What If Tomorrow Never Comes

cerita cinta sedih

What If Tomorrow Never Comes adalah cerita cinta sedih tentang remaja Andri yang ingin berkenalan dengan seorang gadis namun selalu ragu hingga akhirnya dia tak mungkin berkenalan dengannya lagi. Bagaimana lengkapnya ? simak pada cerpen berikut.

Cerita Cinta Sedih – What If Tomorrow Never Comes

“Besok.” Andri mengepalkan tangannya sambil tetap asyik melihat seorang gadis berambut panjang mengendarai sepeda motor matic yang berjalan pelan dari arah barat, tepat di depan kosnya. Andri tidak tahu siapa nama gadis itu, yang dia tahu dia kos di beberapa blok dari rumah kos nya dan gadis itu jurusan Desain Komunikasi Visual di universitas tempat Andri menununtut ilmu; itu bisa dilihat dari jaketnya.

“Dari dulu juga kamu bilang besok, bseok, besok; besok itu kapan?” Satria, teman sekos Andri tampak mulai gemas melihat temannya yang tidak punya nyali untuk mengajak gadis itu berkenalan.

Sang gadis membelok di depan kos mereka, menuju arah kampus. Andri seperti terpesona melihat rambut panjangnya yang terayun dengan indah dipermainkan angin. Gadis itu begitu menarik perhatiannya. Andri sudah menyukainya sejak pertama kali dia melihat gadis itu melintas di depan kosnya, sekitar tiga bulan yang lalu. Andri sampai hafal bunyi motornya, yang menurut Satria tidak ada bedanya dengan bunyi motor matic yang lain.

Andri menerawang jauh, mebayangkan wajah gadis itu yang terlihat samar karena terhalang kaca helm. Namun Andri tidak begitu peduli gadis itu berwajah cantik atau tidak. Dia merasa sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia tidak bisa berhenti memikirkan gadis itu, terutama rambut hitam panjangnya yang agak bergelombang. Kebanyakan gadis di lingkungan tempat Andri tinggal sudah mempermak habis rambut mereka, entah itu diluruskan, dikriting, diwarnai, atau bahkan dipotong dengan style yang sangat aneh. Tapi rambut gadis itu berbeda, rambut itu terlihat sangat alami, sangat mencerminkan rambut asli wanita Indonesia. Membayangkan itu, Andri jadi senyum – senyum sendiri.

“Woi, kalau diajak ngomong jawab dong! Jangan malah cengengesan gitu!” Satria makin tidak sabar melihat tingkah Andri.

“Tadi kamu ngomong apa ?”

Gletok! Satria menjitak kepala Andri, “Kapan kamu mau ngajak dia kenalan? Gak bosen cuma bisa liatin dia setiap lewat depan kos ?”

“Aku takut Sat.”

“Takut apa ?”

Andri mengangkat bahunya, “Entahlah.”

Keesokan paginya di tempat yang sama dan jam yang sama, Andri berdiri menyandar pada pagar balkon rumah kosnya di lantai dua, menatap lurus ke depan, di mana sang gadis pujaan terlihat mengendari sepeda motornya dari arah barat. Gadis itu menyadari keberadaannya, dia sempat menengok ke arah Andri berdiri dan mata mereka bertemu sepersekian detik. Andri merasa terpesona oleh tatapan itu. Dia mengepalkan tangannya lagi, “Aku akan mengajaknya berkenalan besok.”

Andri masuk ke kamarnya setelah gadis itu menghilang di tikungan jalan. Dia lalu duduk dan menghidupkan laptopnya, memasang usb modemnya dan membuka google. Dia mengetik beberapa kata di kolom pencarian lalu menekan enter. Sedetik kemudian hasil pencariannya muncul. dia mengeklik hasil pencarian nomor satu, membacanya dengan cepat, senyum – senyum sendiri, membaca lagi, begitu juga dengan hasil pencarian berikutnya.

“Yosh!” Andri meninju udara di samping kepalanya, “Aku sudah baca tips – tips jitu ngajak cewek kenalan. Besok, aku akan tau siapa nama cewek itu.” Andri tersenyum puas.

Tak ada tiga puluh menit, semangat 45 Andri menguap hingga tak tersisa sedikitpun, tergantikan pertanyaan – pertanyaan pesimis; bagaimana aku harus mulai perkenalan itu? Apa aku harus mencegatnya di depan kos? Andri menggeleng – geleng, dia tidak mau dikira tukang palak. Apa aku perlu membututinya sampai di kosnya? Andri menggeleng – geleng lagi, nanti dia dikira penguntit. Bagaimana kalau cewek itu tidak seperti yang aku bayangin? Bagaimana kalau ternyata rambut alaminya itu cuma tameng, sebenarnya dia smaa saja dengan cewek – cewek lain di sini? Andri mengehempaskan badannya di kasur. Dia merasa sangat bingung.

Beberapa saat kemudian terdengar ketukan di pintu. Andri membukanya dengan malas, “Ada apa?” tanyanya.

Satria menerobos masuk lalu seenaknya saja duduk di kasur Andri dan minum Pocari Sweat yang ada di mejanya, “Aku punya berita bagus.” Dia tersenyum.

“Berita bagus apa?” Andri duduk di kursinya.

“Aku udah tau siapa nama cewek itu.”

Andri terlonjak dari duduknya, “Siapa?” suranya terdengar lebih keras dari yang ia pikirkan.

Satria menatapnya dengan senyum yang lebih terlihat seperti seringai, “Mau tau?” tanyanya menggoda.

Andri mengangguk – angguk dengan cepat, “Siapa?”

Satria mendekatkan wajahnya ke wajah Andri. Kalau dilihat sepintas, mereka seperti akan berciuman, “RAHASIA.” Satria tertawa terpingkal – pingkal, lalu keluar dari kamar Andri menuju balkon. Andri berlari mengejarnya.

Satria berdiri menghadap jalan, “Kamu harus ngajak di kenalan hari ini juga, nggak ada besok – besok lagi.”

“Siapa namanya?”

Satria berbalik menoleh ke arah temannya itu, “Kamu tu cowok, Dri. Masak ngajak cewek kenalan aja nggak berani ?”

“Gimana caranya?”

“Itu…” Satria menepuk punggung Andri, “Kamu pikirin sendiri. Hehehe.”

***

Malam itu Andri tidak bisa tidur. Wajah si gadis dengan rambut panjangnya selalu terbayang – bayang di pelupuk matanya. Satria benar, Andri harus mengambil langkah pertama untuk mengajak gadis itu berkenalan. Dia tidak mau menyesal kalau nanti dia didahului pria lain.

“Dia masih jomblo.” Kata Satria saat mereka berdua berdiri di balkon.

“Tau dari mana ?”

“Dia temen SMA nya Mira.”

“Apa?” Andri menatap tak percaya ke arah Satria.

Satria mengangguk, “Aku kasihan lihat kamu kayak gini terus, jadi aku bantuin nyari informasi. Aku nanya ke temen – temen tentang mahasiswi jurusan DKV dengan ciri – ciri cewek itu, eh ternyata si Mira kenal. Namanya… uppss.” Satria menutup mulutnya.

“Siapa namanya?”

“Itu harus kamu cari tau sendiri. Yang jelas dia itu emang beneran masih jomblo, Mira bilang terakhir pacaran waktu SMA kelas 2. Anaknya baik banget, lembut, keibuan, tipe kamu banget deh, Dri.”

Andri membuka jendela kamarnya, membiarkan angin malam masuk ke dalam kamar berukuran 3 x 3 meter itu. Dia sudah memutuskan akan mengajak gadis itu berkenalan. Dia bahkan sudah menyusun kata – kata dan melatihnya berkali – kali di depan cermin. Senyum mengembang di wajahnya, mebayangkan beberapa jam lagi dia akan tahu siapa nama gadis itu.

Andri menunggu dengan tidak sabar di depan kosnya, bukan di balkon, tapi di depan gerbang kosnya. Dia tidak peduli dia akan terlihat seperti tukang palak atau apa, tekadnya sudah sangat bulat utuk mengajak sang gadis berkenalan.

Angin berhembus sepoi, lalu terdengar bunyi sepeda motor yang sudah tidak asing lagi di telinga Andri. Pria berambut agak gondrong itupun menatap lurus ke depan. Gadis itu mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, namun jantung Andri berdetak dengan kecepatan super duper kencang. Peluh dingin membasahi pelipisnya.

Waktu seakan melambat, semuanya terjadi dalam slow motion, gadis itu berada beberapa meter di depan Andri. Andri mendadak kehilangan kepercayaan dirinya. Dia berdiri mematung, membiarkan gadis itu melewatinya, tanpa dia sempat tersenyum atau melambaikan tangan.

Andri menatap rambut bergelombang gadis itu, untuk yang terakhir kalinya karena tepat pada saat itu sebuah truk tronton dengan kecepatan tinggi datang dari arah selatan dan menabrak gadis itu, dia menghembuskan nafas terakhirnya tepat di depan mata Andri.

Andri sudah sarjana sekarang. Dia berhasil menyelesaikan studi Pendidikan Kimianya dengan IPK yang hampir sempurna, 3,92. Kedua orang tuanya sangat bangga padanya, begitu juga dosen – dosen dan teman – teman sekelasnya.

Hari itu adalah hari terakhirnya di kos, dia sudah mengepak semua barangnya. Sebentar lagi dia akan berangkat ke sebuah desa kecil di Provinsi NTT, di mana dia akan melaksanakan program SM3T. Sebenarnya dia tidak ingin meninggalkan kos penuh kenangan itu. Dia ingin tetap tinggal di sana. Di sanalah dia bertemu dengan sahabat sejatinya, Satria, di sanalah dia menghabiskan malam – malam panjang saat OKK, di sanalah dia membuat tugas atau belajar sampai subuh, dan dari tempat itulah dia pertama dan terakhir kali melihat gadis pujaannya.

Andri menatap hampa pada jalan di depan rumah kosnya dari balkon lantai dua tempat dia biasa menghabiskan waktunya, “Selamat tinggal, Renita.” ucapnya.


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita cinta sedih remaja kami. Semoga cerpen diatas bermanfaat dan memberi inspirasi bagi sobat semua.

Dibagikan

Ayu Purnayatri

Penulis :

Artikel terkait

1 Comment