Sepatu Butut Anakku

cerpen inspiratif keluarga

Sepatu butut anakku merupakan cerpen inspiratif keluarga tentang seorang seorang duda yang tidak memperhatikan anaknya namun kemudian menyadari kesalahannya setelah sang anak memperlihatkan prestasi di sekolah. Simak cerita pendek berikut :

Cerpen Inspiratif Keluarga – Sepatu Butut Anakku

Pagi itu aku buru-buru sekali, aku harus meeting dengan klien dan bos-bos besar, aku tidak boleh terlambat. Sementara meeting akan dimulai jam 8, jm 6 pagi aku sudah siap-siap. Karena perjalanan dari rumah ke kantor lumayan jauh.

“Ayah…nanti Ayah jadi datang ke sekolah Aryo kan Yah.” Tiba-tiba Aryo, anakku datang. Aku hanya diam, karena masih sibuk menyiapkan file untuk bahan meeting nanti. Aryo mengulangi pertanyaannya lagi bahkan ditambah dengan minta sepatu. “Ayah, jangan lupa nanti belikan sepatu buat Aryo ya yah…” Kali ini dia merengek-rengek dan mengguncang-guncang tanganku.

“Apa-apaan sih Aryo…” Bentakku sambil mengibaskan tangan Aryo. Mungkin karena terlalu keras, Aryo jatuh dan menangis. Aku semakin jengkel saja dengan tingkahnya. “Ayah nggak akan datang ke sekolahanmu, juga nggak akan belikan kamu sepatu!!” Ucapku keras sambil berlalu pergi, dan tangisan Aryo tak aku pedulikan. Begitu juga Mbok Nah, pembantuku yang mencoba menenangkan Aryo dan diriku. Ya karena istriku telah meninggal ketika melahirkan Aryo, 10 tahun yang lalu, jadi Aryo diasuh Mbok Nah. Mbok Nah sudah seeperti keluarga bagi kami.

Bagiku hari itu aku harus cepat-cepat datang meeting ke kantor. Karena hal itu sangat penting bagiku. Sampai di kantor aku datang lebih awal dari yang lain, dan kantor masih sangat lengang. Aku segera menuju ruanganku dan segera menyiapkan file. Sampai jam 9, belum ada tanda-tanda meeting akan di mulai.

Tiba-tiba aku teringat dengan kejadian tadi. Harusnya aku tidak bersikap kasar sama anakku, toh dia juga masih kecil. Menyesal sekali aku telah mengecewakan Aryo. Hingga akhirnya Fani, sekretaris kantor memberitahu kalau Bos dan klien minta meeting dilakukan besok pagi.

Tak perlu berpikir lama, aku langsung ijin untuk ke sekolah Aryo. Jarak kantor ke sekolahan Aryo lumayan dekat, jadi bisa aku tempuh dengan waktu singkat.

Sampai di sekolah Aryo, pintu gerbang sudah tutup. Segera aku hubungi satpam yang jaga, akhirnya aku dipersilakan masuk. Segera aku menuju Aula Sekolah. Rupanya acara sudah dimulai, dan para murid tampak didampingi orangtua masing-masing. Segera aku cari-cari sosok anakku. Dari sekian banyak murid aku kesulitan untuk mencari anakku, apalagi dengan seragam mereka tampak hampir sama semua.

Akhirnya aku masih berdiri di belakang, sambil pandanganku terus mencari-cari Aryo. Sebentar kemudian aku terkejut ketika MC menyebut nama Aryo Danar Kusuma, ya tak salah lagi itu anakku. Kulihat sosok kecil anakku berlari maju ke depan, diikuti teman-temannya.

“Inilah teman-teman kalian yang berprestasi di kelas 4, Aryo juara pertama, diikuti Wildan dan Fira, sebagai juara 2 dan 3.” Ucap Kepala Sekolah diikuti tepuk tangan para murid dan orangtua yang hadir.

Aku jadi terharu, tak kusangka Aryo berprestasi di sekolahnya. Tiba-tiba mataku tertuju pada sepatu Aryo, sepatu Aryo tampak butut sekali dibandingkan teman-temannya, bahkan sudah ada yang robek. Sementara kulihat sepatu teman-teman yang lain, begitu bagusnya dan bermerk. Ya Allah, orangtua macam apa aku ini, aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri. Sementara anakku tak kupedulikan, bahkan minta sepatu saja tak aku pedulikan.

Kepala Sekolah memberikan piagam dan hadiah kepada mereka. Kulihat wajah Aryo tampak murung dibanding teman-temannya. Segera aku maju kedepan dan memanggil namanya. “Aryooo!” Kataku sambil melambaikan tangan. Aryo tampak terkejut, lalu seketika wajahnya berubah menjadi gembira. “Ayahhhh…!” Aryo langsung berlari ke arahku dan langsung memelukku.

Aryo memelukku erat sekali, tampaknya tak ingin dia lepaskan, sepertinya dia rindu sekali padaku. Karena memang aku sering berangkat pagi dan pulang malam, jadi tidak sempat bertemu Aryo.

“Maafkan Ayah, Nak” ucapku sambil mengelus kepala anakku.

“Aryo senang sekali Yah, akhirnya Ayah bisa datang.” Ucap Aryo dengan gembira. “Ayah juga gembira bangga Nak.” Ucapku sambil tersenyum.

Akhirnya hari itu khusus kupersembahkan buat anakku. Kami ke pusat perbelanjaan, membelikan sepatu buat Aryo juga menemani Aryo bermain-main. Dan akhirnya setelah kecapekan kami makan bersama. Aku bahagia, karena akhirnya kami bisa menghabiskan waktu bersama. Momen yang sangat jarang kami lakukan. Hanya Aryo milikku satu-satunya dan aku berjanji akan menjaganya.

Aku tersenyum ketika Aryo mencoba sepatu barunya. Sekali lagi, maafkan Ayah nak.


Terima kasih telah membaca cerpen inspiratif keluarga. Semoga cerita pendek mini diatas dapat menghibur dan bermanfaat bagi sobat pemirsa laman Bisfren sekalian. Tetaplah semangat dan optimis, dalam kondisi apapun jangan abaikan keluarga kita. Karena berkat dukungan mereka secara langsung maupun tidak langsung kita dapat mencapai sukses.

Dibagikan

Anik Fityastutik

Penulis :

Artikel terkait