Tentangnya

cerpen sahabat penghianat

Cerpen sahabat penghianat tentangnya merupakan cerita pendek cinta yang terampas akibat penghianatan kekasih karena mendapat yang lebih baik sementara keluarga merahasiakan hal itu. Silahkan simak pada cerita cinta pendek berikut.

Cerpen Sahabat Penghianat – Tentangnya

Nara… Hah! Sosok itu tak pernah hilang dari ingatan meskipun sudah lama Sany tak bertemu dengannya. Semua itu karena rindu. Rindu yang pecah dan mengudara hingga tak mau lagi mengurung di sangkarnya.

Sany tak mau membahas tentang laki-laki itu lagi, ia justru ingin mengubur kenangan Nara selamanya. Selama ia hidup di dunia. Ia tidak membenci Nara, hanya saja waktulah yang menjawab semuanya. Waktu bicara padanya bahwa Nara tak pernah kembali sejak tiga tahun pergi.

“Lagipula, mana ada manusia hilang begitu saja di telan bumi? Kecuali kalau dia mati.” Kata Sany saking kesalnya. Dan sahabatnya hanya mampu mendengarkan. Sany sedang sibuk-sibuknya mendesain gaun pengantin milik kliennya.

Lama, sahabatnya tak bersuara. Seperti sedang berpikir keras dan akhirnya ia berkata pelan. “Seperti sineteron ya, San. Tiga tahun pergi dan nggak balik-balik.”

“It’s real. Dan aku tidak mau berharap apapun padanya. Semuanya sudah selesai sejak dia memilih sekolah lagi, kan?” Sany memutar kursinya dan menatap Sisil tegas.

“Aku ngerti kamu lelah dengan semua ini. Nara sudah kaya manusia yang tidak punya rasa tanggung jawab. Dia ninggalin kamu tapi nggak pernah kasih kabar. Laki-laki macam apa itu ?”

“Sisil, aku mohon jangan bahas dia lagi.” Sany mengembuskan napas lelahnya. Mengingat Nara membuatnya sakit sekaligus sedih.

Bagaimana bisa Sany mengunci pikirannya jika selalu ada sesuatu yang membuatnya teringat pada Nara? Apapun itu. Dan sungguh, ia tidak benar-benar bisa melupakan laki-laki itu. Sampai kapanpun.

***

Sany menyelonjorkan kakinya di atas meja. Sebuah majalah di letakan begitu saja. Lalu cangkir yang berisi seduhan teh hijau pun ia telantarkan. Dia sudah tidak mood lagi sejak kembali mengingat nama itu. Nara.

Pagi itu Sany melihat sahabatnya sibuk membaca koran. Tidak seperti Sisil yang ia kenal. Dan ketika Sisil terlihat begitu serius pasti ada sesuatu yang salah.

“Kamu lagi baca apa sih?” Sany mendekat tetapi dengan cepat Sisil menutup koran itu dan melipatnya.

“Bukan hal penting,” Sisil berdiri dengan agak gugup. Namun Sany tak mengenali sikap aneh itu. “San, aku pergi dulu.”

Buru-buru Sisil keluar apartemen setelah Sany mengangguk. Sany masih tak menyadari bahwa ada sesuatu yang Sisil sembunyikan darinya.

***

Ada banyak pekerjaan yang membuat Sany terkurung lebih dari sepuluh jam di kantor. Sebagai seorang desainer ia harus memuaskan kliennya dengan hasil gambar yang baik, dan semua orang (entahlah, siapapun itu) menuntut hasil yang sempurna. Dengan begitu Sany harus siap lembur setiap kali ada kekurangan dalam desainnya, atau paling tidak membawa sketsa itu pulang dan melanjutkannya di apartemen. Ia seseorang yang ulet dan teliti, sangat. Tetapi karena tuntutan kesempurnaan oleh para klien kadang berlebih, maka ia harus melakukan sesuatu yang benar-benar sempurna.

Termasuk gaun pengantin kali ini, ia harus berpikir keras. Ia menghubungi  klien ini melalui email dan telepon. Klien yang amat merepotkan, masalahnya dia sudah terlanjur menerima tawaran ini sebalumnya. Kalau saja ia tahu klien itu sibuk di luar negeri, mungkin tidak akan pernah ia terima tawaran ini sebelumnya. Biar bagaimanapun—harus di akui—bahwa bertemu langsung memang lebih mudah dan simple.

Jalanan kembali padat. Mobil yang ia tunggangi sudah seperti siput tua. Sany tak sabar dengan semua ini, sampai kapan ia harus tua di jalan raya? Dan semua ini membuatnya teringat pada laki-laki itu lagi. Nara.

Sany bertemu dengannya saat kuliah. Laki-laki itu adalah mahasiswa dari fakultas Teknik Elektro, dan dia sangat tergila-gila dengan beasiswa ke luar negerinya. Karena itu Nara pergi.

Alasan yang masuk akal, bukan? Berpisah sementara waktu. Sayangnya, Nara tak pernah bisa di hibungi. Sampai detik ini pun dia tak pernah ada kabar. Hingga terkadang Sany berharap Nara mati saja. Ia sudah seperti di gantungkan, menunggu sesuatu yang tidak ada harapan.

Nara… memikirkan dia membuat Sany ingin ngebut di jalan raya. Tetapi tak bisa, kemacetan masih jadi musuh Jakarta. Dering ponselnya berhasil mengeluarkan Nara dari otaknya, walau sementara. Buru-buru Sany mengambil ponselnya dan membaca sebuah pesan.

Berhubung besok hari Sabtu, sisakan waktu untuk datang ya !

Pesan itu dari salah satu kakaknya. Sany menghela napas lemah, tidak tahu harus jawab apa.

Acara keluarga. Tibalah saatnya Sany harus berpura-pura bahagia, ceria dan baik-baik saja. Semua masalah hatinya ia singkirkan dulu. Tidak, tidak ada seorangpun yang boleh tahu tentang masalah pribadinya. Apalagi Reno, kakak pertamanya yang kadang over-protektif.

“Tahun depan Papa ingin kamu sudah mengenalkan seseorang, Sany.” Tiba-tiba saja Papanya berkata. Pelan tetapi menghantui dirinya. Sany hanya bisa melongo, ditatapnya gelas-gelas beling yang bertengger di atas meja makan. Kosong.

“Sany ?” giliran Mamanya bertanya.

“Ya. Akan Sany usahakan.”

“Memangnya belum ada laki-laki yang ngelirik kamu, San ?” Angga bertanya. Sany adalah anak ke-tiga dari tiga bersaudara. Satu-satunya anak perempuan yang ada di keluarga ini.

Sany hanya membalas dengan senyuman. Tidak berusaha menanggapi lagi. Tetapi Reno tahu. Semua tergambar jelas di mata Sany. “Nara ?” ucap Reno mendadak.

“Kamu masih sama Nara, San ?” Mamanya heran. Selama ini Sany tidak pernah membahas soal Nara. Terakhir kali adalah ketika laki-laki itu berangkat ke luar negeri.

“Tidak, Mah…” sekali lagi Sany tersenyum. Palsu. Sejujurnya ia ingin menangis dan memeluk seorang Nara. Andai saja… andai saja Nara menampakkan diri disini…

“Bagaimana kabarnya ?” Mamanya lanjut bertanya. “Dia juga anak baik.”

“Iya.” Sany bingung dan ia hanya mampu menjawab pertanyaan terakhir dari Mamanya. Tak sempat memikirkan banyak hal. Ia sangat ingin menangis kali ini.

“Tapi dia bukan untukmu!” Reno angkat bicara. Ia memang mudah marah. Sudah seperti bom, meledak dimana saja. “Jauhi dia, San.” Rahang Reno makin mengeras. “Laki-laki seperti dia tidak pantas masuk keluarga ini,” jelasnya.

Kini, semua mata tertuju pada Reno, kecuali Sany. Ia menundukkan pandangannya.

“Aku tahu dari Sisil kalau dia…” Reno yang sudah terpancing emosi hampir saja mengatakan sesuatu. Yang mungkin menyakitkan bagi adiknya. Tetapi tidak jadi. Ia melihat wajah kedua orangtuanya dan merasa tidak harus bersikap sekeras ini di meja makan. Ia minta maaf lalu pergi. Sany pergi tak lama setelah Reno keluar dari rumah. Suasana sunyi kembali. Tiga orang yang di tinggalkan tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Yang mereka tahu hanyalah: sejak Sisil menjadi kekasih Reno, ia selalu memberikan kabar apapun mengenai Sany. Termasuk masa lalu yang tak bisa di tinggalkannya.

***

Sisil berdiri tegap menghadap jendela kaca yang kini di tetesi air hujan. “Laki-laki macam apa sih dia ? Brengsek !”

“Sisil !” tanpa sadar suara Sany sudah sekeras petir, menggelegar hingga sontak membuat Sisil terlonjak. “Tolong jangan katakan apapun pada Reno lagi.” Sany memohon, wajahnya masih menunjukkan tanda-tanda kemarahan.

“Ini bukti kalau kamu masih berharap Nara itu datang.” kata Sisil membuat Sany merenung beberapa detik. “Kamu masih memikirkannya ?”

“Ya.” Jawab Sany lemah. Tetapi ia menghindari tatapan mata sahabatnya. Ia takut semua akan menyalahkan dirinya yang tak bisa melupakan satu nama manusia. Ya, ia memang selalu menyebut nama itu ratusan kali bahkan tak terhitung lagi. Ia sangat merindukan Nara Dimitri.

“Aku tahu kamu selalu memikirkannya walau kamu tidak bilang.” Sisil kembali duduk di sofa, lengan kanannya merangkul pundak Sany. “Kamu banyak diam setelah ditinggal pergi. Kamu seperti orang linglung yang kehilangan…”

“Sisil…”

“Kehilangan cintanya.” lanjut Sisil berbisik.

Sedangkan di luar masih saja hujan. Oktober, bulan pertama yang di jatuhi hujan setelah kemarau panjang. Dan Jakarta akhirnya basah.

“Sisil… apa yang kamu katakan pada Reno ? Ada yang kamu sembunyikan dariku ?”

Sahabatnya tidak menjawab, ia malah masuk ke kamarnya dan meninggalkan Sany seorang diri.

Terungkapnya sebuah cerita penghianatan dari seorang sahabat

Hari ini akhirnya gaun itu selesai di buat. Tepat sebulan setelah pertengkaran terjadi. Sany keluar apartemen dan menuju parkir, ia harus mengantar gaun itu langsung ke acara pernikahan kliennya. Baru kali ini ia merasa kerepotan sendiri. Ditemani seorang asisten ia membawa gaun putih polos yang sangat elegan dan mewah ke gedung pernikahan.

“Ka Sany, klien kita menunggu di ruang ganti katanya.” asistennya baru kembali setelah bertanya pada seorang WO. Sany mengangguk dan membawa koper besar tempat gaun itu di letakkan.

Entah kenapa, ketika ia melangkah di gedung itu, melewati orang-orang yang sibuk menata ruang—jantungnya merasa berdebar. Tidak seperti biasanya. Ia merasa lemah dan tangannya sedikit gemetar.

Sany masuk ke ruang ganti, seorang pengantin wanita sedang menunggunya. Mereka saling berbincang, tak lama dan setelah itu Sany balik badan lalu pergi. Ia tak ingin kembali lagi ke sini, tubuhnya sudah sedingin es. Asistennya bahkan terkejut ketika menggandeng lengannya, “Ka Sany, tanganmu dingin sekali. Kakak sakit ?”

Tetapi Sany menggeleng dan tetap tersenyum.

Tiba-tiba…

“Sany !” suara seseorang memanggilnya. Suara yang tak asing.

Sany menoleh pelan dan harus. Beberapa detik ia menyadari adanya sesuatu yang salah, “Nara…?”

“Iya. Ini aku.”

Kini mereka saling berhadapan. Sany tak bisa berkata-kata. Dan Laki-laki itupun tidak tersenyum sama sekali. Mereka sama-sama kehilangan kemistrinya. Dan rindu yang Sany pendampun terjawab sudah, ia bertemu Nara. Tetapi… tak ada perasaan apa-apa selain hampa.

Mata Sany memang sedikit basah, tetapi bukan karena ingin menangis, “kamu di sini ?”

“Iya.”

“Kamu pulang kapan ?”

“Sudah lama. Lumayan lama, sekitar satu tahun.”

“Sudah lama dan tidak memberi kabar ?”

Mendadak Sany teringat kata-kata Sisil, laki-laki macam apa dia ? Dan sebagian hatinya membenarkan itu. Ia mulai sedikit menyesal sudah menghabiskan banyak waktu untuk mengingat Nara.

Nara terus menatapnya. “Kanapa kamu disini ?”

“Aku mengantarkan gaun pengantin.” Jawab Sany datar. Ia kehilangan sesuatu dari hatinya. Hilang begiu saja ketika lelaki itu tidak sama seperti dulu lagi. “Kalau, kamu ?”

“Aku… aku menikah hari ini.”

Bukannya Sany yang terkejut tetapi asistennya. Dugaan asistennya benar, bahwa mereka pernah saling mencintai. Dia mampu menebak situasi dan kondisi. Dan karena itu ia langusung menarik Sany ke dalam mobil sedan yang mereka bawa lalu pergi.

Nara, ia tidak pernah menyesal sudah melalukan kebodohan. Meninggalkan Sany yang diam-diam setia menunggunya dan memilih wanita yang di temui saat S2. Dia juga sudah berusaha menginformasikan pernikahannya lewat koran harian. Mengundang seluruh alumni sekolah dan kampusnya untuk datang termasuk Sany. Sayang, undangan itu tidak pernah sampai ke tangan Sany. Karena Sisil sudah membuangnya.

“Pada akhirnya aku tahu semua itu tanpa harus kalian tutupi lagi.” Ucap Sany saat Reno dan Sisil datang ke apartemennya, seminggu setelah kejadian itu.


Terima kasih telah membaca cerpen sahabat penghianat. Semoga cerita cinta pendek diatas bermanfaat dalam menambah wawasan kita serta memberi inspirasi serta motivasi dalam menjaga hubungan. Salam sukses.

Dibagikan

Penulis :

Artikel terkait