Laki-laki itu, Rasionalitas, dan Cinta

cerita pendek opini

Laki-laki rasionalitas dan cinta adalah sebuah cerita pendek opini tentang cinta yang diragukan kebenaran dan keberadaannya oleh seorang lelaki pencari arti cinta yang sesungguhnya. Bagaimana opini yang disampaikan dalam bentuk cerpen ini ? Simak selengkapnya pada kisah berikut :

Cerita Opini – Laki-laki itu, Rasionalitas, dan Cinta

Suatu hari, laki-laki itu duduk dipersimpangan masa lalu dan masa depan. Menengoklah ia melihat puing-puing di masa lalunya, masa lalu yang penuh genangan kepedihan dan kebencian. Hatinya yang dulu begitu segar dan subur, kini telah kering dan gersang diterpa getirnya emosi cinta.

Emosi cinta itulah yang membuatnya senantiasa dahaga akan perasaan dicintai, namun itu tinggalah harapan. Karena harapan hanyalah harapan, sebab realitas lebih mutlak memberikan pilihan baik disukai ataupun tidak. Getirpun itu, pahitpun itu, sekali realitas berkata, maka begitulah adanya. Hatinya yang begitu hidup itu perlahan meredup, kilaunya mulai menguning dan menyisakan bongkahan hitam menyerupai hati namun itu bukanlah hati.

Bongkahan hitam itu, sehitam arang dan sekeras batu. Apapun hinggap padanya akan layu dan mati, jika sebelumnya bongkahan hitam itu memancarkan kehidupan dan kebahagiaan maka kini ia merenggut kehidupan apapun yang hinggap padanya. Bongkahan itu memancarkan bau yang amis dan meneteskan racun mematikan. Ketika benih cinta yang hendak hinggap diatasnya, akan musnah tak bersisa dalam sekejap. Bongkahan hitam itu membimbing si lelaki untuk mencaci cinta dan ketulusan, ia mengutuknya, menistanya bahkan menafikan keberadaanya.

Cinta dan ketulusan bagi lelaki itu adalah kebohongan terbesar dalam sejarah umat manusia. Baginya perasaan adalah bagian dari diri manusia yang akan mereduksi derajat kemanusiaanya, sehingga ia memilih membunuh hatinya agar tidak ada perasaan apapun yang tumbuh padanya. Ketika laki-laki itu mendengar kata hati maka yang terbesit padanya hanyalah sebongkah daging yang berfungsi secara biologis dan tidak lebih dari itu.

Hari-hari berikutnya ia jalani dengan akalnya, baginya akal adalah raja, pembimbing langkahnya dan satu-satunya. Hal yang tidak berlogika dan tidak berfisik adalah omong kosong. Baginya hidup harus disucikan dari anasir-anasir yang bersifat irasional dan metafisik termasuk “rasa”. Ia mulai membenci ketika orang-orang berbicara tentang perasaan, ia mengutuk cinta dan benci karena itu adalah emosi yang irasional.

Pada mulanya ia menafikan sisi emosi pada dirinya, lama-kelamaan penolakan itu merambah menjangkau keyakinannya. Kepercayaan terhadap tuhan, nabi, kitab suci hanyalah takhayul guna menghibur kemalasan manusia. Manusia mencari-cari titik pembelaan terhadap ketidakmampuanya, lalu menciptakan konsep yang dikenal sebagai tuhan.

Tuhan yang disebut-sebut sebagai yang Maha Esa, Maha Kuasa, Maha Berkehendak, dan maha-maha lainya. Maka Tuhan bagi lelaki itu tidak lebih dari buah imajinasi manusia untuk sedikit menghibur dirinya atas segala kelemahan dan kemalasan manusia itu sendiri.

Hidup lelaki itu semakin kering dan gersang, tubuhnya ringkih dan rapuh. Tatapan matanya putih tapi tidak memancarkan sesuatu kecuali kegundahan. Ia menobatkan dirinya sebagai orang yang tercerahkan karena rasionalitasnya, ia muak melihat dunia yang dikotori oleh emosi dan tahayul-tahayul.

Hari pun kian berlalu, sampai sekali waktu ia mendapat pesan singkat “Selamat Ulang Tahun Anak ku” demikian pesan singkat dari ibunya.

Seketika itu, setelah sekian lama matanya kembali terbasuh oleh air mata, air mata yang begitu bening. Lelaki itu tak mampu berkata apa-apa, hanyalah melelehken air matanya. Cinta yang sebelumnya ia nafikan, ternyata yang selama ini memberinya kehidupan.

Teringat olehnya bagaiamana sang ibu menyuapinya, menuntunya ketika ia belum mampu berdiri, mengusap ingusnya dengan baju yang dikenakan oleh ibunya. Teringat pula masa-masa ketika sang ibu memarihanya karena tidak sarapan, ketika ia belum mandi sang ibu menegurnya, saat ia meminta makanan sang ibu mengalah dan memakan sisa darinya.

Semuanya menjadi tanda bahwa cinta dan ketulusan itu ada, dan itu terwujud dalam bentuk ibu juga ayah. Kemudian ia tersadar tiada sesuatu yang lain yang mengutus ibu dan ayah kecuali Dia yang Maha Penyayang.

Lamunan laki-laki itu berujung pada kesadaran bahwa bukannya cinta tidak ingin menjamahnya namun ia belum membutuhkannya karena Tuhan telah memberinya cinta yang lebih agung dan lebih murni, yakni cinta ibu dan ayahnya.


Terima kasih telah membaca cerita pendek opini rasionalitas dan cinta. Semoga cerpen diatas bermanfaat dan menghibur hati sobat Bisfren sekalian. Tetaplah semangat dan optimis. Jangan lupa berikan komentar dan jempol anda sebagai apresiasi kepada penulisnya. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait