Cerita Misteri : Pulau Kutukan – Bisfren.com

cerita misteri pulau kutukan

Pulau kutukan merupakan cerita misteri tentang wisata pantai harus berakhir mengerikan karena tempat dikunjungi adalah lokasi pembunuhan tukang sihir. Bagaimana kisah mistis gaib membuat anda tercekam ? silahk simak pada cerpen misteri berikut.

Cerita Misteri Pulau Kutukan

Kurasakan energi negatif menyelimuti udara saat tiba di pulau tersebut. Energi mengalir berputar perlahan, mengambang bak hawa sumuk gua pengap tak berpenghuni. Tiada rasa dingin, tak ada angin berhembus namun kurasakan bulu-bulu halus pada tengukku berdiri, menyingkap gelisah segenap jiwaku.

“Kalian yakin mau bersandar di pulau ini ?” kataku sambil merapikan kacamata hitam penahan terik sinar matahari yang kupakai (baca juga cerita misteri santet lada hitam).

Entah kenapa semua teman tampaknya yakin untuk berkemah di pulau kecil yang tampaknya tak berpenghuni ini.  Liburan kali ini kami memang berniat untuk kemping di pulau. Beberapa pulau kecil sudah kami kunjungi pada gususan pulau ini, namun belum ada satupun cocok hingga akhirnya tiba disini. Sebuah pulau dipenuhi hutan bakau lebat di sekelilingnya sehingga bahkan kami harus dua kali memutarinya untuk mencari tempat berlabuh.

Perlahan perahu kami menyusuri hutan bakau melewati sebuah celah berukuran cukup untuk dilewati. Diujungnya terdapat semacam teluk berbentuk segiempat sempurna. Kami mendarat disana kemudian turun.  Pulau ini ditumbuhi pohon-pohon tinggi berdaun lebat. Menurut nelayan yang mengantar kami, disana ada sebuah gubuk tidak ditempati. Para nelayan nyaris tidak pernah memasuki pulau ini karena terlalu jauh jaraknya dari daratan besar. Mereka hanya menjadikannya sebagai tempat singgah apabila terjadi badai saat melaut (jangan lewatkan cerita misteri Desta).

Setelah membongkar perbekalan, kami masuk melewati rerimbunan pohon tak tertata, mungkin bisa disebut hutan hingga akhirnya menemukan sebuah gubuk tua namun terlihat kokoh. Layaknya pemilik rumah, teman-teman langsung saja memasuki gubuk atau tepatnya rumah panggung terbuat dari kayu dan bambu tersebut.  Didalamnya terdapat banyak perabotan rumah tangga.  Teman-temanku merasa bahagia karena kami bisa menginap disini tanpa perlu membuat tenda. Mereka memeriksa dua kamar didalamnya meninggalkanku sendiri di ruang utama. Entah mengapa nelayan yang mengantar kami tak ikut serta. Sempat benakku berfikir untuk bertanya namun karena semua terlalu bersemangat mencari gubuk yang dikatakannya tadi, maka fikiran tersebut berlalu begitu saja.

Diantara kami, hanya diriku yang bisa merasakan energi supra-natural. Meski tak pernah kuceritakan pada teman-teman, aku bisa merasakan kehadiran mahluk-mahluk gaib disekitar. Kemampuan tersebut kudapat dari kakekku di kampung sejak masih kelas 5 Sekolah Dasar. Selama ini, sengaja tidak pernah kukatakan kepada teman-teman karena tidak ingin membuat mereka takut juga tidak ingin merusak hubungan pertemanan kami dengan hal-hal mistis.

Seperti saat ini, kurasakan energi kemarahan serta dendam teramat besar melingkupi seluruh rumah. Karena merasa takut,  kurapal mantera pelindung tubuh dari pengaruh energi buruk serta mencoba mentransfernya ke seluruh rumah. Akan tetapi ternyata kemampuanku tidak cukup kuat untuk melakukan pembersihan, saat itulah kurasakan hawa dingin mencekam, lalu kurasakan tubuhku seperti ditusuk-tusuk jarum dari dalam layaknya orang terkena sakit angin duduk. Perlahan kerongkonganku terasa seperti tercekik membuat sulit bernafas. Kuputuskan untuk melarikan diri dari gubuk panggung tersebut. Aku meloncat kebawah rumah setinggi 1.5 meter dari tanah itu tanpa meniti anak tangga lalu berlari sekencang-kencangnya. Akan tetapi energi itu terus memburuku. Kini dia berusaha merobohkanku. Sekilas kulihat salah seorang temanku berlari, namun tubuhnya tiba-tiba seperti tersedot angin, melayang kembali ke arah rumah. Tak lama kemudian diriku tak sanggup lagi bertahan lalu pandanganku gelap kemudian terjatuh.

***

Wanita itu cantik rupawan. Dia memiliki kekuatan gaib tinggi namun memilih tinggal sendiri di tengah pulau. Rumah panggung ditempatinya dibangunnya sendiri tanpa bantuan orang lain. Hatinya merasa puas akan rumah tersebut. Untuk perlindungan serta mencegah orang masuk ke pulaunya, dia menanami sekeliling pulau dengan pohon-pohon bakau hingga akhirnya tumbuh lebat menyerupai hutan bakau. Jadilah pulau tersebut sangat cocok untuk meninggikan kemampuan batinnya. Terpencil, diselubungi hutan bakau sehingga sulit dijangkau oleh orang sembarangan. Untuk memenuhi kebutuhannya dia menanam sayur serta buah-buahan. Bahkan nyaris diseluruh bagian pulau ditanamnya pohon-pohon tinggi sehingga rumahnya terselubung dalam rimbunnya hutan.

Awalnya dia merupakan seorang wanita biasa namun memiliki kemampuan supra-natural sama sepertiku dengan kekuatan putih. Akan tetapi pengaruh dari lingkungan yang diciptakannya sendiri membuatnya tak menyadari sudah menerima pengaruh dari mahluk-mahluk gaib sesat kerajaan siluman di tengah lautan. Bertahun-tahun dirinya tinggal disana, dari seorang gadis remaja berumur 17 tahun hingga menjadi wanita dewasa berambut panjang hingga melebihi pinggang. Dua puluh tahun sudah dirinya hidup damai disana hingga suatu ketika sebuah perahu terdampar akibat diterjang badai.

Tujuh orang nelayan muda remaja didalamnya nampak kelelahan tergolek di bibir pantai. Tak lama kemudian dua diantaranya tersadar lalu memeriksa bagian perahu yang rusak lalu mulai mencari bahan kayu untuk memperbaikinya. Mereka memasuki hutan buatan sang wanita lalu menjumpai sebuah rumah panggung disana. Didatanginya rumah tersebut lalu mereka bertemu dengan pemiliknya.

Sang wanita pemilik pulau tak keberatan mereka beristirahat sambil memperbaiki kapal. Apalagi salah satu diantara mereka tampak terluka cukup parah akibat terhantam kayu tiang layar. Sang wanita pun kemudian menawarka mereka tinggal di rumahnya, akan tetapi mereka menolak, hanya saja mereka menitipkan temannya yang sakit untuk tinggal disana.

Sang wanita pun merawat nelayan sakit tersebut dengan baik. Setiap pagi dan petang dibersihkannya tubuh pemuda tersebut lalu dibaluri tanaman obat herbal. Tak lupa dibuatkannya ramuan dari tumbuh-tumbuhan obat disekitar pulau untuk mempercepat kesembuhan serta meningkatkan stamina. Ramuan itupun diberikan juga kepada pemuda nelayan yang memperbaiki kapal mereka.

Genap hari ke sembilan, pemuda tersebut sudah sembuh dari luka-lukanya. Pagi saat terbangun dari tidur dia merasakan tenaganya telah pulih kembali. Seperti biasa sang wanita datang untuk membersihkan tubuhnya. Namun kali ini dilihatnya pemuda itu tengah berdiri di belakang jendela memandang lepas ke arah hutan. Sang wanita ber dehem lalu berkata “Bagaimana keadaanmu hari ini ? sudah enakan ?”.

“Sudah bu, segar sekali dan penuh semangat rasanya tubuhku hari ini. Entah bagaimana caraku mengungkapkan rasa terima kasih atas kebaikan ibu” jawab pemuda nelayan. Sang wanita tersenyum, tapi seandainya si pemuda mampu melihat lebih jelas sebenarnya senyum tersebut lebih mirip seringai. Diletakkannya baki serta kain di pinggir dipan, lalu melangkahkan kakinya menghampiri si pemuda.

“Berbaringlah, biar kubersihkan tubuhmu dan kuajari kau cara berterima kasih padaku”, katanya seraya menggamit tangan pemuda nelayan membimbingnya ke pembaringan. Pemuda lalu berbaring terlentang bertelanjang dada, sementara sang wanita duduk disampingnya sebagaimana biasa. Namun kali ini dia tidak segera membasuh tubuh pemuda dengan air yang dibawanya melainkan mulai mengelus dada pemuda perjaka tersebut. Elusan-elusan lembut itu membuat matanya meredup. Lalu bibirnya terlihat mulai berusaha menahan desah. Kini dua tangan wanita bergerak menyusuri bidang dada serta pangkal pahanya. Aaah .. perjaka itupun semakin terbuai. Celananya sudah terlepas dari pinggang. Lalu dia hanya mampu mendesah saat tiang kapalnya terpancang pada perahu sang wanita. Sebagai nakoda dilautan dia memiliki banyak pengalaman, tapi kini perahu itu mengombang-ambingkannya dan dirinya hanya mampu mengikuti pasang surut gelombang.

**********

Setelah sembilan hari bekerja dengan alat seadanya, enam nelayan remaja teman pemuda sudah selesai memperbaiki kapalnya. Kini kapal mereka siap untuk membawa mereka kembali pulang. Rencananya sore hari kapal akan dicoba melaut, lalu pagi hari mereka akan kembali ke kampung halaman. Kini mereka berjalan menyusuri hutan buatan untuk memberi tahu temannya yang dititipkan pada wanita penghuni pulau.

Hari sudah menjelang siang, tetapi matahari tampaknya tak berkehendak memberi sinarnya bagi dua anak manusia yang tengah dilanda nafsu asmara sejak pagi tadi. Berpacu dalam kenikmatan tiada henti membuat mereka tidak menyadari teman-teman mereka masuk ke rumah tak terkunci.

Betapa terkejutnya para pemuda tersebut saat memasuki ruang tamu terpampang pemandangan erotis temannya bersama sang wanita penghuni pulau. Seketika darah muda mereka menggelegak. Mulut mereka ternganga, kaki mereka bak terpaku di depan pintu kamar saat melihat sesuatu yang belum pernah mereka lakukan. Ditambah lagi mereka juga selalu meminum ramuan herbal dari sang wanita membuat gejolak siap meledak.

Tak lama kemudian terdengar erangan panjang dari teman mereka di bawah dekapan sang wanita. Tubuhnya mengejang lalu terkulai lemas. Sementara sang wanita pun terlihat menyeringai puas. Dia masih ingin membangkitkan kembali tubuh dihadapannya, namun diurungkan niatnya saat matanya melirik ke arah ruang depan. Dilihatnya anak-anak muda berdiri mematung dengan mulut ternganga tengah memperhatikannya. Dilemparkannya senyum lalu melambaikan tangan memanggil mereka. Dan sejak hari itu terjadilah perbuatan terlarang antara tujuh pemuda dengan sang wanita. Kekuatan gaib mahluk siluman di lautan telah mengubah wanita tersebut menjadi ratu durjana. Ketujuh pemuda menjadi budak nafsu tanpa mampu lagi berfikir apalagi mengingat untuk pulang kembali ke rumahnya.

*************

Sudah dua minggu lamanya warga kampung serta para petugas SAR, para orang tua mencari anak-anak mereka. Namun tidak juga ditemukan tanda-tanda keberadaan anaknya bahkan  pecahan perahupun sama sekali tidak ditemukan sehingga akhirnya TIM SAR menghentikan pencarian.

