Suami Untuk Pacarku

cerpen romantis pernikahan

Suami untuk pacarku adalah cerpen romantis pernikahan tentang teman yang merelakan mantan pacar dinikahi sahabatnya namun kemudian dia menikah dengan kakak dari sahabatnya tersebut. Bagaimana kisahnya ? simak pada cerita pendek romantis berikut.

Cerpen Romantis Pernikahan – Suami Untuk Pacarku

Di hari jadi yang ke dua tahun, aku memutuskan hubungan percintaanku dengan Alisa. Dia sosok gadis yang hebat, selama berpacaran denganku Alisa tidak pernah menuntut untuk mengajak buru-buru menikah. Padahal dari usianya, Alisa sudah pantas untuk menikah, hanya saja kesiapanku masih banyak yang kurang. Ada saja alasan yang mengganjal di hatiku.

Aku tak kuasa saat mengetahui keadaan kedua orang tua gadis manis itu yang sudah berusia renta. Meski tidak pernah sekalipun mereka menyinggung tentang hubunganku dengan Alisa, namun aku seolah merasakan jeritan kesedihan dari keluarga kecil itu. Alisa anak gadis semata wayang, ia tinggal di rumah kecil satu petak bersama kedua orang tuanya. Posisi rumahnya berada di tengah pemukiman warga yang kumuh lingkungannya. Sedangkan aku, tinggal di sebelah pemukiman tersebut. Aku tinggal bersama orang tuaku di sebuah perumahan elite, ayahku seorang pengusaha, dan ibu seorang pejabat negara.

Saat itu aku sedang ada kajian agama di sebuah masjid besar sekitaran komplek. Setiap satu minggu sekali aku ikuti kajian agama tersebut, alasan aku ikuti pengajian, karena itu salah satu kebutuhan rohaniku yang tidak bisa kulepaskan hingga ajal menjemput. Aku bertemu dengan teman-temanku yang salih, senang rasanya jika sudah berkumpul dan diskusi ilmu bersama mereka. Salah satu temanku adalah Fuad. Ia anak dari seorang kiyai, kehidupannya pun terlihat bahagia dan serba mencukupi, namun ia dikenal tidak sombong, ilmu dan wawasannya pun luas tentang apapun termasuk agama.

Fuad baru saja keluar dari sebuah pendidikannya di salah satu pesantren di daerah Jogjakarta. Lima tahun ia jauh dari kedua orang tuanya, kini dia jado seorang yang boleh dihormati karena ilmunya.

Di teras masjid, aku dan Fuad berbincang tentang banyak hal ketika usai pengajian. Kami berdua sangat menikmati setiap diskusi, dan Fuad punya banyak ilmu yang belum aku ketahui. Pemuda salih itu sangat baik, lain waktu dia bahkan ingin mengajakku berkenalan dengan seorang guru besarnya di pesantren untuk belajar bersama. Aku pun sepakat, karena gurunya itu adalah seorang ulama besar di Jogjakarta yang terpandang baik oleh banyak orang.

Fuad menyodorkan ponselnya kepadaku, “Kamu kenal sama perempuan ini nggak?” tanyanya sambil tersenyum

Sontak saja aku kaget, wajahku keheranan saat melihat foto Alisa ada di ponsel Fuad. Namun aku berusaha menutupi dan seolah menganggap Alisa bukan siapa-siapaku.

“Wah kayaknya pernah lihat saya, tapi lupa … cantik ya dia …” jawabku sambil melempar senyum.

“Ini wanita mau dijodohin sama saya … ayah saya yang kenalin ….” ujar Fuad. Ia menaruh lagi ponselnya ke dalam saku baju kokonya. Sedangkan aku hanya mengangguk menyimak pembicaraan Fuad.

Perjodohan. Kamu itu laki-laki tampan, kaya raya, pintar, salih, dan kamu itu punya banyak teman baik. Untuk apa harus dijodohkan, dan kenapa juga harus Alisa yang ayahmu pilih. Aku bingung harus menganggapi bagaimana. Kucoba alihkan pembicaraan, tapi Fuad malah membicarakan Alisa lagi. Aku lebih sedikit bicara, dan sering tersenyum-senyum masam mendengarkan Fuad bicara. Kadang penuh hikmah, kadang malah menyakitkan hatiku kalau ia bicara soal Alisa.

“Kamu mau temani saya buat ketemu sama orang tua Alisa nggak ?” tanya Fuad serius.

Jleb!! Aku setengah kaku saat mendengar pertanyaan konyol itu. Whats? Kenapa harus aku?!!! Hatiku saat itu ingin teriak, untung aku masih sanggup meredam.

“Mau nggak, Akh?” Fuad bertanya lagi

Tidak enak juga kalau aku tolak. Sebab Fuad sahabatku sejak kecil, dan aku juga sering belajar mengaji dengan ayahnya. Bisa saja aku menolak atau membuat alasan, tapi aku ingin ikuti kata hatiku. Aku harus bantu Fuad. Akhirnya aku pun mengiyakan ajakan itu. Yah, aku menemui sosok yang sudah dua tahun pernah menjadi pacarku itu. Lihat saja besok, ada drama apa saat aku, Fuad, dan Alisa bertemu. Karena aku juga mendukung perjodohan itu, diriku setuju kalau Alisa menikah dengan Fuad. Jelas Fuad adalah sosok lelaki yang sudah siap dan pantas menjadi seorang imam rumah tangga.

****

Satu tahun berlalu, aku masih ingat saat acara resepsi pernikahan Fuad dengan Alisa. Bahkan aku masih ingat ketika wajah keluarga kecil Alisa keheranan saat mengetahui diriku yang mengantar Fuad melamar mantan pacarku itu. Bahkan sampai semua proses urusan pernikahan itu, aku ikut membantunya. Pedih memang rasanya, saat aku meminta Alisa dan kedua orang tuanya untuk merahasiakan hal tersebut pada siapapun, termasuk Fuad dan keluarganya. Saat itu terpancar batin yang pedih diantara kami.

Aku jelaskan mengapa kejadiannya jadi seperti itu, kepada Alisa dan juga keluarganya. Dan aku berusaha meyakinkan mereka bahwa itulah jodoh dari ketentuan Allah. Bukan soal siapa yang mengenal lebih dulu atau lebih lama, tapi itu soal takdir Tuhan, takdir Tuhan juga yang menghendaki Alisa dan Fuad berjodoh. Sampai proses ijab kabul, rasa pedih itu semakin terasa diantara kami, namun terbalut oleh kebahagiaan.

Fuad membawaku semakin dekat dengan keluarganya, ia sampai menganggapku sebagai saudaranya. Dan beriring waktu, aku dikenali kepada seorang gadis cantik, ia adalah kakaknya Fuad. Perkenalan saat itu sangat singkat, hingga entah mengapa aku menerima tawaran ayahnya Fuad untuk menjadi menantunya. Aku menikahi Bella, gadis cantik, sholiha, dan berpendidikan.

Mengetahui saat aku akan menikahi Bella, kakak ipar dari Alisa, ia justru mengucapkan turut bahagia. Namun kami saling paham tentang rasa pedih yang masih menggelayut. Aku rela Alisa menikah dengan Fuad, dan bahkan aku mendukungnya. Kurasa begitu juga yang dirasakan oleh Alisa, karena yang kukenal ia adalah sosok wanita tangguh. Yah, ini tak disangka memang, aku mempersembahkan sosok suami untuk mantan pacarku itu, dan kami malah jadi satu keluarga. Masa silam dua tahun bersama Alisa, masih terbayang jelas olehku tentang momentum indah yang pernah kami lewatkan berdua saat berpacaran.

****

Dalam pelukanmu, dekap tubuhmu, aku rindu seseorang yang sebelum pernikahan ini pernah ada di hidupku. Wanita tangguh yang tak pernah mengukur rasa dengan apapun, ia sosok wanitaku yang pernah juga singgah menemani kisah hidupku. Terlalu manis namun kejam jika aku bercerita tentang dia padamu duhai, kekasihku. Sebab kamu sudah menjelma jadi bagian hidupku saat ini dan hingga hayat akhir nanti.

Aku berbisik pada Bella dalam dekapannya, “Kamu istri terbaikku, sayang …” ujarku dengan nada lirih, “Aku sangat mencintaimu …” kukecup bibir manisnya. Ia adalah bidadariku.

Bella tersenyum, manatap wajahku dengan manjanya, lalu ia memeluk mesra tubuhku. Lampu kamar kumatikan, hingga gelap seluruh sudut ruangan. Ssstt ini kisah malam pertama sepasang kekasih halal. Nikmatnya malam itu, hingga tak sadar kami sudah hampir satu jam sampai pada klimaks kenikmatan itu.

Yah, sesekali terbayang wajah Alisa dalam benakku. Dia pernah berkata bahwa dirinya sangat yakin kalau aku adalah lelakinya. Tidak, ternyata keyakinannya itu bukan kehendak Tuhan. Dua tahun lamanya kami berpacaran, tapi tidak berujung pada pernikahan. Sia-sia? Iya, karena hatiku tersayat. Untuk apa pacaran, jika belum pasti ada pernikahan. Begitu rasanya, meskipun aku belum pernah memegang tubuh indah mantan pacarku itu, tapi aku rindu ingin memeluknya. Tapi tidak !  Kini aku sudah bahagia bersama Bella.

Bella menyalakan lampu kamar, tubuhku lemas setelah hampir satu jam kami menikmati malam pertama pernikahan itu. Gontai, dan aku pun terlelap tidur saat Bella pergi ke dapur untuk mengambil minum. Tubuh wanitaku itu, yah sangat indah. Belum pernah aku bayangkan sebelumnya. Hhh, aku sudah dalam perjalanan mimpi malam hari itu.

***

Aku terbangun saat menjelang subuh. Melihat istriku yang cantik masih pulas tertidur. Ah, ternyata semalam ia membuatkan aku minuman susu putih. Kuhabiskan susu itu, lalu pergi ke kamar kecil untuk mandi wajib, karena aku akan melaksanakan sholat subuh ke masjid. Kukecup kening Bella, wajahnya semakin tampak cantik ketika ia sedang tertidur. Aku semakin mencintainya.

Usai mandi, melihat istriku masih tertidur pulas. Aku tahu ia pasti kelelahan. Tapi aku harus tetap membangunkannya untuk mandi dan sholat subuh. Sebenarnya aku tak tega membangunkan Bella, tapi itu sudah jadi kewajibanku sebagai seorang suami untuk membimbing istri. Kewajiban istriku kepada Tuhan, adalah jadi tanggung jawabku juga. Manis, sangat manis wajah Bella saat sedang tertidur, mungkin ia tengah bermimpi indah.

“Bella …” aku memegang pipinya, “Sayang … bangun … sudah subuh.” ujarku.

“Eh, Mas … udah subuh ya?” Bella terbangun. Ia tersenyum manja melihat wajahku. Aku pun membalas senyumannya.

“Ayo sayang, bangun … mandi, terus sholat subuh …” ujarkun sambil duduk di bibir kasur, tepat di samping Bella berbaring.

“sholat berjamaah ya, Mas …” pinta Bella dengan manjanya. Ia bangkit dari pembaringannya. Lalu mengecup pipiku.

“Ih bauuu nih istriku …” candaku sambil menyubit pelan pipinya, “mandi dulu sana ….” aku tersenyum lagi padanya. Lalu Bella pun bergegas mandi.

Yah, tidak apalah. Ini permintaan istriku, waktu subuh itu aku tidak sholat di masjid dulu. Toh ini juga yang menjadi kerinduanku semasa aku masih lajang, ingin menjadi imam untuk sosok istriku. Aku berwudhu di kamar kecil ruang tengah rumah kami. Dan setekah itu aku menunggu Bella sambil membaca al-Quran, waktu adzan sudah masuk sejak lima menit lalu.

Ketika aku membuka surah Ar-Rohman, tiba-tiba aku ingat lagi dengan seorang sahabatku Fuad. Sosok lelaki yang telah menikah dengan Alisa. Di atas perjodohan ayahnya Fuad, kurasa mereka saat ini hidup bahagia. Surah itu adalah mahar yang diberikan Fuad kepada Alisa saat menikahinya. Ya, dan aku menyaksikan pernikahan itu. Air mataku menetes ketika mengingat moment indah itu. Dan kini aku malah hidup bahagia bersama dengan Bella, sosok wanita sholiha yang adalah seorang kakak dari Fuad.


Terima kasih telah membaca cerpen romantis pernikahan suami untuk pacarku. Semoga cerita romantis pendek diatas dapat menghibur dan memberi motivasi hidup bagi sobat pemirsa sekalian. Salam sukses.

Dibagikan

Eddy Putra

Penulis :

Artikel terkait