Taman Eden

cerita pendek kristen cerpen taman eden

Cerita pendek. Sekali dalam setahun, aku akan mengunjungi sebuah tempat. Tidak akan ada yang pernah mencapai tempat itu selain aku sendiri. Dan hanya pada hari itulah, hanya pada hari itu, aku mampu berada di sana, duduk sehari penuh tanpa merasa jenuh.

Cerita Pendek – Taman Eden

Sekali dalam setahun, aku akan secara ajaib menemukan diriku duduk di sebuah bangku taman. Yang selalu membuatku menanti-nantikan hari itu datang adalah keajaibannya. Seluruh hidupku, seluruh waktu yang kutempuh, dan apapun yang kulakukan di sana terasa terlalu nyata dan itu membuatnya ajaib. Aku bahkan tidak tahu bagaimana aku bisa menempuh perjalanan ke taman itu. Beribu-ribu kali, dihari selain hari itu, aku mencoba mencari taman yang secara ajaib terhampar di depan mataku di hari itu. Tapi betapa pun aku menghabiskan ratusan jam dihadapan layar komputer, ponsel, dan majalah travelling, aku takkan pernah menemukan taman itu.

Taman Eden. Aku menyebutnya demikian. Tamannya memang tidak sedikit pun mendekati kesempurnaan penjelasan yang ada di kitab, tapi kenyataannya, aku menyebutnya Taman Eden.

Karena di taman itulah, segala sesuatu terasa begitu nyata, jauh lebih nyata daripada kehidupanku di luar hari itu.

Sekali dalam setahun, aku akan mendapati diriku secara ajaib duduk di atas bangku taman, dengan rerumputan hijau berembun terhampar di bawah kakiku yang berayun. Angin akan sesekali berembus lembut, sesekali berembus kencang, tergantung siapa yang akan menemuiku hari itu.

Sekali dalam setahun, aku akan bertemu dengan orang-orang yang takkan pernah kutemui di luar hari itu. Aku juga belum tentu akan menemui orang yang sama setiap tahunnya. Terkadang, mereka akan datang tiga kali berturut-turut seperti si Alay dan si Kelabu, ada pula yang datang setiap tahun seperti si Abang, ada pula yang namanya hanya disebutkan dan tak pernah datang, dan ada pula yang hanya pernah menemuiku sekali seumur hidup.

Sembilan tahun yang lalu, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan sosok yang membuatku menangis. Penampilannya membuat bulu kudukku tegang. Kemunculannya dari ujung jalan menggetarkan jantungku. Setiap langkahnya yang mendekat membuat mataku semakin memberat. Saat ia akhirnya duduk di sampingku, aku menangis. Saat ia menatap mataku, aku tahu aku takkan pernah bisa tersenyum sepanjang tahun yang tersisa.

Padahal sosok itu sama sekali tak melakukan apapun. Ia hanya duduk, sesekali kakinya saling bertumpu, sesekali jemarinya akan saling mengait seolah-olah ia sedang menikmati sepanjang waktu bersamaku. Tapi aku tidak. Aku menangis, dan terus menangis, dan tak pernah berhenti menangis selama ia ada di sana.

Kemudian, setelah berjam-jam yang terasa seperti belasan tahun, sosok itu menolehkan wajahnya kepadaku. Dan untuk pertama kalinya pula di Taman Eden, aku menjerit melihat wajah tamuku itu.

Wajahnya adalah wajah sahabatku!

Sosok itu tak tersenyum, tak pula merengut. Ekspresinya datar. Tangannya yang pucat terulur kepadaku dengan sepucuk surat yang ditulis asal-asalan di sebuah kertas bergaris. Aku membacanya. Jantungku terasa ingin lepas.

Segera setelah memberikan surat, sosok itu pergi. Dan, meski ia telah pergi, aku masih tidak bisa berhenti menangis, bahkan ketika tamuku yang lain sudah datang. Aku juga berharap sosok itu takkan pernah datang lagi, tapi aku salah, sebab dua tahun kemudian ia kembali datang. Alih-alih memberikan sepucuk surat dan berwajah seperti sahabatku, ia memiliki empat wajah di kepalanya dan memberiku sebuah ponsel yang sudah tidak berfungsi lagi.

Dan semenjak saat itu, sosok yang akhirnya kusebut si Hitam tak pernah lagi duduk di sampingku. Alih-alih menemuiku, ia akan selalu berada di Taman Eden bersamaku, berdiri amat sangat jauh, namun akan selalu berada dalam jangkauan pandangku.

Dan ia adalah satu-satunya tamu yang akan selalu berada bersamaku setiap hari itu, tak peduli akan kedatangan tamu-tamu yang lain yang tidak akan pernah diketahui jadwalnya.

Di tahun yang sama dengan kedatangan kedua kalinya si Hitam, aku juga mendapat tamu baru. Berbeda dengan si Hitam yang membuatku menangis, sosok ini terlihat menakjubkan. Ia adalah seorang pria—yang entah bagaimana—aku tidak bisa melihat wajahnya. Betapapun aku mencoba untuk mendongak, wajah itu takkan pernah terlihat. Tapi aku menyukainya. Aku menyukai aromanya, postur tubuhnya, pakaiannya, dan bagaimana kehadirannya membuatku tenang.

Pria itu tak pernah menua. Berbeda dengan yang lainnya, pria itu akan selalu datang dengan pakaian yang sama dan dengan parfum yang sama. Tapi kehadirannya adalah yang paling kunantikan. Hanya dengan dirinya jantungku berdegup dengan napas yang berbeda.

Pria itu akan selalu mendengarku. Meski terkadang sikapnya menyebalkan—mencemooh dan bertingkah cuek—tapi ia membuatku semakin menyukainya. Ia juga akan selalu mendengarkan ceritaku, dan ia adalah penghibur terbaik ketika aku menceritakan masalah si Hitam.

Tapi, sampai enam tahun kemudian, aku baru sadar bahwa kehadiran pria itu selalu diiringi oleh si Hitam. Maksudku, ya, si Hitam memang selalu berada dalam jangkauan pandanganku di Taman Eden, tapi hanya ketika pria ini hadir, si Hitam terlihat makin dekat. Saat aku menyadarinya—yang itu dimana adalah pertemuan keenamku dengan si pria—aku merasa ketakutan. Aku sempat tak mau berbicara dengan pria itu. Tidak, bahkan ketika tamu-tamuku yang lain datang dan mencoba mendekatkanku dengan si pria. Tapi aku tidak mau. Tidak. Si Hitam selalu terlihat jelas ketika pria itu ada bersamaku.

Maka, pertemuan keenam kami sempat menjadi pertemuan terakhir antara aku dan si pria itu. Kendati demikian, si Hitam tetap berada di Taman Eden bersamaku, meski ia tidak terlalu terlihat ketika tamu yang lain muncul.

Itu membuat hatiku sakit, kau tahu? Kehilangan orang yang membuat jantung berdebar dan pipi bersemu merah bukanlah sesuatu yang diinginkan semua orang. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau pria itu muncul, si Hitam akan membuat setiap waktu kami terlewatkan dengan penuh ketakutan. Aku takut. Aku tidak mau si pria itu kenapa-kenapa karena si Hitam, meski mereka tak pernah sekali pun berinteraksi.

Karena itulah, lebih baik aku kehilangan salah satu tamu terpentingku daripada aku menyakitinya dan ia takkan pernah muncul lagi di kehidupanku.

Aku tidak mau

Pada hari perpisahanku dengan si pria itu pula, aku sempat menceritakan hal itu kepada tamuku yang paling tersayang. Ia mirip aku, amat sangat mirip aku, dengan sifatnya yang selalu bertolak dengan kondisiku saat itu. Bukan, ia bukanlah seorang penghancur suasana, tapi sifatnya yang demikian justru menyeimbangkan suasana kami, dan aku tak pernah merasa lebih baik daripada itu.

Bukankah kehidupan memang seimbang… dan adil?

Hari itu, aku bercerita padanya, si Kembaranku. Ia mendengarku berkeluh kesah, menangis, menyesali apa yang telah terjadi, dan Kembaranku tidak terlihat goyah sama sekali. Ia tidak terlihat ingin bersimpati sedikit pun. Ketika aku baru selesai cerita, ia justru terbahak-bahak. Tawa yang tak pernah kudengar sebelumnya, bahkan aku hanya pernah sekali-dua kali tertawa seperti itu. Ia terlihat sangat puas, sangat senang dengan ceritaku ini.

“Kenapa kamu bisa-bisanya ketawa ?”

“Kamu goblok, sih!” katanya, masih tidak berhenti tertawa. Ia bahkan menangis sekarang! Wajahnya sudah kelewat merah, dan aku bengong karena itu. Kami sama-sama menangis, tapi aku menangisi kepedihan hatiku, dan ia menangis karena menertawai kepedihan hatiku.

“Kamu tahu?” Kembaranku kembali bersuara setelah ia puas tertawa. “Kamu tahu kenapa kupanggil goblok? Karena kamu memang goblok. Kamu menangis, tapi kamu tidak melakukan apapun. Kamu iyakan saja kehadiran si Hitam itu di sana. Kamu menangis karena kamu takut cowok itu bakal disakiti oleh si Hitam, tapi kamu tahu apa? Kamu bahkan tidak mencoba mengusir si Hitam.”

“Tapi aku—“

“Tapi kamu takut sama si Hitam?” Kembaranku memutar bola matanya. “Basi. Kamu umur berapa sekarang? Si Hitam bahkan tidak pernah menendang perutmu seperti si Abang. Dia juga tidak pernah menceramahimu seperti si Biru dan si Kelabu. Dia juga tidak pernah mengobrol seperti kita. Apa yang kamu takutkan dari dia? Yang dia lakukan hanyalah memberikan sebuah benda dan kemudian pergi, tapi kamu menangis terus-terusan? Ya ampun.”

Aku tidak tahu sejak kapan tanganku mengepal. Kukuku yang belum kupotong nyaris menembus kulitku. Rasanya sama sekali tidak berbanding dengan rasa sakit di dadaku. Bahkan uluran di usus dan remasan di paru-paru yang dilakukan si Abang tidak pernah sesakit yang kurasakan sekarang.

“Kau tidak mau mengusirkan si Hitam untukku?”

“Demi Tuhan.” si Kembaranku mulai mengupil. “Yang ada masalah siapa, yang dimintai tolong siapa. Mau sampai kapan kau begini, eh? Lama-lama aku bakal bersikap lebih dari ini, mengerti? Bisa-bisa kamu bakal menangis sepanjang berada di Taman Eden karena semua tamu yang mendatangimu, dan itu bukan karena kesalahan si Hitam, tapi karena kesalahanmu sendiri.”

Aku terpekur. Selama beberapa jam aku terdiam di bangku taman. Si Kembaranku juga tidak mengatakan apa-apa selain bermain sendiri. Kuperhatikan ia terkekeh dengan kucing-kucing yang berseliweran, atau meneriaki seekor sapi yang terbang tak jauh dari kami. Ia sama sekali menikmati hidupnya sekarang.

Pada tahun berikutnya, aku masih tidak banyak berubah. Bahkan setelah si Kembaranku mengejekku, menamparku, dan memperolokku di depan tamu yang lain, aku masih tidak tahu harus berbuat apa. Si Hitam juga tidak berkutik. Ia masih selalu saja ada di Taman Eden setiap aku mengunjunginya.

Kemudian, di tahun berikutnya, aku tahu aku harus berubah. Aku memanggil pria itu untuk datang kembali. Ia terlihat agak canggung awalnya, berpikir apakah kami bisa seperti dulu lagi, dan aku berusaha kuat untuk mengacukan rasa sakit di dadaku.

Sayangnya kami tidak berhasil

Di luar hari itu, sepanjang tahun yang tersisa, aku terus memikirkan apa yang terjadi. Aku sudah menginjak kepala dua, kenapa si Hitam tidak kunjung pergi? Bagaimana caranya menyingkirkannya? Aku tahu semua itu dimulai dariku sendiri, tapi—

Aku mendengus. Terlalu banyak tapi.

Ketika hari itu kembali datang di tahun berikutnya, aku tampil cukup berbeda. Tidak, aku tidak mengenakan pakaian yang paling formal atau berdandan, tapi aku tampil dengan raut wajah yang benar-benar kaku. Aku tidak ingin menemui siapa-siapa dulu selain si Hitam, dan sosok itu dengan setia menanti di Taman Eden.

Aku menemuinya, menghampirinya, dan aku menatap wajahnya yang selama ini berganti menjadi wajahku sendiri.

Ia tersenyum.

Aku refleks menahan napas. Keteguhan niat yang kubentuk selama setahun terakhir terasa nyaris runtuh. Senyumnya membuat mataku panas, membuat ubun-ubunku terasa berat, dan kepalaku pening. Bagaimana bisa ia tersenyum?

Sosok itu kemudian berdiri. Aku nyaris dibuat mundur karenanya, tapi aku tidak mau si Kembaran mengolok-olokku dihadapan semua tamu, jadi aku berusaha kuat untuk berdiri di tempat.

“Pertanyaan ini memang bodoh,” suaraku bergetar, “tapi aku tidak ingin melihatmu lagi.”

“Kalau begitu jangan bicara padaku,” katanya. Untuk pertama kalinya aku mendengar suara si Hitam dan itu membuatku ingin menjerit. Suaranya menghancurkan seluruh semangatku. Meski begitu, aku berusaha tak mengindahkannya dan memusatkan perhatian pada maksud ucapannya. Tentu saja aku gagal, karena aku tak memahaminya, dan si Hitam tahu apa yang terjadi padaku.

Ia menoleh ke belakang punggungnya. Aku mengikuti arah pandangnya dan kaget mendapati si Pria berdiri di sana, tertutup oleh bayang-bayang asap hitam yang selalu mengepung si Hitam.

“Kalau kau mengusirku pergi, maka ia juga akan terusir.”

“Aku tidak mau,” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Aku terkejut dan begitu pula si Pria, namun pada wajahnya yang takkan pernah bisa kulihat, aku tahu ia tersenyum sedih.

“Aku juga tidak mau meninggalkanmu,” sahutnya. “Tapi ia akan selalu berada di sekitarku, Sayang.” Ia melangkah mendekat, menengahi aku dan si Hitam. “Seandainya kau tahu caranya, kita bisa bersama-sama lagi, kau tahu?”

Aku terdiam. Aku tidak tahu kalau genggaman si Pria di tanganku terasa sama sakitnya dengan kehadiran si Hitam. Tiba-tiba aku merasa bodoh. Apakah si Hitam adalah bayang-bayang si Pria itu, atau kebalikannya? Mengapa mereka berhubungan seerat ini?

Aku menangis. Setelah sekian lama mencoba untuk menahannya, aku menangis. Pria itu terhenyak memerhatikanku dan selama sesaat ia tak berkutik. Ia terlihat takut untuk menyentuhku, dan aku pun tidak repot-repot meminta perhatiannya. Aku terlalu takut.

Lalu, setelah waktu yang cukup lama, aku merasakan sentuhan di pipiku. Aku kaget. Pria itu menarikku untuk menatap wajahnya yang tak terlihat dan ia memelukku. Aku bergetar, bukan karena terharu, tapi karena si Hitam berdiri tepat di depan wajahku. Matanya yang hitam legam melotot.

Kemudian, pelukan kami berakhir. Alih-alih melepasku, pria itu mengelus kepalaku. Air mataku tak berhenti mengalir. Si Hitam kini seolah menyatu dengan si Pria.

Saat pria itu menyeka air mataku, aku sempat mendengarnya berbisik. Ia meminta jawaban dariku. Apakah ia boleh? Boleh apa? Aku bahkan tidak paham. Tapi aku terlalu takut untuk menjawab. Suaranya seperti si Hitam.

Tapi aku ingat kata-kata si Kembaranku, dan aku mencoba untuk mengangguk.

Pria itu tersenyum. Aku tahu. Aku harus kuat. Ketika wajahnya nyaris menyerupai si Hitam, aku tetap tak berkutik saat ia mencondongkan tubuhnya. Dan bahkan ketika wajah kami hanya berjarak beberapa sentimeter, aku masih tak bergerak, kendati sekujur tubuhku terasa sangat sakit.

Lalu, ia menciumku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, dan pertama kalinya di Taman Eden, si Pria menciumku. Aku terbelalak. Bukan karena si Hitam yang mendadak meledak dan menghilang begitu saja dari pandanganku, tapi karena sensasi yang tak pernah kurasakan lagi semenjak aku dan si Pria berpisah. Ciuman itu pun tidak berlangsung lama. Singkat, tapi membuatku paham betul bahwa pria itu takkan pernah berpisah dariku.

Dan, saat aku mendongak, untuk pertama kalinya pula aku bisa menatap wajahnya.

“Selamat,” ucap si Pria, dan aku cukup terpikat karena aku mengenal wajah itu. “Kita bisa melakukannya di sini, di Taman Eden, dan aku akan menemuimu lagi di luar hari ini.”

Aku tidak terlalu memahami ucapan si Pria, tapi aku menyetujuinya saja. Dan bodohnya, harusnya aku menyadarinya. Saat aku bertemu dengannya kembali, sebagai seorang teman di kehidupanku di luar hari itu, ia tersenyum dengan cara yang berbeda.

“Aku bermimpi aneh kemarin,” katanya saat kami bertemu. Ia terlihat agak malu. “Aku menemuimu dan… um, cukup aneh mengatakannya, tapi aku melewati banyak hal yang menyenangkan bersamamu.”

Awalnya aku tak bisa merespon selain tersenyum, tapi itu bukan masalah. Yang penting adalah kenyataan bahwa si Hitam tak pernah muncul lagi, dan di samping si Kembaranku yang menyebalkan ini, si Pria tak pernah absen menemaniku di setiap hari yang khusus itu, di tahun-tahun yang selanjutnya dan menua bersama, sampai seorang tamu agung datang menjemput salah satu dari kami.


Terima kasih telah membaca cerita pendek taman eden. Semoga cerpen diatas dapat menghibur dan bermanfaat bagi sobat pemirsa laman Bisfren sekalian. Tetaplah semangat dan jadikan segala peristiwa sebagai sumber inspirasi dan motivasi guna mencapai sukses.

Dibagikan

Corosays

Penulis :

Artikel terkait