The Story Of Us @ Cerita Cinta Bersambung bagian 2

Cerita bersambung The Story Of Us bagian 2

Cerita bersambung “The Story Of Us”

Ini adalah cerita bersambung The Story Of Us bagian kedua. Apabila anda belum membaca bagian pertama silahkan baca : Chapter 1 – The first time I meet u.

Chapter 2 – Dan ternyata masih mengendap dipikiran !

Sebenarnya aku sudah menulis cerita ini, namun masih banyak yang ingin aku ceritakan pada kalian. Tentang perasaanku terhadapnya belum bisa berubah hingga sekarang.
Banyak kejadian yang telah terjadi semenjak dia mengumumkan untuk berteman saja padaku. Malam itu, ketika aku meminta kepastian padanya, aku berjanji akan menangis hanya pada malam itu saja. Hatiku sakit. Hidupku kacau. Aku seperti kehilangan penerang cahaya hidupku. Aku sudah terbiasa menjalani hari hari dengan pesan darinya. Hingga ketika ia pergi aku merasa asing. Tak ada kabar darinya, canda, dan cerita bersamanya. Tiba-tiba sepi mencengkam hidupku. Dia hilang tak berbekas. Dan aku sibuk mencarinya seperti kehausan. Namun aku tak berani memulai. Aku takut jika aku menghubunginya akan sulit membuatku lepas darinya. Hatiku benar-benar telah tertinggal disana. Bersamanya.
Sekarang aku sadar, mengapa ayah melarang aku untuk berpacaran. karena ayah takut aku merasakan sakit.

Aku tak tahu mengapa aku begitu mencintainya. Atau bahkan mungkin ini bukan yang namanya cinta? jadi apa namanya? Perasaan yang selalu memikirkannya, ingin selalu melhatnya, ingin berada disampingnya, ingin memberitahunya lebih awal tentang semua hal yang terjadi padaku. Aku sudah pernah menceritakan bagaimana kedekatan diantara kami. Kami belum memulai hubungan namun sudah saling membuka hati. Dan dia lebih memilih yang lain daripada aku yang telah mengenalnya lebih dulu.

Sahabat baikku bilang bahwa dia itu namanya mempermainkanku. Namun, aku menyangkalnya. Aku masih belum menerima semua itu. Semua terlalu cepat dan tiba-tiba. Memang perangaiku yang lebih suka menyendiri, tertutup, dan sudah terbiasa tak menjalin hubungan ini ntah mengapa bisa terbuka olehnya. Kehadirannya membuatku lebih berarti. Semua berawal dari pesbuk. Semua teman sekelasku bahkan tau kami dekat lewat jaringan social itu. Mereka terus menggodaku. Anehnya aku tak merasa senang dengan hal itu. Aku menikmati hari-hari dengannya. Tak ada sedetik pun tanpa kabar darinya. Sampai aku berpikir dialah orang yang selama ini aku cari. Dia berhasil membuatku melupakan mantan yang paling ku sayang. mantan yang namanya hampir mirip denganku. Mantan yang menurutku tak tergantikan. Mantan yang mencuri hatiku dengan cara yang berbeda. Mantan yang menemani masa-masa indah terakhir di SMP. Jadi sudah sewajarnya aku belum bisa melupakan orang yang bisa menggantikan itu dan paling berpengaruh dalam hidupku.
Kedekatan ku dengan si angka 8 (aku menyebutnya 8 karena namanya hampir mirip dengan deretan angka kimia nomor 8) saat bulan puasa. Dan pada pertengahannya dia menghentikan semuanya. Aku sungguh beruntung, tiba-tiba ayah mengabari kami semua untuk mudik ke Medan. Aku senang sekali. Jadi aku bisa dengan mudah melupakannya. Namun kau tahu apa yang terjadi? Aku bahkan masih mengharap pesan darinya. Aku masih menunggunya berubah pikiran. Aku bodoh memang. Tapi itulah kelebihanku. Aku akan setia berpaku pada satu pilihan dan sulit untuk merubahnya. Aku ingin mempertahankan pilihanku, namun pilihan itu sendiri yang berusaha melepas diri dari genggamanku.

Perlahan-lahan aku mencoba melupakannya. Aku bertemu banyak sodara sebayaku dan kami menghabiskan waktu bersama, bercanda, dan bercerita. Tiada hari disana tanpa berkuliner. Dan itu membuatku seakan hidup kembali. Apalagi aku bertemu dengan seorang teman lama ketika dikapal. Aku bertemu abang itu yang bisa membantuku mengalihkan pikiranku darinya.

Setelah lebaran usai, aku pun kembali ke Batam. Ada rasa takut yang menjalari tubuhku. Aku benar-benar belum siap bertatap muka dengannya. Ingin rasanya aku jauh, tapi tak bisa kulakukan. Dan ketika semua kegiatan dimulai, aku bertemu dengannya. Aku tak berani menatapnya. Jadi seperti biasa kami hanya diam.

Dan tak berapa lama setelahnya, kami mulai berkirim pesan lagi. Dan dia yang memulai. Tapi cara sms kami tak seperti dulu. Kami lebih akrab sebagai teman. Hal itu sedikit membuatku senang, dan membuatku cemas. Karena aku hampir saja melupakannya. Dan bisa menerima segala keputusannya dulu.

Waktu terus berjalan. Kami akhirnya bisa menerima. Dia dan aku berteman layaknya normal. Hingga suatu hari, dia memberitahuku bahwa ia mengkopi tulisan yang aku buat tentangnya. Aku begitu malu. Sungguh, aku pikir dia takkan tahu. aku jadi penasaran. Bagaimana perasaannya ketika membaca itu? Marahkan? Mengejek aku kah? Aku tidak tahu. aku tak berani bertanya. Aku hanya minta maaf dan bilang itu semua masa lalu. Dia pun tak mempermasalahkannya. Malah dia bilang, dia sering membaca catatan itu berulang-ulang. Aku tidak tahu benar tidaknya. Yang jelas aku malu sekali.

Satu hal yang tak aku mengerti darinya.

“Sometimes we’re friends, sometimes we’re more than friends, and sometimes I’m just a stranger to you”

Terkadang dia menunjukkan sifat yang dapat membangun harapanku. Terkadang dia bersikap biasa saja. Aku tak akan bisa mengerti jalan pikirannya. Ingin rasanya aku menyadarkan sambil berteriak dihadapannya, “Hey! Aku disini menunggu mu! Tidakkah kau sadar? Secepat itukah kau melupakan kisah kita? Apa sebenarnya perasaanmu terhadapku selama ini? tolong katakan sebenarnya! Jika tidak, tolonglah bantu aku untuk melupakanmu. Aku mohon.”

<< Bersambung ke bagian 3 : Chapter 3 – Bahkan aku di kota lain pun >>


Tag :
inspirasi motivasi kata bijak kata mutiara kata cinta inspirasi hidup motivasi hidup kata cinta bijak kata mutiara cinta inspirasi cinta motivasi cinta kata bijak cinta cerita cinta cerita cinta bersambung cerpen cinta cerpen cinta remaja cerita cinta remaja misteri cinta misteri motivasi misteri inspirasi misteri bijak

Dibagikan

Ran

Penulis :

Artikel terkait