Lima Hari Sebelum Ulang Tahun Ku

curhat sedih ditinggal pacar lima hari menjelang ulang tahun

Curhat sedih ditinggal kekasih. Tempat apa yang pertama kali kamu pikirkan saat kamu akan kembali? Rumah? Hotel ? Atau kamar indekosmu ? Aku mengingat satu-persatu tempat apa yang akan aku gunakan saat aku ingin kembali. Mungkin aku akan kembali ke rumah, atau aku ingin sekedar mengingat kenanganku di kamar indekosku. Atau mencoba menikmati kamar hotel paling berkelas hanya untuk semalam.

Curhat Sedih Lima Hari Sebelum Ulang Tahun Ku

Setiap orang memiliki tempatnya pulang. Apa saja, entah rumah, atau representasi dari rumah. Seperti kekasihmu atau calon istrimu. Dan bisa saja sahabat dekatmu. Semua orang punya tempatnya untuk kembali. Untuk sekedar tertawa biasa atau bercerita manja. Percayalah, bahkan seorang introvert sendiri memiliki tempat pulang.

***

Waktu menunjukkan pukul 11 lebih beberapa menit. Kamu datang siang itu. Dengan senyuman-senyuman manismu seperti biasa. Kamu juga membawa beberapa masakan masih hangat. Kamu bilang itu baru saja matang. Kamu baru mengangkatnya saat akan pergi.

“Makan, nih! Aku udah masakin buatmu.” Katamu sambil merayuku dengan manja. Aku selalu suka wajahmu yang merah merona karena malu.

“Iya, iya, nanti deh aku makan ya.”

“Ih, jangan nanti, atuh. Mumpung masih angeeet, sekarang aja, yah?” kamu menyodorkan tempat makan kecil lucu milikmu itu. Seperti tempat makan yang biasa ibu bawakan saat diriku akan sekolah. Diselipkan oleh ibu di tasku. Ibu harus mengulang itu setiap hari. Aku malas membawa bekal untukku di sekolah. Makanya ibu harus melakukan itu. Walau tidak jarang ku berikannya kepada teman sebangku atau kadang kakak kelas yang memalakku di pojokan sekolah. Maaf, bu, anakmu dulu masih nakal.

“Ya udah, deh, ini aku makan yah.” Aku bilang sambil menyuapi diriku sendiri sedikit demi sedikit. Aku masih sedikit malas menyuapi diriku sendiri. Tapi ku pikir, ada baiknya berkorban. Cinta perlu pengorbanan bukan. Kadang kita harus memaksakan diri sendiri. Disadari atau tidak disadari. Aku lebih banyak tidak menyadarinya. Karena kadang ketika kita menyadarinya, kita merasa perlu balasan seimbang. Ketika kita sudah merasa demikian. Apa itu masih bisa disebut cinta ? Terserah, ku yakin kalian masih punya jawaban atas itu.

“Enak nggak?” senyummu saat itu, senyuman paling indah di bibir hariku. Aku masih mengingat wajahmu merah merona. Sambil mentapaku dengan tatapan penuh pengharapan. Pengharapan jawaban manis dari mulut seorang kekasihnya. Benakku berpikir untuk sedikit menjahilinya. Mungkin jawabanku nanti akan menjadi lebih manis nantinya.

“Enak nggak, yah? Coba sendiri aja deh, aku nggak tahu jawabannya.” Ku pasang wajah paling tidak suka di wajahku. Satu set dengan jawaban judes ala orang tidak suka. Juga ditambah beberapa gerakan penolakan. Tapi sungguh, tidak seperti itu. Makananmu sungguh sangat nikmat. Meski mungkin kamu harus memberinya garam sedikit lebih banyak. Tapi aku tidak peduli. Makananmu adalah makanan paling enak yang pernah ku cicipi. Aku menyukaimu, seperti menyukai makananmu.

“Ah, apa, ih ? Ga enak yah?” tanyamu dengan wajah cemberut. Ku lihat ada beberapa lapis sendu di dahimu. Aku hanya tertawa kecil dalam hati.

“Coba, deh, yah, aku cobain.” Katamu. Kamu mengambil beberapa suapan. Terlihat kamu sangat rakus memakannya. Mungkin kamu lapar. Aku hanya tertawa kecil dalam hati. Kamu lapar. Kamu menghentikan suapanmu. Mengerti kalau aku memandangimu dengan wajah penuh tanya. Atau sudah tahu kalau diriku menertawakanmu dalam hati.

“Ah, enak juga kamu, mah, iiiiiiiihhh” kamu berteriak kencang, ku coba menghitung berapa i yang ada dalam teriakanmu. Mungkin sepuluh atau sebelas. Lalu kamu mendorongku pelan sambil menatapku sebal. Bibirku tersenyum.

“Gimana nggak enak. Orang kamu laper. Makannya aja lahap banget, tuh.” Kataku sembari meledeknya. Wajahmu masih jengkel padaku.

“ya udah, atuh. Maafin aku, sayang. Masa gitu aja ngambek. Hehe. Makananmu tuh enak banget tahu. Tapi kayaknya manisan makanannya deh daripada orangnya. Hehe.”

“Ih, bilang aja kemanisan. Kamu suka gitu.”

“ya itu tahu. Hehe. Sini atuh jangan ngambek lagi.” Aku berusaha menenangkannya. Pelukanku dan pelukanmu menjadi satu. Ada rasa sayang mengalir dari dirimu ke diriku. Seperti isyarat jangan pergi. Kamu selalu begitu. Aku memahamimu. Lebih dari itu, hatiku menyayangimu.

Perlahan kita saling melepaskan pelukan. Kembali tertawa. Kemudian bercanda seperti sedia kala. Kita tertawa lepas setelah itu. Melupakan apa yang baru saja terjadi. Seolah dunia telah berubah. Dan waktu telah berjalan maju.

Ada banyak kenangan kita ciptakan saat itu. Waktu yang kita jalani lebih luas dari sekedar menikmati masakan buatanmu. Aku masih ingat saat kamu mendorongku ke kolam ikan milik keluargamu. Tubuhku basah kuyup, dan kamu malah ikut menceburkan diri ke kolam. Hingga akhirnya kamu dimarahi. Karena setelah itu banyak ikan mati. Sepertinya manismu meracuni ikan-ikan itu. Seperti kamu meracuniku.

Atau saat kamu memelukku dari belakang. Waktu itu diriku baru saja kehilangan kucing kesayanganmu. Kamu bilang, “Ada saatnya yang kita miliki harus hilang, tapi percayalah, ada yang selalu sedia saat kamu merasa kehilangan. Kehilangan bukan hal yang harus ditakuti, itu awalan yang ditaruh di akhir. Nanti akan ada yang gantiin. Dan apa yang kamu dapet dari dia, anggep buat pelajaran. Yang nantinya kamu bakal lakuin yang lebih baik buat penggantinya. Tenanglah!”

Aku mengingat perkataan itu selalu. Meski sepertinya kau tidak menepati janjimu sebagai yang selalu ada saat aku kehilangan. Kamu pergi meninggalkanku saat itu. Saat hatiku menyayangimu dan bersedia menjadi yang selalu ada saat dirimu kehilangan. Ku ingat pagi itu. Saat kamu perlahan pergi bersama matahari yang perlahan menjauhiku. Lalu, membiarkanku duduk di bangku teras rumahku dan langit menghitamkan hariku.

Ku bayangkan hari itu menjadi hari paling haru dalam hidupku. Aku kehilangan rumah tempat ku kembali. Tempat pulang dan memanjakan diriku sendiri. Tempat menghabiskan sisa malamku. Kadang tempat mencuci, menjemur, membacakan puisi-puisi, membuatkan makanan untukmu, atau kadang membersihkan kerusakan-kerusakan di hatimu. Rumah, yang selama ini aku harap bisa menjaganya selalu.

Rumah bagiku bukan cuma tempat untuk tinggal. Bukan juga sekedar bangunan. Kadang rumah adalah sahabatmu, atau kekasihmu, atau orang-orang yang berarti bagimu. Rumah adalah tempat kau melepaskan peluhmu. Membiarkan rindumu mengalir luas. Tempat kau mencuci matamu dengan airmata bahagiamu. Yang selalu memberikan pelukannya saat kau merasa sepi. itu rumah bagiku.

***

Maka apa kamu sudah menemukan tempat untuk pulang milikmu ? Jika sudah, bagaimana kalau itu menghilang begitu saja dari hidupmu. Tentu hampa. Sepi. atau mungkin kamu akan mulai membiarkan dirimu termakan oleh kesedihanmu. Karena tidak bisa lagi menemukan tempatmu kembali. Tempatmu menaruh rindu, sendu, dan beberapa harapan kecil seorang ibu. Aku ingin bertanya sekali lagi. Tempat apa yang pertama kali kau pikirkan saat dirimu akan kembali ? Kalau itu hilang, apa yang kau bayangkan?

Bayangkan saja kamu menjadi sepertiku. Manusia yang dipenuhi haru dan sendu. Tapi, kehilangan hanya awal yang ditaruh di akhir. Seperti kata kekasihku dulu. Dan semoga dia masih mengingatnya. Sama seperti aku mengingatnya.


Terima kasih telah membaca curhat sedih ditinggal pacar yang ditulis lima hari menjelang hari ulang tahun. Semoga kisah curhat diatas bermanfaat dan memberi inspirasi serta menjadi motivasi untuk selalu menjaga hubungan dan ikhlas jikapun harus berakhir.

Dibagikan

Suara Fajar

Penulis :

Artikel terkait