Sebuah Pencarian

cerita suami selingkuh dengan adik kandung

Sebuah pencarian adalah cerita suami selingkuh dengan adik kandung sampai hamil sehingga menyisakan kebencian sang kakak kepada keponakannya. Simak pada cerpen selingkuh keluarga berikut.

Cerita Suami Selingkuh Dengan Adik Kandung – Sebuah Pencarian

Setelah tujuh tahun sejak ibu kandungnya menikah lagi dengan seorang lelaki  di Jawa Timur, praktis Mey tak pernah bertemu lagi. Dia merasa dibuang serta tak dipedulikan, hanya neneknya saja yang kini memperhatikannya. “Mbok, aku mau pergi ke Jakarta saja. Biyung sudah melupakan aku mbok sejak dia menikah lagi dengan lelaki itu,” Mey merutuki nasibnya di depan neneknya yang biasa dia panggil dengan sebutan Simbok. “Sabar nduk, barangkali biyungmu belum punya uang untuk datang ke kampung kita, lagipula kan suaminya baru saja mencoba kerja jadi petani. Biyungmu nggak akan melupakanmu nduk,” Simbok berusaha meyakinkan cucunya agar tak sedih lagi. Di kampung tempat dia tinggal, biasanya memanggil ibu dengan sebutan biyung.

Sore ini Mey bermain lagi dengan teman-temannya ke sungai sebelah Selatan Kampung. Selain itu dia juga berpamitan kepada teman-temannya kalau selepas lulus SD dia akan segera pindah ke Jakarta. Di Jakarta, dia akan tinggal dengan bapak kandungnya yang asli Ambon. Ia berharap bisa mendapatkan masa depan lebih baik disana, mengingat Simbok tak sanggup lagi membiayai sekolahnya. Di sekolahnya dia termasuk siswi yang cerdas, dia sering mendapat ranking satu.

Sabtu malam Mey sudah berada dalam kereta ekonomi bersama kakek serta neneknya. Tahun 1999 waktu itu kereta ekonomi masih sumpek berjubelan. Di dalam kereta ada penjual pecel, mie instant, kopi, minuman botolan juga tak ketinggalan juga pencopet. Mey yang masih bocah tak tahan dengan rasa kantuk. Neneknya duduk pada kursi berjubel dengan penumpang lain, sedangkan dirinya tertidur pulas pada pangkuan kakeknya diatas lantai tepat bersebelahan dengan bangku sang nenek. Suara pengamen ditingkahi tangisan bayi yang kepanasan dalam kereta serasa menjadi nyanyian nina bobok baginya. Minggu pagi, Mey bersama kakek – neneknya sudah sampai di stasiun Senen. Di depan sudah ada Amos yang menunggu kedatangan mereka sejak subuh, lalu mereka diantar dengan bajay menuju rumahnya. Di rumah, Saroh telah menyiapkan sarapan pagi.

Tak terasa sudah setahun Mey di Jakarta. “Makan ambil sendiri kalau perlu masak sendiri, gue sudah nggak punya waktu buat ngurusin loe,” Saroh berteriak pada Mey. Saroh berangkat ke pasar pagi-pagi buta, dia harus bekerja-keras untuk menghidupi keluarganya. Gaji suaminya yang seorang supir angkutan umum jelas tak cukup untuk hidup di Jakarta. Pekerjaan yang menyita waktunya sudah cukup untuk melupakan kejadian masa lalu yang membuatnya selalu merasa dikhianati.

Bude selalu berteriak dan berkata kasar kepada Mey

“Mey !!! Bangun donk! Sudah jam lima pagi nih! Bantuin gue beres-beres rumah!”, teriak Saroh kepada Mey. “Iya bude, mau dibantu apa saja?”, jawab Mey pasrah. “Masak nasi, cuci piring, cuci baju orang serumah! Nanti sore pulang sekolah loe nyapu-ngepel rumah! “,  Saroh memerintah dengan ketus.  “Gue pagi ini ada pesanan banyak, jadi nggak bisa lama-lama di rumah. Kalo dah kelar semua berangkat ke sekolah naik sepeda aja, biar irit!”, perintah Saroh kepadanya.

Di dapur belakang Mey menangis sendirian, seluruh penghuni rumah masih tertidur. Dirinya merasa bahwa hidup ini begitu tak adil, dia bingung dengan kenyataan hidup. Rasanya dia ingin pulang ke kampung, dia merindukan Simboknya yang selalu menyayanginya dengan tulus. Dia mulai merindukan perhatian Simboknya juga merindukan bermain dengan teman-temannya. Namun apalah daya, dia tak bisa tinggal terus-menerus di desa dengan Simbok karena tak ada biaya untuk menyekolahkannya.

Hanya sekolah serta impian masa depan yang lebih baik membuatnya tetap bertahan di Jakarta. Kemacetan Jakarta tak menghentikan langkahnya untuk pergi ke sekolah dengan bersepeda, dan dia bertanya-tanya mengapa Jakarta semacet ini sedangkan di kampungnya sepi ? Seperti dia selalu bertanya-tanya mengapa dia ditinggal ibunya yang menikahi lelaki lain, sedangkan bapaknya tinggal bersama budenya? “ Hidup memang selalu penuh tanda-tanya,” gumam Mey.

Dulu warung Saroh kebanjiran pembeli – Inah, ibunya Mey – membantunya

Inah datang dari kampung halaman ke Jakarta untuk membantu Saroh berjualan nasi warteg di pasar. Sehari-hari dia membantu mencuci piring dan melayani pembeli di warteg Saroh. Inah merupakan seorang perempuan lulusan SMP yang terpaksa ikut kakaknya bekerja di Jakarta karena ibunya tak mampu lagi membiayai sekolahnya. Secara fisik Inah cukup manis, berkulit putih dan badan yang mungil.  Penampilannya yang lugu membuat semua orang menyukainya.

Saking sibuknya, Saroh melalaikan suami di rumah bersama adiknya

Waktu melesat begitu cepat di Jakarta, tak terasa Inah sudah dua tahun berada di kota itu. Usaha warteg kakaknya pun semakin ramai, dan Saroh yang menjadi “main chef” di wartegnya sampai kewalahan melayani permintaan pembeli. Bahkan Saroh sudah bisa merekrut tiga karyawan untuk membantunya memasak, cuci piring dan melayani pembeli. Kali ini Inah mendapatkan bagian belanja kebutuhan dapur di wartegnya. Inah belanja setiap sore selepas warteg tutup, dari kegiatan berbelanja tersebut Inah selalu ditemani kakak iparnya yang bernama Amos. Kebersamaan setiap hari yang membuat mereka semakin dekat.

Inah yang sedang melayani pembeli di warteg tiba-tiba jatuh pingsan. Makanan dan minuman pesanan pembeli yang berada di tangannya jatuh pecah, semuanya berantakan. Inah tersadar dari pingsannya, dia mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi. “ Inah , akhirnya kamu sudah sadar. Gimana keadaan kamu? ,” Tanya Saroh kepada adiknya . “aku dimana mbak? ,” Tanya inah kebingungan. “kamu di rumah sakit sekarang, tadi kamu pingsan. Kamu sakit apa? Apa tadi pagi lupa sarapan? “ Tanya Saroh. “ aku sudah sarapan kok mbak tadi pagi,” jawab Inah lemas. “Permisi, apakah Anda keluarga mbak Inah?, “ perawat masuk ke ruang UGD. “iya sus, saya kakaknya” Saroh . “ Mohon maaf ibu, dokter ingin bicara sebentar dengan ibu,” jawab sang perawat.

Ternyata adiknya hamil akibat perselingkuhan dengan suaminya

“Jadii…adik Anda sudah hamil dua bulan bu,” dokter menjelaskan kepada Saroh. Bagai disambar petir di siang bolong, Saroh begitu terkejut dan tak menyangka bahwa adiknya hamil dua bulan tanpa sepengetahuannya. Saroh menangis, air matanya turun deras dia tak sanggup berkata-kata di depan dokter.

Di rumah yang sempit dan padat penduduk itu Saroh berusaha mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan Inah. Saroh tidak mau membicarakan perihal Inah kepada suaminya terlebih dahulu, karena jauh di dalam hatinya Saroh merasa malu karena keluarganya dari kampung telah berbuat aib.

Di tengah malam ketika semua anak dan suaminya tertidur, Saroh masuk ke kamar Inah dan mengajaknya berbicara empat mata. “ Inah, mbak mau bicara sebentar,” kata Saroh seraya berusaha menata hati dan bicaranya. “ iya mbak, ada apa?” tanya Inah polos. “ Inah…kata dokter kamu tidak sakit. Kata dokter kamu sudaaaaahhh…,” Saroh berhenti kembali menatap nafasnya. Inah terdiam dan menatap wajah kakaknya dalam-dalam.

“Inah kata dokter kamu hamil dua bulan,” Saroh menjelaskan dengan tegas. Inah terkaget dan menangis. “Inah dengan siapa kamu melakukan dosa besar ini ?” Saroh mulai menangis.

Saroh marah, namun yang diusir malah adiknya

“Mas Amos mbaakk…maafiin Inaaahh,” jawab Inah terbata-bata. Sekali lagi ini bagaikan sebuah tsunami besar yang menghantam Saroh, dia tak menyangka suami dan adik kandungnya tega berbuat hal yang menjijikkan! “Pergi kamu dari rumah ini! Pergiii!!!” teriak Saroh. “Ampun mbaakkk…ampuunnn,” lirih Inah memelas. Akhirnya teriakan Saroh didengar Amos dan anak-anak mereka. Amos tak dapat menjelaskan, dia bagaikan penjambret yang sudah dikeroyok massa.

Akhirnya Inah pulang ke kampung

Setiap pagi Inah mencuci di sungai  seperti biasa, tapi kali ini agak berbeda karena dia memilih mencuci sendirian tanpa teman-temannya di kampung. Di sungai Inah berpikir dan menyesali perbuatannya yang telah mengkhianati kakaknya. Di sungai  inilah Inah selalu menangisi kebodohannya. Dua bulan lagi dia akan melahirkan dan dia merasa seperti manusia tak berguna.

Di sela-sela dirinya mencuci, sayup-sayup terdengar suara ceramah di masjid kampung sebelah, “Berhati-hatilah kalian masuk menemui wanita.” Lalu seorang laki-laki Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda mengenai ipar?” Beliau menjawab, “Hamwu (ipar) adalah maut. Hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Saudara-saudara yang dirahmati Allah SWT, Ipar bukanlah mahrom kita, jadi kita harus menjaga adab-adab pergaulan dengan ipar agar tidak terjadi hal-hal yang diharamkan agama seperti pacaran dengan ipar atau berzina dengan ipar,” ucap sang penceramah.

Inah seperti tersentak dan menyadari bahwa selama ini pergaulannya dengan Amos kakak iparnya sudah berlebihan, bahkan layaknya insan yang sedang berpacaran. Dari hati yang terdalam, Inah menyesali dan ingin memperbaiki diri. Akhirnya setelah melahirkan anaknya dan merawatnya selama empat tahun Inah pun dipinang seorang lelaki dari Jawa Timur.

Semua kisah perselingkuhan masa lalu itu terungkap lewat selembar surat

Mey tertegun membaca selembar surat pernyataan dari Kelurahan di desanya dulu. Di surat tersebut tertulis bahwa dirinya adalah anak dari Inah dan Amos dimana mereka berdua sama sekali tidak pernah melakukan pernikahan. Dia menangis memandangi surat tersebut, pencarian dan pertanyaannya selama ini akhirnya terjawab. Akan tetapi, kenyataan ini terasa amat pahit baginya. Dia sadar bahwa kehadirannya adalah akibat dari perbuatan dosa dan pengkhianatan. Nasi sudah menjadi bubur, ini pun bukan salah dirinya tapi salah kedua orangtuanya. Pada akhirnya dia menyadari bahwa Saroh bukanlah tanpa alasan begitu membenci dirinya, Dirinya sadar Saroh adalah korban dari dua orang yang dicintainya.

“Bude…,” Mey mendatangi Saroh di kamarnya. Dengan menata kata-kata dia duduk berjongkok di sebelah ranjang Saroh. “Bude…,” Mey mengatur nafas dan menggenggam erat tangan budenya. “Bude…Mey sudah paham sekarang latar belakang Mey. Mey paham masa lalu orangtua Mey dan Mey juga tahu perasaan bude selama ini. Mey tidak dendam dengan semua perlakuan bude karena Mey tahu bude adalah korban pengkhianatan ini. Tapi satu yang bude harus tahu, bahwa Mey sangat menyayangi bude, Mey tidak ingin keburukan menimpa bude. Mey minta maaf jika selama ini Mey punya salah bude,” ucapnya dengan nafas dan air mata tertahan.

Saroh tak dapat berkata-kata, dia menangis air mata membanjiri wajahnya. Saroh hanya bisa memeluk dan menciumi keponakannya tersebut. “Maafin gue Mey, gue udah berbuat nggak adil sama elo. Harusnya bukan elo yang gue sakiti,” ucap Saroh kepada Mey. Kini pencarian Mey terjawab sudah, akhirnya dia dan Saroh bisa berdamai dengan keadaan. Mereka pun berjanji untuk melanjutkan hidup dengan memaafkan.(EMP)


Terima kasih telah membaca cerita suami selingkuh dengan adik kandung. Semoga cerpen perselingkuhan diatas dapat menghibur dan bermanfaat bagi sobat Bisfren untuk menambah wawasan, inspirasi dan motivasi. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Artikel terkait