Seandainya Aku Bisa Memilih

cerita pendek cerpen seandainya aku bisa memilih

Seandainya Aku Bisa Memilih adalah cerita pendek realitas yang ada di masyarakat meski tidak bisa diterima dan tidak bisa dibenarkan, namun dia ada sejak jaman dahulu meski dilaknat dalam kitab suci. Simak pada cerpen berikut.

Cerita Pendek Sosial Masyarakat Seandainya Aku Bisa Memilih

Aku melihatnya lagi, sosok itu datang lagi memasuki butikku, seperti biasa dengan gayanya yang cool abis, pura-pura cuek memilih kemeja, bosan dengan pilihan kemeja dia memilih kaos. Aku tersenyum geli dalam hati melihat tingkahnya yang pura-pura sibuk tapi ekor matanya melirikku terus. Mungkin ada sejam dia akan sibuk dengan pilihannya ketika akhirnya kulihat dia menjatuhkan pilihannya pada sebuah kaos dan celana jeans biru dengan potongan yang unik. Dia kearahku, aku memang seorang kasir. Pemilik butik ini mempercayakan posisi kasir padaku, mungkin karena kami berteman sejak SMA hingga dia tidak ragu-ragu mempercayakan keuangan butik padaku.

“Hai” sapa sosok itu, aku tersenyum kubuat semanis mungkin. Bukan ingin menggoda tapi bagiku pelanggan di butik ini adalah raja dan jika kita ramah pada mereka, mereka akan semakin senang berbelanja iyakan? Tumben hari ini sosok itu menyapaku, biasanya jika sudah berdiri didepanku dia akan kehilangan gayanya alias kikuk dan salah tingkah. Tidak dengan hari ini, dia tidak kikuk, suaranya tidak terdengar gugup, dan dia terlihat sangat tenang.

“Hai juga” sapaku iseng. Tapi aku tak menduga jika balasan sapaan yang kulontarkan membuat dia tambah berani.

“Boleh aku kenalan denganmu” Tanyanya sopan. Aku menganguk ramah, kusodorkan tanganku yang langsung dengan cepat dijabatnya.

“Aku Ciko”

“Feila” balasku. Mungkin karena sudah agak lama dia menggenggam tanganku ketika aku akhirnya berdehem pelan. Ciko jadi salah tingkah dia tersenyum.

“Maaf yah” Ujarnya.” Oh yah berapa?” tanyanya lagi melihat kearah belanjaannya.

“Sebentar yah” Ucapku sambil menghitung.” 823.000″ ucapku lagi.

“Ini” Ciko mengeluarkan kartu kredit BCA nya. Ciko laki-laki itu memang tidak pernah membayar dengan uang cash jika belanja di butik ini, dan aku selalu dengan senang hati melayaninya. Aku memasukan belanjaannya ke tas butik khusus yang memang sudah tersedia dan menyerahkan pada Ciko.

“Terimakasih Feila”.

