Sore

cerpen kenangan masa kecil

Sore adalah cerpen kenangan masa kecil anak desa yang pindah ke kota untuk melanjutkan sekolah. Indahnya masa lalu tanpa gadget, memainkan permainan tradisional menguak saat dia mendapat tugas menulis cerita pendek dari sekolah.

Cerpen Kenangan Masa Kecil – Sore

Hari mulai sore, langit cerah perlahan berubah jingga dengan semburat awan putih tipis menghias cakrawala. Waktu menunjukan pukul enam belas lewat tiga puluh menit, tetapi tugas Bahasa Indonesia membuat cerita pendek tak kunjung selesai juga. Earphone terpasang tak henti-hentinya mendendangkan lagu yang diputar acak untuk memberikan ide merangkai kata-kata sejak siang tadi. Namun sepertinya inspirasi belum satupun mampir ke otak, bahkan lagu-lagu malah membuat pikiranku melayang menikmati setiap rasa nada juga liriknya. Melupakan niat awal tuk menyelesaikan tugas.

Tugas menulis cerpen harus diselesaikan besok sebagai bahan bedah karya di depan kelas. Tapi ketika melihat ke layar laptop, hanya ada dua kata— yaitu judul, serta sebaris kalimat sebagai isi cerpen. Outline, tema, ide, bahkan karakternya sudah terpikirkan dan tertulis rapi di file dokumen lain. Tetapi saat mulai mengembangkan kerangka cerita, seketika pikiran buntu. Mungkin efek kelelahan karena sebelumnya, tepatnya pagi di sekolah— rumus-rumus matematika mengacak-acak otak. Sehingga ketika merangkai kalimat, hanya angka-angka yang terpikirkan.

Dengan perasaan campur aduk, aku mematikan laptop serta handphone. Earphone kubiarkan masih bertengger di kedua telinga seraya memandang figura foto disudut meja belajar. Sebuah foto dalam figura membuat senyum tipis terukir di wajah. Perlahan rasa kesal, muak, dan sebagainya tersingkir lalu tergantikan oleh kenangan indah di Tanah Grogot, Desa Simpang Batu dimana tersimpan peristiwa masa lalu yang polos.

Foto itu memperlihatkan diriku tengah bermain lompat tali bersama kawan-kawan. Ada aku memakai baju oranye persis dengan langit saat ini dan seorang perempuan bernama Anna yang dahulu berteman baik sedang memegang tali. Masih ingat, dulu aku tidak bisa bermain lompat tali, jadi hanya kebagian pemegang saja. Namun bagian pegang tali mengasyikan juga kok.

Kenangan Masa Lalu

Anak laki-laki maupun perempuan sama-sama menikmati permainan. Tanpa sadar tanganku meraih figura tersebut dan tak hayal menitikkan air mata. Rasanya baru kemarin bermain permainan itu, rasanya baru kemarin bertemu teman-teman, rasanya … ah, terlalu banyak peristiwa masa masih kecil sekarang sudah jarang ditemukan. Khususnya di kota besar tempatku menuntut ilmu, ibu kota Negara Indonesia— Jakarta.

Banyak hal berubah. Umurku tiada lagi ingusan, sudah menginjak akhir belasan tahun. KTP, SIM, pemilu, serta segala hal milik orang dewasa yang kuidamkan dari dulu telah didapat.

Namun kata-kata seperti; “Kita kan kawan ! Susah senang, kudu bersama!” Tidak lagi terdengar di kota metropolitan. Mungkinkah kalimat solidaritas itu tergerus juga di pedesaan ? Tahun berubah, jaman pun berubah. Hal-hal tradisional tak lagi ada, diganti barang-barang elektronik pembuat malas penggunanya bahkan merusak akhlaknya juga.

Kami pindah ke Jakarta

Keluargaku telah pindah, mengikuti jejakku menggapai impian kemudian meninggalkan tempat kelahiran. Di sini mengontrak, karena tidak ada sanak saudara untuk menumpang. Kata Ayah, “Ikut tinggal bareng keluarga itu cuma membebani.” Tapi heran deh, mengapa harus capek-capek pindah? Sedangkan aku bisa kapan saja kembali kalau ada liburan. Yah, namanya juga orang tua ? Tidak ingin anaknya terseret kelakuan buruk juga masalah di Jakarta.

“Kakak, bantuin Arman kerjakan PR dong !”

Saat terbuai akan ingatan masa lalu, Adik keduaku masuk ke kamar dan seketika membuyarkan lamunan indah. Kemudian aku menyeka air mata yang sebenarnya kering. “Memangnya tugas apa?” Tanyaku seraya berusaha membuang raut wajah sedih. Adikku ini orangnya perhatian. Sangking perdulinya, ia suka sekali bertanya: “Baik-baik aja kan?” Berulang kali.

“Matematika nah,” ringis Arman. “Susah masalah satuan ukuran suhu!“ Ujarnya lalu duduk di pinggir tempat tidur tepat di sampingku.

“Soal yang mana ?”

Ia menunjukkan buku tulisnya, “Nomor dua sama empat!”

“Ooh … Mudah banget Dek. Sini Kakak kerjakan.” Aku mengambil buku tugasnya, sampul buku tulis bermotif batik khas Tanah Grogot hasil buatan Ayah semakin membuatku tenggelam kerinduan. “Nanti cara-caranya kamu pelajari. Tanyakan aja mana yang susah buat kamu,” kataku panjang lebar sambil menuliskan rumus juga penyelesaiannya.

“O iya Kak,” Arman memandangi wajahku lekat-lekat. “Pinjam ponsel, dong!”

Hidungku mendengus kesal, meletakkan pulpen lalu menatapnya tajam. “HP terus yang dimainkan !”

“Bosen, Kak!” Ia memutar kedua bola matanya. “Ayolah … kasih yah ?”

“Mending Adik nonton TV aja!”

“Kak Desya nonton TV. Anak Jalanan lagi tayang ! Tahu aja kan, remaja alay langsung menguasain TV.” Tandasnya sambil menggembungkan pipi lalu kembali menatapku seolah-olah seorang kucing imut; sayangnya dimataku hanyalah seorang anak laki-laki seumuran SD kelas enam tengah memohon-mohon.

Anak sekarang sukanya main ponsel dan nonton TV

“Hush! Kakakmu masa disebut alay?!” Tegurku seraya terkekeh kecil.

Tapi kalau dipikir-pikir, acara televisi sekarang kurang bervariasi. Acara-acara dewasa atau remaja menjamur hampir tiap saluran televisi, mengurangi jam munculnya acara anak-anak. Apalagi banyak program drama menye-menye mendikte setiap milisel otak anak usia dini mengenai cinta. Saat pertama kali pindah aku sempat kaget, ada tetangga mempunyai anak balita seusia tiga tahun meminta padaku tuk mencarikan soundtrack salah satu sinetron yang sedang booming. Namun kayaknya hal semacam ini sudah lumrah di kota-kota besar. Seharusnya masa kecil belum eranya diisi kisah cinta klise dan masih perlu menikmati waktu polosnya.

“Ponsel Kakak lagi rusak,” kataku sekenanya setelah itu menyalakan laptop, berniat melanjutkan tugas cerita pendek yang sempat tertunda. Tugas matematika Arman segera diselesaikan lalu kuberikan padanya. “Main sama tetangga aja sudah!”

“Enggak ah, masa aku cuma ikut lihat pas teman-teman main game? Big no!”

Banyak permainan lebih bermanfaat di luar rumah

Aku tercenung. Mendengarnya malah membuatku ingin kembali menangis. Permainan tidak cuma bergantung pada gadget atau semacamnya, banyak permainan dengan banyak pemain, biasanya dimainkan saat di Simpang Batu. Sensasi ketika merasakan peluh keringat karena bergerak, ikatan pertemanan antar sesama semakin erat, berkumpul bersama menentukan permainan apa akan dimainkan, dan seterusnya. Padahal dulu Arman senang sekali merengek pada Ibu tuk diperbolehkan keluar rumah agar bisa bermain gobak sodor di halaman Kakek bareng teman-temannya.

“Kakak aja dulu enggak pake gadget bisa aja main,” ujarku misuh-misuh. “Coba deh, banyak permainan bisa diluar ruangan!”

“Lha, kok jadi sewot? Lagipula main handphone juga di luar!”

Sejenak aku menghentikan kegiatan ketik-mengetik. Jawaban Arman ini selain memusingkan, tetapi juga menjengkelkan. “Tolong jangan lontarin jawaban malah bikin Kakak pening nah.” Aku menghelas napas berat, “Maksud Kakak itu permainan seperti gobak sodor, petak umpet, lompat tali!”

“Aah, membosankan! Di sini tuh, anak-anak semuanya main game!” Kayaknya memang salah membujuk Adik pada masa-masa bandelnya untuk bermain tanpa barang eletronik. Namun sebelum aku berkata, Arman langsung menambahkan; “Se-sebenarnya mengasyikan. Tapi ini Jakarta Kak … beda! Di Simpang Batu tidak sempit lahannya, kebanting jauh sama lahan sini. Rumah aja banyak disempit-sempitkan!”

Setiap bait kata Adik laki-lakiku tersebut benar adanya. Langsung mematikan pita suaraku yang bakal melontarkan jawaban lagi. Lidahku kelu bersamaan hatiku mencelus. “Jadi … bagaimana kalau kita kenang masa lalu?” Kataku seraya memilin-milin ujung rambut hitam sepunggungku.

“Boleh aja!”

Mengenang masa kecil di kampung

Lalu sisa sore hari itu dilalui dengan berceloteh ria bersama Adik laki-lakiku. Mulai dari mengira-ngira keadaan rumah di kampung halaman apakah baik-baik saja, kabar teman-teman sekolah dahulu, serta paling penting saat-saat bermain dan berkumpul di rumah Kakek.

“Ingat enggak Kak, pas kita lagi manjat pohon rambutan di halaman rumah Kakek?” Tanya Arman antusias.

Aku tertawa, “Ingat-ingat! Kakak jatuh sama Anna!”

Setidaknya kenangan, entah kapan akan dirasakan kembali masih terpatri kuat pada memori. Sedikit mengobati rasa rinduku terhadap kampung halaman. Arman berjalan menuju sudut kamar bagian kiri dekat pintu lalu membuka pintu lemari. Ia berjinjit seperti mencari-cari suatu barang. Tak lama setelah itu dia kembali duduk di pinggir tempat tidur sambil menyerahkan selembar foto belum terlalu kusam dan masih cerah padaku.

Di foto ini tampak sebuah rumah panggung terbuat dari kayu dengan pohon-pohon rambutan juga karet nan rindang di sekitarnya. Ada pula beberapa tanaman bunga depan halaman rumah. Rumahnya tidak memiliki arsitektur mewah, malah sederhana namun terkesan menyimpan kedamaian dan rasa kekeluargaan. Terdapat teras memiliki kursi kayu memanjang. Hari telah gelap di dalam foto ini. Penerangan hanya ada lampu rumah sedangkan luar bergantung pada petasan atau mercon menyala. Anak-anak sekitar kampung berkumpul riang memegang petasan masing-masing. Ada aku bersama Arman serta Desya tengah menyalakan mercon. Kemudian di belakang ada asap mengepul hasil pembakaran jagung.

Menutup malam

Beginilah kegiatan ketika malam pergantian tahun di desaku. Tiba-tiba Arman memelukku lalu berkata, “Ayo … nostalgianya hentikan dulu. Sebentar lagi mau maghrib, mandi terus sholat, Kak!”

Aku mengangguk ceria. Berdiri dari kursi, lalu menaruh foto malam tahun baru tersebut di atas meja belajar. Berhenti sejenak selanjutnya melepas earphone, mematikan laptop dan sebaliknya menyalakan ponsel. Logo platform aplikasi chatting terkenal alias BBM aku tekan kemudian mengetik pesan singkat pada salah satu grup.

Alumni SDN 004 Tanah Grogot
Diskusi umum

Deta: Kapan-kapan kita kumpul bareng, yok? Kangen main permainan tradisional bersama !

Oleh : i-just-simple-fangirl


Terima kasih telah membaca cerpen kenangan masa kecil. Semoga cerita pendek diatas dapat menghibur dan memberi manfaat bagi sobat Bisfren sekalian. Jangan lupakan adat istiadat dan agama meskipun kita sudah merasa modern. Tetaplah optimis dan semangat dalam mengejar impian. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Artikel terkait