Surat Terakhir Yang Terlambat

cerita renungan keluarga sedih

Surat terakhir yang terlambat adalah cerita renungan keluarga sedih tentang seorang cucu yang malas membalas surat kakeknya. Suatu ketika dia membutuhkan teman curhat lalu mengirim surat kepada kakeknya. Simak pada cerita pendek berikut.

Cerita Renungan Keluarga – Surat Terakhir Yang Terlambat

Setiap awal pasti ada akhir, begitu katanya. Aku masih ingat dia pernah mengatakan itu, masih jelas di telingaku—tetapi aku tidak ingat wajah lelaki paruh baya itu.

Waktu itu hujan lebat, angin yang datang sangat kencang. Ditambah pandanganku meredup karena kacamataku patah, aku menderita rabun jauh. Parah yah… masih tujuh belas tahun sudah kena rabun. Karena seingatku kakekku saja kena rabun sejak umur lima puluh tahunan, dia memang sering membaca. Itu makanan sehari-harinya, aku melihatnya sendiri. Dia makan kertas dan pena. Dia mantan jurnalis yang terpaksa harus pensiun di usia tiga puluh sembilan tahun, dia kena serangan jantung dan struk ringan waktu itu. Dia bisa mati kalau terus-terusan memburu berita berat sampai gosip murahan. Sekarang dia masih di kampung halaman. Sehat dengan kesibukannya, membaca.

Aku sering berkirim surat dengannya. Seminggu sekali surat darinya datang, tetapi tak sempat kubalas untuk surat terakhirnya. Kesibukankulah yang menjadikan aku malas. Malas menulis apalagi membuat puisi untuk kakek. Maaf ya…

Oh ya, lelaki tua itu lagi. Dia siapa? Yang ku ingat hanya sorot matanya saja yang terang, dalam dan datar. Aku yakin dia belum pernah kutemui, di manapun. Aku tidak pernah melihatnya selain malam itu. Malam dimana aku hendak pulang kerumah namun tercegat oleh badai yang tak biasa datang di kota. Bagiku itu badai paling mustahil yang pernah ada di Jakarta, mengerikan. Aku tak bisa membayangkan bagaimana kalau tubuhku terseret ratusan meter oleh angin topannya. Aku mungkin sudah mati. Darah berkucuran seperti susu kedelai yang sedang kuminum. Aku ngeri, merinding.

Ya, setiap kali aku membayangkan wajah lelaki tak jelas itu memang selalu menakutkan. Apa lagi saat malam datang, aku sedang duduk di meja belajar, seorang diri dan hanya di temani lampu temaram. Sering kali ada bayangan hitam di balik jendela yang kuyakini adalah setan, atau jelmaan siluman yang bisa jadi mau memangsa manusia.

Serabun-rabunnya mataku, aku tetap bisa melihta sosok menakutkan. Apalagi itu setan!

Terlalu sering aku membayangkan lelaki tua itu semakin pula aku malas melakukan apa-apa. Aku ketakutan. Semoga badai hujan, angin besar atau apapun tak datang lagi. Aku berharap pada Tuhan di atas langit…

Mendadak aku teringat akan sepucuk surat kakekku, haruskah aku membalas surat itu? Kebetulan, aku mau menceritakan kisah ini sajalah. Dan aku mulai menuliskannya

Baris pertama tidak masalah, seperti biasa. Kami hanya berbasa-basi singkat saja. Tidak terlalu ruwet apalagi formal, kamikan satu keluarga. Bukan antara juragan dan kacungnya.

Melalui baris kedualah aku bercerita :

Sekitar tiga malam lalu—sebelum aku kena flu—aku kehujanan di jalan. Aku berteduh di bawah bangunan kokoh yang asing dan agak gelap. Aku sebenarnya takut dan ingin pulang saja waktu itu, ingin lari secepat zebra hutan atau apalah… tetapi anginnya cukup kencang sekali, aku takut tubuhku terseret dan hilang. Jadi, aku putuskan untuk duduk diam di pojokan sampai badai hujannya reda. Tak lama ada seorang laki-laki paruh baya ikut berteduh. Aku tak melihat wajahnya benar-benar, kek. Mataku minus, kau tahu, kan? Dan kesalahanku waktu itu adalah: aku mematahkan kacamataku sewaktu olahraga, jadi pandanganku sudah kelewat kabur dan semuanya berbayang. Bahkan ketika seorang  Mario Maurer lewatpun aku tidak akan tahu, aku buta sesaat.

Bukan itu intinya aku bercerita. Bukan Mario. Bukan pula flu yang menyerangku. Tetapi, ada hal lain—yang aneh dan selalu terjadi di setiap tidur malamku. Ini mistis ?

Terserah kakek mau bilang apa. Tapi, jujur… aku juga takut. Aku khawatir waktu malam itu tubuhku sudah di gandrungi roh jahat atau setan sesat. Aku ngeri, kek.

Aku hanya cerita padamu. Tolong aku, kek. Bantu aku mengeluarkan jin itu dari dalam tubuhku. Aku tidak mau di hantui, karena setelah kejadian itu aku selalu di ikuti oleh sesuatu yang gelap dan sosok yang tak bisa aku jelaskan. Menakutkan rasanya. Percayalah, aku tidak bohong.

Kek, seperti ada yang menemaniku tidur di sisi ranjangku setiap malam. Sudah tiga kali aku di begitukan oleh setan. Sudah tiga hari aku tak makan saking ketakutannya, aku takut dia yang menyuapiku nanti.

Kakekku tersayang, maafkan aku tak balas suratmu tepat waktu. Aku juga tidak menuliskan puisi lagi. Aku sedang malas sekali melakukan apa-apa. Aku cuma ingin tidur saja, aku kengen tidur di sisimu, kek. Nanti aku pulang ke kampung sehabis ujian saja. Kali ini aku harus serius belajar supaya Ayah dan Ibu mengijinkan aku pergi berlibur sepuasnya, dan kita bisa bertemu sepanjang liburan itu. Sampai jumpa di hari liburan, kek!

Love you, your grandchild.

Selesai surat itu kutulis esoknya aku kirim ke pos. Kakek dan aku memang lebih suka mengirim lewat perantara pos, karena kita harus menunggu berhari-hari dan lama. Waktunya selalu tidak pasti. Dan itu yang paling menyenangkan, hati selalu di uji untuk menunggu. Menunggu kapan surat itu datang padaku atau kapan surat itu sampai di tangan kekek, lalu di bacanya. Pasti kali ini wajahnya agak marah, karena ternyata cucunya adalah seorang penakut sekaligus pemalas kelas teri. Sekali lagi, maafkan cucumu ya, kek!

Aku tersenyum menyambut malam, memeluk guling dan memadamkan lampu. Bayangan di jendela sudah tidak ada. Gelap dan sunyi kembali menghampiri. Malam ini aku was-was, tetapi tidak setakut sebelumnya.

***

“Mungkin kakek marah padamu karena kamu terlambat membalas suratnya.” Adikku berseru begitu. Keras dan tega sekali dia. Dia pikir aku baik-baik saja setelah mendengar itu? Tidak. Aku sedih sekali, hingga rasanya ingin pulang ke kampung sekarang. Aku rindu kakekku, aku rindu membaca suratnya, aku juga ingin memeluknya. Dia jurnalis terhebat yang pernah aku lihat. Dia cerdas, kakek tua yang tampan, baik dan puitis. Dia tokoh idolaku sejak aku memahami bahasa menulis. Dia itu sumber dari segalanya yang aku baca dan aku dengar. Dia lebih dari sekedar buku, dia itu museum sekaligus perpustakaan berjalanku.

Kakek, aku merindukanmu…

Dan, tiba-tiba air mataku mengalir. Hujan deras datang lagi hari ini, anginnya juga menemani, sedikit lebih berteman di banding malam lalu. Tidak ada badai dari langit, tetapi badai kali ini lebih menyedihkan. Aku tidak takut, tetapi kehilangan.

“Kakekmu sudah pergi, nak…” Ibu sudah merangkulku dengan nyaman. Kehangatan sudah mendekapku. Aku memang sedikit tenang, namun aku paham bahwa ketenangan itu hanya besifat sementara. Selanjutnya aku merasakan kehilangan yang luar biasa besar. Kakekku sudah meninggal tiga hari sebelum aku menulis surat itu.

“Kenapa kalian tidak bilang, Bu?” aku bertanya sekaligus menangis.

Ibu tidak langsung menjawabku, hanya saja rangkulannya semakin erat. Saking eratnya dadaku sesak. Lambat tapi pasti, setelah debaran jantung ini mengendur mulut ibu membuka lagi. “Kakek tidak mau suratmu putus di tengah jalan. Dia menunggu kirimanmu setiap jam. Dia menunggumu di tempat lain. Dia juga sudah tenang.” pipi ibuku akhirnya basah juga. Sama sepertiku, tak kuat menahan rasa cinta sekaligus rindu ini.

Hatiku sedikit lebih lega setelah mendengar itu, tapi aku juga menyesal. Menyesal karena sudah membuatnya menunggu satu balasan terakhirku. Suratku terlambat datang. Terlambat aku kirim. Dan tak sempat dibacanya. Aku menangis dalam sepi.

Kembali aku mengingat laki-laki paruh baya yang ku temui saat hujan lalu, dia masih seseorang yang misterius bagiku. Dia tidak akan pernah kembali lagi. Dia pangantar surat terakhir kakek yang hanya singkat isinya:

Kakek belum pergi, kakek sedang menunggumu di tempat lain. Tumbuhlah menjadi anak yang dewasa, katanya waktu itu. Tepatnya sebelum aku lari ketakutan.

Malam larut yang sunyi membuatku terjaga. Aku menatap ke atas langit-langit kamar dan jendela yang sengaja kubuka. Siapa tahu ada sosok itu lagi, walau mustahil aku tetap percaya. Hal seperti itu memang selalu ada, bukan ?

Lama-lama aku mengantuk. Sebelum mataku terlelap aku membayangkan wajah kakek sedang tersenyum. Pasti. Dia mencintaiku. Akupun mencintainya lebih dari sekedar ikatan darah dan keluarga, kami punya ikatan lain: ikatan batin.

-End-

Sebenarnya aku sungguh lupa wajah kakek itu seperti apa. Aku tidak tahu bagaimana kebiasaan rutinnya. Satu-satunya hal yang aku lihat saat kecil hanya kacamata bacanya yang semakin menua. Aku tidak punya gambar wajahnya, orangtuaku tidak pernah memotretnya karena beliau tidak suka.  Teruntuk, kakekku tercinta.


Terima kasih telah membaca cerita renungan keluarga sedih, semoga cerpen diatas dapat menghibur serta memberi inspirasi bagi sobat Bisfren sekalian untuk selalu menjaga silaturahmi dengan keluarga terutama dengan orang-orang tua. Salam sukses.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait