Cerita Misteri Santet Lada Hitam

cerita misteri

Santet lada hitam adalah cerita misteri berkisah tentang seorang penyanyi dangdut kena santet guna-guna karena menolak cinta seorang pria pengagumnya. Meski kesan diberikan sangat kuat, cerita misteri santet ini hanyalah fiksi semata. Bagaimana kisah cerita santet lada hitam selengkapnya ? silahkan simak cerpen misteri berikut.

Cerita Misteri – Santet Lada Hitam

Empat minggu sudah Tini dikurung di kamar. Pintu dikunci dari luar. Hanya sesekali dibuka apabila kedua orang tua atau kakak-adik memeriksa keadaannya, menyuguhkan makan serta minum atau membersihkan tubuh sekaligus mengganti pakaiannya. Empat minggu, tubuh semampai gadis cantik nan langsing itu tergolek lemah di tempat tidur akibat obat penenang diberikan dokter.

Kulit putihnya mulai menguning akibat tidak pernah terkena sinar matahari. Jika pengaruh obat mulai berkurang Tini sering merintih sambil memegangi tenguknya seperti menahan rasa sakit. Kadang dia menjerit-jerit sambil melucuti pakaiannya sendiri hingga tak tersisa satu helai benangpun. Itu sebabnya keluarga menguncinya di dalam kamar.

Ketika malam dan tidak bisa tidur, Tini menyanyikan lagu-lagu diingat dengan irama suka-suka. Liriknya tidak jelas, kadang satu bait lagu disambung dengan bait lagu lain senada sehingga mengundang senyum orang mendengar. Tini memang suka bernyanyi, terutama lagu-lagu dangdut karena pas sekali dengan cengkok suaranya. Dia sering diundang menyanyi jika ada hajatan di kampungnya, hingga ke kampung-kampung tetangga. Wajahnya cantik lagi merdu suaranya, membuat dia menjadi idola.

Kalau tampil, dia selalu menyanyikan lagu berjudul Kucing Garong, dipopulerkan oleh Juwita Sanjaya putri Anisa Bahar juga pernah menjadi hit pada tahun 2007 an. Lagu itu seperti sebuah lagu wajib baginya pada setiap penampilan sehingga banyak orang menjuluki dia Tini Si Kucing Garong. Tini mengetahui itu, tapi dia menyukai bahkan merasa tersanjung karenanya.

Misteri lagu kucing garong

Sebenarnya lagu Kucing Garong tidak memiliki arti apapun. Hanya saja irama serta lirik lagu itu begitu pas dengan warna suara Tini. Apabila Tini menyanyikan lagu itu, dia merasa seperti masuk ke alam bawah sadar sehingga dia bisa melenggang-lenggokan tubuhnya mengikuti hentakan gendang serta melodi nakal keyboard. Terbawa nafas lagu itu, mata Tini bisa memberi lirikan menggoda layaknya wanita binal kearah penonton sehingga memancing lelaki merasa diberi harapan untuk memberi saweran.

Saweran memang sesuatu yang diharapkan oleh penyanyi ketika tampil. Bukan hanya penyanyi kampung sekelas Tini, beberapa penyanyi terkenal sering muncul di televisi pun menjadikan saweran sebagai penghasilan jauh lebih besar dari bayaran sekali tampil. Bedanya kalau penyanyi kampung menerima saweran beberapa puluh atau ratus ribu langsung diberikan atau dilempar keatas panggung, sementara penyanyi terkenal menerima saweran puluhan hingga ratusan juta di belakang panggung setelah usai acara atau mungkin lebih lama lagi, setelah beberapa hari, minggu atau bulan perkenalan.

Misteri penyanyi dangdut cantik

Tini, si kembang desa, penyanyi asal desa Jasaswara. Hampir setiap akhir pekan menjual suara. Diatas panggung, kemampuannya bukan hanya menyanyi. Dia mampu membawa acara serta berdialog lancar penuh percaya diri dengan penggemar sehingga membuat hidup suasana. Kalau dia mulai lelah, pertama-tama dia akan mengajak penonton ikut bernyanyi dengan mengacung mic ke arah penonton. Apabila penonton sudah terbius oleh irama lagu akan suka-rela beramai-ramai menolongnya meneruskan lagu.

Bila lagu selesai sementara dia masih merasa lelah, dia akan berdialog dengan penonton. Menceritakan cerita lucu, pura-pura bertanya lagu apa mau dinyanyikan atau melemparkan kata-kata lucu kearah pemain musik juga pemilik hajatan untuk mengundang tawa serta senyum penonton. Jika lelahnya sudah terasa sangat, biasanya Tini akan mengajak penonton menyumbang lagu. Semakin banyak penonton menyumbang lagu, Tini semakin senang karena tugas jadi semakin ringan sementara bayaran diterima tidak akan berkurang. Tarif sudah disepakati jauh hari, uang muka sudah diterima dan sisa pembayaran biasanya sudah dimasukan amplop tertutup. Jadi tidak mungkin dikurangi.

Gadis itu tidak ingin hubungan cinta serius

Sebagai penyanyi cantik bersuara emas, banyak lelaki kepincut hati pada Tini. Mulai dari pemuda tukang nongkrong di pos hansip hingga kepala desa sudah beristri pernah mencoba mendekatinya. Tetapi Tini diatas panggung berbeda dengan Tini dalam keseharian. Jika diatas panggung dia berlaku layaknya wanita penggoda bergincu senyum berkerling maskara, diluar panggung gadis ini begitu polos, santun lagi lugu. Tini selalu menghindar hubungan serius dengan lelaki penggemarnya. Semua dianggap sebagai teman, kakak, atau orang tua.

Umur masih muda belum juga mencapai 25 tahun mungkin salah satu penyebabnya. Tetapi bukan berarti dia tidak memiliki lelaki idaman. Jauh dilubuk hatinya tertanam sebuah rasa cinta kepada seorang pria teman sekolahnya namun kini entah dimana. Lelaki itu mengenalkannya dengan arti sebuah kata cinta. Pria itu telah membuatnya melayang dalam sebuah kepasrahan dihempas dingin angin malam. Pria itu kemudian pergi tanpa jejak maupun pesan atas nama kehendak orang tua. Menyisakan harapan serta penyesalan.

Dia terkena santet misteri lada hitam

“Anak bapak terkena santet atau guna-guna” begitu kata seorang paranormal saat dimintai tolong oleh orang-tua Tini. Umurnya belum terlalu tua, mungkin sekitar lima puluh tahunan. Dia biasa dipanggil dengan Ki Jala Rupa dari desa Kemukus, desa agak terpencil. Kecuali cincin berukuran besar pada jari-jari tangan dan sebuah gelang akar bahar, penampilannya biasa saja, tidak terkesan angker dan menyeramkan.

Dia tampak berwibawa dengan memakai kopiah hitam dan kain sarung motif kotak-kotak Samarinda banyak dijual di pasar. Sekalipun menjalankan praktek pengobatan secara gaib, Ki Jala Rupa tidak mau disebut dukun. Dia lebih suka disebut paranormal. Sekalipun lebih banyak orang memanggilnya Aki, beberapa orang biasa memanggilnya ustad karena cara berpakaiannya mirip seorang ahli ibadah. Kalau dipanggil seperti itu, Ki Jala Rupa membiarkan dan merasa senang-senang saja. Padahal sejatinya Ki Jala Rupa bukanlah seorang sangat mengerti masalah agama.

“Siapa telah berbuat Ki ?” Bapaknya Tini mencoba bertanya.

“Orang ini menyukai Tini. Dia ingin menikah dengannya tetapi ditolak. Santet ini adalah santet berat. Namanya santet lada hitam. Efeknya sangat dahsyat juga syarat pengobatan serta waktunya juga cukup lama” kata Ki Jala Rupa sambil dia mengusap-usap cincin batu akik besar terpasang dijari. Ada lubang kecil menyerupai serat tembus sampai kebawah batu. Batu dengan lubang tembus alami itu disebut combong. Konon katanya batu itu didapat ketika dia melakukan tirakat pada sebuah sungai di hutan angker. Saat mengucap kata santet lada hitam terdengar tekanan suara agak berat dari mulut Ki Jala Rupa. Sepertinya dia memang merasa lawan akan dihadapinya bukanlah lawan sembarangan.

Tentang misteri santet lada hitam

Santet lada hitam memang terkenal akan kedahsyatannya. Orang terkena santet ini akan merasa panas seperti terbakar di dalam tubuhnya. Hawa sangat panas ini menyebabkan sebagian korban hilang akal fikiran. Sebagian korban juga akan dirasuki birahi tinggi, sangat tinggi. Dalam kondisi seperti ini korban tidak bisa membedakan siapapun dihadapannya, bahkan tidak bisa lagi membedakan antara khayal atau kenyataan. Memang santet ini lebih sering dikirim oleh seseorang kepada lawan jenis yang menyakiti hati agar jiwa juga raga si korban terguncang. Kalau pengirimnya orang dekat dengan korban, itu dilakukan agar dia dapat menguasai raga korbannya saat menderita sebelum korban meregang nyawa.

Selain panas dan halusinasi, efek samping lain dari santet ini adalah rasa sakit pada jam 12 siang saat matahari mencapai puncaknya serta pada jam 7 petang. Korban akan merasa kesakitan di tengkuknya hingga ke bagian tulang ekor. Rasanya sangat perih seperti ada disayat-sayat serta melepaskan daging pembungkus tulang belakang.

Orang terkena santet ini biasanya menjadi gila, lumpuh atau bahkan mati dalam waktu kurang dari 120 hari. Jika orang bisa selamat melewati waktu 120 hari maka dia akan menjadi lumpuh dalam waktu 120 hari berikutnya. Kalaupun masih bisa melewatinya, maka dia akan menjadi gila. Jarang ada korban sanggup melewati masa 3 x 120 hari dari santet ini. Kalaupun mereka bisa melewati fase pertama dan kedua, daya tahan fisik serta psikis mereka sudah sangat lemah. Ditambah perlakuan lingkungan saat mereka menderita membuat korban bertindak kurang waras lalu dinyatakan gila.

Untunglah paranormal itu mau membantu menyembuhkan misteri sakitnya si gadis

“Tolong di-ikhtiarkan Ki…, bagaimanapun caranya. Kasihan anak kami. Apapun bila bisa kami lakukan akan kami lakukan demi kesembuhan dia. Dia anak berbakti serta menjadi tulang punggung keluarga ini” ucap orang tua Tini setengah memelas.

“Akan Aki usahakan. Tapi perlu juga diketahui, santet ini bukan santet sembarangan. Pengirim 13 butir lada hitam ini juga bukan orang sembarangan. Dia mendapatkannya dari sebuah pohon lada liar pada sebuah kuburan tua di tengah hutan. Mahluk pada pohon tersebut adalah penguasa semua mahluk halus disana. Dari terawangan Aki, pohon itu adalah sebuah istana gaib. Banyak arwah korban kemudian diperbudak menjadi pelayan di istana itu. Jadi untuk mengobatinya harus disiapkan beberapa persyaratan.”

Syarat penyembuhan misteri santet tidaklah sulit

Ki Jala Rupa diam beberapa saat sebelum melanjutkan. Tampaknya dia tengah menerawang syarat-syarat keperluan serta ritual harus dilakukan. Orang tua Tini juga diam menunggu tidak berani bertanya. Baca cerita misteri, baca juga :

“Satu genggam garam laut dari Cirebon. Satu buah cabai berwarna merah dan hijau tapi rasanya tidak pedas serta tumbuh di negeri Barat. Bawang berwarna putih ukuran kecil dan besar serta air putih. Itu saja cukup” ujar Ki Jala Rupa tersenyum. Rupanya pengawal gaibnya telah membisikan penawar santet menakutkan itu.

“Bagaimana cara mendapatkannya Ki ?”

“Gampang… kalau kalian susah mendapatkannya sekarang juga Aki bisa suruh murid Aki menyiapkannya. Tapi kalian harus menyiapkan sejumlah uang sebagai maharnya”

“Berapa besarnya Ki ? kami akan usahakan sebatas kemampuan kami”

Syarat misteri juga bisa diganti dengan mahar

Ki Jala Rupa menyebutkan nilai sejumlah uang untuk mahar pengobatan yang langsung disetuji oleh orang tua juga keluarga Tini. Tampaknya uang tidak menjadi masalah, kesembuhan putri mereka lebih utama. Setelah ada kesepakatan mengenai mahar, Ki Jala Rupa mengangkat handphone lalu menghubungi seorang anak murid kesayangannya. Hanya 30 menit setelah itu semua bahan telah disiapkan lalu di letakkan dihadapan Ki Jala Rupa.

Prosesi ritual pengobatan pun mulai disiapkan. Sebungkus arang dibakar diatas dupa. Sebilah pisau tajam berkilat bersama bahan ramuan diletakkan diatas tilam. Aroma mistis merebak saat Ki Jala Rupa menaburkan sepotong kecil kemenyan hitam serta putih. Asap dari arang membara beraroma kemenyan membuat sesak nafas semua orang disana. Ki Jala Rupa diikuti dua orang muridnya membuka pintu kamar lalu masuk mendekati Tini yang masih tergolek di ranjang setengah telanjang. Orang tua Tini tidak berani ikut memasuki kamar tetapi Ki Jala Rupa memberi tanda dengan tangannya agar mereka berdiri di depan pintu kamar terbuka untuk menyaksikan.

Pertarungan mistis misteri dimulai

Dupa serta tilam diletakkan dua meter didepan ranjang dimana Ki Jala Rupa duduk menghadapinya sementara dua muridnya bersiap menunggu perintah. Tampak Ki Jala Rupa menggenggam garam dan memutar-mutar tangannya diatas asap kemenyan sambil mulutnya komat-kamit membaca mantera. Matanya terpejam. Sesekali dia menghela nafas panjang dan tubuhnya bergetar. Peluh sebesar butiran-butiran jagung keluar dari pori-pori keningnya berkerut. Sepertinya dia tengah berjuangan melawan sebuah kekuatan gaib kasat mata. Hanya Ki Jala Rupa dan kedua muridnya mampu melihat.

Waktu terasa sangat panjang bagi kedua orang tua Tini. Jarum jam seakan enggan berdetik. Tidak ada sesuatu dapat mereka lakukan selain menunggu dan menyaksikan.

Entah darimana misteri angin berhembus

Tiba-tiba angin dingin berhembus entah dari mana datangnya. Pada saat bersamaan sebuah pusaran angin panas bergulung dari arah kepala Tini datang menghadang. Pertarungan dua kekuatan batin telah terjadi. Sesekali tubuh Ki Jala Rupa yang duduk bersila bergoyang ke kanan, sesekali ke depan, ke kiri lalu ke belakang seperti mengimbangi kekuatan pusaran angin yang menerjang. Keringatnya semakin deras. Tapi tampaknya dia mulai menguasai keadaan. Tangan kanannya yang menggenggam garam ditarik kebelakang. Tiba-tiba dengan kekuatan penuh dilemparkannya garam itu ke arah ranjang. Pusaran angin panas menguap cepat, Tini tersentak, lalu duduk dan berteriak “Aaaaaaaghhhh… Sakiiiiit”.

Kedua orang tua Tini tampak semakin cemas. Terlihat oleh mereka mata anaknya merah membara memandang ke arah Ki Jala Rupa. Seperti merasa terusik dan terganggu. Giginya gemeretak menahan amarah dan ingin bangkit.

Ki Jala Rupa tetap tenang, matanya kini terbuka. Perubahan ini adalah kemajuan baginya. Dia sudah mengalahkan dukun yang mengirim santet kepada Tini. Kini dia berhadapan langsung dengan penguasa gaib yang merasuk tubuh Tini. Tangan kanannya menggenggam bawang putih kecil dan bawang bombay besar yang dipercaya semua praktisi gaib sebagai penangkal ruh jahat. Diputar-putarnya tangan kanan dan kiri di atas dupa kemenyan sambil matanya memberi tanda kepada muridnya untuk mendekat.

Pengobatan misteri sakit si gadis dibantu anak buah sang dukun

Dua murid Ki Jala Rupa mengerti. Mereka mendekat. Yang sebelah kanan menerima bawang putih dari tangan Ki Jala Rupa dan langsung dimemarkan di lantai dengan menggunakan telapak tangan. Bawang putih itu lalu dimasukan kedalam segelas air dan diaduk menggunakan jari. Sementara murid yang berada di sebelah kiri penerima bawang bombay langsung merajang dengan pisau. Keduanya segera selesai dan menunggu perintah. Tini dalam rupa yang sangat marah menyangga tubuh dengan kedua telapak tangan lalu berdiri. Entah kekuatan darimana yang membuat dia mampu melakukannya sementara dia dalam pengaruh obat penenang dosis tinggi. Tampaknya dia tengah bersiap menyerang Ki Jala Rupa.

Tiba-tiba sebelum Tini bergerak maju, Ki Jala Rupa mengacungkan kedua tangannya ke arah Tini yang langsung di ikuti oleh gerakan murid-muridnya. Murid yang sebelah kanan maju dengan cepat menyiramkan air bawang putih dan murid di sebelah kiri melakukan gerakan yang sama menaburkan irisan bawang bombay lalu kembali pada posisi siaga di samping Ki Jala Rupa.

Tini kembali berteriak. Kali ini sambil memegang kepalanya dan jatuh terduduk. Desiran angin panas lagi-lagi terasa menyesakkan ruang kamar yang sempit itu. Ki Jala Rupa segera menghimpun kekuatannya untuk menetralisir dan menutup semua lubang gaib dengan kekuatannya agar mahluk yang baru keluar dari tubuh Tini tidak kembali masuk. Tidak terasa, satu jam sudah berlalu. Pertempuran gaib tampaknya memasuki babak akhir.

Masuk babak akhir pertarungan mistis penuh misteri

Tini menangis terisak dalam keadaan duduk dan mata tertutup. Tangannya mendekap tubuh. Sekalipun ruh jahat telah keluar dari tubuhnya, dia belum menyadari apa yang terjadi.

Ki Jala Rupa memberi tanda kepada muridnya untuk mengiris cabai berwarna hijau dan merah. Mereka segera melakukannya. Merah dikanan. Hijau dikiri. Ki Jala Rupa memberi tanda agar mereka menaburkannya di sekujur tubuh Tini yang tanpa daya.

Tidak ada perlawanan. Hanya angin hangat yang terbang keatas langit-langit kamar. Tini mengangkat wajah dan memegangi perutnya yang terasa mual. Ki Jala Rupa berdiri dan mendekat sambil membawa segelas air putih, diteguknya lalu disemburkan ke arah wajah Tini.

Racun santet misteri itu berhasil dikeluarkan

Hanya beberapa detik, Tini memuntahkan cairan hitam dari dalam tubuhnya. Racun 13 butir lada hitam yang dipetik dari kuburan angker di tengah hutan telah berhasil dikeluarkan bersama racun-racun obat penenang. Matanya terbuka. Dilihatnya sekeliling ruangan dan mulai sadar. Tampak di depan matanya ada orang tua memegang gelas dan dua anak muda di sudut kanan-kiri ranjang. Nalurinya sebagai wanita reflek mengambil kain yang tergeletak untuk menutupi payudaranya yang kenyal terpampang sambil berteriak dan berlari menghampiri orang tuanya di depan pintu.

“Ibu … Bapak… apa yang terjadi denganku ? mengapa aku tidak memakai baju dan ada irisan bawang serta paprika dibadanku …???”

Kedua orang-tuanya hanya tersenyum dan memeluk Tini dengan bahagia karena anak mereka sudah bisa disembuhkan.


Terima kasih telah membaca cerita misteri santet lada hitam. Semoga cerpen misteri diatas dapat menghibur dan bermanfaat bagi sobat Bisfren sekalian. Jangan lupa untuk membaca cerita kami lainnya.

Dibagikan

Eirjaf Aedara

Penulis :

Artikel terkait

2 Comments

  1. Santet masih ada ya jaman gini ? kalau beneran ada serem banget ih. Tapi orang Islam gak boleh percaya santet coz tu musyrik jato nya. Kata Aa’ Gym dosa.