Saya Tidak Takut Istri Tapi Menghormatinya @ Motivasi Bijak

Suami takut istri

Sebelum menikah lelaki banyak lagunya, tapi setelah kawin lalu punya anak, kebanyakan lelaki jadi takut pada istri. Tapi maaf, saya tidak takut istri, tetapi saya menghormatinya dan inilah alasannya mengapa anda harus menghormati wanita apalagi setelah menjadi istri anda.

Bukan Suami Takut Istri Tapi Harus Menghormati Istri

Kalau mau cerita nakal-nakalan, maaf saya lebih suka menggunakan istilah nakal daripada bandel, meskipun belum tentu lebih nakal dari anda dan juga belum tentu tidak lebih nakan dari anda, saya merasa sudah cukup pengalaman dalam urusan nakal. Perlu digaris bawahi bahwa nakal disini adalah nakal dalam urusan gonta-ganti pacar, tidak lebih tidak kurang, tanpa ada unsur negatif, narkoba apalagi kriminal.

Akan tetapi sobat, saya tidak ingin bercerita tentang kenakalan masa lalu, karena cerita tentang hal-hal buruk masa lalu bukan merupakan sesuatu yang baik dan membangga-banggakan keburukan dilarang oleh norma Agama Islam. Jadi pada artikel pertama yang saya tulis ini saya tidak ingin menceritakannya melainkan menyampaikan alasan mengapa sebagian teman, menjuluki saya suami takut istri.

Mengapa saya mendapat julukan demikian mungkin salah satunya karena setiap ada acara atau harus pulang agak terlambat saya harus meminta bilang dahulu atau meminta pendapatnya. Padahal sebagian teman, karena rata-rata masih muda, apabila ada kegiatan apapun bisa langsung memutuskan ikut atau tidak.

Segala keputusan bila langsung maupun tidak langsung berdampak pada rumah tangga sebaiknya harus melibatkan istri

Pertanyaannya adalah, apakah dengan selalu melibatkan istri dalam pengambilan keputusan merupakan tanda suami takut istri ? Rasanya tidak demikian. Apapun keputusan kita yang berkaitan dalam hubungan sosial maupun pekerjaan pada akhirnya akan memberi dampak pada kehidupan rumah tangga, yang didalamnya ada istri serta anak kita. Jadi bagi saya adalah wajar kalau seorang suami selalu bersikap terbuka kepada istrinya termasuk dalam hal pengambilan keputusan.

Bahkan seorang Umar Bin Khattab pernah dianggap suami takut istri

Ada sebuah kisah menarik tentang Umar Bin Khattab R.A. dalam hal menghormati istri. Sebagaimana dikenal, beliau sebagai pemimpin kaum mukmin (Amirul Mukminin) yang memiliki budi pekerti lembut namun tegas dalam sikap dan keputusan. Suatu ketika datang seorang lelaki kepada beliau hendak melaporkan perilaku istrinya karena seringkali marah-marah kepadanya bahkan untuk urusan remeh sehingga membuat hatinya kesal.

Saat dia tiba di halaman rumah Sayidina Umar R.A. dia melihat sang Amirul Mukminin sedang berdiri di depan rumah sementara dari kejauhan dia mendengar istri beliau sedang marah – marah untuk sesuatu urusan remeh dengan suara dikeraskan. Nadanya terdengar sangat tinggi sementara Sayidina Umar R.A. hanya diam menunduk sama sekali tidak membantahnya.

Seketika lelaki itupun membalikkan badan hendak berlalu karena dalam fikirannya terbersit pikiran “Kalau seorang pemimpin kaum mukmin yang dikenal berani hingga ditakuti bahkan oleh setan sekalipun takut pada istrinya, bagaimana dia mau mengadu kepada beliau”. Akan tetapi sebelum sempat dia melangkah pergi, Sayidina Umar R.A. yang sudah melihat kedatangannya segera menghampiri lalu menyapanya kemudian bertanya “Apakah keperluanmu wahai saudaraku ?”

Lelaki tersebut pun berbalik menjawab salamnya kemudian berkata, “Wahai, pemimpin kaum mukmin, aku datang untuk melaporkan sikap buruk istriku terhadapku. Akan tetapi baru saja kudengar engkaupun mengalami hal sama. Jika demikian bagaimana mungkin aku akan mengadu padamu”.

Mendengar penjelasannya, Umar Bin Khattab R.A. tersenyum seraya menjelaskan mengapa dirinya yang dikenal begitu berani, kerasa dan tegas, menjadi sangat sabar terhadap omelan istrinya bahkan untuk hal sepele. “Saudaraku, aku tetap sabar menghadapi istriku karena memang kewajibanku untuk berlaku demikian. Bagaimana aku bisa marah kepadanya kalau dia mencuci pakaianku, dia memasak roti juga makananku, dan dirinya juga mengasuh anak-anakku, padahal semua bukanlah kewajibannya. Dengan istri disampingku hatiku merasa tenteram. Maka, aku harus mampu menahan diri terhadap perangainya. Maka, hendaknya engkau mampu menahan diri karena yakinlah hal tersebut hanya sebentar saja,”.

Jadi jelas, Sayidina Umar Bin Khattab R.A. bukan takut pada istri melainkan menghormati serta bersikap sabar kepadanya.

Apabila tidak diladeni, dihadapi dengan sabar, kemarahan seorang istri tidak akan lama

Sebagaimana penjelasan Umar Bin Khattab R.A. kemarahan seorang wanita tidak akan pernah bertahan lama kalau suaminya tidak terpancing untuk menjadi emosi. Tabiat kebanyakan wanita adalah demikian, jadi seorang suami harus bersikap sabar bukan kemudian menyiram api dengan minyak sehingga semakin berkobar atau bersikap pengecut dengan diam – diam melampiaskan kemarahan dengan cara tidak baik misalnya curhat atau selingkuh pada wanita lain.

Selingkuh bukan jalan keluar, wanita selingkuhan kalau sudah jadi istri mungkin sikapnya juga akan sama dengan istri anda sekarang

Ini merupakan cerita kisah nyata seorang (aktualnya beberapa) teman yang merasa tertekan atau tidak nyaman dirumah kemudian berkenalan atau curhat pada wanita lain kemudian bahkan menikah dengannya. Pernikahan tersebut mengakibatkan perceraian dengan istrinya. Akan tetapi apa terjadi setelah dia menikah dengan istri barunya ? beberapa tahun kemudian, sekitar usia pernikahan sebelumnya, istri barunya menunjukkan hal sama seperti istri lamanya. Jadi … apa gunanya mencari pelampiasan diluar ?

Wanita selalu benar tapi meminta maaf bukan berarti bersalah

Sikap kebanyakan wanita setelah marah adalah tidak minta maaf, mereka hanya bersikap baik tanpa mengatakan maaf. Apabila hal tersebut terjadi pada anda, atau kebetulan anda mendapat istri demikian jangan lantas bertambah kekesalan. Sebagai lelaki anda harus memaklumi karena wanita selalu merasa benar, jadi tidak ada salahnya anda sekedar mengimbangi sikap baiknya atau kalau perlu anda meminta maaf terlebih dahulu.

Penutup

Jadi sobat Bisfreners, jangan malu kalau dikatakan suami takut istri, karena seorang lelaki harus menghormati istrinya. Dan menghormati istri sama sekali tidak bisa diartikan takut kepadanya.

Dibagikan

Aditya Rizky

Penulis :

Artikel terkait