Titik Nadir

cerita selingkuh dengan mantan pacar sampai hamil

Titik nadir adalah kisah nyata yang di dramatisir menjadi cerita selingkuh dengan mantan pacar sampai hamil sehingga menimbulkan kegalauan dan dilema dalam hati. Bagaimana kisahnya ? simak pada cerpen berikut :

Cerita Selingkuh Dengan Mantan Pacar – Titik Nadir

“Hallo..”. “Iya, hallo juga. Siapa nih?” terdengar suara perempuan dari seberang. Suaranya parau karena terbangun dari tidur. “Aku, aku Ramon”. “Oh, Ramon, ada apa malam gini nelpon?” Perempuan itu bertanya heran. “Suami kamu ada ?”

Pertanyaan Ramon membuatnya makin penasaran. Rasa khawatir mulai menghampiri dan dengan sekejap mengganggu pikirannya. “Enggak ada !” Jawabnya dengan suara sedikit keras. “suamiku belum pulang kerja… Ada apa sih ?”

Sebenarnya Ramon merasa tidak enak hati menelponnya malam begini. Perempuan itu istri orang dan sedang hamil. Tapi dengan terpaksa Ramon harus menelponnya, karena, mungkin, ini adalah kesempatan terakhirnya untuk menghubungi perempuan itu.

“Oooh syukurlah.. Aku mau mastiin”

“Mau mastiin apa ?”

“email yang aku kirim kemarin”

“Iya kenapa dengan email yang kamu kirim?” Perempuan di seberang mulai hilang kesabarannya.

“sudah kamu baca atau belum ?”

“Sudah.” Jawabnya ketus.

“Baguslah, terus ?”

“Terus apa lagi ?”

“Kamu siap memenuhi permintaanku ?”

Hening, untuk beberapa saat. Ramon mulai menggigit ujung kukunya, suatu pertanda bahwa dia sedang gugup. “Hallo, Lena, kamu masih di sana ?”

“Iya masih.” Kali ini suara perempuan di seberang mulai berat, seperti sedang menahan tangis.

“Siap ?”

“Iya, aku siap.” Perempuan itu menangis, kencang.

“Aku minta maaf ya.” ucapnya sendu.

“Aku yang harus minta maaf Len, aku yang salah.”

“Gak, kamu enggak salah, aku yang salah.”

“Aku sudah mengingkari janji kita”

“Aku enggak pegang komitmen”

“Aku yang enggak berani melawan kehendak orang tuaku”

“Aku yang ….”

“Ssstt, berhenti Lena.!” Ramon coba memotong kata-kata penyesalan yang hendak diungkapkan Lena. “Berhenti menyalahi dirimu”

“Tolong, jangan membuat aku jatuh lebih dalam lagi. Tolong”

“Iya, iya aku minta maaf.”

Ramon menutup teleponnya. Tetes demi tetes air mata mulai membasahi pipinya. Jatuh turun menusuk ulu hati.
Dingin menyerang. Awan bergemuruh. Hatinya lebam, harinya kelam.

****

Ramon bekerja di sebuah cafe di kota malang. Ia kerja paruh hari, membagi waktu dengan aktivitas kuliah. Hari ini ia libur kerja. Kuliah pun sedang tidak ada kelas. Praktis, ia akan menghabiskan waktu dalam kamar. Hal yang dia benci, beberapa minggu terakhir.

Terhitung sejak tiga minggu yang lalu, Ramon sering diam, wajahnya murung. Tidak semangat menjalani hari. Kerja pun sering absen. Ia sedang dalam masa yang sulit.

Setelah menyeduh kopi, Ramon kembali ke kamarnya dan duduk depan komputer. Ia ingin menulis. Tapi masih belum tahu mau menulis apa. Dibakarnya satu linting rokok tembakau aceh kesukaannya, lalu diisap sedalam mungkin.

Isap demi isap, teguk demi teguk, sanggup menerobos ke alam pikirannya . Menghampiri tiap detail kenangan yang pernah dia lalui. Diletakkan jari di atas keyboard, dia mulai menulis.

Dear Lena

Aku membayangkan kamu sedang tersenyum saat membaca tulisan ini. Kamu pasti sangat cantik, tapi sayang aku tidak bisa melihatnya. Meskipun kamu sudah punya suami dan kamu juga sedang hamil, aku yakin itu tidak akan merenggut kecantikanmu. Aku sering bermimpi, kita berjalan di taman bertiga. Di punggungku ada seorang pangeran kecil, sedang di bahuku ada tanganmu yang memeluk dengan erat. Kita membelikan es krim buat pangeran kecil kita, lalu sesekali kamu ingin mencicipi es krim itu. Aku sangat bahagia, pun kamu juga, pun pangeran kecil kita. Itu hanya mimpi, memang.

Oh iya, kalau anakmu sudah lahir, berikan ASI sampai dia berumur dua tahun. Jangan pernah memberi minum susu botol atau susu kaleng. ASI bagus untuk kesehatan kata dokter. Juga sangat dianjurkan oleh agama. Ketika dia sudah gede, kamu boleh ceritakan tentang aku ke anakmu.

Kamu boleh menceritakan kekonyolan yang pernah kita lakuin. Kamu boleh cerita berapa kali kita diusir keluar kelas karena kita datang jam 9 padahal kelas dimulai jam 7:30. Kamu boleh ceritakan betapa senangnya kita kalau Liverpool berhasil mengalahkan Mancester United. Kamu boleh ceritakan, dulu kita berdua pernah mendorong vespa yang kehabisan bensin waktu kita pulang kuliah. Kamu boleh cerita tentang waktu kita pergi mancing, bukan ikan yang kita dapat tapi sendal jepit. Kamu juga boleh cerita kita pernah ngamen di alun-alun ketika tanggal tua. Kamu boleh cerita asyiknya kita naik gunung. Kamu boleh cerita, kamu pernah kelahi sama perempuan, karena perempuan itu melihatku genit. Kamu boleh cerita, dulu kita punya cita-cita kalau kita punya anak perempuan bakal dikasih nama Hinata, karena kamu sangat suka dengan tokoh fiksi dalam cerita cartoon naruto tersebut. Kamu boleh cerita aku pernah dikeroyok preman pasar, hanya karena aku tidak suka dengan cara mereka melihatmu, aku memukul salah satu dari mereka dan akhirnya aku dikeroyok. Kamu juga boleh menceritakan betapa aku tetap bisa tersenyum di hadapan orang tua mu malam itu, walaupun kamu tahu aku sedang hancur, saat mereka memberi tahu kalau kamu akan segera dinikahkan dengan orang lain. Kamu boleh cerita alasan ayahmu menikahkan kamu dengan orang lain karena aku belum juga selesai kuliah, padahal sudah tujuh tahun. Kamu boleh cerita aku berkerja paruh waktu di sebuah cafe untuk memenuhi biaya kuliah. Kamu boleh cerita, aku sering diejek oleh keluargamu karena aku anak orang kurang mampu tapi kamu selalu membelaku, dengan berbagai alasan, yang membuatku makin sayang sama kamu. Apapun boleh kamu ceritakan kepada anakmu nanti.

Tapi, aku memintamu untuk tidak menceritakan satu hal, aku sangat berharap kamu mau memenuhi permintaanku yang satu ini: jangan ceritakan pada anakmu, bahwa aku adalah bapaknya.

Demi rasa hormatku kepada suami mu, itu saja. Walaupun kamu tahu, sepanjang hidup, aku akan mengakui dia adalah anakku, anak kita.

Salam rindu, Ramon.

Setelah usai menulis email, Ramon kembali diserang kalut. Isi hatinya hancur. Dia membayangkan anaknya tumbuh besar tanpa pelukannya. Ramon pun menangis sejadi-jadinya. Dia membanting komputernya, gelas kopi dilempar keluar jendela, televisi, speaker, botol minuman, semua berserakan. Ramon berteriak. Dunia seketika gelap gulita, tidak ada cahaya sedikitpun, panas api neraka membakar seisi kepalanya. Dia merasa tidak ada guna lagi dia tetap hidup. Jiwanya telah mati terkubur bersama kenangan. Dia membuka laci meja dan meraih sebuah pistol warna hitam, pistol kenangan, hadiah ulang tahun yang diberikan Lena tahun lalu.

-Tamat-

Malang, 21 Maret 17

(Sulin Santai)


Terima kasih telah membaca cerita selingkuh dengan mantan pacar sampai hamil. Semoga cerpen dari kisah nyata diatas dapat menghibur dan menginspirasi serta memotivasi sobat Bisfren sekalian dalam menjalin dan menjaga hubungan. Salam sukses.

Dibagikan

Artikel terkait