Saat Aku Menatap Senja

cerpen mini sedih wanita resah

Saat aku menatap senja adalah cerpen mini sedih wanita resah karena cemburu pada suaminya yang diyakininya selingkuh dengan seseorang baru dikenalnya. Cerita yang mengambil perumpamaan burung merpati ini menarik untuk dibaca. Simak selengkapnya cerita pendek berikut :

Cerpen Mini Sedih Wanita Resah – Saat Aku Menatap Senja

Pagi itu, aku mengepakkan sayapku, tak sengaja menyambar dedaunan hingga meruntuhkan beberapa helai daunnya yang masih muda. Aku terbang menengok matahari yang mulai merentangkan pendar hangatnya. Menukik sedikit dan kembali ke sarangku. “Halo, apakah kau sudah bangun, nak ?” ia mendekatkan kepalanya mencoba berbicara kepada satu-satunya calon anak kami.“Bisakah kau bergeser sedikit? Aku ingin melihat cantiknya”, ia mendongak menatapku.

Aku menggeser tubuhku hingga terlihat sedikit cangkang putihnya. “Memang benar cantik, seperti ibunya”, pipiku memanas. Ia adalah pasanganku, pasangan hidupku. Satu-satunya. Sedetik kemudian, ia merentangkan sayapnya yang gagah, bersiap pergi. “Aku akan segera kembali kepada kalian sebelum akhir senja. Jaga dirimu dan calon anak kita ya”, aku mengangguk. Melihatnya pergi seiring singsingan matahari yang mulai menerangi langit. Aku mendekap hangat calon anakku satu-satunya. Dua atau tiga hari lagi, ia akan menetas.

Ia, pasanganku bekerja keras mencari makan untukku, hingga nantinya saat anakku menetas aku bisa menghasilkan susu dari tembolokku dengan lancar untuk makan anakku. Dan aku? Aku akan menjaga telurnya dan menunggu pasanganku kembali…

Kepalaku menengadah saat aku melihat langit telah berubah warna. Sore akan segera datang, itu artinya pasanganku akan segera pulang. Aku menatap calon anakku. Cangkangnya putih bersih, tanpa noda. Aku sesekali berbicara padanya, ia beberapa kali membalasku dengan ketukan lembut dari dalam cangkangnya. Ah, rasanya aku tidak sabar melihat anakku keluar dari tempat persembunyiannya itu. Aku tidak sabar mempunyai teman saat aku ditinggal pasanganku mencari makan seharian.

Ah, andaikan dua atau tiga hari itu bisa dipercepat. Matahari mulai menenggelamkan dirinya, meninggalkan jejak-jejak jingga dibelakangnya. Aku menengok ke arah pasanganku biasanya pulang. Nihil. Mataku terpaku oleh senja. Jantungku mulai berdegup lebih kencang. Mungkinkah ia tersesat? Apakah mungkin ia mencari makan terlalu jauh? Atau… apa mungkin ia tak akan kembali?

Pikiranku terlempar pada ingatan seminggu yang lalu saat ia menceritakan tentang sarang betina yang ditinggalkan oleh pasangannya. “Bulunya berwarna-warni, matanya seperti rembulan dan ia kelaparan. Lalu, aku membagikan separuh makananmu untuknya, maafkan aku… niatku murni hanya ingin membantunya”. Mataku terpejam, tidak mungkin ia akan kembali kesarang betina itu lagi. Otakku berisi keras meneguhkan hatiku.

Senja semakin meredupkan sinarnya, aku menatapnya lembut. Tidak ada yang salah dengan senja, senja memang hampir berlalu, memang berarti janji hampir terpatahkan. Detik itu, aku ingin sekali menarik senja untuk tetap menemaniku, untuk tetap menjaga janjinya, untuk tetap menjaga hati kami, hatiku. Aku terbang keluar, bernegosiasi dengan senja. Ia hanya tersenyum padaku, tanpa berkata-kata sepatah katapun.

Mataku berkaca-kaca. Sayapku mulai mengepak-ngepak lebih cepat, menjaga tinggiku agar selalu di depan wajahnya. Ia mengangguk sekali, tetap tersenyum, berbisik kepadaku, ‘Bukan tugasku menjaga janji… aku harus pergi’. Bisik lembutnya meremas-remas hatiku, aku frustasi. Sampai akhirnya ia merayap pergi. Aku merasakan kepakan lembut di belakangku. Air mataku hampir menetes saat aku melihat pasanganku dengan matanya yang heran. Sayapku lunglai, aku kembali pada anakku. Ia memelukku, “Kau tak seharusnya meninggalkan calon anak kita sendirian di penghujung senja”. Aku diam, terisak tertahan. “Aku pasti kembali. Tolong jangan pernah berlutut pada senja lagi, itu sia-sia”. Aku menatapnya. Mengerjap sekali. Lalu teringat atas takdir kami.

****

Tangannya menutup buku biru itu seiring dengan helaan panjangnya. Entah berapa kali ia membacanya. Mengulang kisah fiksi itu lagi, lagi, dan lagi. Ia berjalan menuju pintu, membuka kuncinya, dan menyentuh mejanya. Tatapannya tertuju pada jam tangan emas yang mirip dengan yang ia pakai. Ia mengernyit, menghela nafas dalam-dalam. Menaruhnya kembali, lalu berjalan pergi. Tak lupa ia menguncinya kembali, menaruh kuncinya di balik case ponselnya. Kepalanya pening, dadanya sesak dan matanya memanas. Menyumpahi dirinya yang bukan merpati.


Terima kasih telah membaca cerpen mini sedih wanita resah menatap senja, semoga cerita pendek sedih diatas dapat menghibur dan memberi inspirasi bagi sobat pemirsa Bisfren sekalian. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait