Ruang Kelas itu Bernama Perasaan

cerita move on ruang kelas perasaan

Cerita move on tentang remaja yang memendam rasa cinta pada teman sekelasnya namun tidak mendapat respon, ketika akhirnya dia mengungkapkan isi hati lalu ditolak, dia memutuskan untuk bangkit dan terus melangkah menggapai segala impiannya.

Cerpen Move On Ruang Kelas itu Bernama Perasaan

Aku duduk di sebuah bangku di suatu ruang kelas tempatku meraih masa depan. Mencoba memejamkan mata dan menghela nafas panjang. Setelah lelah menghilang, ku buka kedua mata perlahan. Aku melihat sesuatu membuatku betah berlama-lama di tempat ini. Duduk di bangku ini. Tidak ada sesuatu lebih indah daripada melihat ciptaan-Nya. Ciptaan-Nya itu adalah dirimu. Sinar bola matamu menghangatkan, senyum merekah bibirmu manis, parasmu menenangkan hati dan perangaimu santun. Semua itu memenuhi hari-hariku di bangku ini. Bangku yang sama akan selalu ku singgahi.

Inginku untuk duduk berdua disisimu, bercanda gurau sampai raga tak lagi bernyawa. Berdua bersama. Saling membantu dan saling melengkapi. Duduk di dua bangku berbeda namun berada di meja sama. Hidup di dua peran berbeda namun berada di kehidupan sama. Kehidupan itu adalah keluarga. Aku akan duduk di kursi suami dan kau akan duduk di kursi isteri. Mungkin suatu saat kita akan duduk di bangku yang sama bersama. Atau mungkin kita akan saling bertukar bangku untuk sementara waktu (baca cerpen cerita Move On Perpisahan).

Namun semua itu hanya sebuah kenyataan dalam khayalan. Ketika melihat dirimu lebih luas lagi. Ternyata dirimu sudah duduk bersama laki-laki lain. Laki-laki idaman yang kau impikan. Seorang pendamping yang kau dambakan. Apalah dayaku yang hanya bisa melihatmu bermesraan dengan dirinya. Dihadapanku secara langsung dalam keseharianku duduk di bangku ini. Tak ada arah pandangan lain selain menatap ke depan. Setiap mencoba fokus untuk memandang ke depan untuk meraih masa depan, bayangmu dan bayangnya selalu nampak jelas di kedua bola mata. Aku hanya bisa memendam dan terus bertahan, mengeluarkan ekspresi datar tak berperasaan, karena itu bisa membuat ruang kelas terasa nyaman.

Ada kesempatan nih, dia berantem sama pacarnya

Aku berharap ada seseorang menemani duduk disampingku. Tidak membuka percakapan tapi saling menemani. Tidak membuka obrolan tapi saling mengerti. Sampai akhirnya mentertawakan apa yang ku dan dia lihat bersama. Tapi diriku sadar, Diriku hanyalah seorang pengharap tidak tahu diri. Mana mungkin menjadikan orang lain sebagai pelampiasan, menjadikan orang lain hanya penghibur semata, aku harus bisa melakukannya sendiri.

Suatu ketika dalam ku meraih masa depan, aku melihat sebuah pertengkaran. Pertengkaran antara dirimu dengan laki-laki impianmu. Sampai akhirnya laki-laki tersebut pergi meninggalkan dirimu sendiri. Kamu hanya duduk terdiam meratapi apa telah terjadi. Menangis tiada henti membuat ruang kelas menjadi begitu asing. Inginku untuk menemani dan menghiburmu, tapi apa daya hanya doa yang menghampiri. Aku memang bukan laki-laki yang berani mengungkapkan perasaaan dengan kata-kata seperti laki-laki di dalam hatimu (baca cerpen Move On Ketika cinta membawa dosa).

Hari demi hari terlalui, bulan pun berganti, tahun yang sama pun tak lagi menemani. Sepertinya dirimu sudah terbiasa dengan kepergiaannya. Walaupun masih kutemui sajak-sajak rindumu kepada dirinya. Aku hanya manusia biasa yang juga bisa merasakan cemburu. Tapi diriku sadar tidak berhak mempunyai rasa demikian. Sampai pada akhirnya ku memberanikan untuk memberimu sajak kasih yang selama ini ku simpan dalam hati. Walaupun pada kenyataannya sajak tersebut ku taruh pada kolong mejamu.

Move on diputusin pacar di kelas
Cewek sedih (@ http://www.artsfon.com)

Tapi diriku gak berani ngungkapin perasaan, gimana ya

Aku hanyalah seorang laki-laki yang duduk di kursi belalakang memandang ke depan. Berharap diperhatikan namun digusurkan. Laki-laki tanpa ekspresi yang ingin mengungkapkan isi hati. Suratku tak kunjung kau baca, mungkin karena tertutupi oleh sajak-sajakmu kepada laki-laki impianmu yang kau simpan di tempat sama. Namun akhirnya kau menemukannya. Mataku melihatnya saat kau membaca sajak-sajakku untukmu. Kamu tersenyum manis dan akhirnya kamu tahu bahwa sajak itu dariku. Raut wajahmu berubah, tidak tahu harus berkata apa. Tapi dirimu memang wanita baik, kau datang kepadaku dan mengatakan ucapan terima kasih.

Banyak hal kau katakan tapi diriku tidak paham. Aku tidak mengerti apa sebenarnya ingin kau katakan. Tidak ada kata maju atau mundur. Hatiku hanya berkesimpulan untuk tidak bergerak maju atau mundur. Hanya berdiam diri ditempat sama, menunggu sepanjang waktu. Tapi ada sesuatu yang berubah. Aku masih disini duduk di bangku yang sama tapi dirimu sekarang semakin menjauh. Dirimu kini terhalang tembok-tembok yang kau ciptakan. Aku tidak tahu apa maksudmu, tapi diriku tetap bertahan disini. Ditempat sama, seperti dulu.

Sampai akhirnya ku coba berjalan ke arahmu dan kamu mengatakan kepadaku untuk mundur. Mungkinkah ini jawaban darimu yang selama ini ku tunggu ? Sesuatu pernyataan yang ku tunggu walaupun memang bukan suatu yang ingin ku dengar darimu. Tapi diriku sadar tidak bisa hidup dengan wanita yang tidak mempunyai rasa yang sama. Aku tidak bisa hidup dengan wanita yang duduk disisiku tapi tak mengharapkan keberadaanku.

Lemas tubuhku seketika. Kaki yang selama ini menopang kuat runtuh bagai tak bertulang. Langkah kakiku terasa berat. Tidak tahu lagi harus melangkah kemana. Paras cantikmu tidak bisa membunuhku, kini membuatku merasa mati. Perangai santunmu yang tidak bisa menghancurkanku, kini membuatku lebur. Aku hanya duduk melamun terdiam. Memandang kosong tidak tahu apa harus dilakukan.

Klo dipikir-pikir kita sebenarnya cocok, bisa saling melengkapi

Pernah benakku berpikir sifatmu yang mudah bergaul sedangkan diriku yang pendiam bisa membuat kita hidup bersama saling melengkapi dan mengisi. Kadang aku berpikir bahwa kesukaan dan cara pandang hidup kita yang sama akan membuat kita hidup bersama dengan arah tujuan yang berbeda. Kerap ku berpikir kehadiranmu yang selalu ada dalam kelompok dan tempat sama denganku adalah rencana Tuhan untuk menyatukan kita. Tapi aku lupa bahwa rencana Tuhan lebih luas daripada apa bayanganku. Kita memang selalu berada dalam kelompok dan tempat yang sama, tapi tidak memiliki perasaan yang sama.

Waktu berlalu dan pada akhirnya kamu pergi dari ruangan kelas ini. Setiap langkah yang kau tapakkan bisa ku lihat jelas. Semuanya bergerak perlahan. Mata ini begitu mudah menangkapnya, tapi berat langkah kaki ini untuk bergerak. Sampai pada akhirnya bayangmu kini menjauh dan tak terlihat sama sekali. Semuanya pergi. Tinggal diriku sendiri dalam ruangan kelas kosong ini.

Diriku tidak bisa terus begini. Aku harus melanjutkan hidup dan meraih apa yang ku impikan saat pertama kali melangkahkan kaki dalam ruang kelas ini. Hatiku berharap ada seseorang mengulurkan tangan ke arahku, menarikku keluar dari ruang kelas ini, kemudian berlari menjauh. Tapi seseorang seperti itu tidak ada. Ku sadari hanya diriku sendiri yang bisa membuatku bangkit keluar dari ruang kelas ini.

Ku paksakan kaki untuk bergerak, melangkah menuju kehidupan baru keluar dari ruangan ini. Sampai pada akhirnya aku berada di antara lorong dan ruangan yang selama ini ku singgahi. Mataku melihat lorong begitu panjang dan begitu gelap. Sesekali ku lihat ke dalam ruangan. Ruangan yang masih terang karena sinar buatan. Terbayang masa-masa indah dan kelam yang ada di dalamnya. Tapi semakin ku ingat hati terasa semakin sakit.

Sudahlah.. kuputuskan untuk menulis cerita move on saja dari pada memendam rasa

Kini tekad sudah aku bulatkan untuk melangkahkan kaki keluar dari ruang kelas ini. Setiap langkah ku tempuh dengan perjuangan besar melewati lorong gelap. Walaupun aku tidak tahu apa yang ada diluar sana dan betapa gelapnya lorong ini, tapi aku tidak mau kembali ke dalam ruang itu dan hidup seorang diri. Diriku bersumpah tidak akan kembali ke ruang kelas itu dan kembali ke masa-masa yang sama. Ruangan kelas itu kini kosong. Ruang kelas itu bernama perasaan.

Dibagikan

Penulis :

You may also like