Setelah Sabtu Malam Berakhir

cerita motivasi hubungan

Setelah Sabtu malam berakhir adalah cerita motivasi hubungan yang berkisah tentang seorang remaja yang merasa sulit untuk diterima oleh teman-teman barunya. Bagaimana kisahnya ? simak pada cerpen berikut :

Cerita Motivasi Hubungan – Setelah Sabtu Malam Berakhir

“Aku nggak bahagia!” Kataku mantap. “Sekarang setiap masuk kantor aku nggak merasa bahagia. Aku nggak ketawa dan bercanda seperti biasa. Aku cuma diam dan terus bekerja. Ada yang salah sama aku, Nik!” Lanjutku tegas. “Apa yang salah? Kamu salah ngerjain tugas dari bos terus kamu dikasih nilai nol?” Tanya Nika sambil terkekeh kecil. “Nikaaaa! Aku nggak lagi bercanda!” Rengekku kesal.

“Terus apa dong yang buat kamu ngerasa kalau ada yang salah?” Tanya Nika kembali. “Ya, aku nggak tau, Nik. Aku nggak ngerasa kerjaan ini ngebebani, aku malah pengen kerjaanku ditambahin biar aku bisa lupa!” Kataku menjelaskan sambil terbata.

Aku berpikir sejenak sambil terdiam. Apa yang sebenarnya salah dari diriku? Aku sudah membulatkan tekad untuk tidak memikirkannya lagi. Tentang apapun dan tentang siapapun. Tapi, aku masih saja terus teringat sepanjang hari. Ini menjengkelkan. Sungguh menjengkelkan.

“Mau aku kasih tau sesuatu?” Tanya Nika membuyarkan lamunanku. Aku hanya mengangguk saja. “Kalau aku jadi kamu, aku datengin cewek itu dan tanya apa maksudnya!” Aku kaget dengan kalimat Nika. Sifat Nika yang agak frontal membuatnya berani mengambil langkah lebih dulu daripada aku.

“Aku nggak tega, lah kayak gitu sama dia. Kalau dia nangis dan belagak gak ada apa-apa gimana? Kan aku yang dosa namanya. Udah mendzolimi orang lain!” Jawabku tegas.

“Ya, makanya aku bilang kalau aku jadi kamu! Kan aku nggak nyuruh kamu ngelakuin itu!” Jelasnya santai.
Selesai meneguk es soda pesanannya, Nika kembali melanjutkan kalimatnya tadi.

“Kalau kamu emang ngerasa hal itu terlalu frontal ya kamu pake cara lain. Yaitu dengan masa bodoh sama apa yang dia dan teman-teman jahatnya lakuin. Sembari itu kamu bisa mengisi waktumu untuk memperbaiki diri.”

Mendengar penjelasan Nika aku merasa ada ronggah di hati ini. Rasa tak terima namun berusaha ingin segera melupakannya. Ini sangat berat bagiku. Susah payah kukumpulkan satu persatu orang untuk menjalin pertemanan. Namun aku mereka berbalik menjadi musuh ketika salah seorang merasa tersakiti. Lalu bagaimana denganku? Aku justru sangat tersakiti. Sampai hanya menyisakan satu teman yang mau mempercayai.

“Aku tahu kamu kurang setuju sama pendapatku, tapi itu adalah jalan terbaik ketika diantara kalian tidak ada rasa untuk saling terbuka dan memperbaiki!” Jelas Nika saat melihat ekspresiku.

“Aku kan sedang berusaha menperbaiki. Malah hanya aku yang luntang-lantung ingin memperbaiki. Aku nggak suka sama mereka yang ikut-ikutan memusuhi seolah-olah mereka adalah korbanku! Mereka nggak dewasa, Nik! Mereka nggak bisa jadi pendengar yang baik!” Belaku dengan kesal.

“Nah, sekarang kamu jadi tahu kan sifat mereka. Yaudah orang-orang kayak gitu ya ditinggalin aja. Mereka nggak ngasih makan kamu, mereka nggak biayain keluargamu, mereka nggak ngerjain pekerjaanmu dikantor. Lalu untuk apa kamu menyesali orang-orang seperti itu? Cuma rasa dengki dan sakit hati yang bakal ada disekelilingmu.” Jawab Nika tegas.

Malam ini Nika benar-benar mepertegas setiap perkataannya. Menuntut perasaan dan pikiranku untuk bersikap tegas dan berubah.

“Tapi, tapi kan.. Tapi diantara mereka itu ada orang-orang yang pernah temenan sama aku. Pernah kemana-mana bareng, pernah sama-sama…pernah…” Kata-kataku terhenti. Linangan air mata turun membasahi pipiku yang mulai panas. Aku tertegun. Terisak dalam lamunanku. Meneruskan kalimatku di dalam hati. Kami pernah bahagia bersama, sedih dan kesal bersama. Lalu kenapa kali ini kita tidak sakit hati bersama-sama?

Pertemananku dengan mereka memang belum selama dengan Nika. Walaupun masih seumur jagung tapi kami pernah dekat dan menciptakan rasa untuk saling menyayangi dan melindungi. Lalu kemana rasa itu pergi? Apakah keegoisan yang membawanya terbang dan tak kembali?

