Pertikaian @ Cerpen Cerita Pendek Anak – Bisfren.com

cerita anak singkat

Pertikaian adalah cerita anak singkat tentang main petasan di kampung padahal ada warga sedang sakit sehingga merasa terganggu dan nyaris terjadi perkelahian. Cerita ini cukup menarik para pembaca dan menerima cukup banyak jempol dari pengunjung. Simak cerita pendek berikut.

Cerita Anak Singkat – Pertikaian

Sejak lahir sampai besar aku hidup dan tinggal di kampung Sukajaya. Kebanyakan warga di kampungku berprofesi sebagai petani. Namun, sawah mereka garap bukan milik mereka sendiri. Mereka hanya buruh tani bertugas membajak, mananami, juga memanen sawah milik salah seorang warga kampung sebelah. Keadaan warga kampung kami terbilang kurang mampu sehingga membuat mereka hanya mampu menyekolahkan anak-anak mentok hanya sampai SMP. Jangankan untuk sekolah, untuk makan saja susah.

Para pemuda di kampungku sebagian berijazah terakhir SMP, sebagian lagi hanya lulusan SD, bahkan beberapa tidak pernah mengecap bangku sekolah, tidak mampu mencari pekerjaan layak. Meskipun demikian, banyak diantara para pemuda-pemuda masih memiliki semangat juang tinggi. Mereka akan bekerja apa saja agar dapat menghasilkan uang. Menjadi kuli panggul di pasar, ikut orang tuanya bertani, sampai merantau ke luar kampung pun mereka jalani. Akan tetapi diantara mereka juga lebih suka menghabiskan waktunya hanya untuk nongkrong-nongkrong tak jelas.

Sementara keadaan keluargaku sedikit berbeda. Meskipun ekonomi keluargaku sering tak menentu, tapi pendidikan merupakan satu hal mutlak bagi kedua orang tuaku. Ayahku bekerja sebagai PNS sementara Ibuku mengurus rumah. Orang tuaku mampu menyekolahkan kesembilan anak mereka sampai perguruan tinggi. Semua kakak-kakakku berhasil menjadi orang. Perbedaan sosial antara keluargaku dengan para warga kampung memicu rasa iri para warga kurang mampu. Sebentar-sebentar terdengar desas-desus kecurigaan para tetangga terhadap keluargaku. Namun tidak sampai memunculkan konflik panas. Tepatnya belum. Karena ternyata malam itu menjadi titik awal pertikaian antara keluargaku dengan sekelompok pemuda penganggur yang suka bikin ulah.

Bulan puasa menjadi momen ditunggu-tunggu setiap tahun oleh seluruh muslim. Tak terkecuali oleh sekelompok pemuda kampungku. Bagi muslim lain, Ramadhan menjadi ladang pahala luas, mereka berlomba-lomba untuk beribadah. Sedangkan bagi para pemuda kampungku, Ramadhan menjadi ladang kesenangan, berlomba-lomba untuk meyalakan petasan sepuasnya!

Sudah menjadi kebiasaan para pemuda kampung membunyikan petasan pada saat malam-malam bulan Ramadhan.

“Duaarr.. Duaarr.. Duaarr..!!!”

Suara petasan dinyalakan sekelompok pemuda terdengar menggelegar.

“Bu, sakit… Bisa tidak petasannya jangan bunyi terus ? Vivi gak bisa tidur.” keluh adikku. Usianya baru delapan tahun, dia sedang terkena diare.

Terlihat ibuku sedang mengompres kening adikku. Saat itu diriku masih duduk di bangku SMA, baru pulang dari berlatih pencak silat pada kampung tetangga.

“Iya sayang, Ibu keluar dulu sebentar.” sahut ibuku.

“Lho, Ibu mau ke mana ?” tanya bapakku heran.

“Ibu mau bicara pada mereka, supaya malam ini mereka jangan dulu main petasan dekat rumah kita.” jawab ibuku.

“Re, jaga adik kamu.” ibu memerintahku.

“Baik, Bu.” jawabku patuh.

Ku lirik jam dinding terpasang pada kamar adikku menunjukkan pukul 21.45.

Selang beberapa menit Ibu kembali. Alhamdulillah, sudah tidak terdengar bunyi petasan mengagetkan. Akhirnya seisi rumah dapat melepas lelah untuk beberapa saat, hingga tiba-tiba…

“Duaarr…Duuaarr..duaarr..!!!”

bunyi petasan sangat keras, terdengar seperti sengaja dilemparkan ke arah rumahku.

“Astaghfirullahaladzim !”

Aku terlonjak kaget dari kursi.

Adikku yang tadi tertidur pulas terbangun lalu langsung menangis karena kaget.

“Apa-apaan mereka!” bentakku.

“Sudah dikasih tahu baik-baik, tidak mau dengar juga rupanya.” Amarahku mulai naik.

Aku bergegas hendak keluar rumah.

“Re, kamu mau ke mana ?” tanya ayah juga ibuku hampir bersamaan.

“Mereka sudah keterlaulan, Yah, Bu. Rere harus kasih mereka pelajaran. Biar kapok!”

Diirku segera pergi sebelum orang tuaku berusaha mencegahku. Dengan sigap ku menghampiri sekelompok pemuda sedang duduk-duduk sambil tertawa pada sebuah rumah terletak tepat didepan rumahku. Ada tujuh pemuda, kira-kira umur mereka lima tahun di atasku.

“Mas, tadi Ibu saya ke sini tidak ?” nada suaraku sedikit ku tekan.

“Iya, Re.” jawab salah seorang pemuda.

“Ibuku tadi ke sini bilang apa ?”

“Oh, Ibu kamu tadi ngasih tahu kalau adik kamu lagi sakit. Benar begitu ?” nadanya seolah tidak percaya, semakin memancing emosiku.

“Iya benar, adikku lagi terkena diare.” ku tetap bersabar sebisaku.

“Terus kamu ke sini mau apa, Re ?” tanya seorang pemuda bernama Joko, si ketua geng. Tatapan matanya memancarkan ketidaksenangannya atas kehadiranku. Sepertinya dirinya merasa kalau kedatanganku untuk membuat masalah dengannya.

Joko, anak tetangga depan rumah. Ibunya membuka warung, dia menjual banyak petasan berbagai ukuran.

“Aku ke sini mau minta baik-baik, tolong jangan membunyikan petasan. Kalau tidak mau, kalian boleh membunyikannya ditempat lain. Asal suaranya jangan sampai ke rumahku.” jawabku tegas.

“Hah, berani sekali kamu ngatur-ngatur orang ! Memangnya tempat ini punyamu. Kenapa bukan kamu saja pergi dari sini ?” seru Joko dengan nada mengusir.

Mendengar ucapan si ketua geng, ubun-ubunku mulai panas. Habis kesabaranku. Ku kumpulkan kekuatan serta keberanianku. Diriku memang anak perempuan terkenal tomboy juga berani. Apalagi saat emosiku terpancing seperti saat ini. Keberanianku menjadi ganas.

Ku langkahkan kakiku mendekati Joko. Langkah demi langkah, semakin dekat. Laki-laki menjabat ketua geng itu kini tepat berada di depanku. Tanpa menunggu waktu, ku rebut kantong plastik hitam sedang digenggamnya. Kantong plastik berisi puluhan petasan masih baru. Ku tumpahkan seluruh isinya ke selokan penuh genangan air sisa air hujan tadi sore.

Para pemuda terkaget-kaget tak menyangka. Melihat perbuatan tak mereka sangka tersebut, mata-mata merah mulai menyala. Joko serta enam anak buahnya menatapku penuh amarah. Namun, mereka tidak berbuat apa-apa. Mungkin mereka malu jika harus menyerang seorang anak perempuan kecil. Cukup jantan juga mereka rupanya. Malam itu semua orang sudah berada di rumah masing-masing. Karena memang sudah waktunya orang-orang beristirahat.

Sekarang hanya ada diriku dengan lawanku, sekelompok pemuda pada hadapanku.

Diriku berdiri menunggu reaksi mereka. Tak satupu bergerak. Tak ada suara. Hanya pandangan kemarahan mereka berbicara. Setelah ku perhatikan beberapa saat, tidak ada satupun terlihat berusaha mendekatiku. Dengan mantap ku langkahkan kaki kembali ke rumah. Kuputuskan untuk tidak menggunakan jurus-jurus ku kuasai. Malam itu diriku hanya berniat memberikan peringatan tegas. Dan semuanya selesai. Pikirku.

*******

Pagi-pagi sekali ketika hendak berangkat sekolah, ibuku yang baru pulang habis membeli bubur untuk sarapan terlihat kacau. Air mata Ibu keluar. Setelah ku tanya, akhirnya ku tahu bahwa bisikan para tetangga membuat hati ibuku sedih. Hatiku menduga pasti ada hubungannya dengan kejadian semalam. Entah apa dikatakan oleh para pemuda yang semalam berselisih denganku kepada orang-orang tentang perbuatanku.

Ibu mendengar kalau ada orang mengatakan bahwa tiap malam Jum’at diriku pergi ke seorang dukun, bukan berlatih silat seperti selama ini ku katakan. Astaghfirullah. Tuduhan macam itu. Sungguh kejam. Menyebut kata dukun saja membuatku merinding, apalagi menyambanginya ?!.

Tidak berhenti disitu aksi balas dendam para pemuda karena merasa sakit hati atas perbuatanku. Lima hari setelah peristiwa malam tersebut, bapak dari salah satu pemuda meninggal. Sebelumnya memang almarhum sakit keras. Tidak ada orang tahu apa penyakitnya, karena tak pernah diperiksakan secara medis. Lebih mengejutkan lagi ketika sore hari saat sedang mencari jangkrik di kebun samping rumah, kudengar samar-samar percakapan seorang bapak lima puluh tahunan dengan dua orang pemuda yang ku kenali. Keadaan gelap memungkinkanku untuk bersembunyi untuk menguping pembicaraan mereka.

“Apa kalian tahu, sebenarnya bapaknya si Ali itu sakit apa ? Sakit kok datangnya tiba-tiba, sembuhnya juga tiba-tiba. Eh akhirnya kemarin mati.” kata seorang bapak.

“Iya ya… Saya juga tidak tahu. Keluarganya si Ali kan gak punya duit buat berobat, jadi dibiarkan aja tuh penyakit.” sahut pemuda bernama Soleh.

“Masa Bapak gak tahu si.” sela Joko.

“Tahu apa, nak Joko?” tanya seorang bapak.

“Sakitnya bapaknya si Ali itu kan karena ada orang bikin.” sedikit berbisik.

“Dibikin gimana maksudnya, Ko?” tanya Soleh tak mengerti.

“Dibikin… Ya dibikin sama dukun.”jawab Joko hati-hati takut ada orang mendengar.

“Astaghfirullah! Dukun apa?! Siapa yang melakukannya?” seru bapak itu dan Soleh kaget bersamaan.

“Ya dukun santet. Makanya bapaknya si Ali gak sembuh-sembuh padahal udah dikasih obat tradisional. Dan yang berani melakukan itu cuma si anak belagu itu! Si Rere anaknya Pak Guru Nurdin.” lanjut Joko mulai berabi-api, lebih-lebih saat menyebut namaku.

“Hush, kamu jangan sembarangan nuduh orang kalau gak py bukti.” timpal seorang bapak.

“Yee… Bapak gak percaya. Ngapain coba dia pergi ke kampung sebelah tiap malam Jum’at, sendirian lagi…” seru Joko memprovokasi.

Perasaanku berubah drastis. Rasa marah, sakit, juga takut menjadi satu. Ku akui kepandaian Joko memprovokasi orang-orang kampung. Apa akan dilakukan para warga kalau mereka mempercayai ucapan Joko. Tak berani ku bayangkan. Ternyata dendam Joko sangat besar. Pembalasan lebih kejam ku terima.

Selepas sholat maghrib berjama’ah di rumah, aku menceritakan tentang apa ku dengar tadi sore kepada Ayah juga Ibu.

Betapa terkejutnya orang tuaku.

Tiba-tiba terdengar banyak derap langkah kaki diiringi teriakan-teriakan mendekati rumahku. Ayah, Ibu, adik, dan aku mengintip dibalik gorden jendela ruang tamu. Terlihat sekumpulan orang-orang berdiri di halaman rumah. Semuanya laki-laki. Ada yang membawa benda tajam, alat pemukul, dan obor. Seisi rumah merasa ketakutan. Ayah dan Ibuku saling pandang merasa takut. Ku peluk adikku, dan ku tutup mulutnya agar suara tangisnya tidak terdengar keluar. Ayah bergegas mematikan lampu-lampu rumah, dan menyalakan satu lampu pijar.

“Dasar tukang santet, keluar kalian!” teriak salah seorang dari mereka.

“Pembunuh!” itu suara Ali.

“Pengecut!” sambung seorang yang lainnya.

Teriakan-teriakan kasar dan kotor terus terdengar. Pintu-pintu rumah pun mereka gedor-gedor. Aku dan keluargaku tak menghiraukan suara-suara dan teriakan-teriakan itu. Seluruh penghuni rumah hanya berdo’a kepada Allah. Surat Al Fatihah, An-Nas, Al Ikhlas, dan Ayat kursi kami baca dengan pelan namun fasih. Mengharap dengan penuh akan perlindungan dari Allah SWT.

“Katakanlah, “Saya berlindung kepada Tuhan manusia. Yang merajai seluruh manusia.

Tuhan (sesembahan) manusia, Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, Yang membisikkan (keburukan) ke dalam dada manusia, Dari jin dan manusia.”

Tepat pada bacaan terakhir, tiba-tiba terdengar suara adzan, memasuki waktu ‘Isya.

Ku ucap syukur. Inikah tanda perlindungan dari-Mu Ya Allah ?

Kembali ku intip kondisi di luar. Hening. Derap langkah-langkah kaki menjauh dari rumahku. Besoknya keadaan mulai berubah. Ibu-ibu kembali tersenyum ramah menyapa Ibuku di warung. Ada sesuatu yang hilang dari pandangan. Beberapa hari belakangan ini Joko tak terlihat. Aku mendengar bahwa Joko telah ditangkap Polisi saat berjudi dan minum-minum bersama gengnya di sebuah rumah kosong. Tepat di malam aksi demo dadakan di rumahku yang ternyata semua itu rencana Joko.(NA)


Terima kasih telah mengunjungi dan membaca cerita anak singkat “Pertikaian”. Untuk mengapresiasi penulis, mohon berikan suka dan bagikan cerita sosial anak singkat ini melalui facebook, twitter, google+ dan pinterest dengan mengklik ikon dibawah. Jangan lupa baca juga cerita pendek anak kami lainnya.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait