Pilihan Ibu

cerita menikah terpaksa

Pilihan ibu adalah sebuah cerita menikah terpaksa dengan lelaki yang tidak dicintai yang dipilihkan oleh ibunya karena sedang patah hati. Penuh pesan, demikian sedikit tentang kisah ini. Simak pada cerpen berikut :

Cerita Menikah Terpaksa – Pilihan Ibu

“Ibu, aku dan Dimas sudah dekat sejak empat bulan lalu. Maafkan kalau aku tak pernah bercerita pada Ibu, semua hanya karena tak ingin mengecewakan hati ibu lagi” kataku setengah memelas pada ibu. Ku genggam tangannya namun dengan halus ibu melepaskannya.

“Kau tak pernah mau mendengar ucapan ibu”. Pandangannya jauh ke depan enggan menatapku. “Bu, sama sekali Rina tak bermaksud demikian, tapi hatiku mencintainya bahkan sudah lama mengenalnya”. Kucoba meyakinkan Ibu namun tapaknya dia tiada bergeming.

“Dulu waktu kamu pacaran sama Dodi, ibu tidak setuju. Tapi kau bersikeras. Ingat apa yang kau katakan dulu ? Dodi menyayangiku, akupun menyayanginya. Aku yakin dia bisa menjagaku…. Lalu apa dia lakukan adamu ?! Apa kamu sudah lupa dengan semua kesedihanmu kala itu ?”, berondong Ibuku nyinyir.  Dari sudut matanya kulihat ada kesedihan dalam amarahnya. “Apa kamu sudah lupa bagaimana kamu sedemikian terpuruk akibat ditinggalkannya ? naluri ibu tidak pernah salah. Dia bukan lelaki baik buatmu, tapi terus saja kau menyangkalnya. Coba kamu ingat lagi betapa susahnya kau menata kembali hidupmu akibat tidak mau mendengar kata-kata ibu”

“Sekarang tiba-tiba kamu mengajak lelaki yang kau sebut Dimas, padahal Ibu baru saja memintamu untuk menikah dengan Ardi. Apa maksudmu dengan semua ini ? apa kamu tidak ingin mendengarkan kata – kata Ibumu yang membesarkanmu, yang bersusah-payah mendidik, menyekolahkanmu hingga seperti sekarang ini ? Ardi anak baik. Keluarganya Ibu kenal dengan jelas. Pekerjaannya juga jelas. Dan dia sudah siap untuk menikah.” Dan airmata ibupun tumpah seketika. Kutahu Ibu teramat menyayangiku. Segala amarahnya kepadaku lebih karena rasa kecewa kepada diriku.

Tak mampu ku bantah keinginan ibu

“Bu, Rina…..”

“Ibu ingin kamu bersama pemuda baik. Ardi anak baik” ibu memandangku dalam – dalam.

“Bu, mohon mengerti Rina. Rina sangat mengenal Dimas, dia pemuda baik. Dia pasti bisa menjagaku”. Kini diriku ikut menangis, airmataku tumpah tanpa ampun.

“Dimas mungkin anak baik, tapi dia tidak bisa menjadi suamimu. Keyakinan kita dengan dia berbeda. Ingat itu, Din !” kini mata ibu seperti geram padaku.

“Bu, Rina sayang Dimas… Rina,…” kini kurasakan kepalaku berat.

“Rin, orang yang keyakinannya sama saja setelah menikah banyak masalahnya. Apalagi kalau keyakinannya berbeda. Kamu akan merasakan beban lebih berat terutama saat hari perayaan agama masing-masing. Pertimbangkan itu !”.

Pasangan dengan keyakinan sama memiliki banyak masalah saat berumah tangga, apalagi jika berbeda keyakinan

Cintaku harus gagal lagi

Sungguh tiada bisa kuterima kenyataan bahwa, apabila untuk kedua kalinya cintaku harus pupus. Dulu diriku ditinggalkan Dodi, kini sebaliknya sekarang aku harus meninggalkan kekasihku Dimas. Meski kami belum tentu bisa menikah tetapi hatiku sudah terpaut padanya, hatiku tulus menyayanginya. Kami memang belum menyinggung masalah pernikahan yang pastinya sulit dilakukan karena berbeda agama.

Aah… mengapa selalu saja diriku dihadapkan pada pilihan sulit. Kupeluk ibu lalu kamipun menangis berdua. “Berikan aku waktu beberapa hari untuk memikirkannya bu” kataku. Ibu mengangguk dan membelai lembut rambutku. Ada kedamaian kurasakan dalam setiap belaian tangannya. Tiba-tiba saja ingatanku melayang merasakan indahnya masa kecil dulu sebelum Ayah meninggal.

Cinta tak sampai terulang lagi dalam hidupku

“Mulai hari ini sebaiknya kamu tak usah menemuiku lagi ” airmata ku tumpah seketika saat mengatakannya kepada Dimas. Benar-benar tidak bisa kutahan cairan bening mengalir dari kedua mataku. Dimas menatapku dalam namun kuhindari dengan memalingkan wajah. Melihat matanya sungguh menghancurkan perasaanku.

“Setidaknya berikan penjelasan, mengapa tiba-tiba kamu minta putus” katanya pelan. Dari nada berbicaranya, kudengar nada marah serta kesedihan tertahan. Pasti rasanya sakit sekali ditinggalkan kekasih saat rasa cinta dan sayang tengah membara. Kuyakini itu, karena diriku pernah merasakannya. Mulutku hanya diam, kepalaku menunduk. Sulit sekali untuk menjelaskan mengapa aku memintanya untuk memutuskan hubungan cinta kami.

“Hatiku sangat mencintaimu..” ucap Dimas lagi karena melihatku hanya terdiam. “Andai kamu berada pada posisiku, tiba-tiba diputuskan ..”. Tak dilanjutkan ucapannya. Sedetikpun mataku tak ingin melihat ekspresi wajahnya. Cukup suaranya saja yang kudengar.

Mulutku ingin mengatakan “Keyakinan kita berbeda Dimas …” namun kuurungkan karena kalau itu dijadikan alasan lalu dia berkata ingin berpindah keyakinan tentu masalahnya akan jadi lebih panjang. Ibuku belum tentu bisa menerimanya karena sudah jauh-jauh hari mempersiapkan Ardi.

Dimas begitu tegar menghadapi keputusankan

“Pergilah Dimas, mendengarkan penjelasanku lebih banyak lagi hanya akan semakin menyakiti hatimu. Anggaplah kita memang tidak berjodoh meskipun kamu tahu bagaimana perasaanku padamu”. Segera diriku bangkit lalu pergi meninggalkannya tanpa menoleh sedikitpun. Dimas tidak mengikuti bahkan tidak berusaha mencegahku. Menurutku memang seperti itulah seharusnya lelaki, tidak perlu mengejar apalagi sampai menghiba di depan wanita yang memutuskan cintanya. Sikap diamnya itu semakin membuatku kagum padanya. Hatiku yakin dia mencintaiku, sedih akan perpisahan tetapi tidak mau menunjukkannya.

Aku terpaksa menikah dengan pilihan ibu, lalu ku kubur cinta di hatiku

Sebulan sudah sejak pertemuan terakhirku dengan Dimas. Harus kuakui kerinduan begitu besar dalam hatiku. Tapi semua kutahan semata-mata karena tak ingin membuatnya sakit lebih banyak lagi. Masih kuingat waktu ditinggalkan mantan pacar. Setiap kali berkomunikasi melalui SMS atau Whatsapp selalu saja muncul harapan-harapan hampa yang pada akhirnya semakin membuatku sulit melupakan. Ya .. waktu itu meski sudah memutuskanku, Dodi masih saja suka mengirim pesan bahkan mengajak bertemu.

Sampai akhirnya kusadari bahwa SMS dan Whatsapp itulah penyebab mengapa aku jadi semakin sulit melupakannya. Sementara hatinya sudah bukan untukku tetapi kalau sedang bosan atau kesepian dia menghubungiku. Akhirnya kuganti nomor ponsel serta menutup akun media sosial yang kumiliki. Meskipun sudah ganti nomor tetap saja kuhindari menggunakan HP untuk chatting dengan teman. Kalau ingin bicara kupilih untuk janjian bertemu dimana saja asal tidak bercakap melalui pesan. Dan syukurlah, perlahan namun pasti diriku bisa melupakannya.

Begitu yang pernah kurasa, begitu pula yang kulakukan pada Dimas. Bukan diriku bermaksud menyakiti lebih dalam lagi, melainkan sebaliknya. Acara pernikahanku dengan Ardi sudah semakin dekat. Meski terpaksa menikah tetapi pernikahan kami tidak boleh menjadi pernikahan sandiwara. Biarlah ku kubur cinta dihatiku pada Dimas. Dan keberikan hati serta tubuhku pada Ardi, pria pilihan ibuku. Kuyakini pilihan ibuku adalah pilihan terbaik, jodoh dari Tuhan untukku. Selain itu tak ada orang tua ingin menjerumuskan anaknya. Apapun yang mereka lalukan untuk anaknya itulah hal terbaik sekemampuan mereka. Semoga Tuhan senantiasa memberkahi keluarga kami.


Terima kasih telah membaca curahan hati dalam cerita menikah terpaksa karena dipilihkan ibu. Semoga cerpen diatas dapat menghibur dan bermanfaat bagi sobat Bisfren sekalian. Tetaplah optimis dan semangat dalam menjalani hidup. Jadikan segala peristiwa yang kita alami maupun kita lihat sebagai sumber inspirasi dan motivasi untuk mencapai cita – cita dan menghasilkan karya terbaik.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait

2 Comments

  1. Ini cerita konfliknya bagus ya tapi kenapa dibuat terlalu pendek ? Sayang banget. Harusnya ditulis ulang mbak @Putry nih