Selembar Kain Di Pergantian Hari

cerita pendek mengharukan

Selembar kain dipergantian hari adalah cerita pendek mengharukan tentang anak penderita leukimia ingin memberi hadiah ulang tahun buat ibunya. Dia berusaha sekuat tenaga namun segalanya tergantung takdir. Bagaimana akhir kisahnya ? silahkan simak pada cerpen berikut.

Cerita Pendek Mengharukan – Selembar Kain Di Pergantian Hari

Indrajit menatap kalender dinding yang menempel pada tembok kamarnya yang hanya diplester warna abu – abu, bahkan di beberapa tempat tampak potongan batu bata merah yang meringis karena terbuka. Tinggal beberapa hari lagi, akan ada momentum istimewa.

Ya, Emak akan berulang tahun. Selama ini di tradisi keluarga mereka sebenarnya memang tak ada acara khusus untuk merayakan hari ulang tahun siapa pun, entah Bapak, Emak, Kak Irawan maupun Indira adiknya. Apalagi acara ulang tahun, bisa makan tiga kali sehari walaupun dengan menu yang sederhana saja merupakan suatu kemewahan.

Namun tahun ini Indrajit ingin memberikan sesuatu untuk ulang tahun Emak, lebih kepada rasa terima kasihnya kepada Emak yang selama ini telah menjadi tulang punggung keluarga, setelah Bapak meninggal beberapa tahun yang lalu karena kecelakaan kereta api di saat Bapak menjadi masinisnya. Emak yang lihai berdagang tak malu untuk menjual sesuatu, bahkan beliau malah pernah menjadi buruh cuci dan setrika juga di saat ketiga kakak beradik ini masih kecil dan keadaan ekonomi mereka benar – benar sulit.

Remaja tanggung siswa sebuah SMK ini kemudian beralih kepada sebuah buku kecil yang selalu ia sembunyikan di almari pakaiannya, terutama di laci yang bisa dikunci. Di dalam buku kecil tersebut tertera sekian digit angka yang selalu bertambah setiap bulan jika ia mencetak pada lembaga penerbitnya. Jika angka itu bertambah, betapa senang hatinya, karena Indrajit rela puasa setiap hari, paling – paling hanya membawa sebotol air putih untuk menghilangkan dahaga.

Memang, Indrajit rutin menabung hasil dari uang saku hariannya, juga ia mempunyai kegiatan lain untuk mencari uang tambahan sepulang sekolah, yaitu memberikan les privat bagi anak – anak, karena Indrajit berotak cerdas bahkan sering juara kelas sejak sekolah dasar hingga kini. Suatu anugrah yang disyukuri baik mendiang Bapak, Emak, kakak dan adiknya. “ Sudah cukup, “ gumam Indrajit seraya membolak balik halaman buku tabungan itu. “ Semoga hadiahnya belum laku.

Terdengar suara ketokan di pintu. “ Ya ? “ tanya Indra, secepat kilat ia membuka almari pakaiannya dan menyimpan kembali buku tabungannya kembali di laci dalam almari tersebut. “ Kak Indra, ayo kita makan ! Emak sudah menunggu !” seru Indira kemudian terdengar suara langkah kaki menjauh. “ Iya, aku menyusul ! “ balas Indra.

Mereka hanya makan bertiga, karena Mas Irawan sedang dinas di luar kota. Emak bertanya tentang kegiatan mereka berdua sepanjang hari dan mayoritas dijawab oleh Indira. Sebagai bungsu dan satu – satunya anak perempuan, Indira sangat cerewet mengalahkan siapa pun di rumah dan selalu menang sendiri, jika ia bertengkar dengan kakaknya – kakaknya mereka hanya mengalah saja sebab mendiang Bapak selalu berpesan agar baik Irawan dan Indrajit harus selalu menyayangi si bungsu Indira.

Seusai makan, Emak duduk di kursi depan televisi, ruang makan itu sekaligus juga ruang keluarga, tempat mereka bercengkerama sambil menyaksikan acara televisi. Indrajit kembali ke kamar karena alasan mengantuk, dia sudah belajar usai memberikan les ke salah satu muridnya.

Di dalam kamar yang redup nyala lampunya, Indrajit berbaring seraya menatap langit – langit kamar yang kusam, membayangkan bagaimana reaksi Emak jika beliau sudah menerima hadiah darinya. “ Semoga Emak tak marah dan berkenan akan hadiah itu, “ harap Indrajit. Akhirnya Indrajit terlelap sendiri dan mimpi indah sudah membeli hadiah ulang tahun Emak dan memberikannya kepada beliau.

Keesokan paginya, Indrajit melakukan aktivitas seperti biasa, berangkat sekolah, belajar, berinteraksi dengan guru dan teman,melakukan tugas kelompok dan sebagainya. Sepulang sekolah kembali ia memberikan les kepada adik temannya. Hari – hari padat yang selalu dilalui Indrajit tanpa menghiraukan cuaca dan lelah, ia tabah melakukan semua itu tanpa mengeluh dan tak menghiraukan keadaaan dirinya sendiri. Sehingga seabrek kegiatan yang nyaris tanpa jeda sejak pagi hingga hampir malam tak henti itu lambat laun menggerogoti dirinya.

Pada suatu sore, saat Indrajit sedang menerangkan sebuah materi kepada salah satu murid lesnya, murid ini termasuk murid cerdas juga karena pernah terpilih mewakili sekolah untuk maju di lomba Olimpiade Sains bagi siswa murid sekolah menengah pertama tingkat nasional meskipun tak meraih predikat juara, setelah itu ia memberikan tugas kepada sang murid untuk mengerjakan soal – soal latihan.

Sang murid yang bernama Allan menatap guru lesnya dengan tanda tanya, “ Kak Indra, kok pucat sekali ? Kakak sudah makan ? “ Indrajit menatap Allan sambil tersenyum, “ Tadi siang sudah, Allan. “ Kini Allan mengerutkan kening, kemudian berdiri dari kursinya dan tanpa sempat dicegah ia berlari keluar kamar belajar. Indrajit hanya tertawa. Allan kembali sambil membawa sebuah nampan, berisi sepiring nasi putih yang masih hangat, sepotong ayam goreng dalam piring kecil, dan semangkuk sup, kemungkinan sup bakso yang masih mengepulkan asap.

“ Kak, ini permintaan Mama, kakak harus makan ! Kakak kan belum makan sejak tadi pulang sekolah, hayo jangan bohong…” kata Allan tegas. Indrajit menggelengkan kepalanya, “ Allan, tak usah repot – repotlah, aku masih kenyang kok. Allan berkacak pinggang dan mulai berteriak, “ Mama ! Kak Indra tidak mau makan ! “ Indrajit segera menempelkan jari telunjuk di depan mulutnya. “ Ayo kak, Mama tidak repot kok, kami tadi sudah makan dengan menu itu, “ kata Allan.

Terpaksa Indrajit melahap habis hidangan sore itu, sebenarnya Allan memang benar, ia belum makan sejak pulang sekolah. Ia sudah terbiasa dengan itu, tapi akhir – akhir ini Indrajit lebih merasakan kelelahan yang tidak seperti biasa. Seusai makan, mereka melanjutkan belajar lagi dan begitu acara les sudah selesai, Indrajit langsung mengucapkan terima kasih kepada mamanya Allan, beliau memang piawai memasak dan membuka sebuah restoran di sebuah mal di kota itu.

