Si Pencari Alamat

cerita pendek kisah nyata

Si pencari alamat adalah cerita pendek kisah nyata tentang seorang lelaki tua mencari alamat teman lamanya, meski akhirnya ditemukan, namun sang teman menolak mengakui dia adalah temannya. Kisah yang terinspirasi dari kejadian nyata ini ditulis oleh Taufik Ramadhan untuk anda. Simak selengkapnya cerpen inspiratif berikut.

Cerita Pendek Kisah Nyata – Si Pencari Alamat

Hari Minggu cerah, walaupun awan masih terlihat sedikit mendung, bekas sisa – sisa hujan lebat tadi malam. Kondisinya sudah lebih dari cukup bagiku untuk bekerja diteras rumah demi mengejar pekerjaan partisi alumanium untuk depot air minum karena sudah mencapai tenggat waktu. Besok, Senin pagi semua harus sudah dikirim kepada pemiliknya untuk segera dirangkaikan dalam satu kesatuan jaringan Instalasi Depot. Jadi mau nggak mau harus dikerjakan ekstra cepat agar pekerjaannya bisa selesai sebelum sore hari nanti. Diriku tidak mau lembur lagi, badanku sudah terlalu capek 3 selama hari begadang malam terus.

“Abang nggak mendonorkan darah ? Kan warga dikampung kita sedang ada bakti sosial penggalangan donor darah dari PMI cabang Kabupaten Deli Serdang”. Istriku bertanya sambil membawa secangkir kopi hitam serta sepiring Nangka digoreng berlumur tepung beras, kemudian meletakkannya pada meja kecil di sudut teras. Kemudian tubuhnya duduk menyandar di kursi plastik sambil memperhatikanku yang duduk dilantai, masih sibuk dengan pekerjaanku.

“Malaslah dek, lain kali saja. Lagian pekerjaanku saja sudah cukup membuatku seperti dikebiri.”. “La tempo hari katanya pengen ngedonorin darah biar sirkulasi tekanan darahnya stabil dan enteng, kebetulan dekat rumah ada malah nggak mau..”

“Iya sih, tapi lain kali aja deh, langsung ke PMI pusat saja di Medan, seperti dulu. Abang repot sekali nih, apalagi kondisi badanku kan kurang begitu fit, masih capek..”

“ya udah kalo begitu, akukan cuma ngingatin aja. Ya udah bang, kopinya diminum mumpung masih panas. Sekalian sama gorengannya, aku mau kedapur, banyak pekerjaanku harus ku kerjakan lagi”.

“kamu itu ya, urusan dapurmu kayaknya nggak pernah ada selesainya, ya mbok hari minggu libur dulu gitu lho, temenin suamimu sedang bekerja nih”.

“walah bang-bang, ya mana ngerti urusan –urusan kayak beginian, nggak bidangku”.

“Lha kan abang nggak nyuruh kamu kerja bantuin, cuma nemenin aja”.

“huh Maunya, ya udah kalo mau terima konsekwensi resikonya. Baju sekolah anak-anak nggak dicuci, terus siap–siap nggak makan, aku siap nemenin kamu seharian”

“nah – nah, mulai ngancam nih, ya sudahlah kembalilah kau ke habitatmu”, kucolek hidungnya. Bibirnya masih tersenyum simpul berusaha mengelak, namun gerakanku masih lebih cepat dari elakannya. Begitu ujung jari telunjukku mengenai hidungnya terlihat bekas hitam dari tanganku dikulit hidung putihnya. Kami tertawa.

Rehat dulu dari pekerjaan minum kopi dan nangka goreng

Aku minum air kopi masih terasa hangat lalu memakan nangka goreng. Kepalaku manggut-manggut menandakan betapa nikmatnya suguhan cemilan pagi darinya. Sungguh istri baik hati, hatiku bangga memiliki istri sebaik dirinya.

Aku hendak meneruskan pekerjaan. Istriku akan segera beranjak dari duduknya menuju kedalam rumah, manakala kami lihat seorang lelaki tua berumur sekitar 50an masuk halaman rumah kami. Melihat ada tamu datang akupun bangkit berdiri kemudian menghampirinya. Dari raut wajah lusuh serta nafas tersengal–sengal, bisa kubaca betapa Bapak ini terlihat capek lagi lelah. Sepertinya habis berjalan kaki dengan jarak sangat jauh. Pakaian dikenakannya serta Sendal kulit dipakainya terlihat sangat sederhana, bahkan terkesan sangat memprihatinkan. Tangan kanannya sedari tadi memegang secarik kertas kecil. Seperti sudah bisa membaca situasi, kucoba bertanya kepadanya.

“Bisa saya bantu, pak ?” kataku berusaha bertanya dengan ramah. Hampir sepuluh detik sejak pertanyaanku terlontar, belum ada respon jawaban darinya. Sepertinya ia masih berusaha mengatur nafasnya masih belum stabil, sementara diriku berusaha maklum bersabar menunggu.

“Saya ada mau minta tolong menanyakan alamat nak, boleh ?”. Akhirnya orang tua tersebut mulai berbicara. Merasa tebakanku benar, akhirnya kucoba tersenyum.

“Oh ya pak, boleh – boleh, silahkan”.

Alamat yang dicari pak tua itu membingungkan

“Saya ingin menanyakan alamat, saya sudah berusaha bertanya, tapi belum ketemu. Orang–orang bilang tak ada nama orang saya cari disekitar sini. Alamatnya memang benar, tapi nama orangnya tak ada disini. Tolonglah nak, mana tahu anak bisa membantu” ujar si Bapak sambil menyodorkan secarik kertas dipegangnya sedari tadi. Kuambil kemudian membuka lipatan kertas tersebut, disitu tertulis tulisan :

Ismed, Gang Kapuk Dekat Mesjid di belakang Puskesmas Pasar 10 Tembung.

“Hemm, sebuah alamat membingungkan pak, pantas orang orang yang bapak tanya nggak ada orang tahu, saya juga kayaknya nggak tahu nih pak”. Kukembalikan kembali secarik kertas tersebut kepadanya. Kulihat ada perubahan ekspresi wajah darinya. Sebuah ekspresi kekecewaan bercampur kelelahan sangat dalam membuatku jadi tak begitu tega untuk langsung memvonisnya dengan sebuah ungkapan “tidak tahu”. Tapi memang sejujurnya kuakui, alamat tersebut benar–benar sangat membingungkan.

“Begini pak, saya coba bantu jelaskan. Jalan ini memang benar bernama Gang Kapuk, tapi masuk kedalam lingkungan Pasar 9 Kota Tembung. Mulai dari awal bapak masuk ke Gang kapuk sampai mentok ke ujung gang kapuk memang benar ada sebuah Mesjid, tapi orang bernama Ismed memang nggak ada disini. Dan Puskesmasnya pak, bukan berada pada lingkungan Pasar 10. Kira–kira 1Km dari sini, nah disana ada jalan bernama jalan Puskesmas, nah disitulah Puskesmas tersebut berada. Didekat Puskesmas memang ada Mesjid, tapi setahu saya disana tidak ada nama jalan atau gang bernama Kapuk, Gang Kapuk adanya cuma disini pak.”

“Oh begitu ya nak, memang saya sudah tanya kesemua orang namun jawabannya memang sama persis seperti yang kamu bicarakan barusan”.

“Bapak punya nomor telepon si Ismed ?”.

“Itu dia nak, saya nggak punya nomor teleponnya. Tapi menurut kabar, setahu saya dia dulu pernah membangun Mesjid yang berada didekat tempat tinggalnya”.

“Membangun Mesjid, maksud bapak dirinya pemborong bangunannya atau pemilik dana pembangunanya ?”.

“Itulah nak, saya nggak tahu, saya cuma tahu dia membangun mesjid dekat rumahnya”

Wah sebuah jejak sangat sulit dicari, setahuku tidak pernah mendengar orang bernama Ismed sebagai donaturnya dan begitu pula pemborong bangunannya.

“Bang coba arahkan saja si Bapak ke Puskesmas di Pasar 10 saja, mana tahu mungkin dulu Yang namanya Ismed pernah berhubungan tinggal di gang kita atau mungkin juga ada berhubungan dengan didekat seputaran Puskesmas tersebut, disana kan ada Mesjid juga. Mana tahu disana ada namanya Ismed”.

Istriku rupanya sedari tadi menyimak berusaha memberikan sarannya kepadaku. Kepalaku manggut-manggut mendapatkan masukan langsung mengerti.

“Baiklah Pak, begini aja, coba bapak mencarinya di Jalan Puskesmas Pasar 10 saja, mana tahu disana orang bernama Ismed ada” kucoba menyampaikan saran diberikan istriku tadi kepada bapak tua tesebut.

“Jalan Puskesmas Pasar 10 kalau dari sini arahnya dari mana kemana ya nak ?”. Bapak tersebut kembali bertanya kepadaku. Kelihatannya diirnya memang sama sekali buta pada wilayah seputaran tempat tinggallku. Dengan penuh kesabaran juga rasa simpati mendalam kucoba menjelaskan kepadanya secara mendetail sekaligus gampang diingat. Syukurlah dari goyangan kepalanya membuatku merasa yakin dirinya sudah cukup mengerti.

“Baiklah nak, bapak akan coba mencarinya. Terima kasih banyak atas bantuannya”.

“Iya pak, sama – sama, semoga cepat ketemu ya pak. Tapi nanti dulu pak, bolehkah saya bertanya sedikit kepada bapak ?”.

“Ya apa itu ?”.

“Sebenarnya orang bernama Ismed siapanya bapak ?”. Kucoba menanyakan sebuah pertanyaan yang sedari tadi telah membuatku penasaran.

“Oh ya, Ismed masih ada hubungan keluarga dengan saya nak. Walaupun bukan hubungan garis keluarga sebenarnya. Cuma keakraban kami sudah seperti hubungan keluarga nak. Dan setelah kami sangat lama berpisah, akhirnya saya mendengar dia sekarang tinggal di daerah kota Tembung, jadi sekarang saya ingin bersilaturahmi dengannya nak..”.

“Oh begitu rupanya ya pak, Baiklah, semoga cepat ketemu ya pak alamatnya”

“Iya nak, terima kasih”

Akhirnya dia meninggalkan pekarangan halaman rumah setelah mengucapkan terima kasih serta perpamitan kepada kami. Mata kami terus memandangi kepergiannya. Jalannya tertatih tatih berusaha tegak dipaksakan membuat hatiku sedikit miris. Kenapalah harus berjalan kaki sendirian membawa alamat tidak begitu jelas, tanpa nomor telepon bisa dihubungi. Seharusnya didamping seorang teman dengan berkendaraan minimal sepeda motor dalam rangka pencariannya agar tidak terlalu melelahkan berjalan kaki. Untung cuacanya masih sedikit mendung, tak bisa dibayangkan betapa letihnya jika berjalan dibawah cuaca panas terik.

Kuhela nafas panjang, kulihat istrikupun segera beranjak masuk kedalam rumah setelah sosok tersebut pergi semakin menjauh dari pandangan kami. Akupun segera duduk kembali diteras depan rumah. Mengambil kembali beberapa perkakas kerja lalu melanjutkan aktifitas pekerjaan sempat tertunda. Dalam hati terus saja berdo’a semoga saja dirinya segera menemukan alamat dicarinya.

Hampir dua jam berlalu pasca kepergian bapak pencari alamat tadi. Pekerjaanku sudah 70% persen rampung, perkiraanku sebelum sore hari, pekerjaanku akan selesai. Syukurlah akhirnya malam nanti bisa beristirahat dengan tenang setelah perjuangan begitu melelahkan selama tiga hari.

Kuhabiskan air kopi sudah bercampur dengan ampasnya dalam gelasku. Begitu ampas kopi mulai ikut masuk kedalam mulutku, tenggorokanku langsung merasa kurang nyaman. Mulutku berteriak memanggil istriku didapur, memintanya agar mengambilkan segelas air putih hangat untukku. Terdengar sebuah teriakan jawaban darinya bahwa permintaanku akan segera datang, hatiku lega.

Tanganku segera mengambil sepotong nangka goreng tinggal tersisa dua potong lagi lalu langsung memasukannya kedalam mulut. Hampir saja habis tertelan, mataku menangkap sosok seorang laki-laki masuk kedalam pekarangan rumahku. Mulutku seketika berhenti manakala sosok tesebut adalah bapak tua pencari alamat tadi. Diliputi rasa penasaran mendalam, secepatnya kukunyah lalu menelan sisa gorengan dalam mulut.

Sekarang penampilannya telah benar–benar lusuh lagi kucal. Kulit wajahnya menghitam terlihat mengkilat seperti berminyak karena dipenuhi keringat bercucuran dari atas dahinya. Mimik wajahnya sudah tidak malu–malu lagi menunjukkan betapa sangat lelah tubuhnya.

“Sudah ketemu alamatnya pak” ujarku bertanya kepada si bapak tua itu.

“Ah, belum juga ketemu nak. Capek bapak bertanya kesana-kemari dilingkungan Pasar 10. Tetap saja mereka tak mengenal temanku Ismed”, jawabnya dengan suara masih terlihat lemah.

“Bapak sudah masuk kedalam jalan Puskemas lalu bertanya diseputaran Mesjid dekat Puskesmas ?”.

“Saya memang nggak masuk sampai dalam jalan Puskesmasnya, cuma bertanya di seputaran simpang tiga depan jalan Puskesmas. Beberapa orang saya tanya mengatakan tidak ada nama Ismed di sepanjang jalan Puskesmas. Mereka mengatakan kepadaku percuma kalo masuk kedalam jalan untuk mencarinya. Malah mereka menyarankan agar mencarinya kembali secara teliti di Gang kapuk lagi”.

“lho kok nggak mencoba mencarinya kedalam Jalan Puskesmasnya sih pak ?”, tanyaku bergumam sambil menggaruk kepala.

“Mendengar jauhnya jalan masuk kedalam serta perkataan orang–orang dipersimpangan membuat bapak jadi membatalkan nak”.

“Ya udah bang, coba kau antarkan sebentar aja naik sepeda motormu, coba mencarinya ke Jihad dijalan Allah Puskesmas tersebut, kasihan dia sudah terlihat capek”. Tiba – tiba istriku menyeletuk bicara sambil keluar dari dalam rumah membawa segelas air putih hangat pesananku. Hendak diletakkannya air tersebut di meja sudut teras, namun kucegah lalu menyuruhnya memberikan pada bapak tua. Benar saja, tanpa basa – basi segelas air putih hangat tersebut segera habis diminumnya. Sungguh benar–benar kelelahan tubuhnya, pikirku.

Sepertinya harus kuambil saran istriku untuk mencoba mengantarkannya menggunakan sepeda motorku. Membantunya mencari alamat dicarinya, jika nanti akhirnya alamat dicarinya tidak ketemu juga, maka diriku berniat akan mengantarkannya sampai ke Jalan besar agar memudahkannya sekedar naik angkot pulang kerumahnya.

“Ya sudah pak, tunggu sebentar ya, saya akan mengeluarkan sepeda motor dulu”, ujarku kepadanya sambil segera melangkah masuk mengambil kunci di kamar. Kulihat kepalanya mengangguk sambil mengucapkan terima kasih.

Kukeluarkan sepeda motorku, menuntunnya mundur kebelakang kearah teras rumah. Samar–samar kudengar istriku mencoba mengajaknya duduk pada kursi plastik teras sambil menanyakan asal tempat tinggalnya. Ternyata dirinya berasal dari Kota Medan berjarak sekitar 10 Km dari tempatku tinggal. Dirinya baru pertama kalinya lagi pergi ke kota Tembung setelah sejak lama sekali tidak pernah datang kemari. Pantas saja sangat kesulitan mencarinya alamat tersebut.

Kustarter sepeda motorku, menghidupkannya terlebih dahulu agar mesinnya panas. Maklum sudah tiga hari sepeda motorku belum ada keluar karena Jokinya sedang sibuk bekerja dirumah.

“Ayo pak biar saya antarkan”, kataku kepadanya. Mendengar ajakanku si bapak langsung bangkit dari duduknya mengakhiri obrolan dengan istriku, kemudian menghampiriku lalu langsung naik duduk diatas jok belakang.

“Hati – hati bang,..” istrku memesankan sambil mengiringi kepergianku mengantarkan orang tua tersebut. Walaupun sedang ada pekerjaan diburu waktu, tapi kubawa sepeda motorku santai. Tidak ingin terlalu kencang, kasihan dirinya, biarlah sejenak mengistirahatkan tubuhnya diatas sepeda motorku.

“Maaf pak, sebenarnya bapak ada hajat apa ingin bertemu dengan orang bernama Ismed ?” kucoba memecah kesunyian dengan mengajaknya ngobrol.

“begini nak, Ismed sebenarnya tetangga satu kontrakan rumah. Dulu waktu kami masih muda–muda, Ismed pernah mengontrak disebelah rumah kontrakan. Kami lalu menjadi tetangga sangat akrab, apalagi istri saya dengan istrinya sama–sama penjual kain gorden keliling, kami juga mempunyai bos kain gorden yang sama. Nah setelah lama berpisah, Ismed pindah ke Tembung. Saya dengar dirinya sudah menjadi orang sukses sekarang, usahanya sangat banyak sekali…”

“Lalu Bapak berencana ingin memintanya mencari pekerjaan untuk bapak atau anak Bapak ?”, tanyaku berusaha menebak.

“Nggak nak, saya cuma ingin meminta bantuan pertolongannya. Menurut mantan boss kain gorden, mantan bos saya pernah ditolong Ismed ketika sedang mengalami kesusahan. Dia menyarankan agar saya menjumpai Ismed, mencoba meminta bantuan kepadanya. Apalagi dirinya sudah menjadi tetanggaku selama hampir 3 tahun..”.

“Memangnya mau minta bantuan apa padanya ?”, akucoba bertanya lebih dalam lagi, sambil mataku tetap lurus kedepan menyimak jalan sedang kutempuh.

“Saya mau minta bantuannya nak, saya mau berobat penyakit saya ni”.

“Memangnya sakit apa ?”.

“Dokter bilang, saya ada penyakit kerusakan ginjal harus segera diangkat. Saya tidak mempunyai biaya nak. Anak–anak bapak juga susah, sebahagian lagi masih bersekolah. Sementara saya harus menjadi tulang punggung keluarga setelah 4 tahun ditinggal mati istri.”

Seketika semakin kuperlambat laju kendaraanku. Spontan tanganku mengendurkan tali gas sepeda motorku. Hatiku begitu terenyuh mendengar ceritanya.

“Ya mudah mudahan saja, teman bapak mau membantu ya”.

“Insya Allah nak, mudah – mudahan”.

Tak terasa laju sepeda motorku telah sampai di Jalan Puskesmas. Kuhentikan sepeda motorku di depan sebuah Mesjid samping Puskesmas lalu turun kemudian mencoba bertanya kepada beberapa rumah warga menanyakan alamat Ismed tersebut. Namun seperti sudah kuduga, semuanya menggelengkan kepala tidak tahu. Setelah mendengar anjuran salah seorang warga agar menanyakannya kepada Nazir masjid disamping Puskesmas, segera diriku kesana karena menurut warga Nazir Mesjid adalah orang tua paling lama tinggal disana. Cocok sekali pikirku, akupun segera masuk ke pelataran masjid, syukurnya bisa bertemu dengan Nazir tersebut. Tapi tetap saja sebuah gelengan kepala menjadi jawabannya setelah membaca secarik kertas kusodorkan.

“Mesjid ini dibangun atas sumbangan Bupati Deli Serdang 10 tahun lalu. Pemborongnya juga bukan bernama Ismed, tapi Bambang Karso. Tapi kalo melihat alamatnya, ada masjid juga di gang kapuk, kenapa tidak mencoba menanyakan disana ?”, ujar Nazir mesjid balik bertanya.

“Sudah pak, saya sudah coba menanyakannya kepada Nazir mesjid disana, tapi mereka juga nggak kenal sama Ismed”, orang tua tersebut menjawab pertanyaan Nazir mesjid tadi.

“tapi setahu saya, Masjid di gang Kapuk adalah mesjid hasil sumbangan seorang kaya bernama Ismayadi, jangan-jangan Ismed adalah Ismayadi ?”, Nazir mesjid kembali berkata.

“Ismayadi ? Maksud bapak, Pak Ismayadi ?”, kucoba balik bertanya kepadanya.

“Iya, Pak Ismayadi. Diakan orang kaya penyumbang pembangunan mesjid tersebut. Masak kamu warga satu gang dengannya tidak mengenal orang setenar dia ?”.

“Bukan begitu pak, justru saya sangat mengenalnya. Tapi apakah dia ?”, mataku sekarang tertuju kepada orang tua sipencari alamat.

“Apa iya pak ?, jangan-jangan orang bernama Ismed adalah Ismayadi ?”, tanyaku kepada si pencari alamat kubonceng tadi.

“Saya nggak tahu nak, setahu saya namanya Ismed. Mantan bos kerjaku memberikan alamat juga menuliskannya dengan nama Ismed”.

Kucoba memeras intelejensi otakku, mencoba mencari celah jejak sudah sedikit terang.

“Apakah suku orang bernama Ismed dari suku minang (Padang) ?”, kutanya sedikit menyelidik kepadanya.

“Iya benar nak, iya suku padang”, jawabnya sedikit gugup. Sekarang mataku beradu pandang dengan Nazir Mesjid dekat Puskesmas. Kulihat kepalanya juga manggut manggut begitu mendengar jawaban si pencari alamat, sepertinya Nazir mesjid mempunyai jawaban sama dengan pikiranku.

“Baiklah Pak Nazir, sepertinya saya sudah menemukan jawabannya. Terima kasih atas bantuannya. Ayo pak kita pergi, saya akan antarkan menuju ke rumah Ismayadi yang bapak maksud Ismed”, ujarku sambil permisi pamit kepada Nazir Mesjid. Kustarter kembali sepeda motorku, setelah dia duduk pada boncengan, segera kulajukan kendaraanku meninggalkan tempat tersebut. Sekarang kukendarai sedikit cepat dari sebelumnya.

Sepertinya aku mulai merasa yakin bahwa orang yang bernama Ismed itu pasti Pak Ismayadi karena memiliki persamaan nama yang hampir mirip, kalau memang benar Pak ismayadi itu orangnya, wah bapak tua ini beruntung punya kenalan seorang kaya raya paling terpandang se Kabupaten, tapi kenapa akunya nggak sedari tadi nyambung kearah sana ya.

“Ismayadi siapa nak ?” tiba–tiba dia membuyarkan lamunanku

“Ismayadi orang kaya terpandang disini, bahkan asal bapak tahu dirinya adalah ketua PMI Kabupaten Deli Serdang, bahkan saya dengar juga mau mencalonkan menjadi anggota Legislatif tingkat II tahun sekarang”.

“Dia suku Minang ?”.

“Ya, iya suku Minang, istrinya Jawa”.

“Oh benar sekali nak, Ismed pun istrinya orang Jawa”.

“Ya sudah, berarti benar itulah orangnya. Kita akan segera kerumahnya. Syukur-syukur masih berada dirumahnya kalau tidak mungkin sudah berangkat ke bakti sosial donor darah PMI dibalai desa”.

“Istrinya pun kenal kepadaku nak, ya kita coba kerumahnya aja. Kalo nggak jumpa dengan Ismed, dengan istrinya juga nggak ada masalah”.

“Baiklah pak, Akan saya coba mengantarkan langsung kerumahnya”.

Kendaraan kupacu semakin kencang, tak terasa sudah sampai di depan pagar rumah paling mewah disini. Kuparkir sepeda motor didepan pagar halaman rumah yang kulihat terbuka lebar. Kulihat sepintas matanya mengamati seksama teras rumah mewah dari pintu pagar terbuka.

“Inilah rumah Ismayadi itu”, kataku.

“Iya nak. Tapi saya juga sudah dari sini tadi. Pemilik rumah bilang nggak ada orang bernama Ismed disini”.

“Ah masak iya, ya udah kita coba masuk kedalam, langsung menanyakannya kedalam”

Orang yang dicari sedang asyik main ponsel dan bersikap acuh

Kuajaknya masuk kehalaman rumah luas tersebut. Halaman dihiasi oleh taman indah ditumbuhi tanaman–tanaman hijau aneka macam bunga indah. Kami menuju teras rumah dengan sebuah sofa juga beberapa kursi tamu. Kulihat seseorang tengah duduk disana, asyik bermain ponsel ditangannya. Mataku langsung mengenali sosok tersebut, dialah Pak Ismayadi.

“Assalamualaikum Pak Is..”.

“Wa alaikumsalam, ada apa ?”.

Kulihat wajahnya menoleh kepada kami sejenak kemudian kembali menatap handphone di tanganya.

“Begini pak, saya datang kemari mengantarkan seseorang sedang mencari–cari alamat, dan ini bapak ini sudah ikut dengan saya”.

Pak Ismayadi pun menoleh sejenak. Hanya beberapa detik saja, kemudian kembali menatap smartphone. Sepertinya sedang sangat disibukkan oleh handphone ditangannya tersebut. Mungkin sedang SMS atau sedang melakukan hal tidak kumengerti. Tapi sikap acuhnya itu telah membuat hatiku merasa dingin.

“Bukannya dia yang tadi menanyakan alamat Ismed kesini ?”, Pak Ismayadi kembali bicara, namun tatap saja matanya tak lepas dari pandangan ke handphonenya. “Disini nggak ada orang bernama Ismed, yang ada ya aku ini, Ismayadi..!”, katanya lagi. Kali ini matanya tertuju kearah orang tua disampingku.

Kulihat tatapan Ismayadi begitu tajam kearah pencari di sampingku, tapi sorot matanya terlihat asing, tidak sedikitpun menampakkan sorot mata persahabatan. Kemudian pandangannya dialihkan kembali pada handphonenya. Kulihat ekspresi wajah disampingku sudah berubah menjadi sedikit kikuk.

“Lho jadi tadi sudah sempat kemari lalu bertemu dengannya ?”, tanyaku berbisik kepadanya.

“I.. iya nak, tadi sudah datang kemari. Ada seseorang menunjukkan agar saya datang kemari. Tapi kata pembantu disini nggak ada yang namanya Ismed”, jawabnya sedikit gemetar

“Ya inilah orang bernama Ismayadi, apakah mengenalinya ?”.

“Say.. saya nggak begitu ingat nak. Mungkin juga iya karena lama sekali tidak pernah berjumpa dengannya lagi..” ujarnya terbata–bata.

“Silahkan duduk, ngapain berdiri disitu seperti orang bodoh”. Tiba tiba suara Ismayadi memecahkan pembicaraan kami. Aku segera menyuruhnya segera duduk di kursi tamu. Sementara diriku, yang merasa tugasku sudah selesai, dan urusan selanjutnya juga bukan menjadi urusan mesti kucampuri, segera berpamitan kepada orang tua kuantar tadi serta kepada pemilik rumah, orang kaya terpandang. Setelah mengucapan banyak terima kasih si pencari alamat pun langsung menyalamiku. Bibirku tersenyum, segera melangkah menuju pintu pagar halaman rumah mewah tersebut.

“ Is.. Ismed, Eh anu Pak Ismayadi, apakah masih mengenal sa..saya ?, saya Fuad p.p..pak, tetangga bapak dulu sewaktu masih sama-sama mengontrak di Medan”.

“Aduh maaf ya pak, jangan perasaan sok akrab atau sok kenal deh. Saya nggak merasa kenal sama situ, sembarangan aja kalo ngomong, silahkan duduk !”.

“I.i… iya pak terima kasih, Maaf walaupun samar-samar karena sudah lama tapi saya yakin Bapak adalah Ismed tetangga saya du..dulu. Masak bapak nggak kenal lagi sama saya, kitakan pernah sama–sama menyewa rumah kontrakannya pak Mahmudin, bos Kain Gorden istri–istri kita dulu..”

“Sudah deh, jangan terlalu berlebihan basa–basinya, sekarang sebutkan apa keperluanmu ?, kamu butuh apa ?, duit ?, berapa ?, saya sangat sibuk sekali jadi langsung to the point sajalah..”.

Itulah sepenggal percakapan kudengar dari kedua orang sebaya tersebut. Aku yang tidak bermaksud hendak menguping pembicaraan mereka segera keluar dari pintu pagar rumah mewah menuju sepeda motorku. Pembicaraan tersebut sudah tak begitu terdengar jelas lagi, hanya saja kulihat ekspersi wajah ismayadi masih sama seperti tadi. Berbicara namun matanya lebih sering menatap kepada Handphonenya. Sepertinya urusan Handphone ditangannya lebih penting baginya ketimbang kehadiran tamu yang mengaku sebagai tetangganya selama tiga tahun.

Kustarter kembali sepeda motorku, melajunya perlahan meninggalkan rumah besarnya. Ada perasaan penasaran sekaligus tanda tanya besar dalam hatiku, ingin rasanya diriku mengetahui akhir dari sebuah pencarian alamat melelahkan. Setidaknya agar bisa mengetahui apakah bahagia ataukan berakhir duka. Kuhentikan laju sepeda motorku, berhenti kira kira 100 meter dari rumah orang terkaya di lingkungan kami. Mataku lurus kedepan menatap pintu pagar rumah mewah tersebut. Lama aku berhenti disana, mungkin sekitar 10 menit, berharap bisa melihat orang tua yang sudah menemukan alamat dicarinya keluar dari pintu pagar rumah. Tapi selama penantianku, tak ada kulihat seorang pun keluar dari sana.

Dan ketika awan kulihat mulai menghitam diikuti titik–titik butiran air mulai sedikit demi sedikit mengenai tubuhku, aku segera menstarter sepeda motorku, bergegas melajukan sepeda motor menuju rumahku yang sudah mulai dekat. Aku tak mau terjebak hujan hanya karena sekedar ingin mengetahui akhir sebuah cerita. Biarlah urusannya tetap menjadi urusannya. Aku hanyalah sekedar berusaha membantu orang tua sedang kesusahan, selebihnya urusan dirinya bukanlah lagi menjadi urusanku.

Akan tetapi disepanjang perjalanan selalu kudo’akan, semoga saja akhir dari pencariannya bisa berbuah kebahagiaan sehingga kelelahannya terbayar. Walaupun aku menangkap gelagat kurang bersahabat dari orang yang berhasil dicarinya. Wallahu’alam, Tuhan lah lebih tahu dan mengerti akan urusan hambanya. Dia juga Maha Pandai membolak balikkan hati manusia, semoga saja hajatnya bisa kesampaian. Aamiin.(TR)


Terima kasih telah membaca cerita pendek kisah nyata si pencari alamat. Semoga cerpen inspiratif diatas dapat memberi manfaat dan inspirasi bagi semua pembaca pengunjung setia Bisfren. Salam sukses.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait