Tidak Untuk Dicemaskan

cerita pendek mini menghormati ibu tak perlu dicemaskan

Sebuah artikel berbentuk cerita pendek mini tentang memuliakan atau menghormati ibu, kakak, adik perempuan keluarga kita sebelum mencintai wanita lain. Menarik untuk dibaca karena ditulis oleh seorang remaja wanita, jangan lewatkan.

Artikel Cerita Pendek Mini “Tidak Untuk Dicemaskan”

Seorang wanita sedang duduk di bawah pohon rindangan halaman rumahnya. Tempat duduk yang tersedia adalah batu yang berbentuk lonjong. Dia sedang asik menikmati keteduhan sinar mentari yang terbit dari arah timur. Cahayanya masih malu-malu nampak ke permukaan. Dia selalu setia menyambutnya setiap pagi. Baginya pagi hari menjanjikan banyak harapan, awal memulai langkah untuk memperbaiki hari kemarin yang sesak, menumbuhkan lagi optimis bahwa pasti akan lebih baik dari sebelumnya.

Tidak jauh dari pandangannya, langkah setapak kaki mungil menginjaki batu-batu kecil dipekarangan depan pintu halaman rumahnya. Sosok itu tidak asing dikenalnya, dia adalah kawannya semasa sekolah dulu.

“Kamu lagi sibuk apa sekarang?” Tanya kawannya membuka topik inti pembicaraan.

“Aku sedang mempersiapkan ujian nanti.” Jawabnya.

“Apa kamu masih memikirkan pembicaraan beberapa bulan lalu yang tertunda ?”

Dia langsung memutar pikirannya. Mencerna pelan-pelan kalimat tanya teman bicaranya itu. Lalu menjawabnya dengan tersenyum.

“Aku sudah melupakannya ri.” Tidak aku anggap serius.“

“Tapi dia serius padamu.” Kali ini kawannya mengerutkan alis tipisnya yang tidak tebal.

“Kalau dia serius, dia tidak akan membuatku menunggu. Membuatku mencari tahu sendiri apa yang akan dia utarakan. Menerka-nerka yang mungkin aku saja tidak akan pernah bisa menduganya. Bisa saja saat ini dia sedang sibuk, tidak mengabari aku, aku mengerti soal itu. Mungkin waktunya belum tepat. Namun aku tidak bisa menyimpulkan sesuatu sebelum ada penjelasan, sebelum terbukti kebenarannya. Jadi, kamu datang kesini untuk mengingatkan kembali prihal itu?”

Kali ini dia ikut menatap kawannya dengan serius.

“Dia ingin bertemu denganmu tapi saat ini belum siap. Dia bilang, namamu ada dalam doa sepertiganya yang ingin dia wujudkan. Diam-diam dia ingin kamu menjadi separuh pelengkap hidupnya.” kawannya menjelaskan.

“Riani, terimakasih kamu sudah mewakili dia untuk memberi tahu padaku. Jika memang begitu, aku tidak bisa memastikannya karena hatiku hanya milik-Nya. Kalau sudah ditakdirkan, tidak ada yang bisa menghalangi.”

“Tapi satu hal…” Dia menambahkan.

kata bijak memperlakukan ibu
Bagaimana lelaki memperlakukan wanita

Dia tidak perlu bersusah payah membahagiakan aku, sedang dia memiliki adik perempuan yang harus dia bahagiakan. Mungkin saat ini lingkunganku sering menunjukkan padaku seorang laki-laki yang lebih mengutamakan kebahagiaan saudara perempuannya. Dia tidak cemas dengan orang yang dicintainya. Saat dia belum mampu untuk membahagiakan wanita lain, dia memilih untuk bersama dengan saudaranya, mengajaknya bermain, menjadi pelindungnya, memberi kejutan-kejutan kecil padanya, dan bentuk penyayang lainnya yang tengah dia beri secara utuh pada saudaranya. Karena dari saudaranya dia bisa belajar mengenal karakter seorang wanita. Dari situpula aku bisa menyimpulkan, bahwa laki-laki yang baik bisa terlihat bagaimana dia memperlakukan adik perempuannya, ibunya, saudara-saudara perempuannya. Memuliakan mereka sebelum memuliakan wanita asing yang akan hidup bersamanya nanti hingga akhir hayat.“

“Apa kamu akan menjaga hati untuknya, dia terlalu cemas, takut, khawatir.”

“Apa yang mesti dicemaskan, sedangkan orang yang berkeyakinan tidak akan bersedih hati. Tidak perlu dengan perkataan manis, janji-janji yang mungkin kitapun tidak tahu bisa menepati atau malah mengkhianati. Biarkan waktu yang memutuskannya.” Ujarnya kembali.

“Baiklah kalau begitu. Semoga apa yang disemogakan menjadi kenyataan. Meminta yang terbaik pada-Nya. Sedang Dia adalah pengatur segala sesuatu dan penentu ukurannya.” Jawab kawannya.

Mereka berduapun saling tersenyum.

“Kita sama-sama paham akan itu ri. Terimakasih sudah membantu banyak, sekarang aku tahu. Kelak kau pasti akan mendapatkan seorang laki-laki yang luar biasa, tentu bersama mengapai Jannah-Nya.”

“Sama-sama sahabat. Akupun tidak tahu siapakah nanti yang akan mendahului dan mengakhiri status sendiri kita ini.”

Mereka saling tertawa. Berpelukkan sebagaimana sahabat mencintai kawannya.

Dan ternyata waktu sudah pagi, siluit sinar menerobos celah-celah hordeng berwarna biru. Nampak mentari sedang menapaki wajahnya yang bersinar. Iapun terbangun dan ternyata itu hanyalah cerita di dalam mimpi.

Kembali, 19 Januari 2017


Terima kasih sudah menyimak artikel cerita pendek mini memuliakan dan menghormati ibu, kakak, adik perempuan sebelum mencintai wanita lain. Menarik untuk dibaca, jangan lewatkan.

Dibagikan

Aisya Zaira

Penulis :

Artikel terkait