Temani Aku Melakukan Kesalahan

cerita curhat pendek sedih

Temani aku melakukan kesalahan adalah cerita curhat pendek sedih tentang cinta ditolak oleh gadis idaman karena dirinya hanyalah anak nelayan mendamba gadis jelita kaya raya. Bagaimana kisahnya ? silahkan simak pada cerpen sedih berikut.

Cerita Curhat Pendek Sedih – Temani Aku Melakukan Kesalahan

“Jangan meminta maaf lagi, Pergilah !”. Selalu ku ingat kata-kata itu ketika terlontar dari bibir manisnya, begitu tajam menusuk kedua telingaku dengan suara lantangnya. Di kacamatanya juga masih kulihat bayangan diriku tepat berdiri disana bersama bekas air mata mengering di sela-selanya.

“Aku minta maaf atas kejadian ini, tak perlu kau sekesal itu ! aku hanya mengungkapkan kebenaran” kataku, sebelum hatinya begitu sedih lalu menyuruhku pergi. Tak akan ada orang pernah melakukan kesalahan besar sepertiku. Penyesalan menjadi senjata makan tuan ketika diriku kini hanya berdiam diri diatas sampan dalam perjalanan kembali ke rumahku di lepas daratan tempat rumahnya bermukim.

Kenapa aku bisa sedemikian bodoh ? Kenapa harus mengungkapkan kebenarannya jika hanya menjadi penyebab dirinya merasa kecewa berat denganku. Bagiku, Kebenaran -sepahit apapun harus diungkapkan. Terasa sudah sangat lama diriku tak melakukan kebodohan begini. Berbicara begitu lancang kepada seseorang baru saja kukenali pekan lalu.

Aku ingin kabur dari rumah

Hujan baru saja usai. Awan gelap sudah pergi dan melepaskan matahari yang sempat disanderanya, pelangipun ikut hadir menyertainya. Baru saja diriku berencana kabur dari rumah untuk segera berlayar ke kampung sebelah, Desa Ogi’e. Tiba-tiba suara seorang pria tua mengagetkanku “ Mau kemana lagi kau Roso?” Ah. Ternyata itu ayahku.

Belum sempat kujawab pertanyaannya, lalu dia melanjutkan pembicaraannya “Nak, Maukah kau menggantikanku untuk mengantarkan ikan-ikan kepada para pengumpul di kampung sebelah ?”

Ayahku dulunya adalah seorang nelayan tangguh dilahirkan di suku kami. Suku pelaut yang orang-orang biasa menyebutnya dengan Suku Bajo. Tak ada seorangpun di suku kami tidak mengenalnya. Meskipun sekarang dirinya tak lagi seperkasa dulu. Dulu selalu ada seorang wanita cantik menjadi alasan baginya untuk selalu terlihat perkasa sebagai pelaut. Semuanya sudah berlalu, waktu telah menghanyutkan ketangguhannya bersama ibuku yang tenggelam, tak akan kembali lagi. Sekarang hanya tinggal diriku bersama ayahku hidup di sebuah rumah kecil diatas permukaan air. Betapa sepinya hari-hariku dirumah tanpa sedikitpun mendengar suara lembut.

Tak butuh waktu lama serta banyak energi kuhabiskan untuk menjawab permintaan ayahku. Hatiku sangat bersemangat saat dirinya menyuruhku ke kampung sebelah, lagipun aku juga butuh alasan lain untuk kesana.

“Baiklah ayah” kataku dengan penuh semangat.

Saat moncong sampan ini sudah mencium daratan, segera diriku bergegas menghantarkan ikan ikan kepada para pengumpul. Terserahlah kepada mereka, mau dibawa kemana lagi ikannya setelah itu, perintah dari ayahku sudah kulaksanakan dengan baik.

Bukannya bergegas untuk kembali ke kerumah ketika sudah menyelesaikan misi, tapi harus kugunakan sisa waktuku itu sebelum malam datang memaksaku segera kembali kerumah. Masih ada misi harus kuselesaikan disini. Semangat darah muda selalu menyertaiku untuk menumpas habis setiap hal menggelitikku.

Matahari dengan sedikit malu-malu mulai menutup wajahnya dengan awan dan bukit-bukit itu sebelum ia benar-benar menenggelamkan diri dari pandanganku. Pada saat yang sama, dan hampir setiap kali aku menyebrang ke kampung ini, tepat di pinggir pantai dibawah pohon kelapa selalu kudapati bulan begitu terang sudah muncul meskipun matahari belum benar-benar pergi. Dialah gadis yang selalu memaksaku mencari alasan untuk menyebrang ke kampung ini.

Namanya Tenri, hampir semua penduduk desa ini mengenalnya. Siapa yang begitu sial tak pernah melihat dan bahkan mengenali gadis cantik keturunan bangsawan itu. Senyum manis dan mata sendunya seolah menjadi pemikat tersendiri bagi orang-orang disekitarnya, selain kebaikan dan keramahannya.

Aku bukan siapa-siapa, aku hanyalah anak dari seorang nelayan tua yang hidup berumah diatas laut. Jadi apalah daya, waktuku kuhabiskan hanya untuk memandangnya dari jauh tanpa ada sedikitpun keberanian mendekatinya bahkan untuk berbicara dengannya.

Sepertinya ia menyadari jika mataku sering memandanginya. kualihkan segera pandangan, seolah tak terjadi apa-apa. Namun tiada perubahan berarti. Tiba-tiba saja dia berdiri lalu berjalan mendekatiku, berhenti tepat di depan sampanku. Matanya menatapku. Tak tahu apa harus kulakukan, tubuhku terpaku dan hanya bisa menatapnya, terus menatapnya dan bahkan mata ini tak kurelakan berkedip.

Tak pernah kurasakan senja seindah ini, matahari dan bulan tepat berada dihadapanku. Begitu lama kami bertatapan, hanya hening dan tanpa kata sedikitpun. Tapi entahlah kenapa dipertemuan pertama ini keheningan menjadikan kami lebih terhubung ketimbang kata-kata. Matahari sudah benar-benar menghilang dari pandanganku, aku harus segera kembali kerumah sebelum gelap datang menggantikan senja. Aku segera pulang.

Setibanya dirumah, Ayahku sudah tertidur pulas. Aku sendiri tak bisa tertidur meskipun merasa sedikit lelah sehabis menikmati perjalanan panjang dari Desa Ogi’e kerumhku. Ombak begitu tenang malam ini, namun tak setenang hati seorang pemuda sedang kasmaran. Diatas kasurku, kubaringkan badan ini dan mata yang enggan terpejam serta pikiran terus melayang pada kejadian senja itu. Terus berharap pagi segera datang.

Sepekan berlalu, kami saling jatuh cinta meskipun terperangkap dalam cinta terlarang. Adat yang terjadi di kelurga Tenri yaitu dianggap cinta terlarang ketika ia jatuh cinta pada laki-laki yang bukan dari keturunan bangsawan sepertinya.

Setiap hari-hariku kuhabiskan bersama senja yang selalu menjadi saksi bisu disetiap pertemuan-pertemuan yang kami lakukan. Seorang lelaki bukanlah orang hebat dalam menyembunyikan perasaan. Namun sama sekali tak pernah kusampaikan perasaan ini padanya. Hatiku takut dia membenci lantaran mengabaikan perihal cinta terlarang pernah dikatakannya padaku.

*****************************************

“Aku mencintaimu, Tenri”.

Kucium bibir tipisnya dan kurasakan kehangatan saat berada dalam pelukannya. Aku benar-benar melakukannya dan ia sama sekali tak mengatakan apapun, tak membalas ucapan cintaku. Aku pikir dia terperanjat diantara rasa senang, sedih, benci dan bahkan rasa jijik kepadaku ketika kuungkapkan perasaan ini.

Aku terdiam, dia juga terdiam begitu lama. Namun keheningan terpecah ketika ia tiba-tiba mengatakan “Kau telah melakukan kesalahan terbesar Roso. Mencintaiku adalah sebuah kesalahan”.

“Aku minta maaf atas kejadian ini , tak perlu kau sekesal itu ! aku hanya mengungkapkan kebenaran, Tenri. Jika mencintaimu adalah sebuah kesalahan, maafkan jika aku harus selalu melakukannya !”

“Jangan meminta maaf lagi, Pergilah !”. Ia begitu sedih dan kecewa berat padaku. Lalu ia bergegas meninggalkanku.

Kini tak ada lagi senja indah itu. Semua berakhir begitu saja rasa cinta ini. Cinta, bagaimanapun kita menyembunyikannya ia akan selalu memaksa untuk diungkapkan. Itulah kebenarannya.


Terima kasih telah membaca cerita curhat pendek sedih kasih tak sampai. Semoga cerpen mini diatas dapat menghibur dan bermanfaat bagi sobat muda Bisfren sekalian. Tetaplah semangat dan optimis dalam menjalani hidup. Setiap masalah pasti ada penyelesaiannya.

Dibagikan

Abdee Wahab

Penulis :

Artikel terkait