Sakitku Penyelamatku @ Cerita Cinta Romantis – Bisfren.com

cerita pendek cinta

Sakitku penyelamatku merupakan cerita pendek cinta tentang wanita penderita kanker payudara namun justru sakitnya menjadi penyelamat cinta dan rumah tangganya. Simak selengkapnya pada cerita pendek berikut.

Cerita Pendek Cinta – Sakitku Penyelamatku

Sebut saja namaku Dewi. Sejak kecil aku tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik. Kami tumbuh di tengah keluarga kaya dan terhormat. Papaku seorang perwira TNI AU. Karena tugasnya mengharuskan kami berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya. Sementara Mamaku seorang perfeksionis. Sebagai seorang istri perwira, Mama selalu berkehendak semua sempurna seperti keinginannya. Bahkan di kalangan Ibu-ibu anggota, Mama paling tegas, disiplin dan cenderung otoriter, banyak orang tidak menyukainya. Mereka hanya hormat di depan, tapi di belakang mereka menggerutu dan menggunjing.

Hal seperti itu juga kami, anak-anaknya, rasakan. Kami hanya seperti boneka, setiap saat harus menurut apa perintah Mama. Kedua adikku, Tony dan Rony sudah mulai berontak. Mereka ingin pulang dan bersekolah di Jawa. Kebetulan ada rumah peninggalan kakek di Solo. Akhirnya Mama setuju dengan keinginan mereka. Saat itu, Tony kelas satu SMA, sementara si bungsu Rony kelas dua SMP. Sementara aku, terpaksa harus tinggal bersama Papa Mama, karena aku kelas tiga, dan harus menyelesaikan sekolah dulu sampai lulus.

Pulang ke Tanah Jawa

Akhirnya selesai sudah sekolahku, aku lulus. Betapa senangnya hatiku, karena akhirnya aku bisa pulang ke Jawa. Aku bisa bebas dan berkumpul dengan adik-adikku Tony dan Rony. Di Jawa kami tinggal bersama seorang pembantu, Mbok Sinem. Mbok Sinem yang merawat kami sejak kecil, jadi kami sudah terbiasa.

Aku sangat terkejut, karena di rumah Solo, kedua adikku begitu bebas. Bahkan rumah kami jadi basecamp / tempat ngumpul teman-temannya. Mbok Sinem tidak bisa berbuat banyak. Ku marahi kedua adikku dan mengusir teman-temannya. Ternyata itu malah membuat mereka tidak pulang. Akhirnya ku minta bantuan Om Budi untuk mencari mereka. Dan sejak kejadian itu Om Budi, adik Mama , bersama istrinya tinggal di rumah kami, mengawasi kami. Beruntung Om Budi orangnya baik, tidak segalak Mama.

Dan akhirnya masuk kuliah di kota Solo, mengambil jurusan hukum. Saat kuliah, ada seorang cowok Rafik nama cowok itu, dia menyukaiku. Anaknya ganteng, anak orang kaya juga, Papanya seorang hakim. Tapi dia sangat sombong.

Sebenarnya aku tidak begitu menyukainya. Tapi saat Mama pulang, kebetulan Rafik datang ke rumah dan bertemu Mama. Rupanya Mama sudah terkesima dengan penampilan juga kata-kata Rafik. Mama menyuruhku menerima Rafik sebagai pacarku. Anehnya lagi Mama malah menyuruh Rafik untuk tinggal di rumah kami. Karena kasihan dengan Rafik yang rumahnya jauh dan harus kos. Sementara di rumah kami banyak kamar kosong. Mama tidak khawatir karena ada Om Budi yang menjaga kami.

Terpaksa lagi-lagi aku harus menuruti apa kata Mama. Seiring berjalannya waktu, aku baru tahu kalau Rafik tidak jujur, dia bukan anak hakim. Bahkan selama ini makan juga ikut kami, bahkan kendaraan juga nebeng punyaku. Akhirnya ketahuan juga kalau dia hanyalah seorang penipu. Tanpa berpikir panjang lagi, aku memutuskannya dan mengusirnya dari rumah kami.