Hari ini tujuh orang tua didampingi beberapa warga serta seorang dukun sakti melakukan pencarian. Dukun yang sengaja dipanggil tersebut memang memiliki spesialisasi dalam pencarian orang hilang di lautan, itu sebabnya dia dijuluki Dukun Laut. Empat jam perjalanan tiba-tiba Dukun Laut meminta kapal dihentikan. Sepertinya dirinya merasakan sesuatu. Matanya nanar menatap ke arah Timur, mulutnya merapal mantera-mantera. Tiba-tiba tangannya dikembangkan keatas dan sangat mengejutkan, jauh beberapa kilometer dihadapannya kini terlihat sebuah pulau kecil yang sebelumnya tak pernah terlihat. Pulau dengan pohon bakau rimbun di sekelilingnya seakan melarang siapapun untuk berkunjung kesana. Dukun Laut segera meminta perahu dijalankan kembali, kini mereka menuju pulau tersebut. Para orang tua nelayan kaget melihat pulau tersebut. Bagi orang-orang tua, pulau itu sudah lama dianggap hilang atau tenggelam ke dasar laut karena tidak pernah terlihat lagi. Sungguh tak pernah disangka bahwa ternyata pulau itu masih ada terselubung kekuatan gaib tak kasat mata.

Setengah jam kemudian tibalah mereka disana. Setelah memutar mencari jalan masuk akhirnya ditemukan juga sebuah celah untuk dilewati. Saat tiba di bibir pantai, betapa terkejut bercampur bahagia mereka melihat sebuah kapal tertambat disana. Mungkin kiranya bahwa putra-putra mereka berada disana. Para orang tua dan warga bergegas ingin segera turun untuk mencari anaknya. Akan tetapi ditahan oleh Dukun Laut. Terlihat mulutnya berkomat-kamit membaca mantera kemudian barulah mereka turun. Dukun Laut sudah merasakan sesuatu energi tidak baik sehingga dia memberi pengarahan sebelum bergerak. Setelah memberi arahan, barulah bersama-sama mereka bergegas dipimpin oleh Dukun Laut hingga tiba di depan rumah Wanita Penghuni Pulau.

********

Wanita itu tengah dicumbu oleh tujuh pemuda. Tubuh telanjangnya berkali-kali mengelinjang menahan kenikmatan disekujur badan. Tiga di kanannya, tiga di kirinya. Masing-masing dengan permainannya pada tangan, kaki dan payudara. Sementara satu pemuda terlihat asyik bermain dalam sumur. Akan tetapi tengah mereka melalukan dosa, tiba-tiba Sang Wanita tersentak kaget. Matanya melotot tajam lalu mengibaskan tangan kanan. Seketika pula tujuh pemuda terpental tak jauh dari ranjang tanpa rasa kesakitan. Mereka layaknya robot tak bernyawa dalam kendali pemiliknya. Sang wanita bergegas mengenakan kemban lalu menuju ruang depan dan membuka pintu. Darisana terlihat serombongan orang tengah menuju rumahnya. Jarak mereka masih terpisah 500 meter, namun dia bisa merasakan kehadirannya.

Nalurinya memberi tanda akan sebuah bahaya. Maka diapun segera bersiap. Bukan masuk ke dalam melainkan menuruni tangga untuk menyambut tamunya di halaman. Sementara itu Dukun laut pun bersiap. Sebelumnya sudah dikatakan olehnya kepada para orang tua dan warga bahwa akan terjadi pertarungan gaib untuk membebaskan anak-anak remaja yang disandera. Mereka berjalan cepat tak satupun dari mereka mendengar suara kecuali desau angin dan sayup alunan ombak. Akan tetapi sebenarnya telah terjadi percakapan batin antara Dukun Laut dengan Wanita Penghuni Pulau.

“Nyai, dengan segala hormat. Maksud kedatangan kami adalah untuk menjemput para pemuda yang kau sandera” kata dukun membuka pembicaraan melalui batinnya.

“Aku tidak menyandera mereka. Mereka yang datang sendiri dan sukarela berada disini”

“Tak mungkin mereka bertahan disini kalau tiada pengaruh gaibmu. Lepaskanlah mereka apapun permintaanmu kalau memungkinkan akan kami usahakan” tawar Dukun Laut mencoba bernegosiasi. Dalam dunia paranormal dikenal dua golongan. Satu golongan yang berbasis etnis atau budaya mengenal adanya sesaji, sajen atau sesuatu sebagai sarana tawar menawar atau menggunakan kemenyan, minyak wangi dan lain-lain sebagai media komunikasi. Golongan lainnya tidak mengenal kompromi, mereka ini biasanya berbasis kitab suci agama tertentu. Tidak ada negosiasi dalam kamus mereka. Setan harus pergi tanpa kompromi.  Akan tetapi keduanya sama-sama menjalankan praktek paranormal. Kebanyakan dari mereka hanya mengerti sedikit tentang agama namun menggunakan pakaian layaknya seorang pemimpin agama. Dan dalam agama Islam, para praktisi paranormal ini tetaplah dianggap dukun, bukan pemuka agama. Bahkan oleh penganut yang taat dan keras, mereka yang bersekutu dengan mahluk halus, meskipun tujuannya untuk pengobatan atau mengusir mahluk halus, tetap dianggap musyrik alias mempersekutukan Tuhan.

“Aku tidak  menginginkan apapun darimu. Pergilah !” jawab Sang Wanita melalui batinnya. Dalam pandangan orang wanita tersebut masih terlihat cantik rupawan. Akan tetapi dalam pandangan gaib Dukun Laut, Sang Wanita sudah berubah menjadi sosok ular raksasa berkepala wanita.  Mulutnya menyeringai memperlihatkan taring layaknya seekor ular kobra tengah marah.  Jarak mereka kini hanya berkisar 20 meter. Dukun Laut berhenti. Sang Wanita Menanti. Dukun Laut berfikir sejenak lalu berstrategi.

“Setidaknya perlihatkan pada kami dimana anak-anak muda itu”. Sang Wanita mengibaskan tangan. Dalam pandangan Dukun Laut terlihat anak-anak muda sedang bersenang-senang makan enak. Akan tetapi Dukun sudah tahu bahwa pandangan tersebut adalah palsu. Sejak masih di tepi pantai batinnya suah menerawang keadaan mereka yang kepayahan meladeni Sang Wanita. Hanya akibat pengaruh sihir sangat kuat sajalah membuat mereka menjadi perkasa.

“Tak perlu kau membodohiku Nyai. Keluarkan mereka sekarang juga !” bentak Dukun Laut. Matanya tampak memerah menatap lawannya. Dalam pandangan batin tampak jelas tubuhnya sudah berubah menjadi seorang pria perkasa mengenakan mahkota dengan pedang di tangan. Sang Wanita tertawa mengekeh. Tanpa menunggu lagi diapun melakukan serangan. Tak ada gerakan terlihat. Tak ada suara terdengar. Mereka berdua hanya diam terpaku ditempat masing-masing. Akan tetapi batin keduanya tengah bertarung mati-matian. Ular menyerang pria perkasa membabi buta. Tubuhnya meliuk-liuk bak layangan naga. Pria itupun bukan main lincahnya. Tubuhnya mengelak sambil sesekali melakukan serangan balasan.

Dua puluh menit berlalu dalam keheningan pertempuran batin. Para orang tua serta warga tak satupun berani bergerak melihat kedua orang tersebut saling menatap. Tidak satupun dari mereka bisa melihat pertarungan, tetapi mereka juga tak berani untuk bertindak. Tiba-tiba Dukun Laut mangaduh, tubuhnya terhuyung jatuh. Kibasan keras ekor ular tepat menghantam dadanya. Meski bisa ditahan namun sudah cukup untuk menjatuhkannya. Warga serentak berusaha memegangi Dukun Laut, akan tetapi ditolaknya dengan telapak tangan.

Usai terjatuh, Sang Dukun kini dalam posisi duduk. Dia kembali malih rupa. Kini menjadi datuk berjubah berjenggot panjang langsung menyerang ular jelmaan Nyai Penghuni Pulau. Pertarungan berjalan semakin seru. Tapi terlihat kini Ular jelmaan terdesak keras. Dirinya tak mampu menahan kesaktian datuk berjenggot. Merasa terdesak, kini Wanita Penghuni Pulau mencoba bernegosiasi. “Kuserahkan enam orang tapi tinggalkan satu untuk menemaniku disini”. “Tidak !” jawab Dukun Laut. “Kembalikan semuanya atau kau mati”. Meski terdesak, bila diremehkan demikian membuat Nyai Penghuni Pulau bangkit kembali kemarahannya. Kembali dirinya melancarkan serangan gaib membabi-buta. Akan tetapi Dukun Laut memang bukan lawan seimbang buatnya. Sebuah pukulan telak menghantam Ular siluman. Tubuh Wanita pemiliknya terhuyung ke belakang. Mulutnya menyemburkan darah segar. Dadanya sesak. Nafasnya memburu. Disadarinya untuk melarikan diri atau mati. Diapun berusaha bangkit lalu terhuyung berusaha lari. Akan tetapi baru beberapa langkah sebuah lemparan golok warga melayang menghantam punggungnya. Tubuhnya pun jatuh terjerembab berkejut-kejut merengang nyawa.

Dukun Laut bersama-sama menghampirinya. Mereka mengerubung untuk memastikannya sudah mati. Akan tetapi sebelum nyawa terlepas dari raga terdengar rintihan dari mulut Wanita itu. “Aku tidak mengambil anak kalian, tapi mereka sendiri yang datang. Seharusnya mereka mati diterjang badai kalau bukan diriku menolong mereka memperlihatkan pulau ini. Tapi kalian sungguh tak tahu berterima kasih. Atas nama semua siluman lautan, kalian akan mati … sebelum meninggalkan pulau ini … kecuali satu anak yang ku minta. Dia … akan menjadi pelayanku … selamanya hingga anak … cucunya ….”. Mungkin masih banyak ingin dikatakannya namun nyawanya keburu melayang.

Seiring kematian Sang Wanita, ketujuh remaja tersadar dan mendapati tubuh mereka dalam keadaan bugil tanpa busana. Merekapun berserabutan mencari lalu mengenakan pakaiannya. Betapa bahagianya para warga serta orang tua melihat anak-anak tersebut selamat. Segera mereka bergegas untuk meninggalkan pulau tanpa menguburkan jasad Sang Wanita.

Tiba di pantai semua naik ke kapal lalu kapal pun dari tambatannya. Dengan muatan lebih banyak mereka menyusuri celah hutan bakau untuk menuju laut lepas. Akan tetapi sebelum sempat keluar dari hutan bakau tiba-tiba langit gelap. Angin kencang bertiup lalu bergulung-gulung menjadi badai. Tanpa sempat menyelamatkan diri perahu mereka dihantam badai hingga terpental ratusan meter di tengah lautan. Mencerai beraikan penumpangnya mati tenggelam kecuali satu orang remaja yang dulu disembuhkan oleh sang wanita. Dia tidak terbawa badai ke lautan melainkan jatuh kembali di halaman rumah.

********

Entah berapa lama aku baru tersadar. Semua gambar serta suara-suara dalam pingsanku masih terbayang jelas. Tiba-tiba diriku teringat bahwa kami datang bertujuh. Delapan dengan nelayan pemilik kapal namun dia tak ikut masuk ke pulau. Seketika pula hatiku kembali dicekam ketakutan. Aku berlari menuju pantai, berlari dan terus berlari. Namun jarak sedemikian dekat tak juga mampu kucapai. Sambil berlari ku lihat sosok teman-temanku semua terkapar terpencar tak bernyawa.  Sepertinya kakiku dibawa berputar-putar sekeliling pulau meski hati dan otakku memerintahkan untuk menuju pantai.

Saat kelelahan diriku berhenti berlari lalu berjalan perlahan. Aneh sekali. Kali ini justru langkahku menuju pantai dengan sendirinya. Hatiku merasa bersyukur saat bisa tiba di pantai. Segera saja aku menuju tempat dimana tukang kapal menunggu. Tapi tak kulihat kapal maupun nelayan itu. Saat itulah tubuhku kembali lemas. Sebuah bayangan melintas, wajah nelayan tersebut mirip dengan pemuda yang selamat. Kini mulutku hanya mampu berteriak “Tidaaaaaa…..aaaak !!!” (baca juga cerita misteri Kamar kosong).

Dibagikan

Penulis :

You may also like

3 Comments