Kita dan Pertemuan-Pertemuan Tanpa Nada

cerpen sedih cinta tak sampai

Pertemuan tanpa nada adalah cerpen sedih cinta tak sampai seorang lelaki yang berkenalan lewat media sosial lalu bermaksud meningkatkan hubungan sebelum pergi ke luar negeri. Simak cerita mereka pada cerita pendek sedih berikut :

Cerpen Sedih Cinta Tak Sampai – Kita Dan Pertemuan Tanpa Nada

Aku memandangi hilir mudik pesawat yang lepas landas di bandara internasional ini. Sisa-sisa kantuk masih menggantung berat di kantung mataku setelah penerbangan pagi ini. Dulu, jauh sebelum aku mengenal seorang gadis manis dengan kacamatanya itu, bandara kota ini masih terletak jauh di jantung kota, dekat dengan perbatasan provinsi. Bertahun-tahun sesudahnya, bandara itu dipindah ke daerah pedesaan yang masih memiliki lahan kosong berhektar-hektar luasnya.

Katanya, dahulu proses pemindahan bandara ini ke sini menuai banyak protes dari warga sekitar yang merasa tidak puas dengan biaya ganti rugi atas tanah mereka yang kini telah digunakan sebagai bagian dari bandara internasional ini. Entahlah, aku membenci media massa dengan segala kebohongannya. Beberapa berita aku baca, lebih banyak hanya aku cecap sebagai bahan pemerkaya pemahaman.

Aku mengeluarkan ponsel pintarku dari saku, membuka sebuah aplikasi chatting dan mulai mencari nickname gadis berkacamata itu di kolom pencarian kontak. Untuk beberapa saat, tanganku hanya mengambang di atas layar ponsel yang menyala terang itu, mataku terpaku memperhatikan display picture yang dipasangnya di akun aplikasi chatting-nya itu.

Dia tidak banyak berubah, masih berkacamata seperti pertama kali aku mengenalnya. Garis keibuan dan pesona karismanya semakin menguat di sana. Mungkin minusnya sudah bertambah lebih parah, atau bahkan dia sudah terkena rabun dekat sekarang. Aku tak tahu, sudah lama sekali aku tak berhubungan dengannya, dan kini menatap garis senyum di display picture-nya itu membuat kerinduan dalam dadaku semakin membuncah. Seperti ada yang meletup-letup di sana.

Aku mengetikkan sebuah pesan kepadanya,

“Assalamualaikum, Haf.”

Tak seperti biasanya, aku tidak perlu menunggu lama seperti yang sudah-sudah, pesanku itu langsung dibaca olehnya. Aku mengenakan senyumku saat itu juga, kerinduan di dadaku semakin membuncah dibuatnya.

“Waalaikumussalaam, G. MasyaAllah, kamu apa kabar?”

“Aku, alhamdulillah tidak pernah lebih baik dari ini.”

“Sekarang kamu tinggal dimana? Kerja jadi apa? Njelehi ya? Sombong banget!?”

“Haf, aku lagi di Jogja nih. Baru turun tadi, bisa ketemu? Biar kita bisa ngoborol lebih lama lagi. :-)”

“Bisa banget. Nanti sore? Di Toko Donat deket Toko Buku Sudirman gimana?”

“OK”

Aku mematikan ponsel pintarku. Menimbang-nimbang apa saja yang ingin aku tanyakan dan ceritakan setelah beberapa tahun tidak berbicara dengannya. Tiba-tiba ada ragu yang juga menyerusup di dada, membuat perasaan rinduku semakin menyakitkan. Aku melambaikan tangan pada taksi dan memintanya melarikanku beserta pesakitan ini.

Aku segera meluncur ke Toko Donat ini selepas shalat berjamaah di masjid fakultas sebuah universitas swasta di dekat sini. Bekas air wudhuku yang belum sepenuhnya kering menambah kuat hawa dingin yang dikeluarkan penyejuk ruangan yang menggantung di pojok-pojok.

Aku memeluk diri sendiri, sial malam itu aku lupa membawa jaket. Jogja yang kukenal dulu tidak pernah sedingin ini. Jogja memang tidak dingin, dia panas, pendingin ruangan sialan itu saja yang menusuk-nusuk tulangku. Aku merutuk dalam hati.

Pintu masuk Toko Donat ini terbuka, seorang perempuan jangkung dengan kacamata hitam masuk, menebarkan aroma kayu manis dan biji kopi dengan setiap jejak langkahnya. Aku kenal betul dengan gaya jalannya. Perempuan itu, yang sejak bertahun-tahun lalu menjelma sebagai anomali di tengah kehangatan Jogja, sebuah kedinginan yang sepi. Aku melambai ke arahnya, dia balas melambai, agak kikuk berjalan menuju mejaku. Aku mempersilahkannya duduk begitu ia mendekat, ia tersenyum simpul sebelum akhirnya duduk persis di depanku.

Aku membuang pandangan ke arah lalu lalang mobil di jalan raya. Memandangi muka-muka orang yang lelah menanti di perempatan jalan, sesekali aku menebak apa yang ada di dalam pikiran orang-orang itu. Mungkin mereka baru saja bertengkar dengan pasangannya. Atau malah sedang dikejar deadline yang memuakkan. Aku semakin liar dengan perkiraan-perkiraanku, sampai akhirnya perempuan berkacamata itu menegurku.

“Sok, melankolis banget sih!”

“Eh, oh ya. Sorry, keasyikan. Jadi,…… apa kabar?”

“Baik. Kamu sendiri?”

“Baik.” untuk beberapa saat aku kembali melarikan pandanganku ke jalanan. Melarikan gugup yang sejak tadi hadir. Aku tidak pernah pandai menyembunyikan perasaan, semuanya akan jelas sekali tercermin dari tindak tandukku dan aku yakin saat ini, kegugupanku itu jelas terbaca olehnya. Aku meliriknya sebentar, ia mengeluarkan sebuah buku tebal dari totebagnya. Ah totebag itu. Aku mengenakan senyumku sedikit, totebag itu pemberian dariku kelas 1 SMA dulu. Aku senang ia masih menjaganya, dan perasaan itu tidak bisa kusembunyikan.

“Totebag itu masih awet ya?”

“Ah, iya. Udah agak kumal sih, soalnya sering aku pake kuliah.”

“Kuliah kamu udah selesai, kan?”

“Udah lama banget.”

“Kesampaian jadi psikolognya?”

“Ya, gitu lah. Life happens.”

“Hmm..” aku kembali membisu untuk beberapa waktu.

“Eh, udah pesen?” tanyanya

“Ah, nggak pesen. Lagi diet. Lagian juga udah ngopi kok.” aku mengangkat gelas kertas kopi di meja.

“Buat apa diet?! Berat badan nggak pernah sampai 50 aja, diet. Coffe Addict! Berhenti kenapa? Mending minum jus, more healthy!”

“We grow together. We can’t be separated, Haf.” ia cuma menutup bukunya. Memukulkannya ke kepalaku.

“Dan diet yang aku lakuin itu diet gula. Bukan diet karbo.”

“Kena diabetes?” sesaat aku menangkap raut kekhawatiran dari wajahnya.

“Nggak, na’udzubillah. Jangan sampe.”

“Lah? Terus?”

“Aku cuma jaga kesehatan aja.”

“Gaya lu! Kek dokter aja!” dia kembali menimpukkan bukunya ke kepalaku. Aku meringis kecil sambil bergumam, “dulu calon dokter,” lalu tertawa lepas bersamanya untuk beberapa menit yang panjang. Setelah itu kembali hening.

Aku menggosok-gosokkan kedua telapak tangan, mencoba membunuh dingin yang kembali hadir. Kopi yang kupesan sudah dingin. Tidak lagi berdaya membantuku melawan dingin, sekalipun hanya di telapak tangan. Aku memperhatikan gadis berkacamata itu meletakkan bukunya tertutup di atas meja. Gerak-geriknya seperti ingin menyampaikan sesuatu,

“Udah lama banget ya kita nggak ngobrol?” ucapnya menatap gelas kopiku yang tinggal setengah isinya

“Aha. Lama banget.”

“Kamu kemana aja?”

“Aku? Nyelesein kuliah, aktif di organisasi kampus, sama temen-temen juga ikut berkontribusi di lembaga sosial. Sekarang kerja di start up.”

“Kesampaian ya kerja di start up?”

“Alhamdulillah kesampaian. Kamu? Apa kabar? Kemana aja selama ini?”

“Aku, ya kayak gini aja. Di Jogja, kuliah, aktif organisasi,”

“Masih aktif jas kuning?” aku memotong.

“Masih? Kenapa?”

“Dasar! Nggak papa kok. Mantap jiwa lah, soalnya kan itu organisasi juga yang udah ngebesarin bakatmu ya?”

“Gitu deh. Hamdalah masih istiqomah.”

“Terus? Bisnis batiknya? Apa kabar?”

“Aku nggak jadi bisnis batik, G. Terlalu banyak kompetitor.”

“Inovasi dong! Sedikit lebih beda lebih baik daripada sedikit lebih baik, gitu katanya Pandji.”

“Iya sih. Tapi susah buat sustain tau.”

“Terus sekarang kamu bisnis apa di Jogja?”

“Bisnis kue.”

“Wah, boleh tuh aku dioleh-olehin waktu pulang ke Bogor nanti.”

“Buat anak istri?”

“Yaelah, buat temen-temen kantor, lah.”

“Kamu belum nikah?”

“Mau nikahin siapa? Sapi?”

“Iya, sapi aja. Kapan sebar undangan?”

“Ngaco!” aku tertawa lepas bersamanya. Lalu hening sesaat,

“Jadi, what is the reason?”

“Reason for?”

“Alasan buat kamu hilang selama beberapa tahun.”

“Nggak ada alasan. Lagi fokus aja.”

“Fokus? Sama apaan?”

“Sama pekerjaan lah. Apalagi?”

“As simple as that?”

“Ya, as simple as that.”

“Kenapa, Haf? Rindu?”

“Ya, aku rindu sama kebegoanmu.”

“Yaelah, aku beda nggak bego.”

“Seterah, lah.”

“Yang bener itu terserah bukan seterah.”

“Seterah lah, bodo amat.”

“Kamu sendiri? Udah nikah, Haf?”

“Belum.”

“Terus itu cincin?” aku memperhatikan cincin yang melingkar indah di jari manisnya. Berkilat-kilat ditimpa cahaya lampu Toko Donat ini.

“Tunangan.”

“Dokter?”

“Bukan.”

“Tentara?”

“Bukan.”

“Terus?”

“Anak start up juga.” aku hening. Untuk beberapa saat rasanya ada ruang kosong seluas lingkaran gelas kertas kopi itu di dadaku. Hampa sekali.

“Selamat yah!” dia cuma mengedip.

“Kamu makin karismatik aja, Haf.”

“Terimakasih.”

“Sesuatu yang bikin saya jatuh cinta sejak pertama kali kenal kamu.”

“Maksudnya gimana, G?”

“Karismamu. Apa kamu nggak pernah sadar kalau dari dulu saya punya perasaan ke kamu?”

“Sebentar. Kamu ngomong apa sih, G?”

“Waktu dulu aku confess ke kamu. Tapi ngakunya prank. Waktu itu aku bener-bener jujur. Cuma karena udah tahu bakalan gimana jawabanmu, ya aku bilangnya itu prank.”

“Maksud kamu?”

“Aku sayang sama kamu, Haf. Dari dulu, dari pertama kali kamu nyuruh aku baca blogmu.”

“G, stop.”

“Aku jauh-jauh dari Bogor, cuma mau ngomong itu kok, Haf. Aku udah ngga kuat lagi buat nahan-nahan bertahun-tahun lagi.”

“Terus?”

“Ya udah. Aku udah lega bisa ngomong yang sebenernya sama kamu, Haf. Langsung. Setelah semua mimpi-mimpi yang pernah kita bagi terwujud satu per satu.”

Hening sejenak. Aku mengeluarkan sebuah bungkusan biru dongker dari tasku, menyodorkan ke arahnya.

“Ini ada bingkisan kecil. Sama persis isinya kayak yang pernah aku kasih ke kamu waktu ulangtahun ke-17.” ia hanya menatapku dan bungkusan itu bolak-balik.

“Diterima ya? Jangan nolak. Nanti dosa.”

“Makasih, G.”

“Sama-sama.”

“Ohya, Haf. Bisa ngobrol sambil jalan?”

“Mau kemana?”

“Ke jembatan Gondokusuman aja.”

“Boleh.” aku berdiri diikuti dirinya, lalu berjalan ke arah kasir dan membayar segelas kopi yang masih tersisa setengah isinya. Kami berjalan bersisian menghabiskan senja. Setiap langkah yang terjejak membawa diriku ke tengah-tengah kenangan dimana pernah ada dirinya. Obrolan-obrolan serius, pertukaran ide dan harapan. Semuanya membunuh di belakang rentetan waktu yang begitu memuakkan sore itu.

Aku tidak bisa menahan kekecewaan. Ia tercecer jelas di langkah-langkah pelan yang aku ambil. Sepanjang perjalanan menuju jembatan itu hanya keheningan yang kami habiskan bersama-sama dengan waktu. Aku memilih untuk menyandarkan tangan begitu sampai di tengah jembatan. Melarikan pandangan ke atap-atap rumah warna-warni di bawahnya.

“Haf, dulu aku inget banget pertama kali tahu jembatan indah ini dari postingan blogmu. Kamu upload foto dengan background atap warna-warni itu di sana. Terus isinya, kamu cerita tentang alone trip-mu di akhir Jumat. Aku langsung penasaran sama tempat ini. Minggu besoknya, aku langsung naik bis kota ke tempat ini. Nggak ngapa-ngapain, cuma mau buktiin kalo tempat ini lebih keren daripada fotonya.” aku menatap wajahnya di akhir kalimat. Ia hanya melongo.

“Coba senyum, Haf. Kayak di foto itu.” Ia tersenyum kecut.

“Ah, nggak manis. Nggak kayak di postingan blogmu.” aku tertawa mengejek. Ia hanya tersenyum semakin kecut. Selebihnya kembali hening.

“Ohya, Haf. Aku juga mampir ke perpustakaan kota di deket Toko Donat tadi, soalnya di postingan itu kamu juga cerita soal perpustakaan itu.” ia hanya menatapku, bingung.

“Haf, lusa aku mau berangkat ke Seattle buat kuliah lagi. Take care ya?”

Ia hanya menatapku, dalam sekali. Seperti ada yang ingin diucapkan oleh kedua matanya.

“Kedatangan aku ke Jogja, cuma mau pamitan. Sekalian deh, ngucapin selamat menempuh hidup baru! Kalau-kalau nantinya aku nggak bisa hadir ke pesta pernikahanmu.”

“Makasih banyak buat semuanya, G. Buat semua yang udah kamu kasih ke aku selama ini.”

“Sama-sama, Haf.”

Lalu kami sama-sama hening, membunuh waktu dengan pikiran masing-masing. Memandangi warna-warni atap yang disoroti lampu-lampu jalan yang mulai dinyalakan. Lama kami melakukan hal itu, sampai akhirnya aku bersuara,

“Haf, anter aku ke halte ya?”

“Udah mau pulang?”

“Iya.”

“Motorku diparkir di Toko Donat tadi. Tapi ga pa pa, ayolah!”

Lalu kami berjalan bersisian menuju halte bus di seberang jalan. Ia mengantarkanku sampai sebuah bus datang menjemputku. Ia hilang ditelan keheningan dan malam yang semakin dekat denganku. Lalu di sudut bus itu, aku mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil dari tas. Membukanya dan memandangi kilat-kilat yang dipancarkan dari sebuah cincin kecil di dalamnya. Hatiku hening. Dingin dan rapuh.


Terima kasih telah membaca cerpen sedih cinta tak sampai pertemuan tanpa nada. Semoga cerita pendek diatas dapat menghibur dan memberi inspirasi bagi sobat untuk berkarya. Salam sukses.

Dibagikan

Septian Galuh

Penulis :

Artikel terkait