Saat Boneka Bercerita

cerita putus cinta sedih saat boneka bercerita

Saat boneka bercerita adalah cerita putus cinta pendek tentang gadis patah hati lalu melampiaskan kekesalannya pada boneka kesayangan. Penuturan oleh boneka yang merasa dicampakkan membuat kisah dalam cerpen sedih ini jadi menarik.

Cerita Putus Cinta Pendek – Saat Boneka Bercerita

Aku tak pernah tahu apa salahku. Sebelumnya, hidupku sempurna, indah dan berwarna, tapi sekarang semuanya berbeda. Aku sudah kehilangan hal-hal yang paling aku cintai. Kehangatan yang biasa aku rasakan, tawa yang biasa aku dengar, dan rasa cinta yang biasa kusaksikan. Semuanya telah hilang karena sebuah kesalahan, kesalahan siapa? Bukan salahku!

Aku masih ingat dengan jelas setiap detil kejadian yang terjadi hari itu. Aku sedang berdiri dengan tenang bersama beberapa temanku saat seorang cewek manis menyentuh hidungku dan menarik telinga kecilku, “Yang ini, bagus nggak?” dia bertanya pada seorang cowok yang berdiri di sampingnya. Aku menatap cowok itu, usinya sekitar 19 tahun, kurasa dia pacarnya “Kamu suka?” cewek itu mengangguk. Merekapun membawaku pergi.

Aku tidak tahu ke maan mereka membawaku, yang jelas saat gadis itu mengeluarkan aku dari kertas plastik, aku mendapati diriku berada di sebuah kamar yang tidak begitu besar, namun sangat rapi. Aku ditaruh di meja di samping tempat tidur. Aku melihat cewek itu memeluk pacarnya, “Makasih ya.”

“Sama-sama, aku seneng bisa membelikan sesuatu buat kamu.” Balas cowok itu, “Sebenernya aku pengen banget bisa nemenin kamu lebih lama, tapi aku harus buru-puru balik. Sampai ketemu besok di kampus ya, Natria.” Oh, nama cewek itu Natria.

“Okay, inget ntar SMS kalo udah nyampe kos. Hati-hati Dika.”

Natria menutup pintu setelah cowok yang ternyata bernama Dika itu keluar. Dia lalu megambil dan memelukku, “Aku cinta banget sama dia.” Katanya.

Hari-hari berlalu dengan cepat. Dika datang ke kos Natria hampir setiap hari. Mereka terlihat sangat bahagia. Aku tidak pernah bosan mendengarkan mereka bercerita, mereka tidak pernah kehabisan topik yang menarik. Malam-malam setelah Dika pulang, Natria memelukku sambil bercerita tentang betapa bahagianya dia.

Aku juga merasa sangat bahagia, tapi suatu malam di Bulan Desember, Natria masuk ke kamarnya dengan mata yang basah. Aku menatap mata itu dan aku bisa menemukan kesedihan dan kemarahan di dalamnya, “Ada apa Natria?” aku bertanya tapi tak ada yang keluar dari mulutku.

Dia berdiri dalam kesunyian yang sanagt menyiksa selama beberapa menit, namun bagiku itu terasa seperti berjam-jam. Aku tak tahu apa yang terjadi padanya. Dia terlihat sangat sedih, kecewa, dan marah. Dia berjalan perlahan ke arahku dan menarikku ke pelukannya, “Kenapa dia tega ngelakuin ini sama aku?” dia memecah kesunyian. Aku merasakan punggungku basah, dia menangis! Aku sangat berharap aku bisa menghiburnya, menenangkannya. Andai saja aku manusia.

“Aku benci dia!” tiba-tiba Natria menarik telingaku dan melemparkanku ke salah satu laci lemarinya. Di dalam lemari itu sangat gelap. Aku takut, tapi aku tidak punya waktu untuk emmikirkan ketakutanku. Aku tidak bisa melihat apa-apa, tapi aku bisa mendengar semuanya. Natria menangis seperti anak kecil. Lalu aku mendengar tombol handphone yang dipencet, sunyi selama beberapa detik, lalu terdengar suara Natria yang bergetar, “Aku nggak pernah nyaka kamu bisa ngelakuin ini! Kenapa Dika? Kenapa kamu ninggalin aku kaya gini? Apa yang kurang dari aku? Aku udah berusaha ngelakuin yang terbaik buat kamu, tapi kenapa kamu malah kembali ke cewek sialan itu bahkan sebelum kamu mutusin aku?? Aku benci kamu Dika! Aku nggak akan pernah maafin kamu!” dia menangis lagi, lebih keras dari yang tadi.

Apa? Dika menyakitinya? Dia meninggalkannya? Kenapa? Itu pasti hanya salah paham! Dika tidak akan pernah melakukan itu! Dia sangat mencintai Natria. Aku tahu itu. Aku percaya itu!
Aku tidak bisa mendengar apa-apa lagi, kurasa Natria sudah tidur.

Entah berapa lama kau menunggu sampai akhirnya pintu laci itu terbuka. Natria berdiri di depanku dengan kemarahan dan kebencian di matanya dan gunting di tangan kanannya. Dia menatap tajam ke arahku seolah dia ingin membunuhku. Dia tidak akan melakukan itu kan? Oh ! Tidak ! Dia tidak bisa melakukan itu ! Dia mencintaiku !

“Mati kamu!” dia berteriak dan dia merobek pakaianku dengan guntingnya. Dia memotong telinga dan kakiku, “Aku benci kamu! Aku sangat benci kamu, Dika!” dia membuangku ke lantai kamar yang dingin dan dia menginjakku berkali-kali, “Cowok brengsek! Kurang ajar !”

Akhirnya dia jatuh terduduk dengan air mata yang meleleh deras di pipinya, dia sangat terluka, aku juga begitu. Kami menangis bersama tanpa kata-kata. Hidup kami hancur.

Beberapa saat kemudian dia mengambil potongan-potongan tubuhku dan bangkit berdiri, “Maaf, aku nggak bermaksud melukaimu.” Bisiknya pelan.

Aku mengerti, ini bukan salahnya. Aku bisa merasakan apa yang dia rasakan. Aku tahu betapa sakit hatinya ditingalkan oleh orang yang sangat dia cintai. Aku mengerti, sungguh, aku mengerti… Oh Natria, andaikan aku bisa bicara, andaikan aku bukan boneka, pasti aku sudah menghiburmu. Hentikan tangismu, cowok itu tak layak mendapat air matamu. Tersenyumlah, aku masih di sini untukmu, aku akan menjagamu, aku tak akan membiarkanmu menderita, meski kamu sudah menghancurkan tubuhku.


Terima kasih telah membaca cerita putus cinta pendek sedih mengenai boneka bercerita tentang pemiliknya yang patah hati lalu menganiaya dan mencampakkan dirinya (boneka). Semoga cerpen diatas bermanfaat dan memberi inspirasi bagi sobat semua. Salam sukses.

Dibagikan

Ayu Purnayatri

Penulis :

Artikel terkait