Tak Ada Cinta Yang Sempurna

cerita pendek istri penghianat

Pernahkah kamu membayangkan hidup dengan orang yang sangat kamu cinta dan mencintai kamu seperti hidup dalam neraka. Mungkin tak akan pernah terbayangkan ? Dan ini adalah ceritaku, sebuah cerita pendek istri penghianat dari kisah nyata cinta sejati yang tak dihargai. Simak cerpen keluarga berikut :

Cerita Pendek Istri Penghianat – Tak Ada Cinta Yang Sempurna

Aku mengenal Sahara secara tak sengaja di saat kami bertemu dalam acara ulang tahun teman karibku yang juga teman karib dari temannya. Teman antar teman maksudnya. Di acara itu, karena aku termasuk orang yang sibuk dan tidak terlalu suka dengan acara yang ramai dan ribut sehingga memilih datang belakangan. Timing kedatanganku memang tepat, acara sudah selesai dan hanya tertinggal teman-teman dekat dan keluarga. Jadi tinggalah kami sesama teman dan akhirnya berkenalan.

Saat pertama kali dikenalkan pada Sahara jujur saja aku langsung menyukainya. Aku menyukainya karena dia berbeda dari wanita teman-teman Johan yang dikenalkan padaku. Jujur saja walau aku tak mengakui, kata teman-teman, aku adalah salah satu bujangan keren di kota ini.

Ups… maaf aku tidak bangga dengan sebutan itu. Sebenarnya kalau mau jujur aku adalah laki-laki yang takut dengan komitmen. Takut terikat, takut di atur, dan yang paling utama takut kalau rasa cinta yang ada dihati kuberikan pada orang yang salah.

Tapi saat melihat Sahara, aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dan ketakutan-ketakutan dihati sirna seketika. Sahara adalah wanita yang membuatku akhirnya berani berkomitmen. Sahara cantik, penampilannya sederhana tidak mencolok, tidak banyak make up, pendiam tapi cerdas.

Biasanya aku tidak terlalu peduli atau capek-capek untuk pacaran dengan seorang wanita. Tapi  dengan Sahara aku harus ekstra keras meluluhkan hatinya. Dan aku berhasil, dia akhirnya mencintaiku. Eit…. Tunggu dulu ! untuk yang satu ini kita jeda dulu. Sahara memang tidak pernah mengatakan kalau dia mencintaiku. Tapi dari sikap dan caranya aku tahu perasaanku terbalas dan tidak bertepuk sebelah tangan.

Kami akhirnya pacaran, keluarga Sahara juga adalah keluarga yang terhormat dan sangat baik. Mereka menyambut dengan ramah, dalam waktu singkat saja aku sudah akrab dengan keluarga Sahara begitu juga Sahara dengan keluargaku. Wanita itu sangat pandai mengambil hati keluarga bahkan aku sering iri mereka lebih menyayangi Sahara dari pada aku.

Aku dan Sahara sebenarnya ingin lebih lama pacaran tapi keluarga kami terus mendesak untuk tunangan dan akhirnya menikah. Hubungan pacaran setahun, tunangan 3 bulan dan akhirnya kami menikah. Tentu saja pernikahan kami dipersiapkan dengan matang.

Umurku memang berada di saat tepat untuk menikah bahkan kata Ibu aku sebenarnya sudah agak terlambat karena umurku sudah 33 tahun. Tapi aku tidak mempermasalahkannya karena aku berniat menikmati masa lajangku sampai 40 tahun kalau boleh.

Aku pria mapan punya penghasilan dan pekerjaan yang lumayan karena punya wirausaha keluarga sendiri, lulusan universitas terbaik dengan IP yang lumayan untuk kelas luar negeri walau cuma Singapura, dan seperti kata teman-teman aku keren, diluar semua kelebihan aku juga sudah memiliki rumah sendiri. Dan jika ada wanita yang menikah denganku sudah pasti dia akan sangat bahagia hidup denganku yang satu ini aku benar-benar percaya diri.

Oh yah sebagai laki-laki aku juga sangat boros dan jika sudah menyukai sesuatu aku pasti akan sangat melindunginya. Begitu juga dengan Sahara aku memberikan begitu banyak hadiah mahal untuknya bahkan disaat menikah semua aset atas nama diriku ku ubah menjadi atas nama dirinya. Awalnya Sahara menolak tapi karena aku bersikeras dia akhirnya setuju, apalagi aku sangat mencintainya semua harta bagiku tak ada artinya dibanding dengan memiliki Sahara dan cintanya.

Dia juga wanita yang begitu memanjakan dan mengerti diriku, tak pernah berbuat kesalahan yang menyakiti hati. Aku semakin dan semakin mencintainya seolah tak ada waktu sedikitpun yang kubuang selain menghabiskan waktu bersamanya. Sampai akhirnya kami menikah.

Setelah menikah aku menyuruh Sahara untuk berhenti dari pekerjaannya karena penghasilanku sudah lebih dari cukup untuk kehidupan kami berdua. Dan dia menyetujuinya apalagi aku juga memang merencanakan untuk segera memiliki anak. Aku takut jika dia terus bekerja itu bisa mengganggu proses kami untuk segera memiliki anak.

Enam bulan pertama pernikahan kami aman-aman saja. Ketika akhirnya semua berubah seperti membalikkan telapak tangan. Sikap dan sifat istriku berubah, dia menjadi pemalas. Bukan dalam pekerjaan rumah tangga tapi dalam tugasnya sebagai seorang istri. Karena pekerjaan di rumah sudah dikerjakan asisten rumah tangga. Rasa cinta yang dulu begitu kental yang selalu hadir dalam suasana kami kini seolah sirna.

Sahara lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannya, pulang larut malam dengan alasan macam-macam. Memasuki pernikahan setahun tagihan kartu kredit membludak, banyak orang-orang yang tak kukenal datang ke rumah mencari Sahara. Walaupun dia menutupi dengan mengatakan itu saudara-saudaranya toh akhirnya aku tahu kalau itu adalah rentenir. Istriku terlibat hutang tanpa sepengetahuanku.

Aku marah, kami bertengkar hebat, dia meminta maaf dan aku memaafkannya dengan membayar semua hutang-hutangnya. Diapun berjanji untuk tidak akan berhutang lagi, toh sikap dan sifatnya jauh dari berubah. Tapi cinta di hatiku masih sedemikian besar. Kesalahan apapun yang diperbuatnya aku selalu memaafkannya dan memperbaikinya. Mungkin hal itu juga yang membuat istriku tidak berubah juga dan menjadi manja. Tak ada lagi kemesraan, dia sibuk dengan arisan dan pertemuan wanita yang macam-macamlah sebutannya. Sedangkan aku sibuk di kantor memikirkan tagihan yang setiap bulan membludak dan istriku hanya bersenang-senang tanpa ikut memikirkannya.

Akhirnya aku memutuskan untuk membiarkan dia bekerja. Mungkin dia stress karena tak punya pekerjaan, dengan rekomendasiku dia diterima diperusahan relasiku. Baru 3 bulan bekerja dia berhenti katanya mengundurkan diri tapi lama-kelamaan aku tahu dia dipecat karena jarang masuk kantor.

Ini sudah memasuki tahun kedua pernikahan kami. Dan tidak ada juga tanda-tanda kami akan memiliki anak. Sungguh aku rindu masa-masa disaat kami pacaran dulu. Jauh sedikit saja kami saling cari, tak ada kabar kami saling memberi kabar, selalu berkomunikasi dalam hal apa saja. Sekarang ! bicara saja dia malas, saat aku berangkat kerja dia masih tidur. Tak ada segelas kopi atau teh untuk mengantarku di pagi hari. Saat aku pulang tak ada sapaan selamat datang seperti dulu. Makanan di meja yang dimasak dari pagi bahkan sampai paginya tak tersentuh.

Bagaimana aku bisa makan dengan nikmat jika tak ada istriku di samping. Kemana cinta itu ? aku sudah berusaha untuk berkomunikasi, mengajak dia bicara dari hati ke hati menanyakan apa keinginannya. Bahkan mengajaknya berlibur mencoba kembali menghangatkan rumah tangga kami yang mulai sedingin es. Yah hangatnya cuma seminggu lalu kembali lagi ke keadaan sebelumnya.

Dan aku, aku selalu yang dituntut untuk mengerti dirinya. Dia ingin dimengerti tanpa mengerti, ingin dipahami tanpa memahami. Rumah tangga seperti apakah ini ? yang dibangun atas dasar cinta dan akhirnya seperti ini. Atau apakah ini karakter aslinya. Kata orang masa pacaran adalah masa-masa palsu, yang real cuma cinta. Karakter yang sesungguhnya akan kelihatan kalau sudah menikah. Dulu aku tak percaya cerita itu karena Sahara yang ku kenal tidak sedikitpun terlihat akan seperti itu.

Kenyataannya ? … Aku sendiripun kaget. Tapi aku masih bertahan dan akan terus bertahan karena aku mencintai istriku. Hingga suatu saat

Memasuki tahun ke 4 rumah kami disegel oleh orang lain. Orang yang tak aku tahu darimana datangnya tiba-tiba sudah menyegel rumah kami dan mengatakan rumah itu sudah menjadi miliknya lengkap dengan surat-surat. Dia mengatakan dia membeli rumah kami dari hasil lelang bank.

Ya Tuhan ternyata istriku menggadaikan sertifikat rumah yang sudah atas namanya tanpa sepengetahuan aku suaminya. Kalian bisa membayangkan bagaimana murkanya aku. Sisi laki-lakiku memberontak, aku marah sungguh sangat marah. Tapi mau bagaimana kemarahan tak akan menyelesaikan persoalan. Sahara bahkan berlutut memohon dan mengiba meminta maaf. Berjanji untuk terakhir kalinya melakukan kesalahan itu. Dan aku sekali lagi karena cinta dihati, aku memaafkannya.

Kami memutuskan untuk pindah. Aku mencairkan deposito untuk membeli sebuah apartemen yang tak terlalu mewah. Tapi aku membelinya atas namaku. Jika kalian mengalami seperti apa yang aku alami masihkah kalian mempercayai pasangan kalian? Aku rasa kepercayaan yang ada pasti tinggal sedikit. Itulah yang terjadi padaku aku hanya ingin berhati-hati saja.

Aku memberinya kesempatan untuk berubah dan dia berubah … aku kini punya teman ngobrol, teman makan malam, pulang kerja sambil nonton kami bercanda. Aku bahagia yah karena aku masih mencintai istriku. Tak ada alasan untuk tidak bahagia dengan perubahan ini. Karena tak ada lagi asisten rumah tangga Sahara mengerjakan semuanya sendiri. Bahkan dengan senang hati aku menikmati makanan buatannya walaupun kadang sangat asin. Cinta mengalahkan segalanya bukan ?

Tapi aku bahagia dengan perubahan Sahara. Sayang kebahagiaanku tak berlangsung lama. Hanya butuh waktu sebulan ketika Sahara kumat lagi. Kali ini aku tak kaget lagi. Tak kaget lagi jika dia kongkow-kongkow dengan teman-teman se-gengnya yang hanya membawa dampak buruk padanya. Tak kaget lagi jika orang-orang mengatakan dia masih bermain judi. Tak kaget lagi jika mobil yang ku berikan padanya di jual atau disita karena bermain judi. Tak kaget lagi jika ada barang-barang berharga yang hilang dari rumah.

Aku mulai mencoba tak perduli. Tapi kepedulianku teruji dengan satu kejadian yang mengiris hatiku, bahkan menginjak-injak martabat dan harga diri sebagai seorang laki-laki.

Hampir 3 bulan aku mencoba tak perduli ketika  mendapat kabar dari seseorang kalau istriku masuk rumah sakit. Dia dibawa ke RS oleh seorang wanita karena mendapati dia pendarahan dan hampir pingsan di jalanan. Saat aku menemui dokter yang menanganinya aku seperti dihantam oleh godam. Sungguh hampir membuatku tak bisa bernafas, sesakit dan seperih apa hatiku mungkin tak akan bisa terjelaskan.

Istriku keguguran, dia mencoba menggugurkan kandungan dengan cara yang non medis hingga membuat dia akhirnya kehilangan rahimnya. Dan janin yang digugurkannya bukan milikku tapi milik laki-laki lain. Jika jadi kalian apa yang kalian lakukan ? Wanita yang hampir seluruh dunia ini jika dia menginginkannya aku akan memberikan dan dia membalasnya dengan seperti ini. Bukan cuma menghancurkan semua yang kami miliki tapi dia menghianatiku.

Mau tahu apa yang ada dihatiku saat itu. Jika saja dia tidak menggugurkan kandungannya anak siapapun yang ada dalam rahimnya aku akan menerima, aku bahkan bersedia menjadi ayah anak itu, karena betapa kalian tahu aku sangat menginginkan seorang anak. Tapi dengan menggugurkan anak itu dia merusak rahimnya dan aku tak akan pernah bisa memiiki anak dari rahim wanita yang ku cintai itu.

Aku sering menitikkan air mata saat mencoba untuk memaafkan istriku. Walau tak pernah kuperlihatkan pada siapapun. Siapa bilang laki-laki tidak boleh menangis. Kali ini aku bahkan tersedu-sedu di depan istriku. Menyesalkan tindakannya, mengutuki diriku sendiri yang gagal mendidik  dan membimbing istriku. Aku sudah melakukan dan memberikan yang terbaik sebagai seorang suami, aku selalu berusaha menjadi yang terbaik sebagai seorang laki-laki yang mencintainya. Tapi itu mungkin belum cukup dan mungkin tak akan pernah cukup.

Keadaan Sahara sudah lebih baik pasca operasi pengangkatan Rahim. Aku masih merawatnya hingga kurasa dia benar-benar pulih dan kami bisa bicara. Aku kebanyakan memilih diam saat Sahara bicara dan menangis. Aku jadi tak bisa membedakan apakah tangisannya ini adalah tangisan penyesalan atau tangisan pura-pura menyesal.

Jujur saja aku seperti tidak mengenal istriku. Karena hal ini sudah sangat sering terjadi disaat dia melakukan kesalahan. Kini dia sudah kembali kerumah, dia sudah bisa beraktifitas seperti biasa. Hampir seminggu dia berada di rumah ketika aku akhirnya mengajak dia duduk dan bicara. Kali ini tak banyak yang kubicarakan selain menyerahkan beberapa lembar surat yang ada didalam amplop yang pasti akan dibacanya nanti. Beberapa surat berharga termasuk kepemilikan apartemen ini dan beberapa barang berharga yang aku yakin bisa menunjang hidupnya selama bebeberapa tahun kedepan jika dia tidak boros dan tak bermain judi.

“Jaga dirimu baik-baik Sa… karena aku tak akan bisa lagi menjagamu.” Itu kata-kata terakhirku dan setelah itu aku beranjak pergi meninggalkannya yang terpaku bisu tanpa ada satu katapun terucap dari bibirnya. Yah aku sudah memutuskan untuk menceraikannya dan keputusanku sudah bulat.

Hari itu hari terakhir aku bertemu dengannya, selanjutnya aku mendengar kabar dia bersama teman-teman segengnya terjaring razia narkoba di salah satu diskotik terkenal di kota. Dan dia positif pemakai. Saat berita itu heboh dan teman-teman membicarakannya aku hanya bisa mengedikkan bahuku. Berita itu tak lagi mempengaruhiku. Aku sudah menuntaskan semua hak-haknya tanpa menuntut hakku. Dan aku juga sudah memaafkan semua kesalahannya.

Hampir tiga tahun berlalu kabar terakhir yang ku dengar dari Sahara kalau bulan ini dia akan dibebaskan. Syukurlah, aku senang mendengarnya. Kini aku sudah menikah lagi, sudah hampir setahun ketika akhirnya aku memutuskan menikahi Milla, gadis bagian arsip di kantor yang aku tahu sudah sejak lama menyukaiku.

Jujur saja saat aku menikahinya aku hanya menyukainya karena kepribadiannya yang polos. Dia tidak terlalu dikenal di kantor karena setiap hari dia berada di gudang arsip di kantorku. Dia hanya muncul saat aku memerlukan data dan dia akan mengantarnya ke ruanganku.

Lama-kelamaan menjalani hari-hari pernikahan dengannya aku mulai jatuh cinta. Dan saat ini semakin mencintainya karena tak lama lagi dia akan melahirkan anakku. Ku pikir aku tak akan pernah bisa jatuh cinta lagi, ternyata waktu bisa mengubah segalanya. Kali ini aku akan terus memberi tanpa berharap menerima. Dan aku yakin pengalaman hidupku yang dulu memiliki peran penting untuk menjalani masa yang sekarang.

Tak ada kehidupan yang benar-benar sempurna, tak ada juga cinta yang benar-benar sempurna. Tapi bagaimana kita belajar menghargai cinta, kita akan mendapatkan jawabannya sendiri jika kita menjalaninya dengan keyakinan. Begitu juga dengan Sahara, aku sangat berharap dia akan belajar dari pengalaman hidupnya. Dan menemukan cinta yang lebih baik dariku. Itu doa tulusku untuknya.

Untuk seseorang yang pernah ada dalam hidupku. Medio 2003


Terima kasih telah membaca cerita pendek istri penghianat. Semoga cerpen dari kisah nyata curahan hati diatas dapat bermanfaat dan menghibur. Tetaplah semangat dan optimis dalam menjalani hidup. Salam sukses selalu.

Dibagikan

Putri Wahyuningsih

Penulis :

Artikel terkait