Sekeping Hujan

cerpen cerita pendek remaja

Cerita Pendek Remaja. Hidayah itu hak mutlaknya Allah, tapi jangan lupa untuk memintanya dalam doa. Maka, sebelum sampai pada apapun yang dituju jangan pernah berhenti. Ya, jangan berhenti nanti tidak sampai (Karenina Shafiya).

Cerita Pendek Remaja – Sekeping Hujan

Bunyi tuts yang beradu dengan jemari terdengar cukup nyaring. Terlihat bahwa si penekan tuts-tuts itu terlampau bersemangat dalam kegiatan tekan menekannya.

Mengetikan sesuatu pada mesin pencari google kemudian saat apa yang diingankannya tercetak dalam layar monitor jemari itu berhenti, berganti tugas dengan netranya untuk menekuri deret-deret kalimat di layar monitor.

“Jadi, mas Gun mau nikah ya? Aaaaa…” Seruan lirih itu terucap tanpa sadar saat selesai membaca tulisan di depannya.

Ekspresi Ayna pun berubah dari yang awalnya antusias menjadi tersenyum manis dengan mata yang terus menerus dikedipkan untuk menahan desakan air yang memaksa ingin keluar.

Bukan sedih dengan apa yang dilihat tetapi lebih kepada terharu dengan rentetan tulisan yang dibacanya. Memahamkan dan menentramkan.

Ah, berkurang lagi deh calon imam idamannya! Yakali Ay dia tau kamu. Batinnya berbicara.

Tak lama kekehan kecil mengudara menyadari pikiran absurdnya barusan. Untung saja gazebo tempat dimana Ayna sekarang berada sepi karena masih jam-jam perkuliahan, kalau tidak sudah pasti Ayna akan dianggap aneh.

Karenina Shafiya atau teman-temannya lebih sering memanggil Ayna. Mahasiswi yang baru saja menyelesaikan program masternya beberapa bulan lalu. Siang ini Ayna sedang sibuk nugas, mencari pekerjaan niat awalnya tapi berubah menjadi sebuah alibi untuk membuka situs yang belakangan ini sering dia kunjungi. Tumblr.com.

Memilih untuk terus menjelajah Ayna tak lagi mempedulikan sekitarnya. Air yang mulai turun berjatuhan satu persatu secara bersamaan dari langit tak sekalipun mengalihkan fokusnya saat ini.

Ayna sendiri baru menyadari keadaan sekitar saat ada ribuan titik air dilayar laptopnya. Kepalanya berputar mengamati sekeliling. Suasana gazebo mendadak makin hening.

Hanya ada beberapa orang di gazebo bersama dirinya, padahal biasanya gazebo ramai dengan puluhan mahasiwa karena spot inilah yang biasanya paling diminati untuk dijadikan tempat berkumpul dan memang hanya gazebo ini tempat untuk berkumpul di fakultasnya.

Maklumlah fakultasnya baru memiliki gedung tahun ini. Itupun masih belum rampung dikerjakan dan Ayna tak sempat merasakannya.

Udah keburu lulus sih !

“ Allahumma shoyiban naafi’an.” Ayna otomatis melantunkan doa saat hujan. Menambahkan doa-doa lain dalam hatinya.

Ayna menyukai hujan, karena hujan selalu membawa kenangan dan turun untuk mereka yang membutuhkan, untuk mereka yang merindukan tidak peduli walaupun banyak yang memaki dan menyesali kedatangannya. Hujan akan tetap turun.

Ah, hujan! bawalah doaku dalam rintikmu dan biarkan aku mengenang genangan kenangan tentangmu.

Namun, ada kalanya Ayna tidak suka hujan, pun sama seperti semua orang yang memiliki sisi baik dan buruk. Hujan bagi Ayna memberi efek drama pada dirinya.

Membuat suasana berubah menjadi syahdu sehingga memaksa pikiran Ayna terlempar pada bilangan hari kehidupannya dahulu, memutarkan kilas balik memori yang amat ingin dia kubur dalam-dalam.

*****

Beratus hari yang dijejak peristiwa sebelumnya.

Photo received

Maksudnya ? Ayna mengerutkan keningnya dalam saat melihat foto yang dikirimkan kepadanya beberapa detik yang lalu, senyum yang awalnya terpajang apik diwajah Ayna saat melihat si pengirim foto luntur. Luruh bersama nyeri di bagian dadanya.

Gambar yang ditampilkan smartphonenya memang sederhana, foto dua orang berbeda gender yang berjajar dalam satu frame dengan senyum bahagia di wajah keduanya. Bukan foto dua orang dalam pelaminan juga sih hanya dua orang yang foto bersama dengan si perempuan sebagai si pengambil gambar. Selfie berdua.

Ayna mengenali salah satu sosok dalam foto. Amat sangat mengenalinya karena si sosok lelaki adalah orang yang masuk ke dalam doa-doanya setiap malam.

Seseorang yang beberapa waktu belakangan memberi harap padanya, meminta Ayna menyelaraskan arah hidup dan berkomitmen secara afektif. Emotional bonding.

Kukira dia tau batasannya! Apa karena ada jarak yang membentang? Ayna tak terima. Jelas! Merasa tak dihargai. Sangat!

Lalu, kamu siapanya Ay? Hubunganmu ini kamu namakan apa? Ga malu sama apa yang kamu dengungkan tentang dakwah!. Sisi diri Ayna yang lain bersuara.

Perang dalam pikirannya membuat Ayna tersentak sekejap, namun hatinya yang masih sibuk meratapi luka tak sadar akan salahnya. Ayna menegakan badannya beringsut ke lantai sambil terus menatap layar smartphone dalam genggamannya.

Beralih menyandarkan diri ke tembok. Hujan sudah deras turun dari matanya. Menangisi diri. Jemarinya mengetik apapun yang berhasil dirangkai oleh pikirannya.

Aku sadar tanpa perlu diingatkan seperti ini. Aku mundur.

Sent.

Aku hanya bercanda, kami teman……

Ayna melemparkan smartphonenya ke kasur di depannya. Hatinya sudah terlanjur berkesimpulan dan akhirnya mendistraksi pikirannya untuk tak menggubris lagi apapun yang akan dijelaskan si pelaku. Badan Ayna merosot ke lantai. Meringkuk  dengan aliran sungai di matanya. Pertama kali mencinta dan beginikah akhirnya?

Menurutmu kita ini dekat. Sedekat waktu antara mata terpejam dan membuka. Nyatanya kita jauh sejauh lautan dan langit. Nyatanya aku harus menggunakan kata mengulang dan lagi untuk kesekian kalinya agar bisa mempersempit jarak kita. Kita memang seharusnya jauh, semesta melarangku mendekat dan kini aku sadar tak akan mencoba mengulang dan lagi.

Manusia memang bukan tempat untuk berharap dan Ayna mengakui selama ini dia mengeraskan hati dari peringatan-peringatan itu. Malu. Malam makin gelap segelap mendung di mata Ayna yang terus terpejam sambil menurunkan hujannya. Kini tangisnya berganti menangisi kesalahannya telah jatuh pada cinta yang salah.

“Astagfirullah…” Parau Ayna berucap. Tangis Ayna makin pecah saat kesadaran itu sampai padanya. Menyentuh hatinya.

Allah cemburu ay!

Akhirnya semestapun tak mau kalah ia mengeluarkan hujannya juga. Bukan untuk mendukung kesenduan Ayna tapi memberi kesempatan pada siapapun untuk berdoa. Bukankah salah satu waktu terbaik untuk berdoa adalah kala hujan turun?

Dalam keadaan setengah sadarnya Ayna merapal doa. Semoga Allah melembutkan hatinya. Mengampuni kesalahannya.

*****

Tersenyum kecil. Ayna merasa sudah tak perlu meratapi lagi dirinya di masa lalu, masa yang Ayna sebut masa jahiliyah dan Ayna memutuskan untuk berhijrah kala itu.

Bukan tanpa sakit tapi Ayna melawan segala sakitnya. Menata ulang hidupnya. Meluruskan kembali niatnya. Membenarkan letak hati dan definisi cintanya. Menyusun life planning dan cita-citanya dari awal.

Berdamai dengan diri sendiri. Berdamai dengan masa lalu. Bukankah hidup akan lebih mudah jika kita mau berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu kita?

Aku tak mau lagi menggadaikan surgaku untuk hal nonsense seperti itu lagi, dan kuharap jalan yang kutempuh saat ini akan terus memberiku pemahaman yang baik. Pemahaman tentang cinta yang sebenarnya. Cinta untuk-Nya.
Nyaris setelah ratusan hari yang telah dijejak peristiwa itu Ayna kini sudah bisa beranjak jauh, buktinya Ayna sudah menyelesaikan program master yang dulu bahkan tak masuk dalam daftar cita-citanya. Lulus dengan nilai nyaris sempurna pula!

Allah patahkan hatiku, agar aku sadar siapa aku dan melabuhkan cintaku ketempat yang tepat. Agar aku ingat apa tujuan hidupku!

Hujan sudah mereda menyisakan air-air yang menggenang di beberapa bagian pelataran gedung fakultas. Ayna segera mematikan sambungan internet lalu menutup laptopnya kemudian.

Ayna beranjak dari gazebo menuju mushola karena adzan ashar sudah terdengar. Ternyata memutar masa lalu memakan waktu yang cukup lama juga.

Ayna kembali tersenyum. Baru duduk sebentar di teras mushola rintik hujan kembali turun tidak sederas tadi memang hanya rintik kecil.

Tiba-tiba ponsel Ayna bergetar. Merasa ada pesan masuk Ayna sigap melihat siapa yang mengiriminya pesan.

Siapa?

Agak ragu Ayna membuka pesan itu. Jantungnya mendadak berhenti sesaat setelah membaca isinya.

Assalamu’alaikum, ay.

Kamu kapan diwisuda? Sudah ada pendamping wisudanya belum? Belum kan?

Aku sedang dirumahmu, Ayahmu memintaku menanyakan jawaban atas tanyaku langsung padamu. Karenina Shafiya. Aku menunggu jawabmu.

Mahesa Wijanarka.

Ayna gagal paham kecerdasannya tiba-tiba menghilang. Otaknya blank. Desir dan debar mengacaukan pikiran Ayna. Beribu pertanyaan muncul di benak Ayna.

Bagaimana Arka bisa ke rumahnya? Bagaimana Arka tau alamatnya? Dan bagimana ayahnya yang notabene orang paling marah kalau Ayna dekat dengan laki-laki bisa membiarkan Arka masuk ke rumahnya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul memenuhi ruang pikir Ayna.

“Arka.” Lirih Ayna tak bisa menahan senyum kemudian. Arka yang itu kan?

Lelaki yang dulu satu lembaga dengannya. Yang baru kemarin dipertemukan semesta dengannya saat Arka menjadi pembicara dalam seminar beasiswa luar negeri dan Ayna pesertanya. Iya deh yang lulusan Al-Azhar.

Wajah Ayna merengut seketika tapi tak berapa lama karena hembus angin dan percik air yang mengenai wajahnya membuat Ayna melebarkan senyum lagi.

Semesta pasti punya cara untuk mempertemukan setiap orang, dan Allah akan memberikan paket-paket cinta untuk mereka yang terberkahi prosesnya. Ayna memang dulu salah mengambil langkah tapi Allah selalu memberi kesempatan untuk kembali.

Keping-keping hujan masih turun, Ayna kembali mengucap doa.

Haruskah aku kembali menata cita-cita? Karena menjadi istri Arka belum sempat aku tuliskan. Eh! Emangnya Arka nglamar kamu ay?

Suara iqomah menyadarkan Ayna. Ayna buru-buru beranjak dari duduknya tak mau berlama-lama memikirkan debar jantung dan pikirannya yang menggila. Mengambil wudhu. Ayna merasa shalatnya kali ini begitu khusyu’. Bersyukur atas segalanya. Atas hidayah yang Allah sentuhkan ke hatinya.

Ternyata ada banyak kenangan dalam setiap keping hujan yang dilewatinya. Tentang cinta dan cita-citanya, tentang redefinisi hidupnya, tentang bagaimana berdamai dengan diri sendiri dan tentang hati yang selalu membuka ruang penerimaan.

Aku masih belum sampai. Masih dalam perjalanan panjang, cita-citaku masih belum terwujud semua dan aku juga tak ragu untuk mengubah arah cita-citaku nanti. Karena sejatinya hidup ini  adalah perjalanan dan hanya satu yang dituju. Maka, jangan berhenti nanti tidak sampai.


Terima kasih telah membaca cerita pendek remaja berjudul sekeping hujan. Semoga cerpen diatas bermanfaat dan menghibur hati sobat Bisfren sekalian. Tetaplah semangat dan optimis. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Minaarti

Penulis :

Artikel terkait