Satinem @ Cerpen Cerita Pendek Sedih

cerpen sedih keluarga

Satinem adalah cerpen sedih keluarga tentang anak dari keluarga yang orang tuanya berpisah dengan mengambil latar belakang sejarah tahun 1920 pada masa kerajaan-kerajaan Jawa. Simak pada cerita sedih berikut.

Cerpen Sedih Keluarga – Satinem

Angin siang berhembus begitu sejuk. Di pekuburan umum yang berada di atas bukit laut kidul di wilayah Kulon Progo, Satinem masih saja merapalkan doa untuk wanita yang begitu dirindukannya. Terik matahari tak begitu terasa, ada hawa sejuk  yang terasa karena banyak pepohonan di kanan-kirinya. Tak terasa air mata Satinem tumpah, dia tak bisa menahan rasa haru -rindu akan sosok wanita itu.

Di suatu pagi di tahun 1920, lelaki prajurit kraton Jogja itu gagah berdiri di atas bukit laut kidul. Hatinya sudah mantab akan pergi berjuang menjaga tlatah Jawa dan mengabdi kepada Sunan Surakarta. Dia memutuskan untuk berpindah menjadi pasukan prajurit Kasunanan Surakarta. Hatinya telah tertambat kepada seorang wanita jelita nan rupawan, Ndinem namanya. “Diajeng tunggulah saya di alun-alun kidul kraton Solo selepas purnama nanti,  setelah itu kita akan melangsungkan pernikahan”, ucap Atmo ketika bertemu dengan Ndinem di laut kidul. Atmo telah goyah hatinya karena seorang wanita rupawan.

Di suatu subuh yang dingin Atmo berangkat dengan membawa serta anak sulungnya. Sembari mengendap-endap agar Salimah tidak mendengar suaranya. Kudanya pun dia tuntun menuju jalanan kampung agar tak banyak yang tahu kepergiannya. Di perjalanan, anak sulungnya digendongnya dengan jarit pemberian mertuanya. Matahari kian meninggi, di alun-alun selatan kraton Solo sang gadis pujaan-Ndinem- telah terlihat. ” Kakang aku rindu, sejak subuh tadi aku menantimu,” ucap Ndinem manja. “Minggu depan kita menikah Diajeng, dan aku sudah membawa hartaku yang paling berharga untuk ikut bersama kita,” ucap Atmo sambil menyodorkan anak sulungnya kepada wanita pujaan hati.

Di gendongan Ndinem anak usia dua tahun tersebut menangis kencang, seakan tahu nasib yang bakal menimpanya jika kelak hidup bersama ibu tiri. “Aduh kang…dia ngompol, bajuku basah bau pesing,” protes Ndinem. “Nggak apa-apa diajeng, nanti kamu akan terbiasa dengannya,” Atmo meyakinkan. “Menyebalkan sekali, mengapa anak ini harus ikut?!” rutuk Ndinem dalam hati.

Ratusan hari Salimah mencari suaminya yang pergi tanpa pesan. Salimah goyah, dia limbung ” duuh Gustiii kenapa Engkau menimpakan cobaan seberat ini?” Salimah menangis dan meratap di sudut kamarnya, para kerabat pun berkerumun menenangkannya.”Tenang nduk,berdoa saja semua akan baik-baik saja. Pakde dan Bapakmu sudah berusaha mencari suami dan anakmu, inshaAllah akan ada jalan keluarnya,” ibunya Salimah berusaha menenangkan anak perempuannya tersebut. Salimah seakan punya firasat bahwa kehidupan anaknya sedang tidak baik, dia merasa begitu tersiksa.

Selepas Atmo menikahi Ndinem, maka bencana baru datang bagi putri sulungnya. Setiap pagi Ndinem hanya tahu menyiapkan kebutuhan suami untuk bekerja ke kraton. “Diajeng, nanti setelah saya berangkat tolong genduk dimandiin dan dikasih sarapan ya, ini uang untuk beli sesuatu kalau genduk pengen jajan,” ucap Atmo suatu pagi. Ndinem hanya mengangguk dan mengiyakan. Selepas suaminya berangkat, Ndinem tak terlalu peduli dengan anak tirinya tersebut. Baru setelah suaminya akan mendekati pulang, Ndinem baru memandikan anak tirinya dan menyuapinya makanan.

“Ini yu! tolong urus anak sialan ini! tak sudi aku dekat-dekat dia!” Ndinem menyerahkan anak dua tahun tersebut kepada pembantunya. “Oalaah nduuk…nasibmu kok malang sekali. Aku mandiin yaa, habis mandi aku cari kutu di rambutmu,” yu Sarmi menangis melihat nasib bocah tak berdosa itu, dia tak tega apalagi jika melihat badan bocah itu yang kurus dan rambutnya yang penuh kutu.  Atmo agaknya benar-benar sudah terlena dengan gadis pujaannya, sehingga merasa semuanya baik-baik saja. Tak tahu bahwa sebenarnya dia telah berada di dalam dekapan “ular berkepala dua”.

Pada suatu hari karena memikirkan nasib anak sulungnya yang dibawa tanpa ijin serta suaminya yang tega berkhianat, maka Salimah jatuh sakit. “Duh Gustiii, hamba mohon jagalah anak hamba. Hamba tak bisa berbuat banyak,” ratap Salimah di keheningan malam diantara sujud-sujudnya. Akhirnya seminggu kemudian Salimah tak tahan lagi dengan ujian hidup. Dia pun meninggalkan dunia dengan segala sesal dan penderitaan. Tak berapa lama anak bungsu yang masih membutuhkan air susunya akhirnya ikut meninggalkan dunia. Ibu dan anak itu pun kemudian dimakamkan bersebelahan.

Satinem masih terduduk di dekat pusara Salimah dan adiknya. “Jadi begitu nduk kisahnya kenapa sampai tiga puluh tahun ini kamu dan ibumu tak pernah berjumpa,” Satinem mendengarkan baik-baik cerita dari pakdenya tentang masa lalu Salimah dan Atmo orangtuanya. “Bapakmu telah mengkhianati ibumu, dan kami bahkan tak tahu nasibmu terlunta-lunta di tangan ibu tiri,” maafkan Pakdemu ini nduk. “Sudah pakde, mungkin ini sudah menjadi takdir saya. Dan saya ikhlas menerimanya. Saya hanya ingin tahu makam ibu saya , agar saya bisa berbakti padanya dengan menziarahi makamnya,” Satinem berusaha tabah di depan pakdenya.”Sering-seringlah datang kemari nduk, biar kamu mengenal semua saudara kamu. Dan agar anak-cucumu tahu bahwa masih ada saudara yang merindukan mereka,” pakde menasehati Satinem di penghujung pertemuan mereka.

Kereta kuda berjalan dengan tenang menyusuri sawah dan ladang keluar dari wilayah Kulon Progo. Kini Satinem telah mengetahui kisah masa lalunya. Tiga puluh tahun sudah, akhirnya dia baru memahami hakikat hidupnya. Dan dipangkuannya Satinem  menggamit tangan mungil bocah kecil di sebelahnya untuk pulang kembali ke Solo. Mardiyah adalah salah satu anaknya yang dia bawa sampai ke pusara ibunya yang tak pernah dia kenal. Angin tetap berhembus semilir membawa ribuan duka yang sampai kapanpun tak pernah kembali. Dan Satinem akan menjemput kisah hidupnya sendiri, harapnya semoga kisahnya lebih baik dari itu semua.(EL)


Terima kasih telah membaca cerpen sedih keluarga berjudul Satimen. Semoga cerita sedih diatas dapat memberi inspirasi serta motivasi buat seluruh sobat pemirsa setia laman Bisfren. Salam sukses.

Dibagikan

Artikel terkait