Tahajudku

cerita pendek inspiratif kisah nyata

Cerita pendek inspiratif kisah nyata tentang wanita yang tinggal di rumah kakak ipar. Berbagai perlakuan tidak menyenangkan serta suami yang suka mabuk-mabukan dilewatinya dengan sabar. Simak pada cerpen keluarga berikut.

Cerita Pendek Inspiratif Kisah Nyata – Tahajudku

Aku terbangun jam 2 dini hari setiap malam, memang aku selalu terbangun pada jam-jam seperti ini, entah kenapa, mungkin suatu panggilan hatiku untuk sujud pada Sang Khalik langit dan bumi. Setelah berwudhu akupun memulai Sholat sunah Tahajudku. Di saat pertengahan malam seperti ini aku bebas, bebas mencurahkan segala isi hatiku pada penciptaku, menceritakan semua kesusahan hati maupun sedikit kebahagiaan yang kuperoleh setiap hari, menceritakan banyak hal, dan diakhiri dengan permohonan-permohonan sederhana tentang keluarga kecilku, tentang putri-putriku, tentang harapan dan impianku untuk keluargaku. Setelah Sholat kututup dengan zikir, menghabiskan waktu aku duduk di ruang baca dan membaca sedikit terjemahan Al-Quran. Maklumlah sebagai mualaf aku belum terlalu bisa membaca Al-Quran menggunakan bahasa arab. Walaupun sudah ada beberapa ayat Al-Quran pendek yang kuhafal tetap saja aku harus banyak belajar.

Aku menguap kulihat jam di dinding sudah pukul setengah empat pagi. Kubuka mukenaku dan kembali ke kamar, putri-putri kecilku masih tidur, lihat saja cara tidur mereka yang satunya kakinya ada di atas perut kakaknya sedangkan tangan kakaknya ada di dada adiknya, aku tersenyum kecil mengecup lembut pipi anak-anakku dan memperbaiki tidur mereka. Terdengar bunyi pagar di buka dan mobil masuk.

Aku menarik nafas berat, jam segini baru pulang pasti mabuk lagi. Benar saja bau minuman beralkohol tercium menusuk hidung saat suamiku melewatiku dengan cuek. Dan langsung menuju kamar tamu untuk tidur, kebiasaan kalau mabuk dia akan tidur di kamar berbeda. Dan kebiasaan ini sudah seperti hal yang biasa bagiku, karena sudah hampir sebulan ini suamiku tiba-tiba kembali ke kehidupan lamanya. Aku mencoba untuk sabar, dan mencoba untuk menunggu suamiku bicara, sebagai seorang istri yang tunduk pada suami aku tidak ingin lancang bertanya.

Jam 4 pagi aku memulai aktifitasku di rumah besar ini. Kumulai dengan menyapu dan mengepel lantai, mencuci piring-piring kotor, merendam cucian dengan sabun cuci, dan mempersiapkan sarapan pagi untuk orang rumah. Aku dan suamiku masih tinggal di rumah keluarga, kami tinggal bersama kakak perempuannya yang tidak menikah. Aku sadar kehadiranku di keluarga ini tidak diinginkan. Pernikahan yang terjadi walau atas dasar cinta tetap saja tidak disetujui oleh keluarga suamiku. Mungkin karena perbedaan strata. Aku sadar aku hanya berasal dari keluarga miskin sedangkan suamiku dari keluarga kaya. Apalagi dulu agamaku berbeda, aku menganut agama Kristen dan sejak menikah aku mengikuti agama suamiku, lalu kuputuskan untuk mempelajari agama Islam ini dengan mengikuti pengajian dan banyak bertanya pada bu ustadzah yang mengajar aku mengaji setiap selesai mahgrib. Semua ku jalani dengan hati ihklas dan sabar. Aku tidak ingin mengecewakan suamiku karena aku tahu dia sering di tekan keluarganya untuk menceraikanku. Mungkin itulah yang selama ini menjadi beban di hati suamiku hingga dia mulai mabuk-mabukan. Apalagi dia anak bungsu dari 8 bersaudara keputusannya untuk menentang keluarganya dan tetap membawaku masuk ke dalam keluarganya, hal yang membuat aku meyakini kalau dia sangat mencintaiku, apalagi saat ini kami sudah memiliki kedua putri-putri kami.

Karena itulah aku ingin menyenangkan hati suamiku dengan melakukan semua yang di inginkan keluarganya. Walaupun aku akhirnya harus terpisah dengan keluargaku. Karena sejak kuputuskan menikah dan berjilbab keluargaku juga ikut membuangku. Mereka tidak lagi menganggapku sebagai bagian dari mereka. Walau begitu aku selalu menghubungi ayah ibuku walau cuma sekedar berkirim SMS karena setiap kali aku menelpon tidak pernah di angkat.  Aku ingin mereka tahu kehidupanku baik-baik saja dan aku bahagia. Meski sebenarnya hidupku tidaklah sebahagia itu.

Jika lebaran tiba kesibukanku di dapur sangat padat. Aku harus membuat kue-kue kering pesanan keluarga. Dan beberapa hari menjelang lebaran aku harus memasak persiapan “open house”. Maklumlah keluarga suamiku adalah pejabat. Hampir semua saudara-saudara suamiku berkecimpung dalam dunia politik hingga nama keluarga mereka sangat dikenal di kota ini.

Setiap  lebaran bapak Gubernur dan rombongan selalu datang bertamu. Jika acara di mulai, tempatku  hanya di dapur mengatur makanan-makanan agar jangan sampai di meja tamu kehabisan makanan. Di luar sana ipar-iparku bergaya dengan kebaya baru mereka untuk sesi foto keluarga bersama bapak Gubernur, sementara di dapur ini aku bergaya dengan menu masakan.

Setiap tahun, pada dinding  terpajang beberapa foto keluarga bersama Gubernur ada suamiku dan kedua anakku tapi tidak ada bayangan diriku, dan ini sudah masuk ke 10 tahun pernikahan. Tapi aku sama sekali tak keberatan, mungkin aku belum di anggap keluarga mereka. Walaupun kadang mengalami ketidak adilan tak sedikitpun aku melalaikan Sholat wajib dan sunnahku apalagi untuk Sholat tahajud.

Dari banyak membaca tentang buku-buku dan hadis nabi aku jadi tahu  tentang keistimewaan Sholat sunah tajahud. Dan akupun yakin seperti air yang mengalir menetesi sebuah batu perlahan-lahan batu itu akan retak juga begitu juga denganku. Melakukan semuanya dengan hati sabar, tulus ,dan ihklas aku yakin suatu saat  mereka akan menerimaku dan di hadapan mereka aku bukan cuma sekedar pembantu tapi sudah menjadi sebagian dari keluarga mereka.

Kakak perempuan suamiku yang tidak menikah terkenal cerewet dan judes, saat pertama kali aku datang kerumah ini aku sudah diomelinnya, jika ada pekerjaan rumah yang salah atau masak di dapur tidak sesuai dengan keinginannya dia akan mengomeliku habis-habisan. Awalnya aku agak kaget dengan situasi ini tapi lama kelamaan aku terbiasa, walaupun aku di omelin tapi tetap saja kakak perempuan suamiku yang bernama Hayati itu selalu memberi contoh untuk melakukan pekerjaan yang benar walaupun tetap dengan mengomeliku dia akan mengajari hal-hal yang aku tidak tahu, dari cara membersihkan ikan dengan benar sampai membuat masakan rumit dan kue-kue kering. Aku banyak belajar darinya. Banyak hal positif yang kupelajari dari Hayati. Walaupun tetap saja rasa tidak suka masih sering kudapati darinya.

Dengan bekal ilmu yang kudapat dari Hayati tentang cara membuat kue yang baik, akupun mulai menerima pesanan kue. Lumayan untuk jajannya anak-anak, menerima hasil pertama dari pesanan kue kusisihkan untuk pembangunan mesjid di komplek rumah yang masih sedang membangun. Buah dari kesabaran itu manis karena itu aku selalu melakukan hal-hal dengan doa dan keihklasan aku yakin suatu saat nanti mereka akan menerima kehadiranku tanpa melihat siapa aku. Dan sampai saat ini aku masih terus bersabar, bersabar menghadapi sikap suamiku yang mulai tak semanis dulu, yang mulai suka mabuk-mabukan, mulai nongkrong dengan teman-teman lamanya. Dan aku hanya bisa berdoa memohon pada Allah untuk selalu di berikan kesabaran. Untuk di bukakan mata hati suamiku, agar dia bisa melihat aku yang ada di dalam hidupnya.

Aku dengan penderitaan yang kujalani seorang diri.  Satu-satunya hal yang bisa menghilangkan rasa letih dan lelah di jiwaku hanya senyum putri-putri kecilku. Walaupun mereka sama sekali belum mengerti tentang dunia bagiku mereka seperti obat untuk gundahku, bermain dan bercengkerama dengan mereka, mengajarkan mereka banyak hal, aku yakin mereka pasti akan tumbuh menjadi anak-anak yang baik.

Jika memasuki bulan puasa entah kenapa di hatiku terasa sangat senang, alunan ayat-ayat suci yang di perdengarkan di pengeras suara mesjid yang tak jauh dari rumah sungguh seperti lagu yang bersenandung indah di hatiku. Begitu sejuk dan menenangkan hati. Rasanya tak ada waktu untuk kubiarkan berlalu tanpa menyebut namaNya. Ku isi bulan puasa dengan beribadah sebanyak-banyaknya mencari ridho Allah dan pahala. Bulan yang bagiku penuh rahmat dan berkah.

Ini lebaran yang ke 11 seperti biasa juga aku mulai sibuk membuat kue pesanan. Suamiku juga tidak lagi keluar untuk hura-hura, kebanyakan waktunya di habiskannya di rumah bermain dengan anak-anak. Mungkin menyadari kalau ini sudah bulan puasa. Walaupun begitu aku tetap merasa senang, sangat jarang dia bermain dengan anak-anak. Dia juga sudah mulai menegurku sekedar menanyakan hal-hal kecil yang sebenarnya sudah kusiapkan untuknya. Seperti sajadah, kain sarung untuk sembayang dan kemeja koko yang tak pernah lupa kusiapkan. Aku ingin menjadi istri yang terbaik untuknya, aku yakin lewat doa-doaku semua hal yang tidak mungkin akan menjadi mungkin.

Seperti biasa jika open house aku harus berada di dapur tapi tidak untuk kali ini. Hayati mengomeliku bukan karena soal makanan tapi dia mengomeliku untuk segera bersiap-siap berpakaian menyambut kedatangan pak Gubernur dan rombongan. Aku yang kaget akhirnya cepat-cepat berganti pakaian. Alangkah kagetnya aku saat di tempat tidur menemukan sebuah kebaya modern lengkap dengan jilbab berwarna senada yang sangat indah.

“Itu pemberian ibu, dia membelinya di Jakarta. Ibu ingin kamu memakainya untuk acara hari ini.” Kudengar suara suamiku yang sudah ada di belakangku. Pelukan lembut dipinggangku membuat hati tenang.

“Maafkan suamimu ini Yu, selama ini membuat kamu sudah begitu banyak menderita. Kesabaranmu membuka mata hatiku. Kamu adalah wanita hebat. Aku malu sama kamu Yu, selama ini aku tidak bisa menjadi imam yang baik untuk membimbingmu. Maafkan suamimu Yu.” Bergetar suara suamiku. Aku berbalik dan memeluk suamiku. Tidak ada kata yang bisa aku ucapkan untuk melukiskan suasana hatiku saat ini. Saat ini aku yakin Allah memberikan kesempatan padaku untuk masuk dengan utuh di keluarga suamiku. Dan aku yakin hal sesulit apapun yang nantinya akan aku hadapi esok hari aku akan menghadapinya bersama suamiku.

Aku yakin ini jawaban dari doa malamku saat aku bertahajud menghabiskan separuh malam hanya untuk memohon kemuliaan dari sang pencipta. Jika di jalani dengan ketekunan dan keihklasan shalat tahajud pasti akan memberikan banyak manfaat. Karena itulah bagiku shalat tahajud tak bisa ku lalaikan walaupun sekarang keluarga suamiku sudah menerimaku sepenuhnya salat tahajudku tetap ku jalani.

Aku yakin banyak kemuliaan yang akan kudapatkan saat aku menjalani Sholat tahajud ini. Rasa tentram dan damai di hati, ketenangan pikiran akan terasa di hati dan jiwa jika kita benar-benar melakukan Sholat Tahajud dengan tekun dan konsisten. InsyaAllah apapun yang kita inginkan dan harapkan akan terkabul. Karena aku sudah membuktikannya dalam kehidupanku saat ini. (PW)

IA BAHAGIA SEBAB DALAM KEHENINGAN MALAM, IA BISA BERSUJUD MEMUJI KEBESARAN SANG ILAHI. IA BAHAGIA SEBAB DALAM MALAM YANG SYAHDU IA BISA TERUS MELANTUNKAN RASA SYUKUR TIADA HENTI PADA YANG MAHA PEMBERI REZEKI. IA BAHAGIA SEBAB DALAM MALAM YANG KHUSYU ITU DENGAN SUKA CITA IA BISA MENGHAMPARKAN DOA-DOA DAN HARAPANNYA KEPADA SANG ILAHI.” (dari Renungan Islami)


Terima kasih telah membaca cerita pendek inspiratif kisah nyata. Semoga cerpen diatas dapat menghibur serta bermanfaat guna memberi inspirasi dan motivasi untuk terus berkarya. Salam sukses.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait