Siapa Namamu ?

cerita cinta remaja siapa namamu

Siapa namamu adalah cerita cinta remaja namun tidak sampai karena selalu ada saja penghalangnya sehingga hanya sebatas mengagumi saja. Bagaimana kisah cinta ini, silahkan baca pada cerpen berikut :

Cerita Cinta Remaja Siapa Namamu ?

Aku berdiri di depan cermin, merhatiin baju ungu muda berenda putih sedang kupakai. Ini adalah baju ke-empat kucoba malam ini, “Kayaknya aku nggak jadi pergi deh, nggak pede make baju ini.” Ucapku pada bayangan wajah sahabatku yang terpantul dari cermin.

“gak boleh. Kamu udah janji mau nemenin aku !” wajah Renita manyun, bibir sudah dipoles lip gloss beningnya monyong satu senti.

“Tapi gak punya baju bagus untuk dipake !”

“Nayla, kamu tu cantik make baju apa aja. Liat nih, lemarimu penuh baju-baju keren. Pake yang mana aja.” Dia mengambil beberapa helai baju dari lemariku.

Sebenarnya ini hanya alasan. Hatiku males pergi nonton konser Netral pada Gedung Kesenian Gede Manik. Diriku lebih suka diem di kos, tidur-tiduran, facebookan, baca novel, atau apa ajalah, daripada duduk desek-desekan sambil teriak-teriak gak jelas. Huh.. apa harus ku lakuin supaya Renita ngerti kalo diriku males pergi ?.

“Yang merah ini bagus.” Katanya sambil menyodorkan baju you can see merah baru ku beli beberapa minggu lalu.

“Masak malem-malem pake baju kayak gini ?”.

“Kalo ini gimana ?” kali ini dia menyodorkan T-shirt hitam dengan tulisan “Avenged Sevenfold”.

“Ini konsernya Netral kan ? Bukan konsernya Avenged Sevenfold ?”

“Aduhhh…. kalo gitu kamu telanjang aja deh !” bentaknya.

“gak usah marah-marah gitu donk.” Ku ambil kaos lengan panjang berwarna putih. Sebenarnya hatiku berniat ngambil baju hijau muda di bawah kaos tersebut, tapi ntah kenapa malah kaos itu yang keambil.

“Yakin mau make itu ?”

“Yakin.” Jawabku malas.

Ku ganti pakaian dengan cepat. Kaos putih ku padukan dengan jeans panjang warna hitam, “gak make jacket ?” tanya Renita.

“Gak ah, males. Yuk berangkat !”.

Kami berjalan ke Gedung Kesenian karena kebetulan jaraknya cuma 100 meter dari kosku. Sampai disana, suasana udah rame banget. Ratusan mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha terlihat mengantre didepan pintu masuk.

Tiba-tiba, mataku menangkap sesosok makhluk sudah tidak asing lagi bagiku. Iya, itu dia ! Walaupun hanya melihat punggungnya secara sekilas, bisa kurasakan kalau itu memang benar-benar dia ! Ku remas tangan Renita dengan keras, dia menoleh ke arahku,

“Apaan sih Nay? Kok tanganku dibejek ?”.

“Itu dia !”.

“Siapa ?”.

“Dia !”.

“Eh ni anak, gilanya kumat. Masuk yuk, ntar kita gak dapet tempat strategis.”

Aku tidak dapat menggerakkan kakiku. Ingin rasanya berlari, mengejar makhluk itu, tapi kakiku lumpuh mendadak. Renita menyeretku masuk ke dalam gedung sambil ngoceh gak jelas. Cuma bisa ku dengar kata-kata kayak gila, aneh, kesambet setan apa, jangan lelet, dan sebagainya.

“Duduk sini aja ya.” Dia duduk di deretan keempat. Tempat duduk di depan kami masih sepi, hanya ada beberapa cowok dari jurusan lain terlihat asyik mengobrol. Mataku gak begitu memperhatikan mereka karena sibuk mencari-cari sosok tadi.

“Mau nonton sambil berdiri ?” Renita menarik tanganku. Akupun duduk, tapi mataku masih mencari-cari. Ke mana dia ?.

“Tadi ngeliat siapa sih ?”.

Kalo gak salah tadi dia pakai baju putih dengan jeans hitam juga. Mataku langsung menyapu seluruh ruangan agak remang, berusaha mencari orang memakai baju putih serta celana panjang hitam, berusaha mencarinya.

“Ngeliat hantu ya ? Sampai kamu mendadak jadi patung kayak gitu ?”.

Ada seorang cowok dengan pakaian sama di dekat panggung, bukan, itu bukan dia. Ada juga yang lagi sibuk merokok di pojok gedung, namun juga bukan dirinya. Aduh.. kemana ?

“Kayaknya aku lagi ngomong ma patung beneran nih !”.

Ada juga cowok baru aja masuk, bu… DIA ! Itu dia. Dirinya bersama beberapa cowok berjalan ke arah kami, lalu…. lalu duduk tepat didepanku. Dirinya menyapa cowok-cowok yang sudah duduk disana, kayaknya mereka satu jurusan ! What ? Tunggu dulu ! Kalo mereka satu jurusan berarti kuliah disini ? kuliah di Undiksha juga ? Kok bisa gak tau ?

Aku ma dia satu universi…..

“Woi !” sebuah teriakan masuk ke telingaku, itu Renita, “Kalo kamu emang gak niat nemenin nonton, gak usah kayak gini donk caranya ! Mendingan kita pulang aja dah !”.

Jantungku tersentak, kualihkan pandanganku dari punggungnya ke wajah sahabat baikku sejak SMA. Mukanya merah karena marah, tapi dia tetep terlihat cantik, “Jangan… jangan pulang.”

“Kamu kenapa sih Nay ? Kamu denger gak sih mulutku ngomong dari tadi ?”.

“Aku lihat dia Ren !” kataku, sedikit teriak untuk mengimbangi bunyi musik mulai mengalun.

“Dia Dia Dia! Dari tadi bilang dia terus, dia siapa sih ?”

Aku menunjuk cowok duduk di depanku.

“Siapa ?” Renita bertanya setelah melihat sekilas orang kutunjuk.

Aku gak bisa mengatakan namanya, karena.. karena diriku gak tau siapa nama cowok itu.

3 tahun sebelumnya

Aku adalah seorang siswi SMA pada sebuah sekolah swasta di Tabanan. Sekolahku sangat besar, ada sekitar 600 siswa dari masing-masing angkatan. Setiap angkatan dibagi menjadi 20 kelas ditempatkan pada 3 lokasi sekolah berbeda. Aku menempati gedung sekolah A, gedung inti terletak di dekat Rumah Sakit Tabanan. Di sekolah tersebut diriku bertemu banyak teman baru, salah satunya adalah Renita. Kami sangat cepat akrab karena memiliki hobi yang sama, yaitu nonton Dorama Jepang juga dengerin lagu Bahasa Jepang, tapi bukan berarti kami gak berjiwa nasionalis ya!

Setahun sekali, sekolahku mengadakan SMERTI Sport Vaganza diikuti oleh semua siswa SMERTI, jumlahnya sekitar 1.500 orang. Diriku sebenarnya sangat malas ikut acara kayak gitu, buang-buang tenaga aja, tapi Renita membujukku, lebih tepatnya memaksaku, untuk ikut. Dia gak punya sahabat lain selain diriku, jadi terpaksalah menemaninya.

Pertandingan saat itu adalah futsal, kalo gak salah anak XII IPA berapa gitu melawan anak kelas XII IPS sekian sekian. Mataku gak begitu memperhatikan jalannya pertandingan karena terus terang aja, gak suka futsal. Ngapain juga ngerebutin satu bola kalo udah didapet, malah ditendang ?.

Tanganku malah sibuk mengecek homepage facebookku, mencoba ngelakuin sesuatu untuk ngilangin bosen.

“GOOOOLLLL” komentator berteriak.

Kepalaku menoleh sekilas ke tengah lapangan, terlihat seorang cowok menaikkan baju dipakainya sampai menutupi mukanya. Pasti dialah si pencetak gol. Ritual aneh untuk permainan aneh. Aku berniat melanjutkan baca-baca status teman fb ku,  saat tiba-tiba cowok yang berhasil memasukkan bola menurunkan kaosnya lalu memperlihatkan wajah manisnya. Ya Tuhan ! Waktu terasa melambat, semuanya bergerak dalam slow motion ! Dirinya beneran anak SMERTI ? Wajah juga gayanya seperti cowok keluar dari komik Jepang ! Kulit putih bersih, postur tinggi, rambut acak-acakakan keren ! Dialah tipe cowok yang selama ini ku cari-cari !.

Kuremas tangan Renita yang duduk di sampingku.

“Awww..” renita menjerit sambil menarik tangannya dari genggamanku, lalu mencubitku. Sakit! Berarti ini bukan mimpi ! Cowok keren ditengah lapangan itu bukan hanya halusinasi!

“Kamu kenapa sih ?”

“Itu..” Ku tunjuk cowok yang sudah mencuri hatiku.

“Apa ?”

“Dia keren banget.”

“Yang mana ?” mendengar kata keren, Renita langsung bersemangat, seakan udah lupa ma rasa sakitnya.

“Yang baru aja masukin bola.”

“Iya, keren.”

“Kamu kenal ?”

“gak.”

Kumasukkan handphoneku ke saku baju lalu mulai memperhatikan pertandingan dengan serius (baca: memperhatikan cowok tersebut dengan mata tak berkedip). Dirinya bukan bintang lapangan ternyata. Gak nyetak gol lagi setelah itu, but who cares ? Semakin diperhatikan, wajahnya semakin mirip tokoh kartun Jepang. Keren banget !.

Sejak kejadian hari itu, diriku rajin mencari informasi tentang dirinya dari teman-temanku, tapi gak banyak informasi ku dapatkan. Kata seorang temanku, yang main futsal itu adalah kelas yang sekolah di gedung C, letaknya lumayan jauh dari gedung sekolahku.

SMERTI Sport Vaganza berlalu, diriku sama sekali belum pernah melihatnya lagi. Hatiku sedih, tapi harapanku gak mati. Diriku jadi sering bolos supaya bisa nongkrong di gedung C biar bisa liatin dia. Akhirnya di hari ke-3 nongkrong disana, mataku melihatnya! Aku melihat cowok itu lagi !. Dirinya sedang makan dikantin bersama beberapa cowok yang dimataku gak begitu keren.

Kutarik seorang siswa kebetulan lewat di sampingku, “Ehh, kamu tau cowok di kantin itu gak ?”

“Yang mana?”

“Yang lagi makan bakso.”

“Kan ada banyak cowok makan bakso di kantin !”.

Aduh ! Iya juga ya. Ada banyak cowok disana, gak mungkin menunjuk ke arahnya, kalo ketahuan kan malu !.

“Atlet futsal ! Nyetak gol waktu Sport Vaganza!”

“Kayaknya Raka deh. Raka emang jago main futsal.”

Raka ! Namanya keren banget ! Raka Raka Raka!

“Thanks ya.”

“Iya, sama-sama.”

Siswa tersebut pergi menuju kantin, diriku tetap berdiri di bawah pohon cemara sambil melihat Raka. Renita gak mau nemenin bolos, karena dirinya suka banget ma mapel hari itu, jadilah diriku sendiri d sini. Ku lihat beberapa cewek mendekati Raka lalu mereka tertawa-tawa! Aduh! Hatiku cemburu! Mereka gak boleh deket-deket ma Raka!

Diriku tetap berdiri di sana sampai lonceng tanda masuk kelas berbunyi. Teman-teman Raka terlihat berlarian masuk kelas, sedangkan dirinya berjalan perlahan ke arahku ! Ke arahku ! Slow motion kedua terjadi. Aku harus ngapain ? Kalo di film-film seharusnya dia menabrakku.

Iya, pasti akan menabrakku !

Tapi gak ???!!!! Dirinya berlalu gitu aja tanpa sempat menyenggolku sedikitpun. Apa tubuhku transparan ? Masak sih gak liat  ? Aku berbalik, memperhatikannya berjalan menjauh, pada hitungan ketiga dia akan menoleh ke arahku… satu…. dua… dua seperempat, dua sepertiga, dua setengah….. ah dirinyamenghilang dibalik tembok salah satu ruang kelas.

Ihhh !! Kok gitu sih? Pasti ada kesalahan teknis!

Kulangkahkan kaki kembali ke sekolahku dengan kecewa, tapi seenggaknya diriku udah tau namanya. Raka ! Raka… indah, manis, keren seperti orangnya.

Untunglah jam pertama kosong, Bu Padmi gak bisa ngajar karena sakit. Diriku duduk di kursiku dengan seulas senyum manis, “Gimana Nay? Udah ngeliatnya ?”

“Iya!” kataku dengan sedikit berteriak, beberapa siswa menoleh ke arah kami, tapi gak peduli, “Namanya Raka!” teriakku lagi, lalu ku peluk Renita.

Dirinya juga terlihat senang, “Wah selamat ya, akhirnya kamu bisa kenalan juga sama dia.”

“Nggak bisa dibilang kenalan sih.”

Renita melepaskan pelukanku, “Terus ?”.

“Ku tanya seorang murid di sana, katanya nama tu cowok Raka.”

“Yahh gak seru.”

“Biarin ! Yang penting udah tau namanya. Oh Raka…. aishiteru…”

“Kenapa gak ngomong langsung ke orangnya?”

“Yang bener aja ! Jangankan bilang suka, ngomong satu huruf aja kayaknya susah banget. Tadi tu jadi gila kalo liat dia. Otakku jadi gak bisa berfungsi dengan baik.”

“Kalo kayak gini susah bisa deketnya.”

“Bantuin donk makanya. Hatiku suka banget Ren. Tau sendiri kan diriku nggak gampang suka ma cowok ?” emang bener, diriku nie tipe cewek nggak bisa suka ma cowok dengan mudah. Cowok pencentak gol tersebut merupakan cowok pertama yang ku sukai.

“Ngirim surat aja, gimana ?”.

“Ngirim surat ?”.

“Iya ! Kamu kan susah ngomong tuh kalo ada deket ma dia. Tulis aja perasaamu. Terus kasi deh.”

Ide agak jadul, tapi nggak ada salahnya dicoba. Akupun mengeluarkan sehelai kertas dari tasku lalu mulai menarikan pulpenku di atasnya. Lancar banget ! Ku bilang kalau diriku suka sama dirinya dan ingin menjadi teman dekatnya (kalo bisa sih jadi pacar, hehe).

Keesokan harinya kami main lagi ke gedung C. Kami mengintai kantin, tapi sosok Raka nggak kelihatan.

“Eh kamu, sini donk !” Renita memanggil seorang siswi berkaca mata, kayaknya sih anak kelas satu.

Cewek itu mendekat, “Ada apa ya ?”

“Tau kelasnya Raka ?”

“Raka siapa ya ?”

“Raka siapa namanya Nay?”

Raka siapa ? Aduh! Bodoh ! Kenapa nggak nanyain nama lengkapnya!

“Raka pemain futsal. Dia nyetak gol waktu Sport Vaganza.”

“Maaf, nggak tau.” Cewek itupun pergi.

Kami sibuk menanyakan beberapa siswa tentang kelasnya Raka, tapi nggak ada yang tau Raka mana yang kami maksud. Huh….ada berapa anak yang namanya Raka sih ? Renita terlihat capek, diriku juga. Kamipun kembali ke gedung A dengan tangan kosong. Surat itu masih terbungkus dengan rapi dalam kantong bajuku.

cerita romantis pendek siapa namamu
Kenalan (@ Youtube)

Keesokan harinya kami ke sana lagi. Kami sudah menyusun strategi untuk mengetahui kelas Raka. Kami akan masuk kelas satu persatu, pura-pura jadi perwakilan OSIS yang mengumunkan kegiatan Tirta Yatra untuk anak-anak kelas dua belas. Untung jumlah kelas dua belas di gedung C nggak banyak, cuma 6 kelas.

Hatiku sempat ragu dengan rencana gila Renita ini, tapi udah nggak ada pilihan lain.
Kelas pertama kami masuki sedang mendapat pelajaran Matematika. Kami memberikan pengumuman dengan terbata-bata, maafkan kami ya Tuhan, kami terpaksa berbohong. Kulihat ke seluruh ruangan, nggak ada Raka.

Kelas kedua sedang mendapat pelajaran Bahasa Jepang, nggak ada Raka juga.
Kelas ketiga agak ribut, beberapa anak cowok duduk-duduk di depan kelas. Kami dorong-dorongan, “Kayaknya nggak mungkin kelas Raka, masuk kelas lain aja yuk.” Bisik Renita.

“Bisa aja kelasnya Raka.” Bisikku.

“Coba kelas lain aja.”

Mataku melihat sekilas ke arah cowok-cowok itu, mereka terlihat agak sangar, kamipun memutuskan untuk memasuki kelas lain.

Kelas keempat, nggak ada Raka. Kelas kelima, nggak ada juga, kelas keenam, kosong, mungkin dapat pelajaran olah raga. Kami memasuki ke kelas tersebut lalu melihat papan administrasinya, nggak ada namanya Raka.

“Kayaknya kelas tadi itu deh kelasnya Raka.”

“Iya, yakin mau ke sana ?”

“Takut sih. Tapi diriku udah kangen banget ma Raka, temenin ya.” Kupasang wajah memelasku supaya Renita mau menemaniku. Kepalanya mengangguk. Kami lalu kembali ke kelas ketiga. Cowok-cowok itu udah nggak ada di sana, syukurlah. Kami melangkahkan kaki dengan perlahan, di sana ! Di ambang pintu! Raka menyender ke tembok dengan kerennya. Dia memakai jacket hitam diresleting sampai leher, tangannya dimasukkan ke kantong celana abu-abunya. Kakiku lemas seketika. Otakku terhipnotis pesonanya.

Renita menyenggolku, “Ayo, kasi suratnya.”

Kutarik nafas panjang beberapa kali lalu mengambil surat itu dari dalam tas ku, “Temenin.”

“Ku tunggu disini aja. Ayo donk, kasiin ! Ntar keburu masuk !”.

Kakiku bergerak perlahan, mungkin kecepatanku kalah dibandingkan kecepatan siput. Dirinya disana, cuma tiga meter dariku, Ayo donk, Nayla ! Kapan lagi ada kesempatan kayak gini ? Kupercepat langkahku, “Hai.”

“Nyari siapa ?” tanyanya. Ya ampun… suaranya lembut banget ! Menentramkan!

Tubuhku mendekat lagi sampai jarakku cuma setengah meter darinya. Raka keliatan lebih manis dari deket dan tubuhnya wangi ! Hatiku semakin terpesona olehnya.

“Nyari siapa ?” dirinya mengulang pertanyaannya.

Kuulurkan suratku tanpa sepatah katapun. Lidahku kelu, keringat dingin mengalir dari sekujur tubuhku.

Tangannya mengambil surat tersebut dari tanganku, “Surat ?” tanyanya.

Kuanggukkan kepalaku cepat.

“Untuk Raka.” Dibacanya tulisan tanganku di amplop. Kuharap tulisanku nggak jelek-jelek banget, “Raka… ada surat untuk kamu.” Dia berteriak ke dalam.

WHAT? APA ? NANI ? nggak salah denger ? Dirinya manggil Raka ? Lalu dirinya siapa ?.

Seorang cowok keluar dari kelas, kayaknya ikut main futsal waktu itu ! Oh tidak ! Ternyata salah orang !

Segera kurebut surat tersbeut dari tangan Raka, eh bukan, cowok yang ku kira namanya Raka, lalu berlari kencang ke arah Renita. Kutarik tangannya menuju tempat parkir.

Gila ! Bener-bener gila juga memalukan ! Pengen mati saja rasanya !.

******

Hari itu hari terakhir aku masuk ke area gedung C, bukan karena aku berhenti menyukai cowok itu, tapi karena ortuku marah-marah tau diriku sering bolos. Setiap pulang sekolah diriku masih menyempatkan diri mampir ke gedung C, tapi gerbang sekolahnya udah tutup.
Lima bulan berlalu. Kakak-kakak kelas dua belaspun tamat. Cowok tersebut pergi tanpa tau kalo ada seorang Nayla benar-benar menyukainya. Dirinya pergi gitu aja. Diriku bahkan nggak tau namanya.

Waktu hari pengumuman kelulusan diriku berdesak-desakkan bersama anak-anak kelas X juga XI  karena penasaran dengan hasil ujian anak-anak kelas XII. Kebetulan papan pengumumannya cuma ditaruh di gedung A, jadi mati-matian ku berjuang melawan anak-anak lain untuk bisa melihat pengumuman tersebut. Kelas XII IPA 16, semuanya lulus. Susah payah ku baca nama-nama siswa tertera disana, ada dua puluh tiga, Raka Aditya adalah salah satunya, tapi jelas itu bukan nama cowok ku suka.

Ku keluar dari kerumunan dengan wajah menunduk. Nggak akan bisa ketemu lagi. Tanpa terasa dua tetes air mata menitik dari mataku. Hatiku merasa sedih. Sakit banget.

“Nayla !” Renita belari ke arahku, “Ada dia..”

“Dimana ?”.

“Deket gerbang !”.

Segera ku berlari menuju gerbang. Kulihat tangannya sedang sibuk tandatangan pada baju teman-temannya. Mungkin ini kesempatan terakhirku. Harus bicara padanya. Now or never ! Kakiku berjalan perlahan, menahan gejolak dalam dadaku, jantungku berdetak makin cepat.

Jantungku benar-benar gugup.

Akhirnya diriku berdiri tepat di depannya. Kusodorkan lengan kananku, “Tanda tangan disini ya.” Ucapku.

Wajahnya menoleh keheranan, tapi kemudian tersenyum lalu mencoret lengan baju putihku. Tangannya menulis agak lama, jangan-jangan nggak hanya tanda tangan, tapi juga nulis nama lengkapnya ! Atau nomor hp nya juga ! Atau alamat facebooknya ! Wah wah !! Hatiku sangat senang ! Nggak ada kata-kata bisa ngelukisin gimana perasaanku saat itu. Diriku langsung berlari ke arah Renita tanpa sempat mengucapkan terimakasih.

Kupeluk Renita, “Aku dapet tanda tangannya!” teriakku.

“Mana?”

Aku menyodorkan lengan kananku padanya.

“Kamu kan bukan kelas 3 !” mulutnya berkata perlahan.

“Maksudnya ?”

“Nggak ada tanda tangan, dia nulis gitu di bajumu.”

“Apa ?” langsung ku lihat hasil coretan cowok tersebut, iya, benar, bukan tanda tangan. langsung ku berlari lagi ke gerbang, tapi terlambat. Cowok tersebut udah pergi. Nggak pernah terlihat lagi sejak hari itu.

Masa-masa SMA ku harusnya penuh tawa, menjadi hambar. Hatiku merasa sangat kehilangan. Siapa namanya ? Siapa nama cowok manis itu ?.

“Siapa ? ” Renita berteriak di telingaku.

“Cowok yang ku suka.”

“Kamu lagi suka ma cowok ? Siapa ? Kok nggak pernah bilang ?”

“Gedung C.” ucapku lirih.

“Gedung C ?” Renita mengulang perkataanku dengan intonasi berbeda, “Maksud kamu, cowok yang kamu kira Raka ?”

Aku mengangguk.

“Wah ! Gila ! Kebetulan banget ya ! Kali ini kamu bener-bener harus ngomong ma dia ! Kesempatan begini nggak akan datang dua kali !”

Iya, harus ngomong, tapi takut, “Harus ngomong apa ?”

“Apa ya ?? Hmm… gini aja, pura-pura salah orang. Ntar kamu tanya, ‘hei, Ricky ya?’, gitu, pasti berhasil.”

Otak Renita memang dipenuhi ide-ide gila. Hatiku nggak yakin bakalan make caranya. Kupusatkan perhatian pada punggung makhluk manis duduk tepat didepanku. Betapa ingin tanganku memeluknya. Hatiku merindukannya, sungguh merindukannya.

Konser segera dimulai, para personil Netral naik ke atas panggung langsung disambut histeris oleh penggemar-penggemar mereka, termasuk Renita. Mereka menyanyikan lagu “Garuda di Dadaku” serta beberapa lagu lain asing di telingaku.

Cowok itu tampak asyik menikmati lagu-lagu Netral. Kepalanya mengangguk-angguk sambil ikut bernyanyi. Dirinya terlihat lebih manis, lebih keren. Aku harus ngomong padanya !.

Tiba-tiba HP ku berbunyi, ada telepon, dari mama. Nggak mungkin nerima telepon disini,

“Aku keluar bentar ya Ren, mama nelepon.” Kataku pada Renita.

Akupun keluar dari gedung kesenian kemudian ngomong sebentar ma mama, lalu bergegas kembali ke dalam. Alangkah kagetnya saat tau kalo dirinya udah nggak ada di sana, “Dia ke mana ?”.

“Siapa ?”.

“Siapa lagi ?”.

“Tadi disini kok, beneran !” Renita terlihat panik. Kami berusaha mencari cowok tersebut dengan mata kami, tapi udah nggak ada. Dirinya menghilang !.

Diriku terduduk dengan lesu. Hilang sudah kesempatan sudah lama ku tunggu. Dirinya pergi lagi kayak dulu. Tanpa sempat tau kalo hatiku menyukainya, tanpa sempat ngasi tau namanya, “Ah… Aku mau pulang ya.”

“Jangan gitu donk Nay, ntar juga balik kesini.”

“Kepalaku sakit Ren. Kamu lanjutin aja nontonnya.”

“Yakin aku nggak perlu nemenin kamu ? jadi ngerasa nggak enak nih.”

“Nggak apa-apa.”

“Kalo gitu aku tetep disini ya, ntar kalo dirinya balik bakal ku tanyain namanya, kalo perlu nomor HPnya sekalian.”

Aku tersenyum, tapi bukan senyum senang, aku masih merasa sedih, hatiku gak yakin dirinya akan balik lagi, temen-temennya dah nggak disana, ”Makasih ya.” Ucapku pelan, lalu aku berjalan ke luar gedung.

Air mataku menitik lagi, perlahan berubah menjadi mengalir. Aku sangat kecewa pada diriku sendiri. Sampai kapan aku mau kayak gini? Udah tiga tahun! Aku belum bisa menyukai siapapun selain dia! Apakah kejadian-kejadian ini pertanda kalau aku memang nggak jodoh sama dia? Apa aku harus ngelupain dia dan mulai berusaha membuka hati untuk menyukai cowok lain? Aku bingung Tuhan, apa yang harus aku lakukan?

“Hei.” Sebuah suara memanggilku dari belakang, suara itu, aku mengenalnya!

Aku berbalik, beneran dia! Aku berdiri kaku, dia berdiri di depanku dengan seulas senyum di bibirnya, “Dulu anak SMERTI kan?”

Aku mengangguk, lidahku nggak bisa digerakkan.

“Kuliah di Undiksha juga?”

Aku mengangguk lagi. Aduh Nayla! Ayo donk ngomong! Jangan ngangguk-ngangguk aja! Ntar dia keburu pergi, terus kamu cuma bisa nangisin kepergian dia!

Dia udah membalikkan badan, berniat pergi, mungkin karena ngerasa aku nggak tertarik untuk ngomong ma dia! Kamu salah kakak!!

“Kakak…” akhirnya lidahku bisa juga diajak kompromi.

Dia berbalik, tersenyum, “Iya?”

“Siapa nama kakak ?”.


Terima kasih telah membaca cerita cinta remaja karya Ayu Purnayatri. Semoga cerpen diatas dapat menghibur dan memberi inspirasi untuk berkarya buat para pengunjung setia laman Bisfren. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Ayu Purnayatri

Penulis :

Artikel terkait