“Terimakasih juga sudah berbelanja dibutik kami Ciko, sering-sering kesini yah” balasku. Ciko tersenyum lebar sepertinya dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Yah aku juga, aku juga gembira akhirnya setelah sekian lama sosok yang selalu datang dan berbelanja dibutik ini menyapaku bahkan mengajakku kenalan. Sungguh suatu hal yang dari dulu kutunggu-tunggu. Gengsikan jika aku yang harus duluan menyapa atau mengajaknya berkenalan. Nanti Ciko akan berprasangka buruk padaku. Ciko memang tampan, keren, dan banyak lagi kelebihannya. Bagiku dia adalah satu sosok yang sempurna yang sesuai dengan tipeku untuk kujadikan pacar. Tapi apa mungkin? Aku jadi sedih, hatiku seperti teriris sembilu. Seandainya bisa? Apa mungkin Ciko menyukaiku? Tapi dilihat dari gelagatnya yang setiap hari datang kebutik dan berbelanja, dari tatapannya dan gayanya, aku tahu Ciko juga menyukaiku. Tapi…. kata tapi itu penyebabnya. Aku takut, takut jika perasaan suka ini berubah menjadi cinta, karena jika berubah menjadi cinta aku tak akan sanggup menghadapi perasaanku sendiri. Lalu hari ini, Ciko datang dan mengajakku kenalan. Hati ini begitu bahagia, jantungku berdebar dengan sangat cepat, saat dia menggenggam tanganku, aku tak bisa menolak. Rasa suka ini begitu nyata, aku bahkan tak bisa bernafas saat dia berada didepanku dan menatapku dengan tatapannya yang bisa membuat gunung es di Himalaya mencair. Sedasyat itukah daya tarik Ciko hingga membuatku kalang kabut. Tapi sebagai seorang kasir, aku harus tenang, Ciko hanyalah salah satu pelanggan butikku, aku tidak ingin berkhayal bisa pacaran dengannya. Lagipula keadaanku, diriku, apa mungkin rasa suka dihati ini bisa terbalas. Ada duka dihatiku laranya menempel lekat dalam dinding jiwaku. Jika suka berubah menjadi cinta sanggupkah aku menghadapi cinta ini? Ketakutan itu datang lagi, dan mulai menghantuiku. Sampai kapan ketakutan membayangi hidupku, apakah akan terus membayangiku diseumur hidupku? Tidak..tidak…aku punya hati, aku berhak untuk mencintai seseorang.

Butik baru saja kubuka ketika Ciko muncul dan langsung menegurku.

“Maaf Fei… aku kepagian yah datangnya” tanyanya. Aku menggeleng mencoba menenangkan gejolak yang ada dihatiku.

“Enggak koq Ciko, butik sudah bukakan? ” Jawabku mencoba untuk membuat Ciko tenang.

“Masih sepi, berarti aku bisa ngobrol-ngobrol ma kamu dong” Ujar Ciko lagi. Kali ini aku tersenyum geli, seperti tahu apa yang ada dihatiku…

“Iya Fei, aku menyukaimu, tidak .. tidak… aku tidak menyukaimu,aku jatuh cinta sama kamu Feila” Ujarnya keras.

“Sssttt..” Aku memberi isyarat untuknya agar jangan berbicara terlalu keras.

“Iya Feila, aku hampir gila. Aku tidak bisa tidur, tidak bisa makan, aku seperti orang gila. Baru kali ini aku seperti ini Feila. Dan itu karena kamu”ujar Ciko lagi dengan nada cepat. Nafasnya memburu seolah menahan seluruh emosi jiwa yang susah payah diredamnya.

“Feila..kenapa kamu diam. Jawab Fei, jawab aku” desak Ciko tidak sabaran. Aku tertunduk. Aku juga sangat menyukaimu Ciko, sangat….tapi maaf aku tidak bisa, aku tidak bisa,….

“Maaf yah Ciko, aku juga suka sama kamu, tapi aku, aku sudah punya pacar” Ucapku akhirnya.Ciko tersurut mundur, terlihat sekali dia begitu kecewa mendengar kata-kataku. Tapi akhirnya dia mencoba tersenyum.

“Tidak, tidak apa-apa Feila aku akan menunggu, aku akan menunggu…”

“Tidak Ciko kamu tidak bisa menungguku, aku akan segera menikah minggu depan. Dengan laki-laki yang aku cintai. Maafkan aku” Ucapku kembali berbohong . Ciko menatapku lagi, kali ini terlihat sekali sepasang matanya yang berkaca-kaca. Aku juga, aku juga hampir tidak kuat menahan perasaanku, aku juga ingin menangis. Andai saja kau tahu Ciko, aku juga menyukaimu, sangat menyukaimu. Tapi aku tidak bisa….maafkan aku. Ciko melangkah pergi, langkahnya terlihat gontai. Aku telah menolaknya, aku telah membuat harapan-harapannya musnah. Disaat dia jatuh cinta disaat itu pula dia patah hati. Yah Tuhan mengapa kejadian ini selalu saja menimpaku, salahkah aku dengan cintaku, dan salahkah mereka dengan perasaan mereka. Kenapa aku harus menyakiti mereka dengan sejuta kebohongan agar mereka pergi dariku, mengapa juga aku harus menutup perasaanku sendiri sementara aku juga menyukainya. Ciko adalah laki-laki yang ke 10 yang kutolak selama 2 tahun terakhir ini. 10 laki-laki dengan 10 kelebihan mereka, tipe laki-laki yang sempurna. Secantik apakah diriku ini hingga mampu menolak perasaan cinta mereka. Apa sih kelebihanku…?

Sore ini aku menutup butik lebih awal dan pergi ke apartemen Linda. Aku langsung menghambur kepelukannya saat dia membuka pintu. Tangisku pecah, aku tidak peduli sekelilingku. Dan dengan suaranya yang lembut dia berusaha menghiburku.

“Kamu patah hati lagi yah Fei?” Seperti biasa dugaan Linda selalu benar. Aku menganguk lemah.

“Sabar yah Fei… semua akan ada waktunya”

“Tapi sampai kapan Lin?”

“Feila, ketahuilah dengan kecantikanmu sebenarnya kamu bisa menaklukan dunia ini jika kamu mau. Tapi itu ada waktunya. Kaupun juga mengertikan kenapa kamu butuh waktu itu. Banyak hal yang harus kamu pertimbangkan.”

“Aku sudah lelah Linda” Keluhku merebahkan kepalaku dipangkuan Linda, Linda membelai rambutku dengan lembut.

“Aku ingin seperti yang lain bisa pacaran, bisa mencintai tanpa terhalang dengan hal-hal yang sebenarnya bisa berjalan dengan normal, tapi mengapa harus selalu saja seperti ini”

“Aku mengerti perasaanmu Fei, sangat mengerti. Tapi semua akan berproses. Ketahuilah Fei jika kamu sabar kamu akan memetik buahnya dengan indah. Bukankah sesuatu akan indah jika tiba waktunya”

Yah kata-kata Linda memang benar, sahabat sekaligus pemilik butik ini adalah teman terbaikku. Dia menerima semua kekurangan dan kelebihanku, dia juga yang paling tahu dengan kehidupanku, dengan kisah-kisah percintaanku yang gagal, dengan ketakutan-ketakutanku. Selalu dengan bijak dan dengan pemikirannya yang dewasa dia selalu saja bisa menenangkanku. Yah aku harus sabar, bukankah sudah jelas Tuhan akan selalu memberkahi hamba Nya yang sabar dan memberinya banyak pahala dunia dan akhirat. Tapi bagaimana denganku…..?

“Sudah jam 10 malam, ayo pulang nanti Abahmu mencarimu Fei” ingat Linda. Ingat Abah, aku jadi tersadar. Cepat-cepat kuraih tas tanganku dan menuju kamar mandi untuk berganti pakaian. Saat berada didalam kamar mandi kutatap wajahku dicermin. Sebuah wajah yang sangat cantik, yah aku seharusnya bersyukur memiliki wajah yang cantik, rambut yang panjang sepinggang, postur tubuh yang tinggi langsing dengan kulit seputih singkong. Kalau saja aku diijinkan Abah ikut lomba-lomba kecantikan. Pasti aku yang akan menjadi pemenangnya, tapi mau bagaimana. Abahku sangatlah galak, bahkan lebih galak dari anjing doberman tetanggaku yang suka menggonggong. Aku paling takut padanya. Abah tak akan segan-segan memukulku kalau aku melakukan kesalahan dan mempermalukannya, dia bahkan bisa membunuhku. Tapi yang paling aku takutkan adalah jika aku mempermalukannya. Akhir-akhir ini Abah mulai sakit-sakitan. Kepergian Umi 2 tahun yang lalu membuat Abah shock dan merasa sangat kehilangan. Sejak saat itu penyakit asma Abah sering kumat, inhaller yang dia gunakan sudah gak mempan, jadi aku harus sedia oksigen kecil dirumah untuk jaga-jaga kalau Abah kumat penyakitnya. Aku anak tunggal, satu-satunya harapan Abah cuma aku, aku tak mungkin mengecewakannya. Selesai berganti pakaian aku keluar, Linda masih menatapku dengan iba saat aku pamit pergi.

“Salam sama Abah yah Fei”

“Iya Lin, aku pulang yah”

“Hati-hati yah Fei”

Aku melangkah dengan pelan, terasa hati sangat berat untuk kembali kerumah. Tapi aku ingat ada Abah disana, aku tidak mau durhaka pada orang tua. Aku harus berbakti pada orangtua walau batin ini selalu tersiksa tapi aku harus sabar, sabar seperti kata Linda.

“Jam segini baru pulang apa kamu lupa kalau ada Abahmu dirumah hah..?” Seperti biasa aku diomelin Abah saat tiba dirumah. Kuraih tangan Abah dan menciumnya.

“Maaf Abah, tadi toko ramai banyak pembeli”

“Apa tidak ada pekerjaan yang lebih layak dengan gaji besar yang bisa kau kerjakan?”

“Kamu itukan lulusan sarjana ekonomi, masa cuma kerja toko jadi kasir gitu. Jangan malu-maluin Abah”

“Iya Abah sekarang lagi nyari kerjaan yang lain. Abah juga tahukan susah nyari kerja sekarang. Sarjana banyak yang nganggur” Ucapku sambil membuatkan Abah Teh hangat teman gorengan pisang molen yang kubeli diujung jalan tadi, itu rutinitas malam saat aku pulang kerja.

“Gimana mau dapat kerjaan kalau rambutmu itu panjang kayak nenek sihir, besok digunting rambutmu itu”.

“Iya Abah”

“Kalau sudah dapat kerjaan yang bagus baru cari pacar yang serius buat ntar diajak nikah. ‘’

“Iya Abah…” sahutku menaruh segelas teh dan sepiring gorengan dimeja depan Abah.

“Kedalam dulu yah Bah, mau mandi”

“Yah sudah kamu istirahat besok pagi-pagi bantuin Abah”

“Iya Abah..” Aku melangkah masuk kedalam kamarku menatap kembali wajahku dicermin sebuah wajah cantik yang murung, aku tidak bisa menyalahkan lelaki-lelaki itu. Mungkin mereka jatuh cinta padaku karena wajahku yang cantik dan kulitku yang putih mulus. Apa mereka akan mencintaiku dengan tulus jika mereka tahu siapa aku dan latar belakangku. Ah..! tidak akan mungkin, mereka pasti akan lari terbirit-birit jika tahu siapa aku. Haruskah kecantikan yang dianugerahkan Tuhan padaku ini kusyukuri atau kusesali. Mungkin banyak wanita menginginkan bisa secantik aku tapi mengapa aku tidak bangga dengan diriku, kenapa malah aku menyesalinya. Kenapa Kau berikan aku banyak kelebihan dan akhirnya tidak bisa kupergunakan Tuhan. Kenapa malah membuatku sedih dan menderita.Tak sadar kuusap sudut mataku yang basah. Rasanya terlalu berat beban ini, bisakah kupikul sampai waktu indah itu tiba, dimana aku bisa tersenyum dan tertawa dengan lepas. Dimana aku bisa menjadi diriku sendiri dan bukan orang lain. Aku membaringkan tubuhku di tempat tidur dan tak sadar akhirnya aku tertidur.

Gedoran dipintu kamarku terdengar keras, suara kokok ayam dan gonggongan anjing tetangga terdengar begitu memekakkan telinga.

“Fa..Faisal bangun, katanya semalam mau bantuin Abah perbaikin gensetnya Pak Lurah” Terdengar suara Abah. Kukucek-kucek mataku masih mengantuk.

“Iya Abah sebentar ganti baju dulu” Ucapku bergegas mengganti celana jeansku dengan sarung dan kaos oblong lalu terburu-buru keluar dari kamarku. Inilah aku namaku Faisal Amar, anaknya Abah Nurdin yang tukang reparasi segala macam mesin. Bukan Feila yang cantik dan kasir butik. Aku dengan kehidupan realitaku yang menyiksa. Kalau saja aku boleh memilih saat dilahirkan aku akan memilih nama Feila Lolita, Bukan Faisal Amar…(PW)


Terima kasih telah membaca cerita pendek seandainya aku bisa memilih karya Putry Wahyuningsih. Semoga cerpen diatas bermanfaat dan menambah wawasan pemirsa sekalian. Salam sukses.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait