Setia

cerita pendek cinta sejati seroang istri

Setia merupakan cerita pendek cinta sejati tentang seorang wanita yang merindukan suaminya karena harus tugas berpindah-pindah daerah, sementara dia tidak bisa mengikuti tugas suami karena bertugas mengajar. Dalam cerpen ini, penulis mencoba menyampaikan pesan betapa berharganya kesetiaan seorang wanita. Silahkan simak pada cerita pendek berikut.

Cerita Pendek Cinta Sejati – Setia

Keberadaan pria tua di lampu merah itu awalnya luput dari perhatianku. Bagaimana tidak ? Aku selalu menggerutu setiap kali terjebak di lampu merah; panas, gerah, berdebu, belum lagi terkadang ada beberapa pria jahil yang bersiul atau berkedip ke arahku, seakan mereka tak melihat cincin emas yang melingkar di jari manisku, atau mungkin mereka tak peduli. Namun lama-kelamaan keberadaan pria itu mulai mengusikku dan menimbulkan rasa penasaran yang besar. Pasalnya dia selalu ada di sana, entah itu pagi, siang, maupun malam. Apa yang dia lakukan? Dia bukan peminta-minta, pakaiannya lumayan bagus. Dia juga bukan pengamen, aku tak pernah melihat dia memainkan gitar atau menyanyi untuk meminta uang. Dia bukan loper koran, dia bukan pedagang asongan, dia bukan pemulung, dan dia juga bukan patung !

Lampu merah berganti warna menjadi hijau, mobil di belakangku membunyikan klakson, menyadarkanku dari lamunan, akupun memutar stang kananku dan sepeda motorku melaju perlahan di persimpangan Jl. Dewi Sartika dan Jl. Ahmad Yani. Aku mengendarai sepeda motorku lurus ke selatan ke arah Kampus Tengah Undiksha, tempatku mengajar.

Rekan-rekan kerjaku bilang sebaiknya aku berhenti mengendarai sepeda motor ke kampus dan mulai beralih menggunakan mobil, namun aku selalu menemukan alasan untuk menolak saran mereka. Aku tak punya uang! Iya, walaupun gajihku sebagai dosen lumayan besar, mobil bukanlah sesuatu yang bisa kumiliki dengan mudah. Aku harus berhemat demi mencukupi kebutuhan keluarga kecilku, aku dan kedua anak kembarku yang sekarang masih duduk di bangku TK 0 besar. Sebentar lagi mereka akan tamat TK dan masuk SD. Aku harus benar-benar berhemat supaya bisa menyekolahkan mereka di sekolah dasar yang bagus.

Ah… seandainya suamiku ada di sini. Seandainya dia di sisiku, tentu semuanya akan menjadi lebih mudah. Aku merindukanmu Wi, aku sangat merindukanmu….

Suaminya bertugas berpindah-pindah daerah, sementara hatinya merindu dan menjadi ragu

Suamiku adalah seorang tentara angkatan darat. Dia selalu berpindah – pindah tempat tugas, terkadang di provinsi A, beberapa bulan kemudian pindah ke provinsi B, lalu ke provinsi C, dan sesekali dia dikirim ke luar negeri untuk membantu negara lain yang sedang perang. Dia sibuk ! Sangat sibuk ! Sampai – sampai tidak punya waktu untuk kami, orang – orang yang sangat memerlukannya. Medan perang adalah rumahnya. Senjata api, bubuk mesiu, dan granat adalah keluarganya. Sementara aku dan anak – anak kami ditelantarkan begitu saja. Dia hanya mengirim surat sekali dalam beberapa bulan, itupun hanya untuk mengabarkan di provinsi mana dia bertugas.

Aku memutar – mutar cincin yang selama hampir 10 tahun ini melingkar di jariku. Aku ragu, haruskah aku melepasnya atau membiarkannya tetap menjalankan tugasnya untuk mengikat hatiku ? Aku mencintai suamiku, itu tak perlu dipertanyakan. Namun, apakah cinta cukup? Negara memang memerlukannya, tapi aku jauh lebih membutuhkannya. Sudah tiga tahun berlalu sejak terakhir aku melihatnya; kehadirannya yang sangat jarang sangat menyiksaku. Aku sudah tidak tahu apa aku masih sanggup menjalani ini.

Aku termasuk wanita yang lumayan menarik. Umurku memang sudah tak tergolong muda lagi, sudah berkepala tiga, namun masih banyak pria yang tertarik padaku, termasuk rekanku sesama dosen di Undiksha. Tidak sedikit pria yang menunjukkan ketertarikan mereka padaku secara terang – terangan, salah satunya adalah Mas Doni. Dia adalah seorang duda berusia 38 tahun, bekerja sebagai dosen sekaligus dekan salah satu fakultas di universitas tempatku mengajar. Dia memberikanku perhatian dan kasih sayang yang tak pernah kudapatkan dari Wi Agus, suamiku. Dia bahkan mengatakan akan melamarku dan bersedia menjadi ayah yang baik untuk anak-anakku.

Tanpa tersadar cincin yang tadi aku putar – putar sudah terlepas dari jariku, jatuh ke lantai, menimbulkan bunyi kecil yang mengejutkanku. Mungkin aku harus melepaskannya. Mungkin inilah yang terbaik. Maafkan aku Wi…

cerpen kesetiaan cinta
Cincin kawin

Seorang pria di bawah pohon kamboja

Pria tua itu masih di sana. Duduk di bawah pohon kamboja di dekat zebra cross. Dia menatap lurus ke seberang jalan, seolah menantikan seseorang. Kali ini rasa penasaranku sudah memuncak. Akupun menepi dan turun beberapa meter dari tempat pria itu duduk, lalu aku berjalan mendekatinya.

“Selamat malam, Pak.” Sapaku ramah.

Dia menoleh ke arahku, aku bisa melihat kehampaan di sorot mata senjanya.

Dia diam membisu, membuatku salah tingkah. Mungkin tak seharusnya aku melakukan ini. Akupun menunduk.

“Selamat malam.” Kata – katanya membuatku mengangkat kepalaku. Dia membalas sapaanku!

“Maaf mengganggu Bapak, saya hanya penasaran kenapa saya selalu melihat Bapak duduk di sini. Apa yang Bapak lakukan di sini?”

Pria itu menunjuk ke seberang jalan, “Saya menunggu istri saya.” Jawabnya.

Aku menoleh ke arah yang ditunjuk pria tadi, namun aku tak melihat siapapun, hanya beberapa kendaraan yang terjebak lampu merah, “Yang mana, Pak?” tanyaku.

“Itu… di seberang jalan. Saya tidak sengaja duluan menyeberang. Sekarang saya menunggunya.”

Aku memperhatikan dengan seksama, namun aku tak melihat siapapun. Perasaanku mulai tidak enak, sepertinya orang ini orang gila. Akupun menaiki sepeda motorku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Kenapa pemerintah kota Singaraja membiarkan orang gila ini di sini? Apakah bapak itu tidak punya keluarga?

Aku berusaha menyingkirkan bayangan pria tua gila itu dari kepalaku. Ku percepat laju sepeda motorku menuju rumah makan Manalagi untuk makan malam bersama Mas Doni. Aku sudah memutuskan akan memulai sebuah hubungan serius dengannya karena tidak ada gunanya aku menunggu Wi Agus.

Calon selingkuhanku sudah menunggu

“Inten…” Mas Doni melambaikan tangan ke arahku. Dia duduk di meja no. 5. Aku tersenyum dan berjalan ke arahnya.

“Inten, kamu kelihatan pucat, ada apa?”

“Nggak ada apa – apa kok.”

“Aku sudah mengenalmu sejak lama Ten, aku tahu kamu lagi ada masalah. Ayo ceritain ke aku, bagaimanapun juga aku kan calon suamimu.” Tangannya meremas tanganku.

“Kamu tahu pria tua di dekat lampu merah?”

“Lampu merah di depan Kampus Bawah?”

Aku mengangguk.

“Ceritanya sangat menyedihkan. Kamu mau dengar ?”. Aku mengangguk sekali lagi.

Kisah lelaki tua di bawah pohon itu, dan cerita itu menyadarkanku akan pentingnya sebuah kesetiaan

“Sekitar 5 tahun yang lalu bapak itu dan istrinya baru pulang dari Pasar Banyuasri. Mereka menyeberang di lampu merah di depan Kampus Bawah. Bapak itu tampaknya menyeberang lebih dulu, sedangkan istrinya masih di seberang jalan. Waktu istrinya mau menyeberang, ada mobil melaju kencang dari Jl. Dewi Sartika Selatan. Mobil itu menabrak istri bapak tadi. Sejak kejadian itu, bapak itu menjadi kurang waras. Dia selalu merasa istrinya masih di seberang jalan, jadi dia menunggunya; selalu menunggunya walaupun dia tahu kalau istrinya tidak akan pernah kembali lagi.”

Air hangat merembes keluar dari ujung – ujung mataku, menetes perlahan membasahi kedua pipiku. Aku berdiri, “Maafkan aku, Mas.” Aku melepas cincin pemberian Mas Doni dan menaruhnya di genggaman tangannya, “Aku nggak bisa meninggalkan Wi Agus.”

Aku berlari keluar rumah makan, tak mempedulikan Mas Doni yang mengejarku. Ku kendarai sepeda motorku, kembali ke rumah.

Aku mengambil cincin pernikahanku dan memasukkannya kembali ke jari manis tangan kiriku. Betapa rendahnya diriku bila dipandingkan pria tua itu. Dia dengan setia menunggu istrinya walaupun istrinya itu tidak akan pernah kembali lagi, sedangkan aku? Dengan mudahnya aku jatuh ke pelukan lelaki lain!

Air mataku masih bercucuran dengan deras, aku merasa sangat hina. Aku merasa malu. Dulu saat Wi Agus akan pergi bertugas, dia memberikanku pilihan, menunggunya atau melupakannya. Aku meyakinkannya kalau aku akan setia menunggu. Aku bersumpah akan menunggu sampai dia kembali. Aku bersumpah akan menjaga kesucian cinta kami. Ke mana perginya kepercayaan diriku saat itu?  Sebegitu murahkah arti kesetiaan ?

Aku mencium cincin yang kini melingkar dengan indah di jariku, mengikat hatiku, “Aku akan menunggumu Wi. Aku akan selalu menunggumu….”


Terima kasih telah membaca cerita pendek kesetiaan cinta sejati karya Ayu Purnayatri. Semoga cerpen diatas dapat menghibur sekaligus memberi motivasi untuk terus menjaga hubungan serta kesetiaan.

Dibagikan

Ayu Purnayatri

Penulis :

Artikel terkait