Tanda Tanya @ Cerita Pendek Kehidupan Remaja

cerita remaja tanda tanya

Tanda Tanya adalah cerita remaja mencari diri tentang pergolakan jiwa seorang wanita yang selalu menuruti kehendak ayahnya sehingga terpaksa mengabaikan keinginannya untuk menjadi diri sendiri hingga pada satu titik dirinya merasa bahwa dia harus membuka belengu pengikat. Mari simak pada cerita pendek berikut :

Cerita Remaja – Tanda Tanya

Memang, tak mudah melakukan hal tak kita sukai, dan saat itu terjadi… semua mulai palsu. Terlihat palsu. Hanya ada pantulan kebohongan dari cermin menciptakan perlindungan.

Lama-lama retak cermin itu. Pecah akhirnya. Lalu terbongkar kepalsuan itu.

Ada tanda tanya besar disana. Tak terlihat tetapi selalu terlintas di pikiran.

Dan setiap hari wanita bernama Rae selalu bicara pada dirinya sendiri. “Aku…?”

Dimana dia harus mencari dirinya sendiri ? Pertanyaan itu selalu muncul di sela-sela pikiran. Di sepanjang atom dalam tubuhnya, selalu terselubung satu tanda tanya agung. Siapa aku ?.

Seumur hidupnya, baru kali ini dirinya menyadari adanya kejanggalan sangat tidak adil. Dimana dia harus mengorbankan waktunya, dirinya, juga pemikirannya hanya untuk sesuatu tak disenanginya. Semua demi kehidupan. Hidup butuh uang untuk segalanya dan demi itulah maka dirinya harus berkorban.

Ia merelakan dirinya terkurung dalam sangkar ketidakadilan walau harus menyingkirkan impiannya sendiri, semua demi hidup. Hidup tak wajar adanya.

Baginya itulah hidup paling konyol. Tak ada rasa, hampa.

***

Lima menit lalu, sopir mengantarkannya sampai gedung tempatnya berkerja. Dirinya masih terpaku di depan pintu masuk berlapis kaca tebal. Berdiri seorang diri tanpa tahu apa dia lakukan. Persis orang bodoh kebingungan, tidak tahu arah, tujuan, maupun jalan untuk pulang.

Kembali dia mengais garis hidup telah berlalu. Semua plot terbuka sepanjang ingatannya menerawang. Semuanya…

Tiga tahun lalu saat dirinya mengenakan toga dan disebut sebagai sarjana muda berprestasi. Semua orang bersimpati kepadanya, namun masih ada hal kurang dari semua itu. Wajah kedua orangtuanya muncul dengan senyum hangat menyambutnya, namun tetap terasa ada sesuatu hilang. Entahlah…

Lalu, dirinya mulai mencari ke tujuh tahun lalu. Menjadi seorang anak baru lulus SMA Negeri. Anak setengah lugu juga sedikit naif. Ia menjelma menjadi remaja cantik menawan. Tak ada orag memusuhinya kecuali hanya mereka penyimpan iri juga dengki. Namun, tetap ada sesuatu terasa hilang dari dirinya. Ia terus mencari dan mencari hingga hainya ingin mengulang semua hal dengan memutar waktu…

Sepuluh tahun lalu. Seorang gadis baru saja menstruasi, masih duduk di kelas tiga SMP. Gadis dengan kecantikan natural, tidak tahu apa-apa kecuali hanya melepas tawa kala senang atau menitikkan air mata kala sedih. Hanya dua hal saja menyinggung hidupnya. Namun, disinilah dirinya mulai tahu sesuatu.

“Sesuatu yang selama ini ku cari.” Bibirnya berkata lirih dengan napas tertahan.

***

“Rae.”

Seorang teman memanggilnya hingga dia kehilangan bias dirinya dalam ingatan. Rae menoleh lalu ikut masuk ke dalam gedung tinggi itu. Ada banyak pekerjaan sudah menunggu dan ada banyak meeting harus dihadiri. Belum lagi banyak berkas bulan harus diurus agar tidak tercecer diatas meja kerjanya. Sudah hampir satu minggu semua berkas tersebut belum tersentuh bahkandia tak paham isinya. Jelas sudah bahwa ini bukan dia.

Ternyata, menjadi wanita karier tidak semudah terlintas dalam pikiran manusia. Sangat ruwet dan sulit. Rae sudah mengorbankan segalanya, sudah membuang banyak waktu untuk tinggal lebih lama di kantor seorang diri bahkan sudah memotong cutinya sendiri untuk semua tugas tak pernah tamat. Semakin benaknya memikirkan pekerjaan maka semakin pula dia tahu keinginannya.

Hanya kebebasanlah diinginkannya, bebas menentukan siapa dirinya…

***

Semua berawal dari keluarga, ambisi, serta Ayahnya. Dirinya terlalu penurut juga patuh. Tak sekalipun mampu membantah. Hingga saat duduk pada bangku SMP dirinya sudah dijadwalkan untuk belajar bisnis bersama Ayahnya. Ia tak bisa lari lagi. Pikirnya semua adalah garis takdir Tuhan selamanya, tak bisa diubah atau dibantah.

Namun, saat ini ia mulai sadar. Harusnya ia pergi dari sini. Menyingkir sejauh mungkin lalu lari secepat apapun agar tidak ada lagi ikatan. Dia mulai tahu bahwa dirinya hidup untuk sebuah pencarian, kebebasan, serta menjawab tanda tanyanya sendiri.

Bertahun-tahun lamanya dia berusaha mencintai apa dilakukan. Ia usahakan itu setengah mati. Berusaha setia seperti pergantian malam dan siang tak pernah berkhianat pada waktu. Kini, tiba saatnya untuk keluar dari persembunyian. Ia harus pergi kalau tidak mau terus terluka oleh dirinya sendiri.

“Kamu tidak pulang, Ra ?”

Rae menggeleng pelan, senyum simpulnya melukiskan kelelahan sudah di ujung tanduk. Siap-siap meledakan dirinya sendiri.

“Baiklah, aku pulang duluan.” Temannya berlalu. Pergi tanpa pernah tahu bagaimana Rae berteman dengan musuhnya sendiri.

Jadwal terakhirnya hari ini adalah membuka berkas-berkas tertumpuk diatas meja kerja. Mempelajari isinya walau tidak mudah dipahami, semua tentang penjualan produk dikembangkan perusahaan Ayahnya sendiri. Sejenis spare part serta perlengkapan otomotif lainnya. Namun, tak satupun dia pahami. Hatinya lelah pada semua dilihatnya hari ini.

Cukup jelas, bahwa ia tak sanggup lagi bertahan untuk melawan rasa tidak adil. Lagipula, bukankah cermin sudah gemeretak ? Tinggal menanti jatuh lalu akhirnya tamat sudah topeng menutupi dirinya.

Tak sampai setengah jam ia bangkit dari duduknya lalu menutup semua berkas malang itu.

“Aku harus bicara.” Kakinya melangkah dengan cepat. Terlihat jam dinding mulai panik akan sesuatu seharusnya tak tejadi. Tetapi Rae meneruskan niatnya.

***

Tiba di sebuah rumah besar megah. Rae duduk diatas sebuah kursi berlapis busa empuk berkain lembut. Ia menatap tajam kedua mata lawannya. Lawan belum pernah terbantah satu kalipun, Ayahnya.

“Maaf, aku tidak bisa lagi,” katanya tenang.

Satu alis sang Ayah terangkat tinggi, sepertinya dia sudah curiga. Ada sesuatu terjadi dalam batin putri sulungnya.

“Ini sudah bukan diriku lagi. Hatiku lelah menjadi orang lain serta berpura-pura senang melakukan semuanya. Inilah kejujuranku.”

Ayahnya tetap duduk tegap dan berkata, “Lalu ?” sikapnya masih tenang.

“Aku ingin berhenti melakukan semua hal yang Ayah perintahkan. Diriku ingin kembali menjadi Raena empat belas tahun yang melakukan sesuatu hanya untuknya, bukan untuk menyenangkan siapa-siapa.”

“Waktu berjalan maju, Rae.” Mata ayahnya beralih ke gelas di depannya. “Tidak mungkin kau menjadi anak-anak lagi. Jangan bodoh, kamu.” Ucap Ayahnya pelan tetapi menusuk, seakan mampu membuat gelas dihadapannya takut lalu menciut.

“Aku tahu.” Tatapan Rae tetap tajam, sebilah pedang sudah muncul pada permukaan. “Tapi aku akan mencari diriku lagi. Tubuhku memang telah kehilangan waktu serta diriku sendiri, tapi ku yakin semua bisa kembali.”

Ayahnya tetap keras pada Rae. “Waktu tetap berjalan maju, Rae !” suaranya meninggi dan membentak. Tak pernah ayahnya menampilkan sikap semarah demikian sebelumnya.

“Menurutku inilah hal terbaik untukmu, ayah tahu itu.” Ia terus memaksakan kehendaknya, tak mau di bantah. Berdiri tegap menatap Rae dengan dingin tetapi ganas, “Rae… semua sudah berlalu, hilang ! Kau tidak akan kembali ke beberapa tahun lalu. Percayalah padaku, semua inilah hal terbaik untukmu,” tambahnya.

Rae balas menatap ayahnya, binar matanya sudah hilang kini tergantikan oleh kepahitan. “Tapi diriku bisa mencari semua itu. Hatiku percaya kalau bisa mencarinya sendiri.” Ia berusaha menahan diri namun tak bisa, “Hatiku selalu bertanya, siapa aku ? Siapa aku ini ? Hingga lelah mempertanyakannya dengan bodoh tanpa pernah mencari jawaban !” Nada suaranya meninggi. Menimbulkan hawa panas terus mengalir, membakar kedua manusia tak sependapat.

“RAE !” Ayahnya memanggil nama itu penuh letupan emosi. “Hentikan semua ini, aku tidak suka melihatmu begini. Dasar pembangkang !”

“Kalau begitu lepaskan aku. Lepaskan diriku ayah. Biarkan diriku menikmati hidupku dengan kebebasan tak pernah ku miliki. Selama ini… selama ini aku selalu menuruti permintaanmu, patuh pada segala ambisimu. Kini giliranku untuk menagih, kebebasanku sendiri.” Meskipun kedua mata Rae berkaca-kaca namun tak ada satu tetespun air mata jatuh. Ia menahan diri agar tidak menangis, ia menahan semampunya. Hingga akhirnya Rae memilih untuk keluar lalu meninggalkan ayahnya sambil berkata lemah, “Aku mau menjawab diriku sendiri.”

“Rae, kenapa harus kau lakukan ini padaku ?” Ayahnya berkata setelah Rae menutup pintu itu.

Sebenarnya Rae tak bernar-benar pergi. Ia berdiri di balik pintu, menahan tangis dengan membekap mulutnya sendiri. Ia memang keterlaluan sudah menyakiti Ayahnya, tetapi akan lebih keterlaluan lagi bila ia tidak melakukan ini. Sepuluh menit berlalu, Rae kembali masuk ke dalam ruang kerja ayahnya.

Laki-laki paruh baya itu sedang duduk memunggungi Rae. Menatap jendela yang gordennya tersibak, menerawang ke angkasa gelap dan hening.

“Maaf, ayah. Maafkan diriku kali ini saja.” Rae berusaha keras agar tidak jatuh. Tubuhnya sudah lemas dan jari-jari tangannya mulai bergetar.

“Pergilah, jika itu maumu.” Dengan susah payah Ayahnya berkata meskipun ia tidak membalikkan badan. “Mungkin ayah terlalu keras padamu hingga semuanya salah. Ayah salah memposisikanmu sebagai Rae yang ku inginkan, bukan Rae yang dia inginkan.” emosi itu bagai luntur, Ayahnya tak lagi menampakkan api kemarahan. Kini tenang walau terlihat dingin. Ia ingin mengatakan lebih banyak lagi pada Rae, seperti menyesal sudah mengorbankan Rae demi ambisinya atau apapun… tetapi semua itu terpendam. Tak cukup kuat mengatakan semua kesalahannya sendiri. Ia malu juga sedih.

Begitu hening semakin memuncak Ayahnyalah yang beranjak dari sana. Malam ini menjadi saksi bisu kebebasan Rae dalam perang batin sekaligus perang dingin antara ia dan ayahnya. Namun perang itu tak menimbulkan dendam apapun, hanya saja ada yang sedikit berubah. Seperti, ayahnya benar-benar melepaskan Rae hingga ia menemukan jalannya sendiri.

***

Dari satu tanda tanya itu akhirnya Rae berani keluar dari rasa sakit yang selama ini membisu. Keluar dari dalam kegelapannya sendiri. Satu tanda tanya itu berarti besar bagi hidupnya yang dirasa tak masuk akal. Namun, hidup selalu tak menentu. Tanda tanya itu membawanya ke segala tempat dan berbagai waktu masa depan, hingga akhirnya ia lelah dan diharuskan memilih satu kehidupan yang akan berjalan beriringan dengannya. Satu saja, tanda tanya itu memilih dirinya sendiri. Dirinya yang harus menjawab, karena semua akan kembali pada dirinya, bukan siapa-siapa.


Terima kasih telah membaca cerita remaja pendek. Semoga cerpen remaja diatas dapat menghibur dan bermanfaat bagi para pengunjung remaja komunitas Bisfren. Salam sukses dan tetap semangat.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait