Sakelar dan Peluk Erat

cerita romantis pendek sakelar dan peluk erat

Cerita Romantis Pendek catatan pribadi pasangan muda suami istri di atas ranjang. Buat pemirsa dewasa yang ingin mengenang masa-masa pengantin baru dulu, jangan lewatkan cerpen romantis pendek yang ditulis apa adanya tanpa dramatisasi ini.

Cerita Romantis Pendek Sakelar Dan Peluk Erat

Mataku menjelajah. Atap putih dan cahaya lampu di atas kepalaku, jendela dengan langit warna biru tua dan rintik-rintik, rak-rak kayu warna cokelat gelap yang membingkai televisi layar datar yang menayangkan berita. Sudah sejak tadi kepalaku bertanya-tanya sendiri, sakelar mana untuk lampu yang mana, bagaimana cara menutup kerai, rak di atas televisi itu fungsinya buat apa, dan di mana remote tv. Mataku menjelajah dan bertanya-tanya, lalu mataku berhenti.

Lelaki di sampingku ini punya wajah oval, rahangnya miring karena kecelakaan motor bertahun-tahun lalu. Katanya saat itu ia pulang malam dari luar kota, lelah luar biasa, dan ingin segera sampai rumah, ia mengebut, motor lepas kendali, dan ia tak ingat apa-apa lagi. Ketika sadar ia sudah ada di rumah sakit dengan rahang yang terluka. Ia tak pernah suka rahangnya sejak itu (baca : cerita romantis hidupku kamu).

Aku tetap menyukainya, seperti aku menyukai lengkung alisnya, mata cokelatnya, hidungnya, bibirnya, sampai detil pori-pori, jerawat, dan rambut halus di rahang tak simetris di wajahnya itu.

Rambutnya yang baru saja dipangkas undercut itu suka sekali digaruk-garuk sebelum tidur. Aku sudah hafal kebiasaannya, saat kantuk mulai terasa, ia mencari-cari tanganku lalu meletakkannya di atas rambutnya, memintaku menggaruk-garuk kepalanya. “Bukan diusap dan dielus, digaruk!” berkali-kali ia menegaskan. Aku tak terlalu suka kebiasaanya ini, selain lengket pomade yang kemudian menempel ke jari-jariku setelahnya, memegang kepala orang selalu kuyakini sebagai perbuatan yang tak sopan. Tapi setelah 3–5 menit, setelah suara dengkur ringan itu terdengar, aku tak peduli apa-apa lagi. Membuatnya bisa istirahat dan tidur nyenyak membuatku merasa punya arti, sesederhana itu (baca cerita romantis pendek Sakral).

Seperti tadi.

On the night like this
There’s so many things I want to tell you
On the night like this
There’s so many things I want to show you

Baru sepuluh menit yang lalu kutarik tanganku dari rimba rambutnya, lalu berpikir cahaya lampu di atas kami ini terlalu terang, tapi aku tak tahu sakelar mana yang akan meredupkan lampu di sisinya. Aku menaruh bukuku, menyingkap selimut, beranjak, menekan semua sakelar di dinding, tapi dari lima sakelar yang kutekan, tak ada sakelar yang mematikan lampu yang kumaksud. Aku pergi ke dekat jendela, tak ada tetalian yang biasanya bisa kutarik untuk… oh ada. Sip, sudah kusembunyikan langit biru tua, lampu-lampu yang mulai menyala, dan gerimis yang mulai tiba. Aku selalu meyakini tidur di jam-jam seperti ini adalah tabu, tapi mengetahui lelah dan mahalnya waktu istirahat bagi lelaki itu, tidakkah tabu pun termaafkan ? Tentu saja, apalagi sekadar fakta bahwa ia menggunakan waktu kebersamaan kami untuk tidur dan istirahat. Bagiku, sehatnya selalu nomor satu. Kubangunkan 10–15 menit lagi, mengingatkannya untuk makan, lalu mempersilakannya tidur lagi (baca juga : cerita romantis cinta jarak jauh Ikhlas).

Tapi terang lampu di atas kepala kami dan berisik suara televisi ini tentu akan mengganggu tidurnya. Aku ingat pernah suatu kali ia tidur di mobil di sebuah perjalanan kami ke luar kota. Kepalanya di pangkuanku dan kaki panjangnya menekuk di sisi satunya. Saat mobil berbelok dan menyajikan matahari ke jendelaku, aku menghabiskan dua jam mengangkat tangan, membuat bayangan agar matahari tak menganggu tidurnya. Dua jam yang menjadikan tanganku pegal dan mati rasa itu pun tak apa-apa, apalagi sekadar berburu sakelar dan remote tv.

Aku kembali ke ranjang, pelan-pelan menyingkap selimut dan bantal siapa tahu remote yang  kucari terselip di sana. Lalu mataku menemukan sakelar di dekat nakasku, kutekan dan lampu di sisiku mati. Kalau begitu, pasti ada sakelar di nakas satunya yang berfungsi untuk mematikan lampu di sisi lelaki ini. Benar saja, ada sakelar di dekat nakasnya. Bonus remote tv tampak tersembul di bawah bantalnya.

Tanganku menjulur, menyeberangi tubuh bergelung di sampingku sepelan mungkin. Dalam sekian detik, aku baru berpikir, mengapa aku tidak turun saja dulu lalu berputar untuk mematikan lampu dan mencuri remote dari bawah bantalnya? Dalam sekian detik itu juga, aku merasa seseorang memperhatikanku. Aku menengok dan benar saja, mata lelaki ini sudah terbuka.

Aku membangunkannya. Katanya,

the best feeling is when you look at him and he is already staring.

Perasaan paling menyenangkan adalah ketika kita melihat melihat seseorang yang kita sayang lalu menemukannya sedang menatap kita duluan, atau saat tahu bahwa kita membuat orang lain bahagia, atau saat kita memeluk orang yang kita sayang dan orang itu memeluk kita lebih kencang lagi, atau saat kita tahu bahwa kehadiran kita punya arti bagi orang-orang yang kita sayang, atau katanya, saat kita bangun tidur dan wajah orang yang pertama kali kita lihat adalah seseorang yang kita sayang.

Setidaknya itu yang kupikirkan saat melihatnya melihatku. Aku jadi perempuan yang diserang perasaan-perasaan menyenangkan itu. Begitu pun lelaki itu. Di wajah kusut dan mata redup itu tersungging senyum. Ia tersenyum seolah ia lelaki paling bahagia di dunia hanya karena ia menemukanku di awal buka matanya, tangannya menjulur, lalu menarik dan memelukku seolah aku sesuatu yang berharga. Rambutku diciuminya seolah kami lama tak bertemu.

“Kangen.” ia berbisik di atas kepalaku.

Tubuhku berguncang karena tertawa. Geli, bagaimana mungkin sepuluh menit ia menutup mata, lalu ia bangun dan bilang rindu aku. Ia juga tersenyum dan tangannya memelukku lebih erat lagi. Dipeluknya seperti ini dan aku merasa sangat kecil dan rapuh dan peluknya adalah sepasang tangan penjaga. Aku memasrahkan tubuhku direngkuhnya tanpa hendak protes. Tanganku juga melingkari tubuhnya, lalu pelukku dan peluknya seperti puzzle menemukan keping yang hilang. Menyatu seolah kami ditakdirkan begitu.

Cause when you’re around
I feel safe and warm
When you’re around
I can fall in love every day

“Tidur lagi sana, katanya capek.” aku mengelus punggungnya.

“Kamu sih, gangguin aku.” sahutnya penuh protes. Aku merenggangkan pelukanku dan berusaha keluar dari dekapnya, tapi ia tidak mengizinkan. Aku dipeluknya lebih erat lagi.

Aku memberontak ingin peluk sesak ini usai karena rindu oksigen bebas, tapi di saat yang sama aroma tubuhnya ini juga surgawi. Campuran wangi deodoran, parfum, keringat, dan matahari ini salah satu bagian yang kurindu tiap kali jauh darinya. Pernah suatu kali saat aku berlibur dan lama tak bertemu dengannya, kucuri parfumnya, kusemprot ke sweaterku, syalku, bahkan selimut dan bagian dalam koperku. Terdengar gila, tapi sejak bertemu dengannya, gila pun terasa wajar saja.

Di dalam peluknya seperti ini dan aku dapat mendengar debar-debar jantungnya. Barangkali karena gelombang deltanya lompat langsung ke beta, gangguanku membuatnya langsung terjaga. “Maaf. Aku mau matiin lampu itu sama cari remote, tvnya berisik, biar tidurnya nyenyak. Kasihan kamu.” aku menjawab di balik sesak peluknya.
Ia melepaskan tangan kirinya, membuatku berguling di sampingnya, berbantalkan lengan kanan yang masih mengulung leherku. “Aku mau bangun aja, laper. Ntar kalau udah lewat magrib kita keluar ya, jalan-jalan sambil cari makanan khas sini.”

“Aku mau kayak gini aja.” Aku mengangkat tangan dan kaki kananku, lalu memeluknya lagi dengan separuh tubuhku.

Ia tertawa, “Liburannya mau tiduran aja ?”

“Iya kelonan aja. Di luar gerimis, mending di sini, selimutan. Anget.”

“Bikin pengen berkembang biak ya?” ia mengelus rambutku.

“You’ve just read my mind!” Aku tertawa.

“I know you.” Ia tersenyum, kuketahui dengan hanya mendengarnya bicara tanpa perlu melihat. Aku memeluknya, dan ia mengusap-usap rambutku.

In the case like this
There are a thousand good reasons
I want you to stay…

“Sayang ?”

“Hmm.” Ia menjawab. Aku bisa membayangkan ia menyahutiku sambil memejamkan mata, barangkali ia masih mengantuk.

“Ganggu nggak sih, kita pelukan gini, tapi TV nya ngebahas kasus di Pulomas, pilkada DKI, makar…”

“Romantis, tau. Ironis romantis.” Ia memberi judul.

10 Januari 2017, @nawangrizky : Bisa sih, dipanjangin, dikasih konflik, tambahin twist dikit. Tapi enggak ah. Enggak mau. Tidakkah mestinya memang ada hari-hari yang semuanya bahagia seperti ini ? Tanpa konflik. Tanpa drama.  Hanya aku, kamu, dan perasaan bahagia di dada kita.


Terima kasih telah membaca cerita romantis pendek curahan hati dari catatan pribadi pendek Sakelar dan Peluk Erat karya Catatan Penyihir (Nawang Rizky). Semoga menghibur.

Dibagikan

Artikel terkait