Selamat Tinggal Sayang

cerita pendek selamat tinggal gadis berbaju biru

Selamat tinggal sayang merupakan cerita pendek sedih seorang mahasiswa yang cemburu pada pacar dan termakan fitnah tanpa mengklarifikasi terlebih dulu. Ketika kemudian berubah menjadi bahagia, waktu tidak berpihak kepadanya. Bagaimana kisah selengkapnya ? silahkan simak pada cerita pendek berikut.

Cerita Pendek Sedih Patah Hati “Selamat Tinggal Sayang”

Saat pertama bertemu kamu dikampus, aku merasa menemukan sesuatu telah lama hilang. Dimatamu, sesuatu dulu pernah aku inginkan, namun tiada pernah ku dapatkan. Teduh matamu membuat ingin selalu menatapnya. Namun diriku tidak pernah bisa memandang wajahmu lebih lama saat mata kita beradu.

Pagi bertemu denganmu sudah cukup untuk membuatku bersemangat menerima pelajaran seharian. Atau jika sore bertemu denganmu, sudah cukup untuk menghilangkan lelah seharian menerima pelajaran. Bertemu atau hanya sekedar berpapasan adalah saat ku tunggu. Tapi tiada keberanianku menatap matamu dalam jarak dekat. Ada rasa sulit diungkapkan dengan kata-kata. Namun degup jantung tiba-tiba berpacu saat dirimu berada didekatku mengungkap rasa lebih dari sekedar kata. [Baca juga cerita pendek cinta sedih Pelindung hatiku].

Sudah lama kucoba melupakanmu. Terakhir melihatmu setahun lalu saat acara perpisahan SMA dulu. Perasaan yang dulu pernah ada, kini muncul lagi dipermukaan. Hatiku menyayangimu lebih dari yang kau tahu. Perasaan itu muncul saat pertama ku melihatmu. Masih teringat jelas, dulu saat kamu terjebak hujan di halte kampus. Kucoba memberanikan diri menyapamu lalu menawarkan tumpangan. Masih kuingat pula muka merahmu saat tersipu malu. Jangan tanya mengapa diriku mencintaimu, karena akupun tidak tahu. Bertemu denganmu sungguh merupakan anugerah bagiku.

Kau adalah hal terindah dalam hidupku

Bisa berkenalan denganmu adalah hal terindah. Awal yang baik untuk mengenalmu lebih jauh. Tiada banyak nyali kupunya untuk berkenalan denganmu. Sesekali mengajakmu makan siang atau hanya berbincang ditaman adalah momen menyenangkan. Perasaan ini semakin besar sehingga semakin membuatku tidak ingin kehilanganmu.

Kukira diriku akan mudah mendekatimu. Senyum, tawa dan matamu selalu buatku rindu. Hingga suatu saat, diriku tahu bahwa dirimu sedang dekat dengan orang lain. Tak sengaja  kita bertemu saat kamu sedang bersamanya. Sehingga membuat luka dihati ini kian dalam. Ada sesak tiba-tiba menjalari dadaku. Mungkin anganku telalu berharap tinggi denganmu. Mungkin memang diriku tak pantas untukmu. Kupilih untuk mundur. Walau tak sejalan dengan hati ini, tapi biarlah.

Kamu tak tahu betapa hancurnya hatiku. Sakit. Entah seperti apa.  Dirimu tiada pernah tau bagaimana memendam rasa sendirian mencoba melupakanmu. Tapi diriku tak bisa. Setiap kali berpapasan denganmu sekarang menjadi hal menyakitkan. Ya. kamu boleh bilang diriku pecundang. Mungkin memang begitu adanya.

Rasa rendah hati membuatku menjauh tanpa bertanya

Diriku memilih menjauh. Karena kurasa diriku tak sebanding dengan dirinya yang memiliki segalanya. Maaf, telah kutolak makan siang bersamamu. Karena kurasa akan membuatku semakin sakit serta marah jika mengingat kau dengan dia. Itu sebabnya diriku selalu menghindar darimu padahal kita sudah cukup dekat.

Panggilan masuk darimu malam itu sebenarnya tak ingin kuterima. Tapi tak enak juga hatiku dengan keadaan seperti ini. Kau mengajakku bertemu diluar.  Perasaanku benar-benar sedang tidak mood bahkan tak sanggup melihatmu. Namun diriku ingin kau tau apa kurasa. Antara senang serta sedih bercampur jadi satu. Kuterima ajakanmu.

Asal menyambar baju dari lemari lalu segera pergi membawa perasaan tak karuan itu. Diluar hujan rintik-rintik. Sedikit mewakili perasaan tak karuan berkecamuk dihatiku. Sepanjang perjalanan, kufikirkan kata-kata tepat untuk mengatakan sesuatu kepadamu.

Kukagumi dirimu dalam balutan biru

Saat melihatmu pada salah satu meja, ku kagumi kecantikanmu malam itu. Dalam balutan sweater biru muda kusangka warna favoritmu serta rambut dibiarkan terurai. Ah, aku seperti peramal saja, mungkin hanya kebetulan kau mengenakan baju warna itu. Jantungku berpacu cepat lagi. Membuatku gugup saat duduk dihadapanmu. Kamu tersenyum manis malam itu seperti senyum-senyummu dihari lalu. Inginku kukatakan tentang senyummu tapi mulutku bungkam karena belum tahu mengapa kau mengajakku bertemu. Sehingga ku tenggelam dalam pikiran serta perasaan tak karuan ini.

Malam cukup dingin. Namun kurasakan suhu udara disekitarku naik. Sedikit gugup juga kikuk setelah sebelumnya selalu menghindar darimu.  Masih kuingat apa kau katakan malam itu “susah banget nemuin kamu di kampus. Selalu sibuk. Jadi ku ajak ke sini deh. he he”. Lagi,  senyummu buatku ingin terus memandangmu. Kau tahu ? seandainya disana ada roket, akan kugunakan meluncur kelangit lalu berteriak sepuas hatiku. Menumpahkan segala rasa berkecamuk dalam hati.

Meski sulit akhirnya terucap juga kata cinta menyesakkan dada

Kurasakan dorongan kuat untuk mengutarakan perasaanku kepadamu. Tapi, hatiku gugup. Ditambah matamu terus saja memandangku membuat pikiranku makin buyar. Berulang kali kucoba, tetapi hanya namamu keluar dari mulutku. Membuat mu malah tertawa sehingga diriku semakin gugup. Kutarik nafas dalam-dalam. Meyakinkan hati lalu kukeluarkan kotak merah kecil dari dalam saku celanaku. Kemudian kukatakan”Aku suka kamu, sayang kamu, cinta kamu. Hatiku mencintaimu sejak awal melihatmu”. Mungkin terdengar konyol. Tapi itulah perasaanku.

Rasanya lega bisa mengutarakan semua meski berfikir sangat kecil kemungkinan kau membalas perasaanku. Tapi ternyata diriku salah. Dengan santainya kau ambil cincin dari dalam tempatnya lalu kau kenakan dijarimu sendiri. “Aku mengajakmu kesini karena kangen kamu. Hatiku juga merasakan hal sama, suka, sayang serta mencintaimu”, begitu ucapanmu saat itu. Kemudian kau jelaskan bahwa lelaki yang terlihat bersamamu adalah sepupumu sehingga membuatku malu. Terima kasih Peri Kecilku.

Selamat tinggal sayangku

Rasanya baru semalam kurasakan memilikimu. Merasa dunia ini lebih indah karena kamu akan selalu ada disampingku. Masih banyak rencana ingin ku lakukan bersamamu seperti biasa kita lakukan. Baca buku bersama, rebutan makanan saat makan siang, tebak-tebakan ditaman, serta masih banyak lagi. Ku ingin melakulannya lagi, peri kecilku. Aku menyayangim dan selalu ingin terus bersamamu. Membuatmu tertawa setiap dirimu ada di dekatku.

Tadi pagi mamamu menghubungiku. Lalu sekarang, saat menulis ini, tanganku sedang memegang erat cincin yang semalam kau kenakan dariku. Sayang, ketahuilah, dimanapun dirimu, hatiku akan tetap sangat menyayangimu. Diriku sangat mencintaimu, sekarang juga selamanya. Cincin ini tak mungkin ku simpan. Itu hanya akan membuat hatiku sakit. Jadi, kusatukan saja dengan surat ini. Akan kuminta mamamu untuk menguburkannya dalam lubang peristirahatan tepat disampingmu.

Beristirahatlah dengan tenang Peri Kecilku. Doa ku menyertai kepergianmu menuju peraduan terakhirmu. Takdir tak pernah bisa ditolak. Sungguh diriku tak pernah tahu kau mengidap kanker paru-paru stadium akhir hingga merengut nyawamu. Terima kasih atas waktunya sayang. Beristirahatlah tenang. Aku mencintaimu. Sampai kapanpun. Selamat tinggal.


Terima kasih telah membaca cerpen sedih perpisahan selamat tinggal sayang. Mohon berikan jempol dan bagikan sebagai apresiasi kepada penulis. Jangan lupa baca cerita romantis kami lainnya.

Dibagikan

Annisa Nurnur

Penulis :

You may also like