Dicarikan jodoh

Dan setelah empat tahun menempuh kuliah akhirnya, aku lulus juga. Dan saat itu bertepatan dengan Papa pensiun dan pulang ke Solo. Papa masih bekerja sebagai anggota Dewan Daerah dari Fraksi TNI. Berkat kenalan Papa, diriku bekerja pada sebuah perusahaan meskipun sebelumnya sempat terpikir untuk melakukan wirausaha. Waktu berlalu, dan setelah putus dari Rafik aku belum pernah menjalin cinta lagi. Dengan umur menginjak umur 30 membuat Mama risau. Mama selalu menanyakan apakah sudah ada pendamping. Hingga akhirnya Mama berusaha menjodohkanku dengan beberapa orang. Tapi kriteria Mama selalu orang kaya. Semua perjodohan itu gagal, karena Mama terlalu matre. Kondisi ekonomi kami yang mulai menurun sejak Papa pensiun membuat Mama suka meminta-minta sesuatu pada calon suamiku.

Berkenalan di udara

Hingga akhirnya silih berganti mereka mundur teratur. Aku juga pasrah, karena aku juga sudah berusaha. Saat aku tidak semangat, saat itu sedang tren radio amatir atau ‘break’ kalo istilah di daerah kami. Aku kenalan dengan seorang pemuda sebut saja Pram. Kami ngobrol nyambung, walaupun belum pernah bertemu tapi aku merasa nyaman.

Setelah sekian lama, kami copy darat. Kesan pertama, ternyata Pram adalah seorang pemuda sederhana, dia karyawan pabrik bagian administrasi dalam arti pegawai biasa. Jauh dari mereka yang pernah dijodohkan Mama sama aku.

Tapi entah mengapa aku nyaman dengan dia. Dan yang bikin aku kagum, dia berani melamarku di depan orangtuaku. Papaku setuju, yang penting aku bahagia. Beda dengan Mama yang sangat menentang lamaran ini. Terus terang Mama tidak setuju jika aku menikah dengan Pram.

Meski mama tidak setuju kami tetap menikah

Mama sangat menyayangkan keputusanku yang mau menerima Pram, yang sederhana, pegawai biasa dan lulus SMA. Sementara aku adalah anak seorang perwira, kaya, sarjana, bekerja dan punya wajah cantik. Bagi Mama kami beda jauh. “Dewi, buka mata kamu, masih banyak laki-laki yang lebih baik dari dia. Mama nggak rela kamu nikah dengan orang biasa, beda kita terlalu jauh.” Mama berusaha membujukku.

Tapi keputusanku tetap, aku yakin bahwa Pram adalah jodohku. Akhirnya Papa yang menengahi, kami tetap menikah tapi hanya ijab saja, tidak ada resepsi. Bagiku hal itu tidak masalah, mungkin Mama malu mendapat mantu orang biasa, apalagi orangtua Pram hanya seorang petani.

Suamiku dimusuhi dan jadi tidak betah di rumah

Setelah menikah, aku memutuskan untuk tetap tinggal bersama Mama. Masalah mulai timbul, Mama dari awal tidak suka dengan Pram. Dia mulai menunjukkan permusuhan. Apa yang dilakukan Pram selalu salah di mata Mama. Mama masih menganggap Pram sebagai orang tidak pantas menjadi suami aku.

Akibat sikap Mama, Pram jadi tidak betah di rumah. Pram sering tidak pulang, dia lebih suka pulang ke rumah orangtuanya. Hal ini semakin membuat Pram di mata Mama semakin tidak baik. Ada saja yang dikatakan Mama hal jelek tentang Pram.

Hamil anak pertama mulai membenci suamiku

Beberapa bulan kemudian aku hamil. Sejak aku hamil, aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Otomatis hanya mengandalkan gaji tidak begitu besar dari suami. Hal itu semakin membuat Mama semakin benci dengan Pram, karena tidak bisa memenuhi kebutuhanku.

Kemudian anakku lahir, sebut saja Risky. Risky tumbuh menjadi anak yang tampan. Dia dekat dengan Bapaknya. Setiap kali Mama mengejek Pram, Risky selalu membelanya. Tidak seperti aku, lama-lama diriku juga ikut benci Pram. Karena Pram tidak bisa mencukupi kebutuhan kami. Sejak menikah dengan Pram, belum pernah sekalipun dia membelikan baju untukku. Gajinya kecil, masih harus dibagi untuk biaya hidup orangtuanya. Sempat ku lontarkan ide kepadanya untuk mengambil peluang usaha sampingan modal kecil, tapi dia masih ragu untuk menjalankannya.

Dan mau tidak mau aku masih minta uang Mama, hingga akhirnya diriku terpengaruh dengan kata-kata Mama. Mama menginginkanku bercerai, serta mau dijodohkan dengan kenalannya supaya hidupku lebih baik ke depannya. Bagi Mama, selama masih sama Pram maka hidupku akan selalu kekurangan.

Menggugat cerai

Aku mengajukan gugatan cerai sama Pram. Anakku Risky menentang keputusanku. Pram juga tidak setuju, untuk menjaga perasaan anak. Tapi aku masi bersikukuh, terus terang aku sudah capek hidup kekurangan.

Di tengah ngototnya ingin cerai, beberapa lama ini payudaraku terasa sering sakit. Dan betapa terkejutnya, setelah diperiksa ternyata sakit kanker payudara sehingga harus segera ditangani. Saat mendapat vonis seperti ini, suami dan anakku tinggal di rumah orang tuanya.

Melawan Kanker Payudara

Hanya Mama yang menemaniku. Saat berjuang, ku dengar kabar kalau suamiku telah menjalin hubungan dengan seorang janda tetanggaku. Hal itu membuatku sakit hati. Aku salut pada Mama. Mama begitu besar mensupport diriku. Walaupun kadang tingkah Mama begitu menyebalkan. Berbagai macam obat harus ku minum termasuk obat herbal kanker payudara tetapi sakitku tidak berkurang.

Aku harus menghadapi serangkaian kemoterapi juga operasi. Hal ini tentu saja membutuhkan biaya lumayan besar. Kepada suamiku, sudah tidak bisa diharapkan lagi. Saat sakit, dia juga tidak peduli.

Hingga akhirnya saat harus opname dan menjalani operasi, tiba-tiba suamiku datang bersama anakku. Yang lebih menyakitkan, ternyata dia juga datang bersama pacarnya. Sangat memalukan, hal ini membuat murka Mamaku. Diusirnya suamiku dari tempat dirawat, sementara hatiku begitu sakit. Di tengah kondisiku lemah, aku menangis.

Tersadar

Bagaimana hal ini menimpaku. Tapi tiba-tiba bayangan saat mulutku ikut memaki serta mengejek suamiku terpampang lagi. Bagaimana diriku menghina suami bersama Mamaku. Ya Allah, betapa kejamnya. Aku sudah mengkhianati suamiku, tidak menghormatinya selama ini. Ya Allah, mungkin ini memang balasan bagiku.

Sebelum operasi, aku meminta bertemu suamiku empat mata, berdua saja. Sebelumnya Mama menentang, takut kalau diriku sakit hati lagi. Tapi setelah memohon, akhirnya Mama mengijinkan juga.

Dan suamiku pun datang, sekarang hanya ada aku dan dia. “Mas, maafkan aku ya…” kataku lirih sambil kucium tangannya. Tangan suamiku bergetar, bulir-bulir air mata juga mulai keluar, aku rasakan jatuh menetes di tanganku.

“Selama ini telah durhaka padamu… aku malu Mas.” Kataku. Dan tak kusangka, suamiku tertunduk sekarang duduk bersimpuh di hadapanku dengan tangis keras. Dia memelukku erat sekali. Kami terlarut dalam haru, sudah lama sekali suamiku tidak menyentuhku.

Kerinduan

Aku merasakan rindu sekali. Sekarang mungkin umurku tinggal sebentar saat lagi, diriku hanya ingin minta maaf. “Mas, tolong jaga Risky ya. Kamu boleh menikah lagi, asalkan setelah diriku meninggal. Aku tidak ingin kita cerai Mas.” Pram semakin menangis sesenggukan mendengar kata-kataku.

“Maafkan aku Dewi, kita akan tetap jadi keluarga, kamu yang kuat ya.” Ucap Pram sambil mencium keningku. Ya Allah, entah kenapa hatiku menjadi sangat lega. Telah lama sekali aku merindukan kasih sayang ini.

Alhamdulillah, saat menghadapi sakitku, diriku didampingi suami juga anakku. Bahkan mertua juga rela menjual tanahnya untuk biaya berobat. Terima kasih Ya Allah, dibalik sakitku Engkau telah menyelamatkanku.


Anda telah berkunjung ke laman Bisfren dan membaca cerita pendek cinta. Semoga cerpen diatas dapat menghibur dan memberi inspirasi serta motivasi bagi sobat untuk tetap semangat menghasilkan karya-karya terbaik. Salam sukses.

Dibagikan

Anik Fityastutik

Penulis :

Artikel terkait

1 Comment

  1. Tepat seminggu yang lalu, Dewi telah menghembuskan nafas yg terakhir kali…Selamat jalan mbak…