“Sa, kamu ingat kan kita berteman sudah memasuki satu dekade? Dan selama itu apa aja yang udah kita lalui? Banyak, Sa! Kita ketawa, sedih, marahan, sedih lagi, balik temenan lagi, ketawa lagi, sedih lagi. Semua itu kita lewati dalam kurun waktu yang nggak sebentar. Coba aku tanya kamu, apa sih yang belum pernah kita rebutkan?”
Aku menggeleng sambil berpikir. Rasanya kami pernah memperebutkan hal kecil sampai hal besar yang tak bisa kuungkapkan secara terang-terangan.

“Kita memperebutkan bahkan menperdebatkan apapun. Saat sama-sama sampai dipuncak kekesalan akhirnya kita juga sama-sama diam. Kita bahkan nggak bertegur sapa selama beberapa waktu. Pada akhirnya kita sama-sama lelah dan berinisiatif untuk kembali dekat. Kamu ingat apa yang kamu ucapakan saat itu?” Tanya Nika dengan mata mulai beekaca.

Aku mengangguk kembali. Aku tak menjawabnya dengan suara. Aku sudah tak mampu berkata-kata.
“Kamu bilang… Waktu nggak akan pernah membuat kita lupa dengan yang terjadi dimasa lalu, begitu juga dengan kita yang sekarang. Kita nggak akan pernah bisa kembali seperti dulu. Kita nggak bisa menoleh kembali ke belakang. Karena disana udah nggak ada kamu ataupun aku.”

Sejenak kata-kata Nika membuatku mengingat masa lalu. Tentang hal luar biasa yang pernah kami lakukan. Kesalahpahaman yang membuat dua anak muda berlajar akan arti dewasa.

Nika melanjutkan, “Terus kamu bilang dengan tegas, Aku nggak dendam sama kamu tapi aku ingat dengan apa yang kamu lakuin ke aku. Denger kata-kata itu keluar dari mulut kamu dan lihat ekspresi kamu yang nggak nangis sama sekali, saat itu aku ngerasa takut sama kamu. Aku takut kamu bakan memalingkan wajah dengan ekspresi itu. Ekspresi yang buat aku menyesal udah menyakiti hatimu. Aku takut kamu nggak mau temenan lagi sama aku.”
Nika mengusap air mata yang jatuh di pelipis matanya. Dengan sadar aku mengingat masa lalu kami. Saat aku mengatakan kalimat itu pada Nika.

Kami adalah dua orang remaja tingkat atas yang sedang dalam kehancuran. Hati kami sama hancur dan merasa dikhianati. Aku ingat betul ketika menemui Nika dikelas dan mengajaknya keluae sebentar. Untuk pertama kalinya kami bertengkar hebat. Lapangan basket yang membisu menjadi saksi erangan tangis kami. Saat itu aku benar-benar merasa kehilangan sosok Nika. Nika yang selalu ku anggap lebih dewasa dariku mematung ketika aku mengatakan kalimat tersebut. Lalu dia menangis seperti sekarang. 7 tahun yang lalu sosok Nika yang menangis dihadapanku dengan seragam sekolah yang kedodoran berganti dengan Nika yang dengan sangat dewasa menyadarkanku dari keterpurukan saat ini.

Kuamati sosok Nika dalam-dalam. Apa yang pernah kita alami lebih berat 10 kali lipat dari yang ku alami saat ini. Lalu kenapa aku harus bersedih terlalu lama sperti ini?

“Sudahi sekarang, Sa. Sudahi kesedihanmu yang nggak ada artinya ini. Memulai pembicaraan memang baik, namun ketika hanya satu orang yang mau terbuka dan nggak disambut baik dengan lawan bicaranya. Lalu untuk apa dipertahankan? Semua hanya akan jadi sia-sia, Sa! Biarkan, Sa! Biarkan saja mereka berlalu seperti angin yang berhembus. Hanya lewat tanpa arti. Kosong, Sa. Kosong. Sudahi sedihmu, kamu tidak salah. Tidak ada yang salah pada otakmu. Ini adalah proses untuk jadi matang. Berikan waktu pada tubuhmu untuk istirahat, biarkan otot-ototmu melemas. Jadwal yang padat hanya akan membuatmu lelah tapi nggak akan buat kamu lupa.”
Nika benar. Jadwalku terlalu padat. Sangat padat hingga membuatku ingin muntah. Selain menyakiti hatiku ternyata aku juga menyakiti ragaku sendiri.

Waktu tidak akan membuat kita lupa akan kenangan ini. Aku berusaha mebuka diri namun tak juga disambut. Waktunya untuk menyudahi. Tinggalkan, bangkit dan terus maju.


Terima kasih telah membaca cerita motivasi hubungan. Semoga cerpen diatas bermanfaat dan menghibur hati sobat Bisfren sekalian yang tengah dirundung kegalauan dalam menjalin hubungan pertemanan. Tetaplah semangat dan optimis. Yakinlah bahwa sukses akan segera menghampiri jika kita senantiasa berpikir positif dan bersikap terbuka.

Dibagikan

Shinta Saragih

Penulis :

Artikel terkait