Sampai Jadi Debu

cerita pendek kesetiaan

Sampai jadi debu merupakan cerita pendek kesetiaan tentang rasa bangga seorang anak pada rasa setia ayahnya kepada ibu yang sudah meninggal sejak 25 tahun lalu. Dia tetap memilih sendiri selamanya hingga maut menjemputnya. Silahkan simak selengkapnya pada cerpen berikut :

Cerita Pendek Kesetiaan – Sampai Jadi Debu

Selamanya. Sampai kita tua. Sampai jadi debu. Ku di liang yang satu. Ku di sebelahmu

Sudah tiga hari ini aku berada di rumah Ayah. Sebelumnya Ayah tiba-tiba meneleponku mengeluh dadanya sakit. Aku putuskan mengambil cuti satu minggu dari pekerjaan. Sayangnya aku tidak bisa membawa serta keluargaku. Sulung, anak pertamaku, akan menghadapi ujian semester di sekolahnya. Istriku tentu harus menemani dia belajar di rumah. Akhirnya aku sendiri pergi ke rumah Ayah.

Hari pertama tiba di rumah Ayah, aku langsung membawa Ayah ke dokter. Dokter mendiagnosa rasa sakit itu disebabkan oleh sakit jantung ringan akibat kelelahan. Dokter menyarankan agar Ayah lebih banyak istirahat. Aku begitu khawatir mendengar kabar dari dokter tersebut. Setidaknya masih ada beberapa hari aku menemani Ayah di rumah. Ayah sendiri sudah berusia sekitar 60 tahun dan telah pensiun dari dinasnya 2 tahun lalu. Hari-harinya sebagai pensiunan hanya dihabiskan berkebun di rumah saja.

Setelah pulang dari dokter, Ayah ku minta tetap beristirahat di rumah. Namun, kondisi Ayah malah melemah saat berada di atas tempat tidur. Kemarin, Ayah muntah-muntah karena rasa sakit kepala yang sangat menghantam. Meski akhirnya membaik menjelang tengah malam tadi. Melihat Ayah tertidur memeluk foto Ibu membuatku begitu terenyuh.

Kesetiaan membuatnya selalu tertidur sambil memeluk foto ibuku

Dia begitu sedih setelah ditinggalkan Ibu

Ibu telah meninggal dunia sekitar 25 tahun yang lalu. Kanker ganas menyerang organ dalam tubuh Ibu yang masih berusia 30 tahun saat itu. Aku saat itu masih duduk di bangku Sekolah Dasar begitu terpukul akan kehilangan Ibu. Ibu hanyalah ibu rumah tangga biasa yang setiap malam menemani aku belajar. Ibu adalah wanita cerdas dan lembut, begitu kata Ayah, sehingga Ayah begitu mencintai Ibu.

Sejak Ibu pergi, Ayah sedikit berubah. Sehabis pulang dari surau setelah salat Isya, Ayah selalu duduk di ruang tengah memandang foto Ibu yang terpajang di dinding. Ayah larut dalam diamnya, sampai ia merasa mengantuk lalu pergi ke kamar tidur. Aku melihat itu setiap malam sampai memutuskan menikah dan menetap di Ibu Kota. Ternyata Ayah masih melakukan hal tersebut sampai sekarang.

Ini alasan ayah tidak mau menikah lagi

Siang tadi setelah Ayah bersantap siang dan meminum obat, Ayah mengajakku berbincang. Sampai suatu perkataan yang menjawab pertanyaanku selama ini tentang Ayah dan Ibu. Ayah berkata, “Nak, engkau dulu pernah beberapa kali menyuruh Ayah menikah lagi. Waktu itu Ayah hanya tersenyum saja menjawab permintaanmu itu. Dulu sewaktu Ibumu masih sehat, ia sempat bertanya apakah Ayah akan menikah lagi jika Ibu meninggal duluan. Ayah hanya tertawa dan menggoda Ibumu dengan mengatakan ‘Tentu, keesokan harinya malah.’. Ibumu cemberut dan Ayah hanya tertawa.”.

Mata Ayah berkaca-kaca saat itu dan melirik ke foto Ibu di dinding. “Tapi, kau tahu sendiri kan Nak. Ayah tidak pernah menikah lagi hingga saat ini. Bahkan ketika kau memintanya agar Ayah tidak kesepian di rumah. Ayah begitu mencintai Ibumu. Setiap malam Ayah selalu memandang foto Ibumu. Ayah rindu ingin berjumpa dengan Ibumu. Kau tahu Nak? Ayah hanya ingin bertemu dengan Ibumu saja di surga nanti. Itu sebabnya Ayah tidak ingin menikah lagi. Cukup Ibumu saja yang Ayah cintai.”, lanjut Ayah.

Tetes air mata jatuh begitu saja, tidak terasa. Aku terkenang akan Ibu sekaligus begitu kagum dengan sosok Ayah. Cinta Ayah kepada Ibu begitu dalam, hingga tidak ada niat sedikit pun untuk menikah lagi. Ayah begitu sabar menunggu waktu bertemu kembali dengan Ibu. Rasa rindunya mungkin semakin berat dari hari ke hari sehingga kondisi fisiknya pun melemah.

Akhirnya ayah pergi menyusul Ibu

Malam ini seperti malam kemarin, Ayah tidak berangkat ke surau menunaikan salat Isya. Ia salat di rumah saja. Aku pulang dari surau dan langsung menuju kamar Ayah. Ayah sedang sujud di atas sajadah Ibu. Sajadah yang Ayah jadikan mahar untuk menikahi Ibu dulu, begitu cerita dari Ibu. Lama sekali Ayah sujud, aku tidak berani sekedar menepuk. Namun, aku semakin khawatir dan aku memberanikan diri memanggil Ayah. Ternyata Ayah pingsan saat shalat. Di sekitar matanya terlihat bekas-bekas air mata yang mengering. Aku membaringkan Ayah di tempat tidur dan aku duduk di samping Ayah. Tengah malam Ayah siuman. Ayah meminta foto Ibu yang ada di atas meja samping tempat tidur. Dipandangi foto Ibu sejenak. Tidak ada ekspresi apa-apa dari Ayah. Tapi, aku yakin ada rindu bergejolak pada diri Ayah. Foto Ibu dipeluk Ayah dan tak lama Ayah tertidur. Tidur. Tidur yang sangat dalam.

Ayah dimakamkan diliang yang sama dengan Ibu

Esok hari, aku pergi ke komplek pemakaman dimana Ibu dikebumikan. Bukan tanpa sebab, karena saat ini aku sedang menangis sejati-jadinya di atas pusara. Pusara seorang laki-laki perindu yang kini akan segera bertemu kekasihnya di surga. Di samping pusara Ibu, Ayah kini tidur dengan tenang. = Tamat =


Terima kasih telah membaca cerita pendek kesetiaan suami pada istrinya. Semoga cerpen diatas dapat menghibur dan bermanfaat bagi sobat Bisfren sekalian. Tetaplah optimis dan semangat dalam menjalani hidup. Hadapi segala permasalahan dengan pikiran positif dan sikap terbuka. Semoga sukses senantia menyertai kita semua.

Dibagikan

Artikel terkait