Namun SenyumMu Tetap Mengikuti

cerita pendek inspiratif

Cerita pendek inspiratif (cerpen) tentang hidup seorang janda harus merawat anak serta orang tuanya sementara dirinya masih mengharapkan cinta datang dari seorang pria. Diangkat dari realitas kehidupan sehari-hari, silahkan simak cerpen berikut.

Cerita Pendek Inspiratif Namun SenyumMu Tetap Mengikuti

Namaku Lara, sehari-hari aku bekerja sebagai staff HRD disebuah perusahaan besar yang bergerak pada industri makanan. Sekalipun masa kerjaku boleh dikatakan sudah cukup lama, namun gajiku hanya 17 koma – maksudku setelah tanggal 17 mulai koma – alias tiris atau habis. Aku bertahan di perusahaan ini karena sulit bagiku untuk pindah keperusahaan lain dengan umurku yang sudah kepala empat.

Aku tinggal bersama ibuku yang sudah sepuh serta seorang anak lelaki dari pernikahanku dengan suamiku yang telah pergi menghadap Yang Maha Kuasa sekitar 15 tahun lalu. Kami tinggal disebuah perumahan tidak terlalu jauh dari tempatku bekerja. Butuh waktu 20 – 30 menit bagiku untuk mencapai kantor dengan sepeda motor kubeli secara kredit. Diriku sangat menyayangi mereka, ibu serta anakku, bagiku mereka adalah titipan Tuhan sehingga membuatku tetap tegar menghadapi beratnya kehidupan ini, semenjak kematian suami yang ku cintai.

Ibu dan anakku bagiku adalah segalanya. Seluruh kerja kerasku hanya untuk mereka. Senyum mereka seakan merupakan mujizat pengobat rasa lelah dan sakitku. Penat dan lelah seketika hilang bila melihat senyum mereka, mendengar tawa mereka, dan menatap mata mereka. Aku bangga kepada anakku. Dia tidak pernah mengeluh dan menuntut lebih dari apa yang ku mampu. Terkadang aku ingin menangis jika dia bercerita tentang sesuatu yang mungkin dia inginkan. Aku berusaha tetap tersenyum, mengajaknya berbicara topik yang lain dan kemudian meledakkan tangisku di kamar, pada malam hari.

Ibu yang kucintai kini semakin rapuh bahkan sulit untuk mengurus dirinya sendiri. Jika dulu saat kecil dia mengasuhku, kini aku baginya bagaikan seorang ibu yang mengasuh anaknya. Tapi aku ikhlas melakukannya, meskipun aku merasa terbebani. Tetapi aku ingat, tanpa Ibu tinggal bersamaku tidak mungkin dulu aku bisa merawat dan menjaga anakku hingga sebesar ini sementara aku bekerja mencari nafkah.

Kadang aku merasa iri dengan saudara-saudaraku. Mereka hidup bersama keluarga mereka tanpa terbebani kewajiban mengurus ibu. Mereka tidak pernah merasakan bagaimana rasanya mengurus ibu yang dulu mengurus dan mengasuh mereka. Sekalipun mereka tetap peduli dan tetap memberi bantuan dalam bentuk materi atau menjaga ketika ibu sakit, tetapi merawat secara langsung hampir tidak pernah mereka rasakan.

Pernah aku mengeluh kepada seorang teman baik yang aku kenal mengerti agama dan tekun beribadah tentang kehidupanku dan deritaku. Dia serius mendengarkan dan menjawab dengan senyum. “Seharusnya kau bangga dan berbahagia pada dirimu. Mengapa ?  Pertama … “, dia menjabarkan.

“Sementara orang lain sibuk bersedekah dengan pamrih setelah mendengar ceramah tentang keajaiban sedekah, dirimu sudah mendapatkan pahala sedekah sepanjang hidupmu. Semua hasil kerjamu yang kau katakan 17 koma, Insya Allah sudah mendapat pahala sedekah karena dirimu persembahkan seluruhnya untuk kebutuhan Ibu dan anakmu. Dan kamu mungkin sudah mengetahui, sedekah paling baik itu bukan sedekah saat rezeki kita berlebih tetapi keberanian kita bersedekah disaat dalam kekurangan. Mungkin pernah sehabis menerima gaji kamu ingin membeli sesuatu kau idamkan, tetapi kau urungkan karena ingin mendahulukan kebutuhan Ibu dan Anakmu. Pengorbanan begitu, Insya Allah sangat.. sangat bernilai dimata Allah”

“Yang  kedua. Kamu seharusnya berbahagia karena Allah telah meletakkan surga dihadapanmu. Ketika orang lain berusaha mencari syurga dengan berhaji, umroh, puasa sunah atau lain-lain. Kamu cukup merawat Ibu kamu sampai dia meninggal dan menjaga anakmu agar menjadi anak sholeh. Maka Rosululloh menjamin … dirimu akan mendapat surga dari Allah seperti dijanjikan Nya. Secara kasarnya, tanpa kamu perlu sholat sunnah dan puasa sunnah, tanpa kamu perlu bersedekah, tanpa kamu perlu ber haji. Cukup menjalankan perintah-perintah wajib saja serta merawat ibumu. Insya Allah syurga sudah menantimu.”

“Subhanalloh …!!!” ucapku, terhenyak.

“Coba cermati lagi. Mungkinkah kematian suamimu yang kau cintai adalah bagian dari rencana Allah untuk memberimu kesempatan meraih surga dengan mudah ? jika suamimu masih ada sekarang, mungkinkan dia bisa menerimamu merawat ibu yang sudah sepuh ? jika dia masih ada dan hidup kamu berkecukupan, tidakkah kamu akan memperlakukan ibumu seperti saudara-saudaramu ? Maha suci Allah yang telah menempatkanmu pada derajat sedemikian tinggi. Semoga kamu tidak mengabaikan dan menjadi lalai karenanya. Terimalah apa yang sudah menjadi bagian takdir kita dengan sabar dan tawakal. Jangan jadikan ujian sebagai penyebab dirimu dimurkai Allah, tapi jadikan setiap ujian untuk mencapai kedudukan semakin dekat dengan Nya“

Air mata menetes di pipiku. Apa yang dikatakannya adalah kebenaran semata. Sebagai wanita bukan tidak ada lelaki mencoba mendekatiku. Bahkan ada yang sudah sedemikian dekat serta meminangku. Tetapi selalu aja ada halangannya. Entah dari dirinya, dari diriku atau dari keluarga. Mungkin semua memang sebuah rencana besar Allah kepadaku. Mungkin semua adalah kebaikan Allah kepadaku. Yang tidak pernah kusadari. Yang kadang kutolak serta kusesali dalam khilafku sebagai manusia biasa.

Dalam hati aku berniat untuk bersujud dihadapan Nya malam ini. Memohon ampun atas segala kekhilafan dan ketidak-yakinan ku akan kuasa dan rencana Nya. Memohon ampun untuk almarhum suamiku, untuk ibuku dan anakku. Dan berdoa semoga senyum mereka selalu menyertai setiap langkahku. Menghilangkan letih serta penat. Mengobati sakit dan deritaku. Dan aku berjanji untuk menikmati setiap ujian hidup ini sebagai senyum dari Nya. Amiiiiiiin.(ea)


Terima kasih telah berkunjung juga membaca cerita pendek inspiratif Islami. Untuk mengapresiasi penulis, mohon bantu bagikan artikel ini kepada teman melalui facebook, twitter, google+ serta pinterest, Jangan lupa berikan jempol dan komentar anda. Baca juga cerita sedih kami lainnya.

Dibagikan

Eirjaf Aedara

Penulis :

Artikel terkait

3 Comments