Tak Ada Artinya Lagi

cerita pendek perselingkuhan

Tak ada artinya lagi merupakan cerita pendek perselingkuhan suami karena istrinya tidak bisa memiliki keturunan sehingga dia berharap mendapatkannya dari wanita lain. Namun bagaimana akhirnya ? simak pada cerpen selingkuh berikut :

Cerita Pendek Perselingkuhan – Tak Ada Artinya Lagi

Andai saja dan andai saja … ya dan yang ada kini hanya penyesalan. Andai saja waktu itu aku mendengar nasehat Ibu pasti aku tidak akan seperti ini. Tidak akan sesakit ini. Ibu, kini tak ada lagi yang bisa aku banggakan padamu Ibu. Aku telah kalah, perjuanganku untuk cinta kami kini harus berakhir.

Tak ada artinya lagi aku menangis meratapi semua ini, walaupun dengan sekuat tenaga telah berusaha mempertahankannya. Cinta yang penuh pengorbanan yang berat, kini telah sirna.

Masih ku ingat dengan jelas, saat dimana aku menentang Ibu, demi memperjuangkan cintaku padamu. Sebuah cinta yang aku rasa pantas untuk aku mempertahankannya. Cinta yang tulus antara aku dan kamu.

Aku menyesal Ibu, seandainya saja, waktu itu aku tidak melawan Ibu, menuruti kata-kata Ibu. Maafkan aku Ibu, aku telah durhaka padamu. Betapa bodohnya aku, demi orang yang saat itu aku cintai, aku rela menyakitimu, mengecewakanmu.

Kini, hanya airmata yang menemaniku, tak sanggup rasanya untuk aku melangkah kembali padamu, bersimpuh di kakimu. Lemas, tak ada daya yang bisa menggerakkan kakiku untuk pulang menuju rumahmu.

Ibu, akankah kamu masih memaafkan aku, anakmu yang telah begitu menyakitimu. Lima tahun sudah diriku begitu tega meninggalkanmu demi laki-laki yang ku cintai. Ya, aku nekat untuk kawin lari tanpa restumu dengan Mas Galih, laki-laki yang saat itu ku cintai.

Dengan yakinnya aku mengikuti Mas Galih membina rumah tangga hanya bermodalkan cinta. Saat itu diriku menjadi anak yang sangat membencimu Ibu. Aku merasa kekerasan hati Ibu untuk melarangku menikah dengan Mas Galih adalah perbuatan yang sangat jahat. Saat itu aku merasa Ibu telah berubah menjadi musuh terbesarku.

Bulir-bulir airmata kembali membasahi pipiku, hari ini tadi adalah hari dimana mas Galih mengajukan gugatan cerai padaku. Ya, mas Galih melakukannya demi wanita itu. Wanita yang telah merebut hati suamiku.

Dengan sekuat tenaga, aku mencoba mempertahankan pernikahan ini. Pernikahan yang dibangun dengan perjuangan yang amat berat, menguras airmata. Pengorbanan yang telah aku lakukan, kini rasanya hanya sia-sia.

Sampai sekarang, hal ini masih tidak bisa ku mengerti, rasanya aku masih tidak percaya kalau mas Galih berniat menceraikanku. Masih sangat kuingat dengan jelas saat aku mengetahui kalau mas Galih mempunyai hubungan dengan wanita lain.

Betapa sakitnya hatiku saat itu, melihat suamiku berjalan bergandengan tangan dengan wanita lain, dan suamiku pura-pura tidak mengenalku. Wanita mana yang sanggup menerima perlakuan seperti itu.

Saat aku menanyakan pada suamiku, betapa terkejutnya saat mendengar jawabannya. “Iya, dia pacarku, ada masalah bagimu?.” Ya Allah, begitu tega mas Galih berkata seperti itu. “Maas…aku ini…”. Belum selesai bicara, Mas Galih begitu saja meninggalkanku tanpa peduli dengan perasaanku.

Ada apa denganmu Mas…betapa sesak dadaku, rasanya sangat sulit untuk aku bernafas, menghirup udara yang bisa menyegarkanku. Apakah ini karena aku belum bisa memberimu keturunan? Apakah kamu sudah tidak sabar lagi?

Hari berikutnya, kulihat mas Galih mengemasi pakaiannya. Aku berusaha mencegahnya. “Mas, tolong jangan pergi Mas. Mas aku masih mencintaimu.” Kataku mengiba dan berharap Mas Galih mengurungkan niatnya untuk meninggalkan rumah. Tak bisa kubayangkan hidup tanpa Mas Galih.

Tapi rupanya mas Galih tetap dengan pendiriannya, dia meninggalkan rumah. Kini hanya aku seorang diri,yang hanya bisa menangis meratapi semua yang telah terjadi.

********

Ibu, aku rindu sekali denganmu. Aku ingin bersandar di pangkuanmu menangis sepuas hatiku. Aku ingin bersimpuh di kakimu, meminta maaf padamu Ibu.

Terbayang wajah Ibu yang kini sudah mulai menua, Ibu yang sangat berwibawa di hadapan anak-anaknya. Ibu yang menjadi tulang punggung keluarga sejak Bapak meninggal dunia. Ibu yang begitu gigih menghidupi dan merawat ke delapan anaknya. Ibu memang wanita tangguh.

Hanya sekali aku lihat Ibu menangis, saat aku menentang Ibu, melawan Ibu. Saat aku memutuskan meninggalkan rumah demi untuk menikah dengan mas Galih.

Betapa teramat sangat aku rindu padamu Ibu. Dengan sisa – sisa tenagaku, dan airmata yang telah terkuras habis, aku mengambil HP. Aku hubungi Mbak Tina, kakak sulungku, yang kebetulan rumahnya paling dekat dengan rumah Ibu.

Ada perasaan takut, khawatir saat aku menanti telepon diangkat. “Hallo, Mbak…” ucapku pelan. “Tiyuuurr…!” Mbak Tina memanggilku. Suaraku tercekat, bulir-bulir airmata kembali membasahi pipiku. Aku nggak sanggup untuk menahan air mata ini.

“Bagaimana kabarmu Nduk?” Tanya Mbak Tina dengan nada suara yang ramah. “Mbaakk….” Kembali aku tidak bisa meneruskan kata-kataku, aku terisak. “Kenapa kamu menangis Nduk?” Mbak Tina rupanya mendengar suara tangisanku.

“Maafkan Tiyur ya Mbak, bagaimana kabar Ibu Mbak?” tanyaku pelan. “Ibu kangen kamu Nduk.” Aku semakin tak tahan untuk menahan tangisku. “Kapan kamu pulang Tiyur?” Tanya Mbak Tina.

“Mbak, apa Ibu akan memaafkanku?” tanyaku ragu. “Ibu kangen sekali denganmu Tiyur, kamu kembali ya.” Bujuk Mbak Tina. Tapi aku merasa malu, yang aku perjuangkan tak ada hasilnya.

Perjuanganku selama ini untuk mendapat momongan, seketika itu juga hancur. “Aku sudah capek Tiyur, kamu belum bisa memberiku keturunan.” Ucap Mas Galih padaku. Rupanya ini salah satu alasan Mas Galih untuk berpaling dariku.

**********

Sejak itu hubunganku dengan Mas Galih semakin memburuk, kami sudah tidak tinggal serumah. Hingga kahirnya Mas Gaih mengajukan gugatan cerai padaku. Dan sejak itu kondisi kesehatanku mulai drop. Aku harus kuat, karena sekarang aku sendiri, Mas Galih sudah tidak bersamaku lagi.

Badanku panas menggigil, aku juga sering muntah, kepalaku juga sangat pusing. Aku sungguh tak berdaya, kehilanganmu telah membuatku jatuh, aku sakit Mas.

Dalam ketidak berdayaanku, ada suara ketukan pintu dari depan. Dengan susah payah aku bangkit. Betapa terkejutnya aku, “Mas Galih…!” Tapi entah mengapa tiba-tiba aku merasa pusing yang teramat sangat, dan selanjutnya aku tak tahu apa yang terjadi denganku. Aku pingsan.

Dalam ketidaksadaranku ternyata Mas Galih menolongku. Dia membawaku ke rumah sakit. Dan tak berapa lama aku tersadar, di situ sudah ada Mas Galih di sampingku. Aku menangis, tapi buru-buru aku mengusapnya. Aku harus berlatih untuk tidak tergantung dengan Mas Galih, aku tidak boleh manja lagi padanya. Karena sebentar lagi dia bukan milikku. Walaupun aku sangat rindu padanya.

“Terima kasih Mas, maaf merepotkan.” Ucapku pelan. Aku harus tegar, aku nggak boleh cengeng. Aku harus belajar ikhlas untuk melepasnya. Lama kami terdiam, Mas Galih juga tampak kikuk. Kami bingung, apa yang harus kami bicarakan. Aku juga tidak mungkin menanyakan lagi apa dia sudah makan. Aku lihat, wajahnya begitu lelah. Aku juga tidak mungkin lagi memijitnya.

Ah..lagi-lagi aku tak tahan untuk mengeluarkan air mata. Berat sekali rupanya, saat aku harus melepas orang yang aku cintai.

Sebentar kemudian Mas Galih pamit untuk pulang, rupanya dia datang hanya untuk mengingatkanku bahwa besok adalah sidang pertama perceraian kami. “Iya..” jawabku lirih. Tak ada artinya lagi kalau aku menolak sidang ini, karena rupanya Mas Galih sudah bertekad bulat untuk menceraikanku.

Sebentar kemudian datang dokter, memberitahukan sebuah berita gembira, aku hamil. Ya Allah, betapa bahagianya aku, kini anak yang lama aku nantikan telah bersemayam di perutku.

Bagaimana pun aku sangat bersyukur, walau nanti aku akan kehilangan Mas Galih tapi aku bahagia karena Allah telah memberiku karunia yang sangat aku tunggu-tunggu.

“Yang kuat ya Nak, kita hadapi semua ini bersama-sama” kataku sambil mengusap malaikat kecil yang ada di dalam perutku. Hari ini adalah sidang pertama gugatan cerai Mas Galih. Aku datang sendiri, tanpa teman atau saudara. Tapi aku datang bersama malaikat kecilku.

Rupanya Mas Galih sudah datang duluan dan dia duduk bersama pacarnya. Mas Galih melihatku, kami sempat bertatapan sebentar. Tapi aku berusaha menepisnya, aku harus kuat, walaupun aku masih mencintainya.

“Mas, apakah ini benar pilihanmu?” Ah aku tidak mau bertanya-tanya lagi, karena sekarang nyatanya kita sedang menghadapi sidang perceraian.

Aku harus mengikhlaskanmu, aku harus membuang cintaku yang teramat besar padamu. Jika memang ini pilihanmu, dan membuatmu bahagia, pasti aku akan ikhlas melepasmu.

Hakim mempersilahkan kami untuk mediasi. Kami berada di satu ruangan, kini hanya ada aku dan dia, hanya berdua. Di ruangan ini, mungkin ini hari terakhir aku bisa menatapnya berlama-lama sebelum kami bercerai.

Lama kami berpandangan. “Hari ini mungkin hari terakhir aku bisa menatapmu Mas. Tapi aku ikhlas Mas…demi kebahagiaanmu aku rela.” Kataku pelan. “Tiyur, bolehkah aku memelukmu?” aku terkejut, aku mengangguk. Lalu Mas Galih memelukku, erat. Aku tak tahan, aku menangis, pelukan hangat ini sebentar lagi tak pernah aku rasakan lagi.

Mas Galih menghapus air mataku. Kulihat dia juga menangis, aku usap air matanya. Aku tak tahan melihat dia menangis. “Sebentar lagi, kita nggak akan bersama ya.” Ucapku sambil melepas pelukan Mas Galih. Aku tak ingin terlarut dalam rindu yang mendalam. Mas Galih kembali meraih tanganku, dia pegang erat sekali. Lalu dia kecup keningku.

“Sudah Mas, hakim menunggu kita, aku sudah ikhlas Mas.” Ucapku pelan. Lalu aku keluar, semakin lama aku bersama Mas Galih, aku takut kesedihanku semakin mendalam.

Hakim menanyaiku. “Bagaimana Ibu Tiyur?” Aku berusaha tegar. “Saya ikhlas Pak Hakim, apapun keputusannya saya terima.”  Jawabku. Lalu hakim ganti menanyai Mas Galih. “Bagaimana Pak Galih?” Cukup lama Mas Galih terdiam, lalu dia menjawab. “Maaf, saya mencabut gugatan cerai saya Pak.” Semua terkejut, begitu juga aku. Mas Galih tersenyum memandangku. Aku tidak percaya, semua terasa mimpi.

Dari kursi pengunjung, terdengar suara teriakan wanita, aku menoleh, ternyata dia pacar Mas Galih. Dia teriak histeris, mungkin dia kecewa dengan sikap Mas Galih yang mengurungkan niatnya untuk menceraikanku.

Dan tanpa kami sangka-sangka dengan kalapnya wanita itu maju menyerang mas Galih. Sebentar kemudian, Mas Galih sudah tergeletak berlumur darah. Ya Allah, wanita itu telah membunuh mas Galih. Suasana berubah menjadi riuh, sementara aku hanya bisa terpaku melihat semua ini.

Mas Galih rupanya tidak bisa ditolong, dan aku hanya bisa menatap tubuh Mas Galih yang sudah terbujur kaku. Selamat jalan Mas.


Terima kasih telah membaca cerita pendek perselingkuhan. Semoga cerpen selingkuh berjudul tak ada artinya lagi diatas dapat menghibur dan bermanfaat bagi sobat Bisfren sekalian. Tetaplah semangat dalam meraih cita – cita dan cinta. Selalu berpikir positif dan optimis merupakan salah satu kunci untuk mencapai sukses.

Dibagikan

Anik Fityastutik

Penulis :

Artikel terkait