Senyum Laila

cerpen cerita pendek sedih

Senyum Laila adalah cerita pendek sedih tentang gadis desa cantik yang bersedih sejak ditinggal mati kakaknya sehingga hidup sebatang kara. Senyum indahnya tak lagi terlihat padahal seorang sahabat kecil telah berjanji untuk menjaga senyumnya.

Cerita Pendek Sedih – Senyum Laila

Ia bernama Laila, gadis berkerudung biru yang sering berlalu di depan rumah. Gadis berparas cantik, hidung mancung dan sedikit lesung pipi menjadi aksen kecantikan saat ia tertawa. Dan kau hanya bisa melihatnya dulu, ya tawa itu dulu, sekarang tidak lagi. Satu-satunya kecantikan yang banyak pria dan gadis lain lihat darinya hanya hidung mancung itu. Laila tak lagi mau menampakkan lesung pipinya. Tak banyak orang tau penyebab hilangnya tawa Laila.

Laila gadis berkerudung biru hanya menunduk menelusuri jalan depan rumah Abu, seorang lelaki muda tampan diidamkan banyak gadis desa. Tubuhnya tinggi , tegap dan putih mengalahkan pria-pria lain di desa dengan pekerjaan hampir sama, bergurau dilahan basah, bercocok-tanam, wirausaha budidaya, mencari selembar uang. Abu, guru ngaji anak-anak di desanya. Dia menghabiskan  waktu sepulang dari sawah di mesjid dari Ashar hingga selepas Isya. Dia sangat menyayangi anak-anak, kelembutan sikap dan  tutur katanya membuat anak-anak kecil di desanya gemar bermain dan bergurau mendengarkan cerita cerita Abu. Abu dikenal ahli dongeng bagi mereka, cerita-cerita yang penuh imajinasi namun mendidik anak-anak.

Abu dan Laila, memiliki sejarah sebagai teman kecil. Teman bermain, teman sekolah, teman ngaji dan teman berbagi. Abu juga dekat dengan Fatir kakak lelaki Laila. Mereka sering bermain kelereng bersama, tak jarang dulunya Fatir sering menggoda Abu dengan panggilan “adik ipar”. Masa kecil ya masa kecil, begitu pikir Abu. Namun seiring berjalan waktu, Abu dewasa melihat kecantikan Laila, Laila kecilnya kini telah bisa merias diri. Abu sadar ada gejolak tak bisa diartikan namun nyata dirasakan. Setiap melihat Laila dalam balutan kerudungnya Abu teringat ucapan Fatir sebelum kepergiannya, yang menjadi penyebab hilangnya senyum pada lesung pipi Laila.

Kekeringan melanda desa

“Abu, kau kupercaya menjaga senyum Laila, jangan biarkan ia hilang. Padamu besar harapanku adik ipar.”
Siang itu hari terpanas di musim kemarau. Matahari menantang, tanah persawahan retak-retak, tidak bisa ditanami. Tidak ada air mengaliri sawah, kering. Sungai-sungai yang mengelilingi desa menampakkan dasarnya. Ikan-ikan berlomba mencari air dalam menghindari kehadiran pemangsa.

Desa tampak sepi, tak ada yang berani keluar menjadi dendeng kering karna terik matahari. Mereka hanya dirumah mengunci diri, meratapi keadaan mengingat esok akan makan apa. Tanah tak bisa digarap. Ya kekeringan telah datang. sumber air menjadi berkurang. Harus jalan jauh tuk mendapat satu dua ember air pencuci beras, penyambung hidup.

Fatir duduk di dekat dipan kayu, Laila tertidur setelah meminum obat pemberian pak mantri. Di desa tidak ada dokter, bidan bahkan puskesmas. Mereka hanya mengandalkan mantri, dukun beranak, jika semakin buruk mencoba datang ke rumah Ki Rambutan, orang pintar, dukun paranormal.

Sudah dua minggu Laila demam, sejak musim kemarau datang semakin banyak warga terserang penyakit. Fatir mencoba mencarikan obat untuk mengobati Laila. Di rumah itu hanya ada Laila dan Fatir, orang tua mereka sudah meninggal sejak Laila masih bayi. Karenanya Laila hanya mengenal Fatir satu-satunya keluarganya. Dan Fatir bertanggung jawab menjaga Laila, termasuk ketika Laila sakit.

Laila sakit, Fatir harus mengambil air di sungai. Namun …

“dik, abang ke seberang dulu ya. Air di perigi sudah habis, belum ada buat menanak nasi” Fatir pamit meninggalkan Laila yang sedang sakit.

“Tidak tunggu sore sedikit lagi bang ? matahari masih tinggi, tentu masih panas jika berjalan sekarang” Laila berusaha duduk bersandar di atas dipan.

“Kalau sore tentu ramai orang mengambil air disana, abang takut tidak kebagian. Tidak mengapa sekarang saja, kau tidur saja dirumah .” Fatir menutup pintu membawa 2 ember besar dengan kayu di bahunya.

Laila kembali tidur ketika sakit kembali menderanya.Sore itu seakan mimpi buruk tengah menghantui, Laila yang tengah tertidur tiba-tiba mendengar suara riuh di halaman rumahnya. Suara itu berteriak memanggil Laila. “Laila….laila…laila…” seorang bapak berbadan besar dengan kulit hitam diterpa matahari menggedor-gedor pintu kayu yang mulai rapuh itu.