Sekilas Indrajit melihat kalender meja di meja belajar Allan tadi sebelum acara les selesai,ah ulang tahun Emak tak terasa sudah besok hari, jadi hari ini ia harus berburu hadiah itu. Sesuatu yang Indrajit tahu sangat diinginkan Emak walaupun beliau tak pernah mengucapkan tapi sungguh menjadi keinginan yang ingin segera terwujud untuk dimiliki. Maka Indrajit memutuskan untuk segera mencarinya. Rumah Allan dekat dengan pusat kota dan di sana banyak pertokoan, asumsinya pasti banyak pilihan yang bagus – bagus.

Indrajit berjalan menelusuri trotoar dan ia sampai di depan sebuah etalase pertokoan yang menjual berbagai aksesoris perempuan. Indrajit hanya berhenti dan melongok sebentar. “ Hmmm…..selera perempuan muda, “ gumam Indrajit. Ia pun berlalu. Untuk seterusnya Indrajit melewati sekian toko dan tak terasa ia sudah berada di depan sebuah toko yang tak segemerlap toko – toko sebelumnya. Toko ini khusus menjual kain. Indrajit merasa girang dan ia pun memasuki toko itu.

“ Permisi,” kata Indrajit seraya menoleh ke sana ke mari mencari seorang pramuniaga. “ Ya, ada yang bisa kubantu, Nak ? “ jawab seseorang, seorang pria tua kurus dengan kepala nyaris botak, mengenakan kaca mata tebal, dan sesekali jemarinya dengan lincah menghitung dengan menggunakan alat hitung ala China jaman dulu, menyapanya dari balik meja tinggi dan ia duduk di kursi yang lebih tinggi dari meja itu.

Pria itu tak sendirian, ada seseorang yang menemaninya sambil duduk di antara berbagai gulungan kain yang berjajar rapi di dalam toko. Seorang pria setengah baya beraut muka masam, tinggi kurus tapi perutnya menonjol seperti perempuan hamil muda, berambut hitam dan licin karena menggunakan minyak rambut dengan bau semerbak. “ Maaf, Pak, saya mencari kain batik, “ kata Indrajit sambil sedikit mendongak karena pria tua itu duduk di kursi yang sungguh tinggi. ‘ Ah, kain batik yang bagaimana, ala Solo, Yogya, Cirebon, Pekalongan ? Negara kita kaya akan ragam motif batik, “ kata pria itu, kini ia sudah turun dari kursi tingginya dan berdiri di hadapan Indrajit. Ternyata pria itu bertubuh mungil, mungkin karena ia bungkuk, seperti si Bongkok dari Notre Dame, dongeng Alexander Dumas yang tersohor itu.

Si pria bongkok, ia memperkenalkan diri dengan nama Pak Han, selanjutnya menunjukkan sekian jenis batik, bahkan sekilas sejarahnya. Kata Pak Han, ia menggemari batik tulis, yang jelas secara kualitas jauh lebih baik, namun tentu saja harganya fantastis. Indrajit hanya meneguk ludah setiap kali Pak Han menunjukkan deretan kain batik tulisnya.

“Kau ingin membelikan kain batik itu untuk siapa, Indra ? “ tanya Pak Han. “ Untuk Emak, Pak Han. Besok beliau berulang tahun, dan tengah malam nanti saya ingin memberikan kejutan bagi Emak, hadiah ini akan saya berikan pada saat beliau masih tidur, di dekat tempat tidurnya, “ kata Indrajit polos. Pak Han menatapnya serius. “ Kau punya uang berapa, Nak ? “ tanyanya. Indrajit menundukkan kepala, merogoh saku celana panjangnya dan menunjukkan beberapa lembar uang. “ Ini uang tabungan saya semuanya, Pak, saya tak bisa memilih, Pak Han saja yang memilihkan sesuai harga kain itu, “ kata Indrajit pelan.

Kini pria tua itu menatapnya dengan hangat, “ Anak muda, hatimu sungguh mulia,bahkan kau menguras habis seluruh tabunganmu, bukan ? Seandainya semua anakku seperti engkau, betapa bahagianya aku sebagai ayah mereka….” Pak Han menatap langit – langit ruangan dengan pandangan menerawang. “ Nah, suatu kehormatan saya bisa memilihkan hadiah untuk Emakmu. Ini hadiah yang sangat tepat untuk beliau. Tejo ! Nanti langsung dibungkus dengan kertas kado ulang tahun ya ! “ kata Pak Han seraya menoleh kepada si lelaki beraut muka masam. Tejo sempat kaget karena sebelumnya berdiri dengan terkantuk – kantuk, lalu hanya menganggukkan kepala.

Tangan Pak Han dengan lincah bergerak di antara lembaran – lembaran kain. Kemudian ia berhenti pada selembar kain dan mencabutnya. Indrajit memandangnya dengan rasa tak percaya, “ Pak ! “ Pria tua itu menatapnya kembali dengan tersenyum, “ Nak, uangmu memang tak banyak, namun kebaikan budi dan rasa hormat kepada Emakmu itu sangat tiada ternilai harganya. Ini kain yang sangat tepat untuk beliau, silakan ajak ke tukang jahit yang baik. Oya sampaikan salamku kepada beliau ya, pasti beliau sangat bangga padamu, Indra ! “ Kain yang dipilihkan Pak Han adalah jenis batik tulis dengan warna coklat tua bermotif burung merak disulam dengan benang emas, dan harganya sesungguhnya benar – benar fantastis…..

Indrajit pulang saat rembulan benar – benar bertahta. Ia menyembunyikan kain yang sudah terbungkus rapi di balik kertas kado berikut sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun. Emak sudah tidur, tinggal Indira adiknya yang masih menonton acara televisi.

Rasanya begitu lama menunggu hingga pergantian hari. Ah, waktu sudah menunjukkan pukul 23.50, saatnya tiba. Ketika jarum tepat berada di angka 24.00, dengan berjingkat – jingkat, Indrajit membuka kamar tidur ibunya, meletakkan hadiah itu di meja kecil di samping tempat tidur. Indrajit pun hendak kembali ke kamarnya lagi.

Tiba – tiba terasa suatu nyeri tak tertahankan dari dalam tubuhnya seperti meledak dan ia pun menghambur ke kamar mandi. Tanpa bisa ditahan, cairan warna merah keluar dari mulutnya dan bau amispun memenuhi kamar mandi itu, ini bukan pertama kali terjadi, tapi lebih banyak terjadi di sekolah. Tak seorang pun tahu…

Indrajit kembali ke kamar tidurnya dengan rasa bahagia dan ia pun terlelap. Dalam lelapnya, ada suatu sinar yang sangat benderang, dan ia seperti berada di sebuah padang belantara yang dipenuhi bunga – bunga berwarna warni, dan ada seorang pria di sana dengan raut wajah bijaksana berkata, “ Indra, saatmu tiba, ayahmu sudah menunggu…..”

Keesokan harinya.

Seperti biasa Indira menggedor pintu kamar kakaknya,mengajaknya untuk naik bus bersama menuju sekolah, “ Kak ! Sudah siang ! Ayo berangkat, aku ada ulangan pagi ! “ Tak ada jawaban. Dengan hati – hati Indira membuka kamar tidur kakaknya, sedetik kemudian ia menjerit. Kakaknya masih dengan posisi tidur, tapi tubuhnya sudah dingin, dan ia tidur dengan tersenyum bahagia. Bahagia karena sebenarnya saat ini Indrajit sudah bercengkerama bersama Bapak di padang abadi, dengan dikelilingi bunga – bunga berwarna warni.


Terima kasih telah membaca cerita pendek mengharukan. Semoga cerpen diatas dapat menghibur dan bermanfaat bagi sobat Bisfren sekalian. Tetaplah semangat dan optimis dalam menjalani hidup. Jadikan segala peristiwa sebagai sumber inspirasi dan motivasi untuk mencapai sukses.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait