Sejarah Daeng Aziz : Ketika Musuh Lama Berjumpa Kembali Di Kalijodo

daeng aziz penguasa kalijodo musuh lama yang bertemu kembali

Jakarta – Namanya semakin berkibar dan kerap disebut menjelang penggusuran lokasi prostitusi dan judi Kalijodo. Bagaimana sejarah Daeng Aziz penguasa di Kalijodo, yang menaklukan penguasa Geng Mandar pada tahun 2002  ?

Awal Mula Daeng Aziz Masuk Kalijodo

Daeng Aziz datang pertama kali ke Kalijodo atas ajakan kakak sepupunya yang bernama Abdul Kadir Karaeng Ledeng, merupakan keturunan raja dari Jeneponto, Sulawesi Selatan, untuk membantu usaha warung kecil yang menjual minuman, rokok, mie dan makanan kecil lainnya.

Meski tidak bersedia memberikan konfirmasi, Daeng Aziz adalah seorang anak muda yang berani, ditakuti, memiliki pamor kepemimpinan dan mudah bergaul sehingga dikenal luas dikalangan kelompok preman yang tidak bergabung dengan kelompok penguasa Kalijodo saat itu.

Dengan keberanian dan pergaulannya, meski bukan kelompok besar dan belum diperhitungkan oleh kelompok penguasa, kiprah Daeng Aziz dengan kelompok Makassar nya saat itu sudah berhasil menguasai kavling di Kalijodo.

Hubungan yang baik dengan kelompok Banten dan Kulon, membuat keduanya, sesama kelompok minoritas ini kemudian menjadi pendukung Daeng Aziz untuk memimpin bentrokan dan menguasai Kalijodo pada tahun 2002.

Penguasa Kalijodo Pada Tahun 2002

Pada masa sebelum terjadi peristiwa 22 Pebruari 2002, main bunuh dan bakar adalah tradisi yang identik dengan kekerasan Kalijodo. Para penguasa kelompok (Geng) disana tidak segan-segan memerintahkan anak buahnya untuk membakar kafe, rumah, maupun tempat perjudian jika terjadi perkelahian. Namun hal itu masih dalam skala kecil dimana rumah atau kafe sasaran hanya satu atau dua saja.

Saat itu yang berkuasa di Kalijodo adalah Riri, Agus, H. Usman, Aziz Mandar, Bakri dan Ahmad Resek. Mereka menamakan dirinya Geng Macan, atau orang-orang pemberani dari Mandar. Penguasa besar inilah yang menguasai hampir seluruh wilayah di Kalijodo dan mengkaveling-kavelingnya untuk disewakan kepada pengusaha perjudian dari etnis Tionghoa. Mereka, para penguasa tidak menjalankan bisnis melainkan hanya menerima setoran tempat dan keamanan untuk menjamin bisnis pengusaha itu tetap bisa berjalan dari gangguan aparat keamanan dan organisasi massa.

Penguasa Kalijodo Sebelum Tahun 2002 Tidak Berbisnis

Setiap penguasa memiliki ratusan anak buah. H. Usman yang merupakan pentolan paling berpengaruh memiliki sekitar 500 orang anak buah sementara pemimpin lainnya memiliki 200-300 orang anak buah (catatan Polsek Penjaringan).

Dengan upah saat itu sebesar Rp. 30.000,- per malam, para tenaga keamanan yang datang dai luar Jakarta ini “siap menjaga” Kalijodo dari siapapun yang coba mengganggu perjudian, pelacuran dan penjualan minuman keras disana termasuk gangguan dari aparat dan ormas.
Siapapun orang dari daerah yang memiliki hubungan dengan salah satu anggota kelompok bisa bergabung dengan kelompok tanpa ada sistem penerimaan maupun pelatihan. Mereka juga bisa berhenti kapan saja jika sudah mendapat pekerjaan lain atau kembali ke kampung.
Dengan biaya sewa kavling “per malam” Rp. 10 juta hingga Rp. 20 juta semalam tergantung ukuran, besarnya uang yang diterima para penguasa membuat mereka mampu membayar siapapun orang yang ingin bergabung dan menjadi anak buah (Geger Kalijodo, Komjen Krishna Murti).

Kerusuhan Kalijodo 22 Pebruari 2002

Pada dini hari, tanggal 22-2-2002, entah mengapa dipilih tanggal dengan semua angka 2 ini, terjadi perkelahian besar antara geng Macan, penguasa Kalijodo saat itu, dengan koalisi geng Makassar, geng Banten, dan geng Kulon.

Ratusan rumah dan kafe dibakar, puluhan orang luka-luka dan mati termasuk adik dari Daeng Aziz yang ikut tewas dalam peristiwa itu.

Ratusan aparat kepolisian diturunkan untuk menghentikan kerusuhan dan mendamaikan kelompok yang bertikai.

Krishna Murti Ditodong Pistol Oleh Daeng Aziz

Dalam buku berjudul Geger Kalijodo, Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Krishna Murti menuliskan pengalamannya saat ditodong tersebut.

Saat itu beliau hendak melakukan penertiban setelah mendengar terjadi keributan antara kelompok Mandar dan Makassar.

Adik Daeng Aziz, Udin, tewas dihabisi kelompok lawan. Aziz yang saat itu sangat emosional menodongkan pistol kepada Krishna Murti yang datang untuk melakukan negosiasi perundingan damai dan meminta pistol yang dimiliki Daeng Aziz.

Keesokan harinya, usai peristiwa penodongan itu, Daeng Aziz ditangkap atas kepemilikan senjata api dan kasus perjudian. Meski hingga kini kami belum berhasil mendapatkan informasi kapan Daeng Aziz dibebaskan, namun dari informasi yang dikumpulkan, Daeng Aziz dan anak buahnya secara de facto sudah menguasai Kalijodo sejak peristiwa itu.

Penguasa Kalijodo Era Daeng Aziz Melakukan Bisnis

Berbeda dengan penguasa sebelumnya yang hanya menerima uang setoran kavling dan keamanaan, penguasa Kalijodo dibawah Daeng Aziz melakukan usaha mulai dari kafe, parkir hingga suplai makanan dan minuman.

Daeng Aziz sendiri mengakui bahwa dirinya adalah pemilik kafe Intan dan menjadi distributor dua merek bir. Namun dia tidak mau mengatakan usaha-usaha lain selain kafe Intan kepada media (Tempo 19/2/2016).

Musuh Lama Yang Berjumpa Kembali

Peristiwa 22-2-2002 kita terulang kembali dalam episode yang berbeda. Khrisna Murti kini bukan lagi Kapolsek melainkan sudah menjadi seorang Direktur Reserse yang memiliki peluang untuk menjabat posisi lebih tinggi dengan karirnya yang cemerlang.

Sementara Daeng Aziz bukan lagi pemuda gagah dengan dukungan fanatik dari teman dan kerabat sesuku maupun koalisi yang dulu dibentuk. Sepanjang perjalanannya pasti ada kebencian terpendam dan keinginan dari kelompok muda yang ingin menguasai Kalijodo meski itu tidak bisa terealisasi karena Kalijodo sudah dipastikan akan digusur dan dijadikan alur hijau oleh Gubernur Basuki Tjahaya Purnama (Ahok).

Dengan usia tidak lagi muda – dukungan anak buah yang diragukan fanatismenya, lobi ke pemerintah daerah dan petinggi keamanaan yang tidak lagi erat – peristiwa ini seharusnya menjadi momentum yang tepat bagi Daeng Aziz untuk mengakhiri kiprah di dunia gelap, beralih ke bisnis bersih dan menutup mata dalam catatan yang baik di mata Tuhan.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait