Selamat Hari Ibu, Bunda

cerita pendek perasaan cinta

Selamat hari ibu bunda adalah cerita pendek perasaan cinta, sayang, kagum dan rindu seorang gadis kepada ibu yang membesarkannya. Akan tetapi ketika dia ingin mengucapkan “selamat hari ibu”, tiba-tiba dia dikejutkan oleh kenyataan bahwa wanita tersebut bukan ibu kandungnya. Simak cerpen berikut :

Cerita Pendek Perasaan Cinta – Selamat Hari Ibu, Bunda

Hallo namaku Jingga namun aku tak sedang bersama senja sebab aku menghilang sebelum ia datang. Hari ini aku pulang lebih awal dari biasanya. Sengaja? Iya, Tapi bukan karena Jingga tak ingin bersama senja bukan. Alasannya sederhana. Hari ini hari ibu dan Jingga rindu bunda he he

Berlebihankah ? aku rasa tidak. Kalian hanya belum mengenal bundaku saja. Bundaku adalah wanita paling perkasa di dunia. Ia bisa melakukan segalanya. Memasak, menyapu, menyetrika bahkan bunda juga bisa menjadi tulang punggung keluarga. Hebat bukan ? Tentu saja.

Meskipun kami hanya tinggal berdua dan hidup dalam kesederhanaan tapi kami bahagia. Terlebih bunda tak pernah mengeluhkan keadaan dan tak pernah marah. Termasuk ketika aku sering terlambat pulang kerumah karena tugas kuliah. Baginya yang penting anaknya sehat dan pulang kerumah dengan selamat. Ah bunda, membicarakanmu membuat hati semakin rindu.

“Jalan Paris jalan Paris” teriak seseorang yang berdiri di dekat pintu.

Tak lama kemudian bus berhenti dan aku bergegas keluar dan memberikan uang. Ya, rumahku di jalan paris KM 5 Bantul Yogyakarta Timur jalan dengan cat berwarna biru muda.

Meskipun warnanya biru muda namun gubuk kecil itu sudah tak muda lagi. Hari ini genap 22 tahun aku tinggal dan seminggu dari sekarang  genap 19 tahun ayah tiada.  Ibu bilang ayah mengalami kecelakaan ketika sepulang bekerja.

Jadi sampai saat ini aku belum pernah melihat muka ayah secara langsung hanya lewat foto saja.

Jadi bagaimana apakah masih berpikir kalo aku berlebihan ? Jangan ya karena bagiku bunda adalah harta tak terhingga. Bunda adalah segalanya.

“Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam” jawabnya.

Didalam rumah sudah ada 2 wanita. Yang satu bunda dan yang satu ibu-ibu paruh baya yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

“Jingga, kemari duduk disini” kata bunda

Iya bunda jawabku lirih sambil mendekat duduk di samping bunda.

“Jingga ini namanya ibu senja” kata bunda lagi

“Jingga, senang berkenalan dengan anda bu Senja” kataku

Tiba-tiba ibu itu menangis dan akupun kebingungan bukan kepalang. Aku pikir apa ada yang salah dari yang aku katakan. Lalu ibu itu berkata dengan lirih “Aku ibumu Jingga, ayo pulang ke rumah bersamaku”

Suara dan kata-kata itu terasa asing di kepalaku. Mendadak bumi rasanya sunyi dan mulai berhenti berotasi. Tak ada awan tak ada hujan tapi rasanya siang ini aku bagai tersambar petir.

“Bercandaan macam apa ini” kataku. Tapi mereka hanya terdiam membisu.

“Hari ini aku pulang lebih awal karena merindukan bunda tapi kenapa semua jadi seperti ini” gumamku dalam hati
Tak lama kemudian bunda melihat ke arahku namun dengan tatapan yang berbeda. Tatapan ini belum pernah aku lihat sebelumnya. Ya bunda mulai menitikkan air mata. Hancur sekali hatiku melihat bunda menangis. Bunda adalah bundaku yang tak pernah menangis tapi kali ini ia menangis. Hari ini. Di hari ini bunda menangis karena semua ini. Bunda menangis karena aku.

Aku ingin marah, aku ingin memaki hari ini. Aku ingin membenci diriku sendiri. Tapi semua itu lenyap seketika saat bunda melihatku kali kedua dengan senyum di bibirnya.

“Selamat hari ibu, bunda. Apapun yang terjadi Jingga hanya ingin tinggal bersama bunda. Bunda jangan nangis lagi ya. Jingga sayang bunda” kataku yang entah kenapa keluar begitu saja.

Sontak bunda langsung memeluku dan saat itu tangis dari bunda pecah sudah. Ia menangis sejadi jadinya begitupun dengan aku. Kami bak gerbong kereta yang tak ingin terpisahkan meskipun hanya dengan persimpangan kecil.
Dunia kembali sunyi. Namun kali ini hangat karena aku berada dipelukan bunda. Bunda orang tuaku. Yang membesarkanku meski seorang diri. Dia bunda, bundaku yang paling aku sayangi diseluruh dunia.

Tak lama dari itu bunda melepaskan pelukannya dan mulai berbicara pada ibu Senja, perihal meminta ijin aku tinggal lebih lama rumah ini. Namun yang mengejutkan adalah justru ibu Senja pamit pulang dan berkata akan lebih sering berkunjung ke rumah ini.

Aku kemudian berpikir. Apa yang ku lakukan salah. Apa aku berdosa. Apa aku durhaka. Aku harap tidak karena sejujurnya aku telah berkata jujur dan aku ingin tinggal selamanya bersama bunda. Selamat hari ibu, bundaku 🙂

Yogyakarta, 22 Desember 2016

Jingga


Terima kasih telah membaca cerita pendek perasaan cinta anak kepada ibunya. Semoga cerpen diatas dapat menghibur dan memberi manfaat bagi sobat Bisfren sekalian. Tetaplah semangat dan optimis dalam menjalani hidup. Jadikan segala peistiwa sebagai inspirasi dan motivasi untuk mencapai sukses.

Dibagikan

DuaTigaDesember

Penulis :

Artikel terkait

1 Comment