Sebuah Kepalsuan Cinta

cerita sedih perselingkuhan

Sebuah kepalsuan cinta adalah sebuah cerita sedih perselingkuhan pacar dengan sahabat sendiri sampai hamil. Bagaimana ceritanya ? simak pada cerpen selingkuh berikut :

Cerita Sedih Perselingkuhan – Sebuah Kepalsuan Cinta

Bagiku cinta itu adalah sebuah anugerah Tuhan yang sangat sempurna. Karena cinta itu adalah bahagia, senang, tenang, dan semua hal yang baik-baik ada dalam sebuah cinta. Aku masih yakin betul dengan pemikiranku soal cinta. Cinta itu … adalah keindahan. Dan aku menentang mereka yang gusar dan merasa risih dengan kata cinta. Ya … meskipun karena cinta, aku menjadi jatuh, pilu, tertusuk hingga merasakan kepedihan. Namun ku tetap percaya, cinta itu kebahagiaan.

“Bukan … itu bukan cinta, cinta itu tidak akan menyakiti siapapun.” ungkapku pada Indra. Setelah bercerita tentang betapa kecewanya ia karena cinta.

Indra adalah seorang lelaki yang telah lama kuanggap sebagai sahabat baik. Sore itu kami sedang berceloteh di bawah rindang pohon yang dahannya melambai-lambai terhempas angin. Biru langit menggantungkan awan cerah, matahari menyorot warna oranye membentuk semburat senja.

Indra menghela nafas, hatinya sesak, “Terus harus bagaimana lagi, ya … gue nggak bisa bertahan sama hubungan yang seperti ini.” Ia mengusap wajahnya yang kalut.

Aku bergumam, kuhirup udara sore hari itu. Ku rangkul punggung sahabatku itu. Aku berusaha untuk menenangkan batin Indra yang sedang galau. Baru saja ia bertengkar lagi dengan kekasihnya. Reina, sosok gadis yang berparas cantik, manis wajahnya, namun pahit prilakunya. Ya, gadis itu datang dan masuk dalam hidup Indra, membawa cinta, cinta yang palsu menurutku.

Reina datang mengukir pelangi di hati Indra, dan ia juga yang menghancurkan semua warna keindahan pelangi itu, hingga warnanya tampak kelabu dan gelap. Hancur! Hancur rasa bahagia dari hati Indra.

“Gue nggak habis pikir, Reina se-tega itu sama gue, parah! Persetan bicara soal cinta! Gue muak sama kata cinta!” Indra melempar batu kecil ke tanah lapang di taman itu, seolah ia sedang melepaskan amarahnya yang membelenggu. Ia menggerutu sedari tadi.

“Nggak, Bro … ini bukan salah cinta,” ujarku, “Cinta itu membahagiakan, hanya aja kadang kita nggak bisa memerankan diri dalam bercinta,” tambahku sambil menepuk-tepuk pelan punggung Indra.

***

Memang tak sewajarnya, Reina melakukan hal itu pada Indra.  Berpaling dari kisah cinta yang sudah lama ia ciptakan berdua dengan Indra, hanya demi sosok lelaki yang lebih baik dari Indra. Dan konyolnya, lelaki itu adalah teman dekatnya Indra, bagaimana hati lelaki itu tidak remuk.

Kejadian itu masih jelas terbayang. Bahkan aku seolah paham apa yang dirasakan Indra. Dua minggu lalu, dalam acara reuni sekolah, Indra mengenalkan sosok Seno pada Reina. Mereka bertiga menjadi akrab, sejak itu juga Seno jadi sering mengundang Indra dan pacarnya untuk datang mampir ke restorant besar milik Seno. Lelaki tampan, mapan, dan cerdas itu ternyata bukan tanpa maksud sering mengundang Indra dan Reina ke restorannya.

Banyak hal yang mereka bicarakan. Termasuk soal bisnis yang sedang dikelola oleh Seno. Lelaki mapan itu mengajak bisnis yang menggiurkan kepada Indra dan Reina. Karena saat itu Indra sedang sibuk dengan skripsi kuliahnya, maka yang ikut campur dalam bisnis itu hanya pacarnya saja, Reina. Saat itu tak ada sedikit pun Indra berprasangka buruk pada mereka, karena ia percaya kepada sahabat dan pacarnya itu.

Satu tahun bulan berlalu, usaha kuliner yang dirintis Reina dan Seno berhasil berkembang, hingga waktu Reina untuk bertemu Indra sangat terbatas. Hmm … namun kekasih Reina itu menanggapi dengan sabar, ia paham, apa yang dikerjakan Reina itu demi masa depannya juga. Justru saat itu Indra ikut senang.

***

Suatu waktu. Saat keadaan Indra sedang sibuk oleh perkuliahannya, Reina dan Seno mengajak bertemu Indra di suatu tempat, di alam terbuka. Indra pikir mereka akan membicarakan perkembangan bisnisnya, ia bahkan sudah senang.

Tepat di atas bukit, di bawah rindang pohon yang sejuk, di atas rerumputan yang lebat. Mereka bertiga berkumpul, diawali dengan basa-basi candaan seru. Sore hari itu cuaca sedang cerah, perlahan semburat senja pun terlukis di gumpalan awan yang bergelayut di udara.

“Mas Indra …” suara Reina lirih.

Seno merunduk pilu, sesekali ia menghela nafas dan mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Indra keheranan saat itu. Dahinya mengernyit saat melihat paras mereka yang cemas.

“Kenapa, Sayang?” tanya Indra sambil memegang jemari tangan Reina.

Seno menepuk sebelah pundak Indra sambil memasang wajah pilu. Ia hanya merunduk. Dan Reina pun tak kuasa menahan kepdihan, ia terisak menjatuhkan tetesan air matanya.

“Mas Indra, maafin aku, Mas …” air mata wanita cantik itu masih terurai.

“Hei … ada apa sih ini?! Kalian kenapa jadi murung begini? Ada masalah sama usahanya?” Indra keheranan.

“Aku …” Reina mengembuskan nafas, “Aku hamil, Mas …” sigap ia memeluk pacarnya itu dengan erat sambil terus sesunggukkan menangis.

Sontak Indra terkejut, “Hamil?!”

Ia melepaskan pelukan pacarnya itu. Lalu menatap kosong dengan herannya ke arah wajah Reina dan Seno. Indra mulai gusar, ia tertawa masam, tak keruan hatinya saat itu.

“Kamu hamil sama aku?! Kapan kita melakukan hal bodoh seperti itu, Sayang?! Nggak pernah kan?!”

“Reina hamil, sama gue, Ndra …” sahut Seno dengan lirihnya, “Maafin, gue Ndra … maafin gue.” ujar Seno dengan paras yang memelas.

Indra menatap mereka berdua dengan wajah yang garang, sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya karena ia tak menyangka. Telapak tangannya dikepal dengan sangat kuat, dan ia layangkan ke wajah Seno sebuah pukulan keras. Tidak, Indra tidak sampai mengenai pukulannya itu ke wajah Seno sedikit pun. Ia menyibak rambutnya yang gondrong dengan jemari-jemari tangannya, lalu lari dengan cepatnya turun dari bukit itu.

Awan mendung. Terdengar suara gemuruh guntur dari awan, senja semburatnya terkalahkan oleh kelabu. Sore hari itu hujan pun turun mengguyur, sepasang insan yang telah tega berkhianat oleh cinta. Dan mengguyur sosok Indra, menyembunyikan kesedihan yang basah di pipinya. Langit menggelegar, gemuruh petir menyambar tanpa arah, Indra berlari sambil berteriak kesal, ia tumpahkan semua emosinya dengan berteriak sekencang-kencangnya.

Habis sudah cerita, aku percaya … cerita sedih sahabatku, Indra. Adalah sebuah takdir baik untuknya, dari konflik ini, Indra pasti akan menemukann sosok kekasih hati yang sebenarnya, yang mampu setia membangun cinta bersamanya. Kenyataan itu memang menyakitkan, namun …, harus terjadi jika ujungnya adalah untuk kebaikan. Sejak itu Indra tak mudah membuka hatinya untuk wanita yang ia sukai, ia lebih berwaspada soal cinta, sampai benar-benar nanti ia siap menerima kembali.

Masih melekat di pikiran dan batinnya. Tentang perasaan perih yang masih terasa, dan membekas goresannya dalam memori. Hmm … lihat saja, ada cerita apa setelah ini. Indra kunasihati, agar ia mengambil sebuah simpulan dari pelajaran kisah cintanya dengan Reina yang berujung luka. Kecelakaan itu sungguh membuat harinya selalu gusar, memang begitulah adanya cinta.

***

Satu tahun kemudian. Ketika sosok anak dari Reina dan Seno lahir, Indra menemui mereka tengah bahagia dalam hangatnya keluarga. Sedangkan Indra, ia pun telah menikah dengan sosok perempuan yang jauh lebih baik dari Reina, gadis itu …, adalah temanku, hhh …, mereka punya pengalaman kisah cinta yang hampir sama. Tersakiti oleh seseorang yang pernah mereka cintai, masa lalu hanya sebuah pelajaran menurutku. Bagaimana mereka membangun cinta yang sejatinya, karena cinta itu membahagiakan.

Jika tersakiti, ya … cinta yang mengobati, jika pilu, cinta yang menghibur. Jika penat, cinta yang membuat tersenyum. Jika rindu, cinta yang meleburkan kerinduan. Saat ini …, aku sendiri masih menerka, bisakah kelak aku membawa peran cinta dalam ikatan kasih dengan sosok yang telah lama kurindukan. Setidaknya, aku telah mengamati dari kisah pedih yang dialami Indra. Mereka, yang pernah tersakiti, justru mengobati rasa sakitnya dengan cinta yang lain, cinta yang baru, cinta yang sejatinya. Ya … begitulah indahnya cinta. Terlukis dalam kisah …, dan berakhir dalam kenangan.

“Terus …, sekarang lu mau maafin Reina dan Seno?” tanyaku pada Indra.

“Iya … gue maafin mereka, semoga mereka bahagia tanpa harus melakukan kesalahan yang sama, yang mereka pernah lakukan kepada gue …” Indra mengusap wajahnya. Lalu ia menghela nafas. (Eddy Pepe).


Terima kasih telah berkunjung ke laman kami dan membaca cerita sedih perselingkuhan. Semoga cerpen selingkuh diatas dapat menghibur dan bermanfaat bagi sobat Bisfren sekalian. Salam sukses selalu, dan tetap semangat !

Dibagikan

Eddy Putra

Penulis :

Artikel terkait