Selamat Tinggal Sayang

cerita sedih ditinggal mati

Selamat tinggal sayang adalah cerita sedih ditinggal mati pacar. Mulanya dia marah pacarnya tidak memberi kabar namun ternyata kekasihnya meninggal akibat kecelakaan. Bagaimana jalan ceritanya ? silahkan simat pada cerpen berikut.

Cerita Sedih Ditinggal Mati – Selamat Tinggal Sayang

Mata Anita masih terpaku pada layar ponselnya. Jemarinya tak henti-hentinya menekan tombol ponsel dengan kasar. Matanya yang sayu hanya fokus melihat kotak pesan dan panggilan suara yang tertera dalam bentuk ikon. Dia menghela napas panjang lalu merebahkan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk. Diliriknya kembali ponsel yang ada di sebelah bantalnya. Dia kecewa. Tak ada satu pun sms atau telepon darinya. Dilemparkannya ponselnya yang masih menyala itu. Kau sungguh keterlaluan, dimana kau saat ini? Nggak ada kabar sama sekali, umpatnya dalam hati.

Anita menutup mata, mencoba tak memikirkannya saat ini. Tapi bayangannya selalu ada dalam ingatannya. Kepalanya selalu membayangkan saat-saat indah bersamanya. Zaki, cowok yang berhasil membuat perasaannya kacau balau saat ini. Cowok yang membuat hari-harinya terasa indah. Anita tersipu malu saat mengenang masa lalu, masa-masa dimana Zaki selalu membuat dirinya istimewa. Dalam sekejap senyumnya menghilang. Perasaan marah kembali menggerogoti hatinya.

Sudah dua minggu ini Anita tak bertemu Zaki. Semenjak liburan sekolah, Zaki tak pernah menemuinya sama sekali. Sms dan juga telepon dari Anita sama sekali tak pernah di balasnya. Anita menghela napas panjang mengingat hal itu. Pikirannya mulai menduga-duga tentangnya. Dia buru-buru menepis pikiran itu. Anita lalu menatap foto-foto dirinya  bersama Zaki. Matanya berkaca-kaca menahan air mata agar tak jatuh membasahi pipi tembemnya. Dia berpikir sejenak. Besok aku akan ke rumahnya, batinnya mantap.

Keesokan harinya

Anita tiba di depan sebuah rumah. Rumah itu terlihat sederhana dengan pekarangannya yang luas. Bunga-bunga tumbuh dengan suburnya di sana. Sejenak Anita terpaku melihatnya. Tiba-tiba wajahnya manyun. Matanya kini dikejutkan oleh sebuah tulisan. Rumah ini disewakan, begitulah kata-kata yang terpampang di depan beranda rumahnya. Perasaan sedih dan kecewa kembali hinggap di benaknya. Anita langsung merogoh tasnya. Dia mengambil ponselnya dan langsung menelpon Zaki. Wajah Anita terlihat senang. Zaki akhirnya mau mengangkat telepon darinya.

“Halo Zaki ! Kau ada dimana sekarang ? Kenapa rumahmu disewakan ? Aku khawatir sama kamu. Aku khawatir sama kamu,” tanya Anita bertubi-tubi.

“Maaf, ini siapa?” terdengar suara seorang wanita di seberang telepon.

Anita terkejut saat mendengar suaranya. Bukan suara Zaki kekasihnya yang menjawabnya, melainkan seorang wanita. Anita terdiam, pikirannya kembali menduga-duga. Dia mencoba berpikir positif pada Zaki dan menenangkan pikirannya.

“Halo!” ucap wanita di seberang telepon.

Anita langsung tersadar dari lamunannya. “Ya, halo! Saya pacar Zaki. Zakinya ada ?”

“Oh, jadi kamu pacar Zaki. Saya Mamanya,” jawab wanita itu.

Anita tertegun mendengarnya. Tak biasanya ponsel Zaki ada pada mamanya. Setahunya Zaki tak pernah memperbolehkan siapa pun memegang barang-barang pribadinya terutama ponsel. Makanya Anita tak pernah menyentuh barang-barang Zaki kecuali koleksi novel dan film horornya. Anita kembali mencoba berpikir positif. Mungkin karena wanita itu mamanya, makanya Zaki mengizinkannya untuk menyimpan ponselnya.

“Maaf, Tante. Saya Anita, pacarnya Zaki. Zakinya ada?” tanya Anita kembali fokus pada pembicaraannya di telepon.

“Eee… Zaki….” suaranya terdengar aneh. Mama Zaki terdiam. Tak terdengar lagi suaranya.

“Zaki kenapa Tante?” tanya Anita panik.

Tak ada jawaban dari mama Zaki. Anita semakin bingung. Firasat buruk mulai menghantui pikirannya. Pening rasanya kepala, otaknya terasa ingin meledak. Dia tak mau hal buruk menimpa Zaki, orang yang disayanginya itu.

“Halo Tante! Zaki nggak kenapa-kenapa kan? Dia baik-baik saja kan?” tanya Anita semakin panik.

“Kau datang saja ke sini! Nanti kau akan tau Zaki ada dimana. Tante SMS alamatnya.” Mama Zaki langsung menutup teleponnya.

Anita hanya bisa menatap layar ponselnya dengan wajah yang bingung dan juga khawatir. Beribu pertanyaan kembali hadir di dalam kepalanya. Apalagi dia benar-benar mendapat firasat buruk tentang Zaki. Perasaannya sangat gelisah. Ponsel Anita tiba-tiba bergetar. Ternyata SMS dari mama Zaki. Sebuah alamat kini terpampang di layar ponselnya. Dia langsung melangkahkan kakinya dan mencari ojek.

***

Anita diturunkan di alamat yang dia tunjukkan pada tukang ojek. Bukan sebuah alamat rumah melainkan pemakaman. Anita sangat bingung. Untuk apa mama Zaki mengirim SMS alamat pemakaman padanya. Anita lalu menelepon kembali mama Zaki.

Anita akhirnya menuruti perkataan mama Zaki. Dia memasuki pemakaman. Tak ada seorang pun di sana. Hanya ada seorang wanita paruh baya yang berziarah di sana. Dari jauh dia melambai-lambaikan tangannya pada Anita. Tanpa rasa curiga, Anita pun menghampiri wanita itu.

“Kau Anita kan?” tanyanya dengan tatapannya yang sedih.

“Iya. Tante Mamanya Zaki? Zakinya mana Tan? Kok Tante SMS saya alamat ini?” tanya Anita bingung.

Mama Zaki lalu mengusap-usap sebuah nisan. “Zaki di sini.” Mama Zaki tersenyum kecut, matanya berkaca-kaca menahan air mata.

“Maksud Tante?” Anita menatap nisan itu. Di sana tertulis nama Zaki, kekasih yang sedang dicarinya.

“Zaki meninggal karena kecelakaan. Mobilnya tertabrak truk,” jawab Mama Zaki terisak.

Anita tak kuasa menahan air matanya. Kini dia berada di makam Zaki. Anita terus memandangi nisan Zaki, lalu mengusapnya pelan.

“Maaf, Tante nggak memberitahumu. Selama ini Tante nggak tau kalau Zaki sudah punya pacar. Ini semua memang salah Tante. Kalau saja Tante nggak memaksanya menjemput Tante di bandara, Zaki pasti nggak akan ada di sini sekarang.” Mama Zaki tak kuasa menahan air matanya.

“Tante jangan salahkan diri Tante. Selama ini Zaki selalu cerita kalau Mamanya adalah orang yang hebat. Zaki sangat sayang sama Tante,” ucap Anita berusaha menenangkan mama Zaki.

“Tante sangat menyesal. Selama hidup, Tante nggak pernah ada buat Zaki,” ucap Mama Zaki menatap nisan anaknya.

Anita menepuk pelan pundak mama Zaki. Dia lalu menatap nisan Zaki. Anita ingin menangis lagi, tapi dia tak bisa. Dia tak bisa menangis lagi karena membayangkan wajah Zaki saat marah. Zaki pasti tidak suka melihatku menagis, batinnya berusaha tegar. Anita dan mama Zaki akhirnya berdoa di depan kuburan Zaki.

“Selamat tinggal sayang. Semoga kau tenang di alam sana,” ucap Anita lalu pergi meninggalkan pemakaman bersama mama Zaki.


Terima kasih telah membaca cerita sedih ditinggal mati oleh kekasih tercinta. Semoga cerpen diatas dapat menghibur serta menjadi inspirasi dan motivasi bagi sobat Bisfren untuk menulis karya – karya terbaik. Salam sukses.

Dibagikan

Betry Silviana

Penulis :

Artikel terkait