Progeria

cerita pendek remaja penderita progeria

Progeria adalah cerita pendek remaja yang mengalami penyakit penuaan. Kekurangannya membuatnya jadi bahan ejekan sehingga dia ingin memiliki banyak teman meski dengan cara yang salah. Bagaimana cerpen motivasi inspiratif ini berkisah ? simak selengkapnya :

Cerita Pendek Remaja – Progeria

Pagi ini langit terlihat begitu cerah. Terlihat beberapa murid berbondong-bondong memasuki sekolah. Tapi sepertinya cuaca pagi ini tak berlaku bagi Roni. Roni memasuki gerbang sekolah dengan langkah yang tak bersemangat, bahkan ia berjalan sambil menunduk.

“Minggir…! Minggir…! Pak Roni mau lewat…,” teriak salah seorang murid yang sedang melintas.

Spontan saja beberapa murid yang memasuki sekolah menoleh ke arahnya dan menatapnya aneh. Mereka menghentikan langkah kakinya dan memeberi jalan kepada Roni. Roni melewati mereka dengan kepala yang menunduk. Wajahnya memerah karena menahan malu.

Suasana kelas tampak begitu ramai. Hal itu bisa diketahui dari suara ribut yang terdengar hingga luar kelas. Roni masuk ke dalam kelas dengan perasaan yang tak karuan.

“Semuanya… Pak Roni sudah datang. Cepat beri salam! Nanti kita semua kualat sama dia,” teriak Roy dari arah bangkunya.

Spontan saja seluruh penghuni kelas tertawa. Roni terdiam dan cepat-cepat melangkahkan kakinya menuju bangkunya. Kedua bola matanya menatap Roy dan teman-temannya yang masih menertawakannya dengan tatapan mereka yang merendahkan. Wajah Roni pun terlihat memerah karena menahan amarah.

Sejak kecil Roni tak seperti anak-anak normal lainnya. Roni divonis mengidap penyakit progreria. Sebuah penyakit kelainan genetika yang membuat fisiknya mengalami penuaan. Bahkan menurut dokter semua organ dalam pun tak luput dari kerentaan. Menurut dokter, anak yang mengidap progeria hanya mampu bertahan hidup sampai umur 21 tahun.

Kadang Roni merasa bahwa Allah tak adil terhadap dirinya karena tak terlahir normal seperti anak-anak seusianya. Ia sering disangka bapak-bapak ketika sedang keluar rumah. di kelas pun ia menjadi bahan ledekan. Sering kali Roni melihat mereka sedang menatapnya dengan tatapan yang aneh. Hatinya begitu sedih dan juga sakit.

Dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia ingin sekali mempunyai banyak teman. Tapi setiap kali ia melihat penampilannya dan tatapan orang-orang padanya, ia putus asa. Sejak lama Roni ingin sekali berobat ke dokter, tapi ia urungkan niatnya itu. Jangankan untuk berobat ke dokter, untuk membeli buku saja ia harus mengirit uang jajannya. Roni hanya bisa menghela napas panjang, mencoba menenangkan hati dan pikirannya.

“Hoi!” tegur Dani yang membuat Roni tersentak kaget. Pikirannya yang sedang menjelajah pun dipaksa kembali ke dunia nyata.

“Apaan sih, Dan? Ngagetin orang aja!” Roni menoleh kaget pada sahabatnya itu.

“Siapa suruh dari tadi bengong aja. Udah, nggak usah dimasukin ke dalam hati! Kan kamu tahu sendiri kelakuan Roy dan teman-temannya itu seperti apa?” ucap Dani mencoba menenangkan Roni.

“Ya,” jawab Roni singkat dengan senyum yang dipaksakannya.

“Kamu santai aja! Pagi ini nggak ada guru. Dengar-dengar sih ada rapat,” ucap Dani riang.

“Kok kamu senang banget kalau nggak ada gurunya?” tanya Roni dengan wajahnya yang polos.

Dani cengengesan, “Tentu aja aku senang, soalnya aku lupa ngerjain PR. Tadinya aku mau nyontek PR kamu, ternyata gurunya nggak masuk. Selamat! Selamat!”

Roni tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat sahabatnya itu. “Dasar!”

***

Semakin lama Roni merasa capek menjadi bahan ejekan teman-temannya di kelas. Rasanya ia ingin sekali berhenti sekolah. Ketika pikiran itu memenuhi otaknya, bayangan ayah dan ibunya yang bekerja keras untuk memenuhi keperluan sekolahnya. Ia kembali memendam keinginanya itu, membuang jauh-jauh agar tak kembali lagi ke dalam pikirannya. Roni duduk termenung sendiri di kelas. Ia sengaja datang pagi-pagi sekali sebelum semua teman-temannya masuk kelas. Tiba-tiba Roy datang menghampiri.

“Hoi, Ron!” sapanya ramah.

Roni tampak terkejut melihat Roy yang berada tepat dihadapannya. Roni menatapnya aneh sekaligus curiga. “Hai, Roy! Tumben menyapaku? Ada apa?”

Bukannya menjawab Roy malah tersenyum. Ia lalu merangkul pundak Roni, “Kamu mau nggak punya banyak teman?”

“Tentu saja aku mau,” jawab Roni antusias.

“Kalau kamu mau, kamu bisa gabung di gengku. Gimana? Mau nggak?”

Tanpa berpikir panjang, Roni langsung mengiyakan ajakan Roy. Roni terlihat sangat senang.

“Sebagai tanda kalau kamu sudah asuk di gengku, aku minta kamu ubah penampilan kamu! Sebaiknya kamu cat rambut kamu yang ubanan itu!” pinta Roy lalu pergi begitu saja meninggalkan Roni.

Roni menetapkan hatinya, membulatkan tekadnya untuk mendapatkan teman yang banyak.

***

Seperti biasa Roni masuk ke kelas dengan kepala yang menunduk. Semua orang yang berada di kelas menatapnya aneh, bahkan Dani pun ikut menatapnya. Roni merasa risih melihat tatapan semua orang. Penampilan Roni pagi ini berbeda. Rambutnya yang semula beruban berubah menjadi hitam.

“Gitu dong, Ron. Kalau gini kan kamu kelihatan lumayan keren lah,” ucap Roy dengan gayanya yang sok tampan tiba-tiba muncul di hadapan Roni.

Roni tersipu malu mendengar ucapan Roy. Baru kali ini dalam hidupnya, ia di puji oleh Roy, anak yang paling terkenal di sekolahnya.

“Yuk ke kantin! Aku dan teman-teman lapar banget,” ajak Roy. Semua teman-temannya pun berdiri di belakangnya.

“Tapi sebentar lagi masuk kelas.”

“Udah, tenang saja! Lagi pula kita ke kantinnya cuma sebentar kok. Kalau pun Ibunya sudah masuk, kita tinggal bilang aja habis dari toilet. Beres, kan? Santai aja!” Roy menarik tangan Roni.

Sebenarnya Roni sangat cemas. Ini pertama kalinya ia melakukan hal itu. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti Roy. Semua demi mendapatkan banyak teman dan agar tak di ejek lagi, ia rela melakukan apapun termasuk mengikuti Roy dan teman-temannya.

Dani merasa aneh dengan sikap Roni. Tak seperti biasanya Roni meninggalkan pelajaran. Tumben banget tuh anak nggak masuk? Biasanya paling rajin di kelas. Aneh banget! Pasti ada apa-apanya! Pikirnya resah.

Tak terasa bel istirahat pun akhirnya berbunyi. Dani bergegas menuju kantin mencari Roni. Benar saja dugaannya, Roni berada di kantin. Ia terlihat sangat sibuk mengambil makanan dan minuman untuk Roy dan teman-temannya. Dani pun menghampiri mereka dengan kesal. “Apa-apaan kalian semua? Kenapa kalian suruh-suruh Roni seperti itu?”

“Siapa yang menyuruh dia? Dianya aja yang mau. Ya kan, Ron?” ucap Roy.

“Ya, Dan. Aku sendiri yang mau! Kamu nggak usah marah-marah begitu sama Roy dan teman-temannya,” jawab Roni sambil menyerahkan beberapa bungkus makanan ringan ke Roy.

Dani langsung menarik tangan Roni dan meninggalkan Roy dan teman-temannya yang menatap aneh ke arah mereka.

“Kamu ini sebenarnya kenapa sih, Ron? Kok kamu mau-maunya di suruh-suruh sama Roy dan teman-temannya?” tanya Dani kesal.

“Kata Roy bila aku mau punya banyak teman, aku harus gabung sama mereka,” ucap Roni menunduk. Ia tak berani menatap wajah Dani yang terlihat marah padanya.

“Roni… Roni… dari mana ceritanya gabung sama mereka bisa punya banyak teman? Kamu itu udah dibohongin sama mereka! Belum tengah hari aja kamu udah nggak masuk dua mata pelajaran. Ini bukan kamu banget, Ron!”

“Kamu nggak tau Dan rasanya di ejek terus. Aku capek!” sahut Roni dengan nada tinggi. Roni lalu meninggalkan Dani yang masih bergeming.

***

Sudah dua hari Roni tak menyapa Dani. Di kelas pun Roni tak bicara sama sekali dengan Dani. Roni selalu menghindar bila Dani menghampirinya. Diam-diam Dani terus saja memperhatikan sikap Roy dan teman-temannya yang semena-mena pada Roni.

Roni bergegas keluar kelas menyusul Roy dan teman-temannya yang meninggalkannya sendirian di kelas. Hari ini ia terpaksa pulang terlambat karena mendapat hukuman dari Bu Anggi. Tetapi tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Ia terpaku menatap Dani yang sedang berkelahi dengan Roy. Teman-teman Roy hanya melihat saja dan menyoraki mereka.

“Kamu itu nggak usah jadi pahlawan kesiangan deh! Pake bela-belain Roni segala. Lagi pula Roni juga mau kok disuruh-suruh kayak pembantu. Lagian mana ada yang mau berteman dengan bapak-bapak seperti dia?” ucap Roy tertawa.. teman-temannya ikut tertawa.

Dani langsung pucat. Antara marah dan kesal bercampur aduk di hatinya. Ia tak terima dengan sikap Roy dan teman-temannya pada sabatnya. Sialan mereka! Mereka udah menipu Roni. Kasihan, Roni! Aku harus kasih tahu dia secepatnya! Pikirnya mantap. Ia buru-buru pergi meninggalkan Roy dan teman-temannya.

***

Roni segera melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah. Terlihat di matanya Dani tampak terburu-buru meninggalkan sekolah. Dani tampak terkejut melihat Roni datang dan mencegatnya. Belum sempat Dani bicara, Roni berkata dengan kepalanya yang menunduk, “Dan, aku minta maaf sama kamu! Aku menyesal sudah tak percaya sama omongan kamu tentang Roy dan teman-temannya.”

Dani tersenyum lalu melingkarkan tangannya ke pundak Roni. “Baguslah kalau kamu sudah tau yang sebenarnya. Nggak apa-apa, kok! Kita kan sahabat!”

Roni tersenyum mendengarnya. Perasaannya sekarang benar-benar lega. Walaupun ia tumbuh dengan kondisi yang seperti orang tua, ia bersyukur memiliki sahabat yang menerimanya apa adanya. Ketika hendak pulang, Roy dan teman-temannya mencegatnya mereka.

“Ron, kok kamu sama dia? Bukannya nyamperin kita. Nih, bawakan tasku!” Roy menyerahkan tasnya ke Roni.

Roni menghela napas panjang lalu tersenyum. “Bawa aja sendiri! Mulai saat ini aku keluar dari geng aneh kalian!” Roni dan Dani pun melangkahkah pergi meninggalkan Roy dan teman-temannya yang bengong.

Kali ini Roni sungguh bisa menerima kondisi dirinya apa adanya. Di dalam hati ia berjanji tak akan mengeluh lagi dengan kondisinya fisiknya. Hatinya sekarang terasa begitu lega.


Terima kasih telah membaca cerita pendek remaja berjudul progeria. Semoga cerpen motivasi inspiratif diatas dapat bermanfaat, menghibur dan menambah pengetahuan sobat Bisfren sekalian. Tetaplah semangat dan optimis dalam menjalani hidup ini. Jadikan semua yang ada dalam diri kita, baik kelemahan maupun kelebihan sebagai sebuah potensi untuk mencapai sukses.

Dibagikan

Betry Silviana

Penulis :

Artikel terkait