“Ada apa pak Dulah berteriak-teriak macam melihat hantu saja ?” Ujar laila membuka pintu kayu yang berderit saat digerakkan.

“Abang kau Laila, abang kau” pak Dulah masih panik mengabarkan Laila.

“Ada apa dengan abang Fatir pak?” Laila bingung, abangnya tadi pergi baik-baik saja.

Fatir tewas tergelincir di sungai berbatu

“Abang kau terjatuh di seberang, nampaknya ia akan pulang ke sini namun terpeleset. Dan ….. ia tak terselamatkan Laila, terlalu banyak darah yang keluar. warga sedang membersihkannya di balai desa. ” kabar itu menyentakkan Laila, membuat kepala yang sakit hilang entah kemana, kaki lemahnya semakin tiada.

Laila pingsan dan ketika sadar telah ramai warga dirumahnya. Jenazah Fatir telah dibaringkan di ruang depan. Bacaan Al-Quran menggema, do’a-do’a dipanjatkan. Tubuh kaku telah dibalut kafan. Laila merangkak, mendekat memeluk Fatir penuh airmata seakan menolak takdir, menangisi kehilangan kakaknya.

“Kenapa begitu cepat abang pergi ? bukankah Laila sudah bilang nanti sore saja abang ke seberang. Abang bilang tak mengapa, abang kan baik-baik saja. Tapi kenapa sekarang abang pulang dengan kain ini ?mana baju abang ? carikan Laila obat bang. Laila belum sembuh, badan Laila masih panas.” tangis haru kehilangan mengisi ruangan kecil itu,

“Telah pergi abang Fatir, telah pergi abang Laila pada siapa Laila akan menumpangkan hidup lagi bang ?”.

Senyumnya hilang bersama kepergian kakaknya

Tanah semakin kering, namun gundukan tanah yang menyemayamkan tubuh Fatir masih basah. Disirami air mata Laila. Di hitamkan duka, duka yang tak tau kapan berakhir. Senyum Laila telah hilang, seperti menghukum diri. Laila hanya diam , menyimpan duka di hatinya saja. banyak tetangga menawarkan untuk menjaganya namun Laila berlalu seperti angin yang tak ingin disimpan waktu.

Abu membersihkan rumput-rumput liar dihalaman ketika Laila melewati pagar rumahnya. Sudah lama Laila hanya lewat saja, berjalan menunduk melihat gerak kakinya menginjak tanah, menundukkan rerumputan. Tapi hari itu Laila menoleh ke arah Abu, melihat wajah Abu walau hanya sebentar sebelum akhirnya menunduk lagi. Abu tergerak untuk menghampirinya, sesuatu yang telah lama ingin dia lakukan, menyapa Laila, bermain dengannya.

Abu ingin memenuhi janjinya pada almarhum Fatir untuk menjaga Senyum Laila

“Laila, tunggulah barang sejenak. Duduklah di sini telah lama kita tidak bicara” ujar Abu memulai pembicaraan sambil menghampiri Laila. Laila nampak ragu mungkin ada sedikit rasa curiga. Dia berusaha melangkah namun ditahan Abu. “Adakah kebencian masih kau simpan terhadapku ?” Abu kembali berbicara sehingga akhirnya Laila berhenti, mengikuti permintaan Abu.

“Apa hakku membencimu Abu ? justru kau terlalu baik, tak ada satupun kesalahan pernah kau perbuat padaku.” walau tampak muram ucapan Laila membuat Abu sedikit tenang. “Lalu kenapa kau begitu berubah semenjak kepergian abang Fatir ?”.

Quotes kata bijak : Selalu ada yang berubah ketika kita ditinggalkan orang yang dicintai

“Harusnya tak perlu kau tanyakan penyebabnya Abu, sudah pasti akan ada yang berubah ketika kita ditinggalkan oleh satu-satunya yang kita miliki di dunia ini.” balas Laila menunduk ke arah bunga-bunga dihadapannya.

“Tapi melihatmu begini belum terbayarkan hutangku pada bang Fatir. Janjiku menjadi amanah harus kulakukan.” Abu memegang bahu Laila yang dibalas tatapan kesedihan Laila, namun ada kekuatan dalam dirinya.

“Ya aku tau Abu, janjimu pada bang Fatir. Nanti akan kusampaikan pada bang Fatir ketika kami berjumpa, bahwa kau telah menepati janjimu tuk menjaga senyumku. hari ini kau melakukannya Abu” balas Laila tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.

Sejak saat itu hari-hari Laila kembali penuh senyum. Sebuah janji telah ditepati untuk seorang calon penjaga hati.


Terima kasih atas kunjungan anda pada cerita pendek sedih senyum Laila. Semoga cerita sedih diatas dapat menghibur dan memberi manfaat bagi sobat Bisfren semua. Salam sukses.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait

1 Comment

  1. Ternyata bener neeh mbak nya pakai disqus. Minta tipnya dong cara buatnya? Oya artikelnya menarik tentang cerita-cerita? apa ada cerpen tentang pendidikan ya ?