perhatian padaku.

Aku gak mau kegeeran dengan sikapnya. Bisa jadi dia memang berkarakter seperti itu. Tetapi diriku juga tidak menampik untuk mengakui bahwa hatiku suka diperhatikan olehnya. Namun sekali lagi tak berani berharap karena baru saja seorang penyanyi baru direkrut Randa. Nama penyanyinya Ismi, sepertinya dia sangat menyukai Randa. Dari cara berbicara juga cara menatap Randa hatiku yakin sekali Asmi menyukai Randa. Sedangkan Randa mencoba bersikap biasa saja bahkan agak jengah kalau kupergoki Asmi mencoba bermanja-manja padanya.

Pengunjung baru me-request instrumen lagu Buddy Guy

Malam ini ada beberapa pengunjung baru pertama kali kulihat. Beberapa laki-laki duduk dimeja no 8. Mungkin 3 orang lelaki bersama seorang gadis, sepertinya mereka sedang reuni. Mereka merequest sebuah instrument blues untuk kumainkan. Sebuah instrument dari Buddy Guy, five long years yang kebetulan ku hafal dengan sangat baik karena gitaris blues satu itu merupakan favoritku. Ternyata mereka sangat menyukainya. Dari atas panggung ku lihat satu sosok selalu menatapku serius tanpa senyum. Dialah perequest beberapa lagu ciptaan Eric Clapton. Sepertinya sosok itu sangat terkesan dengan permainan musikku.

Randa juga terlihat sedikit kaget karena mungkin baru kali dia melihatku memainkan musik instrument Buddy Guy. Kulihat beberapa kali dia mengacungkan jempolnya saat pandangku mengarah padanya.

Ketika jam menunjukkan pukul 11 malam teman-temannya beranjak pulang namun sosoknya masih tetap dimejanya. Walau kutahu bukan hanya dia penikmat musikku, tetapi ada rasa sedikit ganjil saat seseorang terus memperhatikan dan menatapmu.

Lelaki itu mencegat lalu mengajakku berkenalan saat melangkah keluar Cafe

Usai pertunjukan kakiku melangkah keluar Café berniat pulang. Saat itulah seseorang tiba-tiba mencegat langkahku. Sepertinya dia telah cukup lama berdiri didepan pintu keluar menungguku.

“Hi, aku Gana”, tanpa basa-basi langsung diulurkan tangannya. Kusambut dengan ramah.

“Riri”, ucapku melanjutkan langkah disusul oleh Gana.

“Permainan gitarmu bagus sekali. Jujur, suka banget. Instrumentnya sangat natural.”

“Terima kasih jarang-jarang ada yang mengucapkan pujiannya secara langsung sepertimu.”

“Mungkin gak berani karena gitarisnya cantik.”

“Ha ha ha apa cuma kau cuma bisa mengatakan begitu ?”, ttawaku.

“Maaf, harap maklum sedang berusaha merayumu. Sepertinya tidak berhasil yah ?”, candanya. Sekarang tubuhnya berjalan beriringan di trotoar denganku.

“Kebetulan baru sekarang dirayu, sepertinya memang rayuanmu tidak mempan.”

“Sudah kuduga, tapi serius diriku menyukai permainanmu. Kudengar kamu bisa menyanyi juga.”

“Siapa bilang ?”.

“Randa, kebetulan aku mengenalnya dari Ismi malam ini. Kami memang sedang mengadakan reuni. Sudah beberapa tahun kami tidak bertemu. Untung Ismi mereferensikan tempat itu. Ternyata benar, bagus, mungkin karena terdapat pesona lain disana yah, bisa jadi kamu.”

Diriku terbahak lagi. Laki-laki ini sangat konyol. Cara bicaranya asal saja. Cantik, pesona, apakah seperti ini dinamakan rayuan ? kenapa terasa lucu saat mendengarnya.

“Jujur saja diriku ingin menawarkan sesuatu padamu. Itupun kalau tidak keberatan. Aku ingin mengenalkan kamu pada temanku agar dia mendengarkan permainanmu. Temanku pemilik sebuah studio rekaman dikotaku. Aku yakin sekali dia akan menyukaimu, maksudnya musikmu ?”

Apakah ini jalan menuju dapur rekaman ?

Langkahku terhenti, rekaman ! gila. Tidak pernah bermimpi jika bisa sampai ke studio rekaman. Apa lagi sampai, yah ampun tawaran menarik. Langkahku tiba dihalte bis.

“Ini kartu namaku, besok aku pulang. Hubungi kalau kamu tertarik. Oh yah satu lagi aku memiliki mata tajam dan intuisi bagus. Kamu pasti akan terkenal”. Gana memberiku sebuah kartu nama. Sebuah bis menepi, langsung saja kunaiki. Gana masih berdiri dihalte saat bis membawaku pergi. Dia masih melambaikan tangannya. Aku tersenyum, laki-laki aneh penuh percaya diri.

Akhirnya kuputuskan untuk mengadu peruntungan di dunia musik

Kuputuskan mengambil cuti kuliah selama setahun untuk mencoba mengadu peruntungan dalam dunia musik. Walaupun kutahu ini bukan mudah, tawaran Gana beberapa saat lalu memberiku pilihan. Meskipun banyak suara serta talent lebih bagus berbakat melebihi kemampuanku tapi siapa tahu dewi fortuna memihakku. Apa salahnya mencoba ?, jika gagal bisa kembali lalu melanjutkan kuliah.

Hanya sebuah pesan Line kukirimkan untuk Randa, karena jika bertemu mungkin tiada sanggup menatap matanya saat mengucapkan selamat tinggal. Karena itulah kuputuskan untuk tidak datang lagi ke cafe.

Randa ingin bertemu

Saat sibuk mengepak pakaian seadanya ponselku berbunyi. Kudapati pesan Randa mengatakan sedang menungguku di taman tidak jauh dari tempat kosku. Hmm tumben sekali pada jam café sibuk dirinya menemuiku. Kuraih jaket lalu bergegas menuju taman. Randa sedang duduk membelakangiku ketika kaki sampai disana lalu langsung duduk disampingnya.

“Kamu yakin akan pergi Ri ?”.

“Apa salahnya mencoba Ran ? lagipula hatiku gak enak sama kamu, pasti bosan terus-terusan melihatku”, candaku.

“Bosan kenapa ? malah sebaliknya hatiku suka dengan kehadiranmu, suaramu serta petikan gitarmu. Suasana café akan berubah tanpa kehadiranmu lagi”.

“Kamu harus mulai menerima seleksi masuk untuk orang-orang sepertiku, apalagi teman-temanku banyak yang bagus-bagus.”

“Aku tahu, tapi tetap saja takkan sama tanpamu. Tidakkah kau sadari diriku sangat membutuhkanmu ?”.

“Cafemu mungkin ?”.

“Tidak Ri, hatiku menyukaimu. Tak pernah hatiku secemas ini. Rasa akan kehilangan membuatku sadar harus mengakui perasaanku, aku ingin bersamamu, ingin kamu berada disisiku”.

Aku tertunduk, kenapa baru sekarang kau mengakuinya Randa ?. Kenapa tidak dari dulu ?. Kenapa saat sudah kutentukan pilihan baru kau menyatakan perasaanmu. Padahal hatiku sudah menunggu begitu lama pernyataan cintamu.

“Ismi menyukaimu.”

“Aku tahu tapi perasaan tak bisa dipaksakan. Sudah ku mencobanya tapi gagal.”

“Tapi, sepertinya Ismi berhasil membuatku pergi darimu Ran.”

Randa menyerah, dia menerima kepergianku

“Apa kamu sungguh-sungguh akan pergi Ri ?, aku memang mengenal Gana. Memang dia seorang pengusaha sukses  dalam bidang entertaint pemilik rumah produksi cukup terkenal disana. Artis-artis yang diorbitkannya selalu terkenal. Sungguh tak menyangka kalau malam itu Gana menawarkanmu untuk rekaman. Kurasa pilihannya tidak salah, kamu sangat berbakat Ri.”

“Karena itulah kuputuskan untuk mencoba Ran, jika gagal pasti akan kembali kesini. Kuharap kamu masih mau menerimaku untuk menjadi karyawan lagi”, cetusku tersenyum.

“Tanganku akan selalu terbuka menerimamu Ri. Karena hatiku takkan berhenti menyukaimu. Kurasa kau pasti tahu hal itu.”

“Apa kamu akan sabar menungguku hee…, tidak akan pacaran dengan wanita lain ?”, tanyaku dengan senyum lagi.

“Akan kucoba, asal jangan lama-lama saja disana. Atau jangan-jangan kalau sudah terkenal kamu lupa padaku.”

Diriku tertawa kecil, “mana mungkinlah, hatiku sebenarnya juga menyukaimu Ran. Tapi kamu lebih terhalang oleh Ismi”,

Randa menatapku lembut. Kusandarkan kepalaku dibahunya. Malam itu kami berbicara banyak hal. Tentang kisah nanti, tentang harapan-harapan, tentang pertemuan kelak, entah kapan ?. Tapi cerita malam ini seperti janji tak terucap. Janji dalam hati kami masing-masing.

Hari keberangkatan tiba

“Riri jelek jahat banget kamu Ri. Masa sih pergi gak pamitan ?. Teman macam apa kau ini ?”, Oka menyemburku pagi-pagi sebelum bertolak kebandara. Tiba-tiba saja dirinya muncul didepan pintu kamar kosku.

“Lho kan sudah titip pesan sama Meilani.”

“Ahhh… kamu jahat, Ri. Sebel sama kamu”, Oka memelukku lalu menepuk bahuku.

“Tapi makasih banget sama kamu Ri. Karena pesanmu Meilani mau kuajak keluar makan. Kamu memang the best friend forever deh.”

“Selamat yah Ka, doain temanmu ini yah. Kali aja jadi artis tenar”, tawaku tergelak.

“Pasti sobat, tapi ingat jangan pernah lupa dengan teman walau sudah seterkenal apapun.”

“Tentu dong Ka, gak mungkinlah lupa.”

“Kamu hati-hati yah disana. Kalau gak kerasan pulang saja kesini. Kota ini akan selalu menerimamu”. Kulihat matanya memerah.

“Heheh, sudah ah sudah, koq kamu jadi kaya cewek gitu.”

“Jarang-jarang juga kamu lihat aku mewek. ”

“Jiah dasar …”

“Ayo berangkat, biar kuanterin ke bandara.”

“Kan jauh Ka, aku naik bis aja”, tolakku.

“Ayolah anggaplah bantuan terakhir dari teman yang gak bisa ngasih apa-apa, ok ?”.

Akhirnya Oka mengantar dengan Vespa bututnya. Sempat kulihat mata Oka berkaca-kaca. Tapi bibirku cuma bisa tersenyum sambil berjanji dalam hati untuk tidak pernah melupakan persahabatanku dengannya.

Keputusan tepat mengambil peluang, kesuksesan menyertai langkahku

menjadi penyanyi bersuara romantis terkenal
Menjadi penyanyi terkenal

Tiga tahun berlalu tanpa terasa, mataku menerawang jauh menatap kedepan nyaris tanpa berkedip. Pusing dikepalaku masih terasa. Syukurlah hari ini tidak ada jadwal manggung dan wawancara. Tadi pagi hanya sebuah sesi pemotretan untuk iklan minuman, semua bisa selesai tanpa kendala. Keputusan tiga tahun lalu membawaku pada kepopuleran sama sekali tak pernah kusangka. Ada beberapa rintangan kutemui selama perjalanan karir, namun semangat pantang menyerah membuatku bisa semuanya.

Dibawah profesionalitas bendera perusahan Gana, album pertamaku laku keras bahkan menduduki tangga lagu pertama. Album kedua bahkan booming di luar negeri. Hal ini membuatku bisa berkolaborasi bermain gitar bersama pemusik-pemusik senior idolaku didalam maupun luar negeri.

Namun semua kepopuleranku seolah membungkusku dengan gemerlap dunia hiburan. Dunia dengan kehidupan serta gaya hidup jauh dari bayanganku dulu. Diriku tak bisa lagi bebas makan direstoran cepat saji atau berjalan ditempat umum tanpa dikerubuti orang. Kehidupan pribadiku menjadi santapan empuk media serta para wartawan.

Menjadi terkenal bagiku bukan jaminan bahagia

Diriku lebih memilih berada dalam rumah daripada diluar rumah. Aku jadi merasa tak nyaman karena kawatir pada media. Intinya tak lagi memiliki kehidupan pribadi nyaman. Semua hal tentangku bahkan kalau perlu underwear kupakai pun semua diberitakan.

Apakah kehidupan terkenal seperti ini kuinginkan ? Ini sama sekali bertolak belakang dengan segala bayanganku. Hidupku seperti bukan milikku lagi, tapi milik manajemen Gana. Hatiku merasa ingin kembali ketempat dimana diriku bebas memainkan musik sambil menyanyikan lagu favoritku. Memetik gitar dengan santai dalam alunan melodi ciptaan sendiri. Diriku bebas berekspresi, menumpahkan rasaku dalam alunan musikku.

Tiba-tiba aku teringat Oka sobatku. Anak itu paling bisa membuatku terpingkal-pingkal dengan gaya serta tingkah konyolnya. Hatiku rindu suasana seperti itu. Bagaimana kabar mereka ? Dan Randa, apakah masih menungguku ? Tanpa sadar kuraih ponselku, sedetik kemudian diriku sudah berada dalam taksi menuju bandara.

Tak peduli dengan esok hari, tak peduli pada jadwal padat. Dalam otakku adalah secepatnya pergi dari rutinitas pembuat otak serta tubuhku tak bisa bernafas. Terpaksa ku kenakan jaket, topi ditambah kacamata hitam untuk menutupi jati diriku. Penampilanku kubuat asal saja. Hanya membawa ransel, ponsel, dan dompetku.

Kunjungan pertama kerumah sahabat terbaik

Tempat pertama adalah rumah Oka. Sayangnya sampai disana ternyata Oka sudah tinggal sendiri. Berbekal alamat dari adiknya, tiba diriku disebuah rumah mungil cukup nyaman. Aku tersenyum menatap kesekeliling rumah tertata apik. Bisa juga Oka jadi sarjana, buktinya dia bisa merancang rumahnya sendiri.

Kuketuk pintu perlahan, sudah jam 10 malam, jangan-jangan Oka sudah tidur. Tapi samar-samar kudengar suara TV masih terdengar. Agak lega juga saat tahu Oka belum menikah serta tinggal sendiri jadi bisa menginap disini. Ada sebuah langkah mendekat dan pintupun terbuka.

“Siapa yah ? ”

Kutatap Oka dengan sebuah senyuman. Rambut gondrongnya sudah digunting bahkan sekarang mengenakan kacamata minus. Wajahnya sekarang keliatan lebih klimis juga rapi sekali. Anting serta bekas tindikan di bibirnya sama sekali tak terlihat lagi.

“Hello neng, senyum-senyum mo cari siapa yah ?”, tanyanya lagi. Mahluk satu ini kayanya gak berubah cara bicaranya. Konyol sekaligus ceplas ceplos. Kubuka kacamataku, Oka masih menatapku tak kenal tapi saat kubuka topi, “Yah Tuhan Ri, Riri, aku gak mimpikan ?. Kamu sendirian ? ayo masuk cepetan.” Oka menarikku cepat kedalam rumah. Masih memegang tanganku tubuhnya berputar-putar mengelilingiku.

“Gilaaaa… ternyata benar kamu Ri. Gak percaya !. Kupikir mimpi. Kupeluk yah Ri ?”, Oka memelukku erat bisa kurasakan hatinya begitu kangen padaku. Saat akhirnya dilepaskan pelukannya, diriku langsung duduk disofa. Sejenak kusandarkan kepala kebantalan sofa lalu memejamkan mata. Akhirnya bisa juga bertemu Oka, sungguh sangat lega.

“Minum Ri, kamu pasti kangen minuman ini.”

Oka menyodorkan sebotol Fanta orange dingin, langsung kuteguk sampai habis.

“Laper, lom makan seharian”, keluhku mendekap perut sambil menatap Oka dengan pandangan memohon. Oka tertawa, kepalanya menggeleng-geleng.

Kangennya sama mie instan juga

“Sebentar Ri,  5 menit kubuatin mie instan kesukaanmu.” Secepat kilat Oka kedapur lalu 5 menit kemudian kembali dengan semangkok mie instan lengkap dengan telur ceplok setengah matang kesukaanku. Tanpa disuruh aku langsung meraih mangkok ditangan Oka lalu langsung memakannya.

“Pelan dikit makannya Ri ntar keselek.” Oka menyodorkan lagi sebotol Fanta orange. Gak sampai dua menit mie goreng instan dalam mangkok ludes tanpa bekas. Tubuhku tersandar kekenyangan disofa. Hampir tiga tahun menikmati makanan dengan berbagai macam masakan koki dari restoran-restoran terkenal, tapi baru kali ini menikmati mie goreng sederhana tapi lezatnya luar biasa.

“Makasih Ka. Enak banget, bikin kangen.”

“Yaaa… mulai deh boongnya. Sekarang ceritakan padaku kenapa baru datang ? munculnya seperti hantu lagi.”

“Suer Ka, gak boong mie instan tadi emang top banget. Mie kaya gini gak bisa dibeli direstoran. Kangen banget bener sama mie goreng kamu.” Ku peluk lengan Oka yang langsung ditariknya cepat.

“Gak mempan rayuannya. Cepetan cerita kenapa bisa muncul disini. Hatiku sebenarnya marah plus jengkel banget sama kamu. Beberapa kali dihubungin tapi selalu saja mereka bilang sibuk.”

Kaget juga ternyata Oka pernah telpon bahkan datang

Tertegun benakku mendengarnya, kutatap Oka serius. “yakin kamu nelpon ?.”

“Bukan cuma nelpon, bahkan pernah apartemenmu tapi diusir sama satpam. Kalo gak salah itu setahun lalu waktu aku wawancara dikantor PU .”

“Maafin yah Ka.”

“Yah maklum aja kamukan dah jadi artis ngetop pasti gak sembarang orang bisa ketemu”.

“Hatiku kangen kota ini, kangen kamu, kangen semua hal disini”, desahku.

“Kangen Randa gak ?” mendengar nama itu disebut Oka diriku hanya bisa menarik nafas panjang.

“Cafenya masih rame, bahkan sudah buka dua cabang di simpang 5 dan Golaga”.

“Oh yah, jadi orang sukses dong sekarang.”

“Gak pengen maen kesana Ri ?, aku yakin banget sampe sekarang dirimu masih suka sama Randa. Buktinya gak ada gosip pacaran sama sekali semenjak ngetop.”

Mulutku terkunci, Oka memang benar. Sampai detik ini hatiku belum bisa melupakannya. Dirinya masih abadi dihatiku. Sejujurnya hatiku sangat merindukannya, sekedar melihatnya saja, mungkin akan terhibur.

Haruskah kamu berbohong sementara masih menyukai Randa ?

“Kamu gak bisa berbohong didepanku Ri, pasti kangen sama dia. Ayo kubawa kesana sekarang”.

“Gak bisa Oka, sedetik saja jika mereka tahu diriku dicafe itu ahhh.. tahu sendirikan Ka ?”,  kuhembuskan nafas kuat.

“Iya juga yah. Apalagi kalau mereka tahu menemui Randa. Bisa diserbu dia nanti. Tapi tenang saja ada ide. Biasanya cafen tutup jam satukan ? kita tunggu waktu pulang, lalu saat keluar Café kau temui gimana ?. Tapi harus menyamar Ri, aku juga gak mau kalo sampe berita kedatanganmu bocor terus diriku jadi sasaran media. Iya kalau beritanya biasa aja, kalo beritanya bilang kita pacaran. Bisa mampus disemprot Meilani. ”

“Kamu masih sama Meilani Ka ?”.

“Iya dong pejantan tangguh”, Oka menepuk dadanya bangga. Tawaku terbahak melihat gaya konyolnya.

“Trus sekarang dimana ?”.

“Sekarang sedang lanjut kuliah di Sidney tapi tenang saja hubungan kami aman sekalipun hubungan cinta jarak jauh. Sebentar lagi S2 nya selesai. ”

“Cakeppppp deh. Itu baru namanya cowok”, pujiku sambil mengacungkan jempol.

“Yah udah sekarang siap-siap bentar lagi kita ke café”.

Menuju tempat kenangan selalu kurindukan

Dengan menggunakan motor Oka yang sudah berubah menjadi motor gede, kami menuju Café Ilona. Jantungku berdegup cepat setiap kali memikirkan akan bertemu Randa. Bagaimana keadaannya sekarang ?. Apakah masih sama seperti terakhir kali kulihat. Hatiku benar-benar sangat merindukannya. Apakah dirinya merindukanku juga ?

Café terlihat sudah sepi, beberapa pelayan sudah keluar. Kami masih menunggu dengan sabar sambil bercakap-cakap. Terlihat sekali Oka ingin menyaksikan moment pertemuanku kembali dengan Randa. Itu terlihat dari caranya meledekku. Saat kulihat bayangan Randa keluar, langkahku langsung menuju kebawah tangga. Tanpa sadar tak kulepaskan helm penutup wajahku. Panggilan Oka tak kuhiraukan, diriku ingin secepatnya bertemu.

Dua anak tangga lagi, dirinya turun dengan santai. Ah tidak berubah, hanya rambutnya sudah panjang sebahu. Gayanya masih sama tetap terlihat keren. Dia semakin mendekat menatapku aneh. Saat sudah berada didepanku langkahnya terhenti lalu menatapku. Diriku tersadar masih mengenakan helm tertutup. Bergegas tanganku ingin membukanya, tapi sebelum helm terlepas sebuah suara mengagetkanku.

Seorang wanita muncul dibelakangnya lalu langsung menggamit lengannya mesra. Hatiku kaget gerakan membuka helm kuurungkan. Dadaku berderit sakit, sejenak mata Randa menatap bingung seolah sadar akan keadaan saat melihat Oka berdiri tak jauh dariku. Sontak dia terkejut. Tapi hatiku sudah terlanjur terluka, wanita itu menggamit lengannya begitu mesra seolah takkan membiarkan lengannya melenggang sendiri. Pemandangan didepanku menyesakkan dadaku. Nafasku serasa akan berhenti. Langit sepertinya runtuh menimpa kepalaku. Harapanku musnah. Segera ku berbalik tapi tanganku ditahan Randa.

Ingin segera berlalu tapi dia menahanku

“Tunggu Riri”, terdengar suaranya keras. Tak lama kudengar suaranya berbicara pada wanita itu lalu sang wanita beranjak pulang duluan. Tubuhku berbalik menatapnya dari balik helm dengan hati pedih. Kubiarkan airmata mengalir dipipiku, tanpa berusaha untuk menghapusnya. Toh helm ini menyembunyikan air mataku.

Setelah sekian lama saling tatap, sementara pegangan ditanganku masih sangat erat, Dia akhirnya bergerak berusaha membuka helmku, tapi kuhindari. Tiada ingin terlihat menangis dihadapannya. Sayang akhirnya harus mengalah. Kubiarkan helm lepas dari kepalaku, membiarkan matanya melihat air mata menetes tanpa henti, membiarkan hatiku menangis.

Tangannya merengkuh tubuhku masuk dalam dekapannya. Mulutku terisak, pelukannya bukan milikku. Walau cintanya masih milikku tapi tubuhnya bukan lagi milikku. Walau yakin disudut hati paling dalamnya masih tertulis namaku, tapi masa depannya sudah tertulis nama wanita itu. Hatiku terasa perih…

“Maafkan aku Riri, maafkan harus memberi pertemuan seperti ini untukmu. Maafkan”. Bergetar suaranya. Kugelengkan kepala pelan mencoba melepaskan diri dari pelukanya, namun tangannya tetap menahanku.

“Kupikir kamu sudah melupakanku Ri, kupikir dirimu tak akan pernah kembali padaku. Maafkan karena mengingkari janjiku. Maafkan aku”.

Sekali lagi kepalaku menggeleng. Tiada pernah diriku menyalahkan Randa tapi tak akan juga menyalahkan waktu. Akulah yang memilih pergi untuk meninggalkannya. Diriku terlalu naïf menyangka cinta takkan pernah berubah. Kini hanya bisa mendoakannya tulus untuk cinta yang baru dirangkainya. Semoga bahagia bersama cinta kalian.

Kurenggangkan pelukannya lalu melangkah pergi. Tapi sebuah tarikan memaksaku untuk berbalik lagi, dia menarikku menuju mobilnya.

Mari nikmati pagi bersamaku untuk terakhir kali

“Sekali ini saja Ri, aku ingin menikmati pagi denganmu.”

Mobil dikemudikannya melaju kencang lalu berhenti ditepi danau. Selama perjalanan tak sedetikpun dilepaskan genggaman tangannya. Tempat ini merupakan tempat kami sering berkemah saat tanggal merah. Tak berubah, masih seperti dulu.

Kami keluar dari mobil lalu duduk diatas kap mobil. Sama-sama dengan terdiam. Diriku hanya bisa menyandarkan kepala dibahunya seperti tiga tahun lalu. Tak ada kata mampu kuucap hingga waktu terus berjalan dan matahari pagi mulai tersembul dari persembunyiannya. Bibirnya mengecup keningku lembut.

“Selamat tinggal Riri, maafkan aku”.

Aku menggeleng salam senyum kecut. Mencoba mengalahkan pedih memenuhi hati.

“Walaupun mungkin ini cuma pertemuan semusim kita, diriku hanya bisa mendoakanmu semoga kamu bahagia”, ucapku.

“Dan kamu juga Ri, kamu harus bahagia, harus !”.

“Ayo pulang Ran, jangan biarkan kekasihmu merasakan apa yang kurasakan saat ini”, ajakku kembali masuk ke mobil. Sebuah lagu menemani perjalanan kami kembali menuju realita. Menyadarkan bahwa tak selamanya cinta harus bersatu. Mungkin menjadi teman adalah pilihan tepat, tapi bisakah cinta menjadi teman ?

All I ask is If this is my last night with you.
Hold me like I’m more than just a friend.
Give me a memory I can use.
Take me by the hand while we do what lovers do.
Is matters how this end.
Cause what if I never love again.

Lirik lagu Adele mengalun syahdu semakin menenggelamkanku dalam perihku. (PW)


Terima kasih telah mengunjungi dan membaca cerita romantis kasih tak sampai. Semoga cerpen Bisfren diatas dapat memberi inspirasi serta menjadi motivasi untuk senantiasa menjaga hubungan meski dalam keadaan apapun. Salam sukses.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait